softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Tampilkan postingan dengan label agama_islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama_islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2019

Pemuda Muslim Ideal Berjiwa Milenial




            Dizaman Milenial ini, berbagai macam budaya dan gaya merambah bagai jet berkecepatan suara. Begitu cepat membuat kehidupan di sekitar kita serasa berwarna dengan hegemoni dan berbagai tipe budaya yang beragam. Diserap oleh khalayak muda, yang itu entah berdampak positif dari segi kreasi dan kemajuan teknologi, sampai ke dampak negative mulai dari kecanduan sampai penyimpangan sosial.

            Bagaimana peran selaku pemuda islam dalam menangani arus globalisasi yang semakin meng-Global ini? Tentu tak bisa dihindari, untuk itulah perlu adanya sikap dan antisipasi.

Dalam memerangi, eh bukan. Dalam menyikapi dunia yang sudah mulai memasuki ranah 4.0, tentu kita tak boleh lupa mengenai indentitas kita sebagai seorang pemuda muslim. Tak usah larut dalam hagemoni namun ikut andil dalam mewarnai dan menselaraskan situasi. Bak warna yang menghiasi pelangi, mari hadirkan generasi pemuda islam berjiwa madani. Pemuda yang dikenal memiliki jiwa yang kokoh dan hati yang bersih, berani, mandiri, cinta pada sesama, serta bermanfaat bagi sekitar.

Emang mudah kalau Cuma omong doang, saya akui untuk merealisasikannya itu sulit dan butuh pengorbanan. Pengorbanan itu perlu guys, bahkan ketika ngerjain tugas kuliah pun, kalian perlu mengorbankan waktu buat belajar dan mencari artikel sana-sini.

Mengapa kok menjadi seorang muslim ideal berjiwa milenial itu penting? TENTU SANGAT PENTING! Sadar ga sadar sebenarnya kita ini sudah tertinggal dari mereka. Kondisi kita tidak bisa dibilang baik-baik saja. Fikrah Pemuda Islam sudah tercekoki oleh budaya negative dari luar yang membuat kita semakin jauh dari agama islam itu sendiri. Akibatnya, kita merasa minder dan berpikir bahwa menjadi pemuda islam itu memalukan, ngga keren, kurang trendy dan kerjanya Cuma keluar masuk masjid. BUKAN BEGITU, TENTU ITU CARA PANDANG YANG SALAH. Apa penyebab kebanyakan orang berpikir demikian? Kembali ke bahasan awal, fikiran kita sudah ter-setting oleh budaya arus informasi dari luar yang kurang ter-filter di jagad raya.

Lanjut ke bahasan utama, Apa itu muslim Ideal? Dari segi Bahasa, Secara harfiah muslim bisa berarti damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salamat).
Ideal bersumber dari sesuatu yang di iimpikan, di idam-idamkan, dan dikehendaki.
Sehingga bisa disimpulkan bahwasanya muslim ideal ialah
‘seorang yang membawa kepada kebaikan kepada diri maupun orang lain kapanpun dan dimanapun, menjalankan berbagai macam syariat yang telah di tetapkan islam mulai dari yang kecil sampai yang besar, menjauhi larangan dan melaksanakan perintahnya. Tidak menentang dan santun kepada sesama, hablum minallah dan hablum minannas

            Kendati sebelum kita masuk ke penjabaran bagaimana cara untuk menjadi seorang muslim yang ideal, mari saya ajak dulu untuk mengerti gambaran seorang muslim yang ideal itu.

            Islam adalah agama sempurna yang relevan dari masa ke masa. segalanya tepat di atur dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sebagai seorang Muslim ideal tentu harus berusaha menguasai segala seluk beluk ajaran islam supaya tidak salah paham mengenai isi dan kandungan yang diajarkan di dalamnya. Membuat tingkah laku kita setiap hari memiliki landasan yang teratur, tidak asal neko-neko, sanggup memilih yang baik dan bathil, kedepannya itulah yang akan membantu kita dalam menghadapi dunia yang sudah mulai frontal ini. Intiya menerapkan dalam kehidupan keseharian sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadtis. Seorang muslim ideal haruslah memiliki pemikiran yang idealis serta sangat memperhatikan tingkah laku. Entah itu ketika dia sedang berhadapan dengan manusia maupun saat berinteraksi dengan Allah subhanahu wata’ala.

            Dahulu ketika Aisyah ditanya tentang sifat rasullullah SAW. Aisyah berkata dalam sebuah hadits bahwasanya perilaku nabi itu sama dengan tuntunan yang di ajarkan dalam Al-qur’an sehingga Rasullah seperti Al-Qur’an yang berjalan dimana segala apa yang ada di dalamnya diterapkan dan diimplementasikan di kehidupan nyata.

            Ada beberapa aspek untuk menjadi seorang muslim ideal, yakni 10 muhasofat. Dimana ketika berhasil menerapkan sepuluh hal tersebut. Insyaa Allah kita akan menjadi seorang muslim ideal yang milenial. 10 Muhasofat di antaranya adalah :

    1.      Salimul Aqidah (Aqidah Yang Bersih)
    2.      Shahihul Ibadah (Ibadah Yang Benar)
    3.      Matinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh/Mulia)
    4.      Qawiyyul Jism (Fisik yang Kuat/Kekuatan Jasmani)
    5.      Mutsaqqoful Fikri (Intelek Dalam berfikir)
    6.      Mujahadatul Linafsihi (Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
    7.      Harishun Ala Waqtihi (Pandai Menjaga Waktu)
    8.      Munazhzhamun fi Syuunihi (Teratur dalam suatu urusan)
    9.      Qadirun Alal Kasbi(Mandiri)  
  10.  Nafi'un Lighoirihi (Bermanafaat Untuk Orang Lain)

Insyaa Allah kita akan bahas dan kupas satu persatu di tulisan selanjutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh…

M         H         A

Jumat, 01 Februari 2019

Peranan Dakwah Kampus

wall.alphacoders.com



            Dakwah berarti menyeru, mengajak, dan memanggil manusia untuk beriman dan taat kepada Allah. Dakwah digunakan untuk menyeru kepada manusia untuk mengerjakan yang baik dan Menjauhi yang bathil. Dalam Ayat Al-Qur’an disebutkan.

“Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (Q. S. A-Nahl : 125)

Banyak orang mengira bahwa dakwah baru bisa dilakukan setelah mereka berada dalam suatu tempat atau naungan (organisasi), ataupun setelah mereka mendapat ilmu dan kapasitas yang cukup (‘Alim) tentang agama. Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi sebenarnya, meskipun tidak berada di dalam dua ranah tersebut, kita masih bisa berdakwah asalkan konteksnya mengarah kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Seperti halnya yang pernah dikatakan baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“…Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari Muslim)

Menjelaskan bahwasanya meski hanya satu ayat saja yang kita tahu dan pahami – Saat kita melihat seorang yang belum tahu atau seorang yang menyimpang dari kebenaran – kita sudah berhak mengajarkan itu kepada orang lain.

Meski seorang diri sudah bisa berdakwah. Namun jika di bandingkan dengan mereka yang berdakwah dalam kesatuan jama’ah, akan berbeda jauh dalam hal kapasitas, kualitas, dan jangkuan. Berjuang sendiri ibarat satu buah lidi yang mudah patah, dimana seorang itu hanya akan terpatahkan oleh mereka yang membenci dakwah. Berbeda lagi semisal lidi itu banyak dan membentuk suatu ikatan, sehingga sulit untuk dipatahkan. Tidak ada yang bisa menjamin keistiqomah dalam berjuang di jalan dakwah ketika sendirian. Apalagi sekaliber kampus yang heterogen. Kampus diibaratkan sebuah negara kecil, sebuah miniature negara yang nantinya kita akan berproses, belajar, dan berkarya untuk menjadi bekal kita saat terjun bermasyarakat. Akan ada banyak godaan yang didapat dan mematikan jalan dakwah yang dibangun seorang diri dengan susah payah, bahkan bisa jadi kita akan terjerumus mengikuti arus negatif. Untuk itulah saya menekankan pentingnya aspek berjama’ah dalam relung dakwah kontemporer dengan salah satu caranya ialah mengikuti Lembaga dakwah yang ada di kampus. Mengapa demikian? Karena LDK (Lembaga dakwah Kampus) menjadi Garda terdepan dalam Syiar di kampus (Prolog risalah dakwah kampus. ntd). Mereka sudah memiliki Metode-metode teratur yang terus dibenahi secara terus menerus.

wall.alphacoders.com


            Ketika memasuki sebuah organisasi keislaman kampus. Organisasi yang menjalankan amanat dakwah, tentunya disana sudah terdapat aturan, mekanisme, pedoman-pedoman yang harus ditegakkan para pengurus untuk menunjang keberlangsungan dan keteraturan dalam berdakwah. LDK bukan hanya membuat kita menjadi rileks dalam berdakwah namun juga berfungsi sebagai tameng, proteksi yang menjaga serangan dan gangguan dari luar.

            Peranan dakwah kampus yang harus di tekankan sekarang ini ialah harus bisa memposisikan diri dengan lingkungan serta orang yang di dakwahinya. Ibarat bermain bola dia jangan sampai buta posisi entah GK,CB,CMF,CF, dll… Bisa jadi dia ditugaskan jadi kiper ndelalah waktu main menjadi gelandang sayap, hal itu akan menjadi kesalahan fatal yang mengakibatkan kebobolan. Jika dia seorang awam dan belum begitu mengenal islam, maka hendaknya kita perkenalkan dulu secara baik-baik sesuai dengan kapasitas yang dia miliki saat itu. Begitupun juga ketika kita berdakwah kepada seorang yang sudah memiliki ilmu agama yang baik, saat melakukan kesalahan kita boleh menggertaknya keras karena dia melakukan hal tersebut padahal dia tahu hukumnya.

Kejadian ini pernah terjadi di zaman Rasul ketika seorang badui kencing di masjid. Rasul tidak marah, bahkan berusaha meredakan amarah para sahabat yang ingin menghakiminya. Rasul dengan rileks menyuruh menyiram kencingnya dengan Air dan memberi tahu Badui itu baik-baik karena memang pada dasarnya dia tidak tahu. Maka dari itulah yang membuat hati badui itu terpikat dan tsiqoh kepada islam. Namun lain halnya ketika yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mengerti tentang agama, tentu cara mengingatkan juga berbeda. Maka dari itu, seorang pendakwah hendaknya harus tahu betul siapa yang mereka dakwahi dan lingkungan yang mereka tempati, untuk bisa memposisikan diri dalam ragam mahasiswa yang ada di kampus. Bahkan kita pun juga harus tahu bagaimana cara memperlakukan non muslim dengan baik dan benar.

Anggaplah kita berhasil menyadarkan teman-teman kita dan berhasil menariknya ke dalam LDK. Setelah berhasil merangkul mereka untuk tsiqoh terhadap dakwah. Tugas selanjutnya dari organisasi adalah membina dari dalam. Tujuannya adalah didapatkannya kemampuan yang baik dari segi kepahaman dan kapasitas dari seorang pendakwah, bukan hanya di lingkungan organisasi LDK namun juga di lingkungan tempat dia berkumpul. Supaya dia bisa membaur dan mengajak kepada kebaikan, bukan malah melebur dan terbias dengan segala herarki yang ada di sekitarnya.

wall.alphacoders.com


faktor yang tak kalah penting lainnya bagi para pengemban dakah kampus adalah belajar. Tujuan utama kita berkuliah adalah untuk menuntut menggapai ilmu. Jangan sampai alasan sibuk beraktivitas di organisasi membuat kita lalai dalam belajar dan menggapai Ilmu. Membagi waktu sangat penting agar para pendakwah bisa berlatih memanajemen waktunya dengan baik (apalagi mereka yang mengambil jurusan manajemen).

Selanjutnya adalah membuat jaringan. Mengingat sebuah LDK tak akan sempurna jika berdiri sendiri, untuk menyesuaikan sinergi dan tujuan Bersama, alangkah baiknya menjalin hubungan kental dengan LDK atau LDF yang ada di universitas sendiri maupun di universitas lain. Diharapkan dengan adanya ikatan – seperti acara silaturahmi Bersama – akan menguatkan tali silaturahmi. Menciptakan nuansa sharing dan tukar pikiran untuk membuat LDK lebih aktif, produktf, inovatif, dan efisien.

LDK juga harus mencari relasi dari berbagai elemen, institute, maupun organisasi yang berada di sekitarnya. Menjalin kekerabatan serta komunikasi aktif sehingga organisasi kita tidak di pandang sangat eksekutif. Jika sebuah organisasi menutup diri dari lingkungan luar akan sangat sulit dan menjadi penghambat dalam jalannya dakwah kampus itu sendiri. Dalam buku RMDK (Risalah Manajemen Dakwah Kampus) sendiri juga telah diingatkan bahwasanya…
Membangun jaringan ibarat membuat sebuah simbiosis antara kita (LDK) dengan elemen lain… … pengelolaan jaringan harus dilakukan secara benar agar timbul suatu kerjasama yang saling menguntungkan dan agar kita tak lantas dirugikan atau dimanfaatkan pihak lain. (dalam BAB IX Jaringan Lembaga Dakwah Kampus.ntd)

Tentu masih banyak hal lain seperti pengaturan dana, surat-surat organisasi, mekanisme kaderisasi dan pembinaan yang semua itu bisa anda temui di buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus Edisi terbaru. Anda bisa mengunduhnya atau mencarinya Via internet. Saya hanya memaparkan pokok-pokok permasalahan klise yang sering ditemui dan dilalaikan dalam diri pendakwah saat mengemban amanah Dakwah di kampus.

Sekian Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…



Oleh : Muhammad Habib Amrullah
Monday, January 28, 2019

Kamis, 20 Desember 2018

Manajemen Dakwah




Dalam dakwah tentunya memiliki tujuan. Dan sebuah tujuan tak akan tercapai tanpa cara atau konsep yang jelas. Disitu harus tercipta alur, guna melancarkan tujuan dakwah itu sendiri. Ibarat jalan beraspal yang memudahkan sebuah kendaraan sampai ke tempat tertentu.

Untuk sebuah alasan tertentu, mengapa dakwah sangat penting, apalagi di lingkungan kampus? Karena kampus memiliki kekhasan tersendiri dalam pergerakannya dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih terhadap masa depan suatu bangsa. Mahasiswa merupakan cadangan masa depan. ketika dakwah kampus bisa dilakukan dan di terapkan di kampus, diharapkan akan melahirkan generasi yang berafiliasi terhadap islam, dan kedepannya akan menyalurkan keislamannya pada lingkungan sekitarnya ketika sudah lulus.

Dalam manajemen dakwah, Lingkup dakwah di bagi menjadi empat yaitu Pramula, Mula, Madya, dan Mandiri. Proses ini bisa dibilang terukur dan compatible dimana skala yang di terapkan sudah sesuai dengan kadar kapasitas masing-masing tahapan. Namun yang menjadi problema adalah penerapan yang terkadang masih jauh dari harapan. Mungkin akan dibahas di paragraph selanjutnya.

Capaian yang sebenarnya diinginkan ialah membina Insan memiliki sifat 10 muwasofat :
1.      Salimul ‘Aqidah (Aqidah yang selamat)
2.      Shahihul Ibadah (Ibadah yang benar)
3.      Matinul Khuluq (Akhlaq yang tegar)
4.      Qadirun ‘alal kasbi (mampu bekerja)
5.      Mutsaqaful Fikr (berwawasan luas)
6.      Qawwiyul Jism (Fisik yang kuat)
7.      Mujahidun li nafsi (Etos kerja yang tinggi)
8.      Munazham fi syu’nihi (Tertata Urusannya)
9.      Haritsun ‘ala Waqtihi (Menjaga waktunya)
10.  Nafi’ul li ghairihi (Bermanfaat bagi yang lainnya)

Fase dakwah terbagi menjadi 4 yakni :

-  Fase Tablig dan Ta’lim (fase pengenalan, penyebaran fikrah. Yang semula tidak tahu menjadi tahu)
-    Fase Takwin (Fase pembentukan, penyeleksian, dan latihan beramal)
- Fase Tandzim (fase pengorganisasian, penyusunan pasukan, dan pemobilisasian potensi)
-    Fase Tanfidz




Gambar :
https://www.google.co.id/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjHyeul4a7fAhXHv48KHQNcCWMQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fcovtrustblog.com%2F2014%2F05%2F13%2Fstart-improving-your-finances-with-something-simple%2F&psig=AOvVaw16qxF0BKBTYcYtPxc32JTh&ust=1545407382217023

Selasa, 20 Juni 2017

Perjalanan Hati kehadirat tuhan



1
Sesungguhnya, bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (akhir). Siapa yang bidayahnya selalu bersandar kepada Allah, pasti nihayah-nya akan sampai kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

            Artinya, permulaan seorang murid adalah gambaran akhirnya. Jika di awal ia sudah memiliki tekad kuat untuk menghadap Allah dan berjuang dalam ibadah dan riyadhah, maka di akirnya nanti ia akan mendapatkan kemenangan besar. Begitu juga sebaliknya.

2
Yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang engkau sukai dan semangat dalam melakukannya, sdangkan yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang sering memengaruhi.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

            Yang harus dikerjakan adalah amalan sholeh yang mendekatkanmu kepada Allah. Adapun yang harus diabaikan dan tidak perlu dipedulikan ialah keinginan hawa nafsu dan maslahatmu yang akan sirna.

3
Siapa yang yakin bahwa Allah menyuruhnya melakukan ibadah, pasti ia bersungguh-sungguh menghadap kepada Nya. Siapa yang mengetahui bahwa segala urusan itu di tangan Allah, pasti bulatlah tawakalnya kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

4
Bangunan alam ini pasti rusak binasa. Lenyap pula semua barang berharga yang ada di dalamnya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

5
Orang yang sempurna akalnya ialah yang lebih bahagia dengan yang kekal daripada yang rusak binasa karena cahaya hatinya telah terang dan tanda-tanda cahaya itu tampak pada air mukanya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Orang yang berakal ialah orang yang lebih bahagia dan gemar kepada akhirat daripada kepada dunia yang fana.

6
Orang yang berakal memalingkan mukanya dari dunia ini, mengabaikannya dengan memejamkan mata, dan terus berlalu meninggalkannya. Ia tidak menganggapnya sebagai tanah air atau tempat tinggal.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Dia bisa melihat jelas apa saja yang perlu dijauhinya di dunia ini. ia tidak menjadikan dunia sebagai tempat berleha-leha atau tempat bersenang-senang. Tidak pula menjadikannya sebagai tempat tinggal yang dicintainya.

7
Bahkan semangatnya terus bangkit untuk segera sampai kepada Allah dan terus berjalan menuju-Nya sambil berharap pertolongan-Nya agar segera sampai.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

8
Kendaraan semangatnya terus berjalan tiada henti sampai berlabuh di hadirat Ilahi, di atas hamparan kesenangan, tempat kelapangan, berhadapan dengan-Nya, bercakap-cakap dan menyaksikan-Nya, dan bersimpuh di tempat belajar ilmu-Nya sehingga hadirat Ilahi itu menjadi sarang hati mereka. Ke sana mereka kembali dan di sana pula mereka tinggal.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Biasanya yang menghalangi kendaraan tekad itu ialah sikap bergantung kepada selain Allah, misalnya terhadap dunia.

9
Apabila mereka tiba di langit kewajiban (menunaikan kewajiban) atau turun ke bumi kepentingan (hawa nafsu) hal itu terjadi dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Mereka tidak menunaikan kewajiban dengan lalai dan menyalahi adab. Demikian pula bila menuruti hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk ke dalamnya dengan pertolongan Allah untuk meraih keridhaan-Nya, menuruti tuntutan-Nya, dan berharap kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

10
Katakanlah “tuhanku masukkanlah aku melalui pintu kebenaran dan keluarkanlah aku melalui pintu kebenaran pula supaya pandanganku tetap bulat pada kekuasaan dan kekuatan-Mu ketika Kau memasukkanku, dimikian pula kepasrahan dan ketundukanku selalu kepada-Mu ketika Kau mengeluarkanku”
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

11
“Dan berikan untukku, langsung dari-Mu kekuatan dan pertolongan yang membantuku untuk melawan nafsuku, membantu kawan-kawanku dan orang-orang yang kukasihi, serta membantuku untuk mengenali kelemahan diri dan melenyapkanku dari kurungan perasaanku, bukan kekuatan dan pertolongan yang membantu nafsu dan musuh-musuhku.”
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –



Disadur dan diringkas dari buku AL-Hikam (Hal 359-370)

AHAMMIYATUSY-SYAHADATAIN



            Kenapa Syahadatain itu sangat penting? Karena dengan bersyahadat seseorang bisa menyatakan dirinya sebagai seorang muslim. Syahadat juga merupakan gerbang utama seseorang untuk masuk agama islam. Mempelajari dan memahami Ahammiyatusy-syahadatain itu sangatlah penting bagi seorang muslimin. Bahkan dahulu para Nabi pun berkorban untuk memperjuangkan Kalimat ini. Dan kalimat inilah yang juga menjadi penggerak dakwah dari jaman nabi hingga sekarang ini.

            Mereka yang mendapatkan pahala dari Allah adalah yang bersyahadat. Pengakuan syahadat laa ilaaha illa Allaah belum dianggap syahadat bila hati dan akalnya belum benar-benar mengakui jika ‘tidak ada tuhan yang patut di sembah selain Allah’. Syahadat harus diucapkan dengan tegas dan penuh dengan penjiwaan dan keyakinan, serta tidak boleh plin-plan atau malah murtad.

Kepentingan bersyahadat

            Syahadatain adalah rukun islam yang pertama. Syahadatain ini penting karena sebagai dasar dan asas bagi rukun islam lainnya, dan menjadi tiang untuk rukun iman dan Dien. Sebab-sebab kenapa syahadatain itu penting adalah :

1.              1.    Pintu masuknya Islam
2.              2.    Intisari ajaran Islam
3.              3.    Dasar-dasar perubahan menyeluruh
4.              4.    Hakikat dakwah para rasul
5.              5.    Keutamaan yang besar

1.      Madkhal Ilaa Al-Islaam (pintu masuk ke dalam islam)

Syarat diterimanya amal seseorang adalah dengan mengucapkan Syahadatain. Bila tidak, maka amal-amal yang selama ini dikerjakan adalah sia-sia bagai fatamorgana yang terlihat namun sebenarnya tidak ada. Dan Syahadatain jugalah yang membedakan seseorang beriman atau kafir.
       
      Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan Syahadatain harus kita realisasikan dalam hati dan kehidupan sehari-hari. Manusia bisa berdosa karena telah melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain. Manusia bisa menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap kalimat Laa ilaaha Illa Allaah.

       Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para Malaikat, dan orang-orang yang berilmu yaitu para nabi dan orang-orang yang beriman kepada mereka.

Dalil :
-          Qs (47 : 19)
“maka sesungguhnya tidak ada tuhan melainkan Allah. Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”

-          Hadits :
Diriwayatkan dari Utsman RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda barang siapa meninggal sedang ia mengetahui bahwa tak ada tuhan disembah kecuali Allah, ia masuk surga. (Dalam Kitab As Sahih)

-          Qs (37:35)
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illa Allaah" (tiada Tuhan melainkan Allah) mereka menyombongkan diri”

-          Qs (3:18)
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

-          Qs (7:172)
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) "

-          Qs (25:23)
“Dan Kami menghadap kepada apa yang mereka telah kerjakan dari amal (baik), lalu Kami jadikan dia debu yang beterbangan”

-          Qs (39: 64-65)
“Katakanlah apakah patut sesuatu yang lain dari Allah, kamu suruh aku menyembah, hai orang-orang yang bodoh? Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada mereka yang sebelummu, bahwa jika engkau menyekutukan Allah, niscaya gugur amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi”

2.      2.   Khulaashah Ta'aaliim Al-Islaam (Intisari Ajaran Islam)

Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahaman pada syahaadatain. Seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini. Ada 3 hal prinsip syahaadatain :

o   Pernyataan Laa ilaaha illa Allaah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah SWT saja. Melaksanakan minhajillah (sistem/aturan Allah SWT) merupakan ibadah kepadaNya.
o   Menyebut Muhammad adalah Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu dari Muhammad SAW sebagai Rasulullah dalam mengikuti Minhajillah.
o   Penghambaan kepada Allah SWT meliputi seluruh aspek kehidupan. la mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakatnya.

Makna laa ilaaha illa Allaah adalah penghambaan kepada Allah SWT Wujud penyerahan diri hanya kepada Allah saja yang menciptakan manusia.

Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid yaitu kalimat laa ilaaha illa Allaah. Melalui contoh Nabi SAW, manusia melakukan ibadah yang tepat dalam melaksanakan syariat Islam. Muhammad SAW adalah teladan dalam setiap aspek kehidupan termasuk bagaimana cara mentauhidkan Allah SWT.

Aktifitas hidup hendaknya mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, karena dengan mengikutinya akan mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah SWT saja.

Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah SWT Tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.

Dalil :

-          Qs (2:21)
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”

-          Qs (51:56)
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.”

-          Qs (21:25)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".

-          Qs (33:21)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

-          Qs (3:31)
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu: Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

-          Qs (6:162)
Katakanlah: "Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".

-          Qs (3:19)
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab Nya”

-          Qs (3:85)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan diakhirat termasuk orang-orang yang merugi”

-          Qs (45:18)
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang­orang yang tidak mengetahui”

-          Qs (6:153)
“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”

3.   3.      Asaas Al-Inqilaab (Dasar-dasar Perubahan)

Syahaadatain mampu merubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya. Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.

Ada perbedaan penerimaan syahaadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan pemahaman terhadap makna syahaadatain secara bahasa dan pengertian/ pemaknaan, serta sikap konsisten terhadap syahaadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.

Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahaadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan abid (penghamba), yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah SWT Syahaadatain telah berhasil merubah masyarakat dahulu maka syahaadatain pun dapat merubah umat sekarang menjadi baik.

Perubahan individu contohnya terjadi pada Mush'ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Mekkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang dai, duta rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi syuhada Uhud.

Beberapa reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid sangat beragam. Mereka yang menggunakan akalnya akan dapat mudah menerima kalimat tauhid tetapi sebaliknya mereka yang menggunakan hawa nafsu serta adanya berbagai kepentingan akan menyulitkan mereka memahami kalimat tauhid.

Musuh Allah seperti kaum musyrikin senantiasa memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid. Orang yang beriman dalam sejarah selalu mampu mempertahankan keimanannya dalam menghadapi serangan musuh secara fisik, tetapi terkadang umat Islam kalah dengan serangan opini dan pemikiran seperti yang terjadi pada saat ini.

Dalil :
-          Qs (6:122)
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah­tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”

-          Qs (33:23)
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang­orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)”

-          Qs (37:35-37)
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illa Allaah (Tiada Tuhan melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: 'Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul sebelumnya”

-          Qs (85:6-10)
“Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”

-          Qs (18:2)
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik”

-          Qs (8:30)
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”

4.   4.      Haqiiqah Da'wah Ar-Rusul (Hakikat Seruan Para Rasul)

Setiap Rasul semenjak nabi Adam AS hingga nabi besar Muhammad SAW membawa misi dakwah yang sama yaitu syahaadah. Makna syahaadah yang dibawa juga sama yaitu Laa ilaaha illa Allaah. Dakwah rasul senantiasa membawa umat kepada pengabdian Allah SWT saja. Allah sebagai ilah adalah misi para Nabi untuk disampaikan kepada seluruh manusia.

Dalil :

-          Qs (60:4)
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata) "Ya Tuhan kami hanya Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".

-          Qs (18:110)
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

5.   5.      Fadhaail 'Azhiimah (Ganjaran yang Besar)

Banyak ganjaran dan pahala yang diberikan oleh Allah SWT dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad SAW Ganjaran dapat berupa material ataupun moral. Misalnya kebahagiaan di dunia dan akhirat, rezeki yang halal serta keutamaan lainnya. Keutamaan ini selalu dikaitkan dengan aplikasi dan implikasi (keterlibatan) syahaadah dalam kehidupan sehari-hari. Dihindarkannya kita dari segala macam penyakit dan kesesatan di dunia dan di akhirat.

Dalil :

Hadits : “Allah SWT akan menghindarkan neraka bagi mereka yang menyebut kalimat syahaadah”

Hadits : “Orang yang pada akhir kalimatnya (waktu ajal) mengucapkan Laa ilaaha illa Allaah dijamin masuk surga”

Hadits : “Dua perkara yang pasti, Kata Rasulullah SAW Maka seorang sahabat bertanya, Apakah perkara itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab, Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia tetap masuk surga (HR. Ahmad)”


Disadur dari : http://kajiantarbiyah.blogspot.co.id/2007/06/ahammiyatusy-syahadatain.html dengan beberapa tambahan dan pengurangan.