softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Tampilkan postingan dengan label Gores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gores. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2020

Pandemic Covid 19




            Apa yang bisa dilakukan dirumah? Awalnya cukup senang dengan situasi ini, apalagi di surat edaran pertama tersedia waktu dua minggu sehingga bisa digunakan untuk pulang kampung. Saya pikir wabah ini memang hanya sementara terjadi dan setelah dua minggu perkuliahan akan berjalan seperti biasa. Namun takdir berkata lain. perpanjangan masa waktu untuk berkuliah di rumah terus di perpanjang. Hingga satu semesester ini harus saya rasakan untuk berkuliah full dirumah hingga semester ini selesai.

            Well, memang semula terasa menyenangkan karena tidak harus mandi, bersiap menyalakan motor, dan pergi ke kampus. Cukup rebahan sambil melihat dosen di zoom, mengerjakan tugas di leptop, atau sekedar menyimak perkuliahan di WAG.

            Tapi lebih dari itu, lama-lama terasa sangat membosankan apalagi di rumah bawaannya selalu males dan tidak produktif, saya takut hal ini akan berimbas ke hal yang lebih besar dan menjadi kebiasaan di masa depan. untuk itu berkenaan sekarang memasuki bulan Ramadhan beberapa waktu yang semula luang bisa diisi dengan agenda meningkatkan amal. Namun itu juga belum cukup. Karena perkuliahan juga akan dipadatkan menjadi tanggal 22 mei, serta organisasi yang sudah menuntut untuk berperan aktf di berbagai media online. Semua hal itu harus bisa teratasi. Meski tubuh memang menjadi sangat malas untuk bergerak menyelesaikan semuanya.

            Dari sini mungkin saya masih bersyukur, walau dirumah kebutuhan dasar masih bisa terpenuhi dengan baik. Tak bisa membayangkan betapa susahnya para pekerja harian di luar sana yang sekarang tengah kelaparan di tengah pandemic.

            Salah satu hal yang bisa saya lakukan adalah terus belajar dan berkembang. Meski tubuh terasa jenuh karena hanya berlabuh pada satu tempat. Melihat betapa susahnya di luar sana mungkin bisa memantik semangat yang luntur. Sebisa mungkin pulih bersamaan dengan peningkatan amal di bulan Ramadhan.

            Pemerintah sudah menghimbau supaya masyarakat tidak bepergian kecuali agenda yang sangat mendesak. Saya bisa rasakan itu terutama di daerah zona merah yang mereka selalu was-was jika ingin keluar. Tidak di sini – saya berada di zona hijau – yang para anak kecil masih bebas bermain di luar sana. Tapi kekhawatiran saya tidak berlaku bagi mereka yang membangkang dan merasa kuat untuk bermain dan ngerumpi di luar Bersama teman-teman.

            Saya bukan anak rebahan atau anak yang betah tinggal di suatu tempat. Saya akan merasa sangat lemah Ketika melakukan hal itu. bisa dilihat sekarang perut saya sudah mulai membuncit dan kurang berolahlaga, padahal asupan ke dalam perut begitu banyak melebihi batas tenaga yang dikeluarkan.

            Terlepas dari konspirasi dari berbagai media bawah tanah yang mengindikasi jika semua ini adalah ulah elite global. Saya memang memikirkannya Cuma fokus harus tetap kepada pengembangan diri. Untuk itu sekaranya saya harus membuat procedure apa yang pantas untuk saya lakukan kedepan dan merencanakan Kembali hidup saya jika hal buruk terjadi dan masa penangguhan stay at home di perpanjang hingga akhir tahun. Semoga kita semua lekas bisa selamat dan keluar dari situasi pelik ini.

Jumat, 26 Juli 2019

Menjadi Inisiator Perubahan



            Apa yang melatar belakangi seorang bisa sangat produktif? Bisa sangat kreatif? Bisa sangat tabah serta gigih? Bisa sangat sukses meski segala keterbatasan menghadang? Kadang sebuah hambatan adalah pemantik yang paling baik untuk menyalakan potensi manusia. Sebuah keadaan yang mengancam membuat diri secara otomatis bereaksi untuk mempertahankan diri.

            Ketika seorang terdesak, maka daya motoric yang ada dalam otaknya akan bekerja keras dalam berfikir. Mengamati segala fenomena yang tengah di deranya. Menyimpulkan kejadian yang selalu menyakitinya. Kemudian sesegera mungkin menemukan sebuah solusi taktis yang saat itu juga harus dia realisasikan dengan tindakannya.

            Dari sebuah keadaan yang mencekam, terkadang sebuah solusi dan produktifitas hadir membawa perubahan yang signifikan. Seperti sebuah keajaiban, seketika dampaknya sanggup untuk  memperbaharui lingkungan disekitarnya. Menjadi seorang inisiator handal adalah ketika melihat ancaman sebagai peluang besar untuk mengentaskan diri dari keterpurukan. Walhasil dia dapat melejit bahkan membantu orang-orang di sekitarnya ikut melejit dengan segala gagasan dan upaya yang dilakukannya.

            Banyak orang merasa masa bodoh dengan lingkungan yang ditinggali. Mungkin karena sudah puas dengan segala kenyamanan yang hadir di sekelilingnya, sehingga menumpulkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Membuatnya jadi seorang pemalas, mental passenger dan hanya bisa menangis ketika kenikmatan itu lenyap ditelan gurami. Berbeda dengan mereka yang gigih berusaha, menghadapi segala keadaan serba sulit dan mencekam. Pola pikir mereka terasah, kemampuan strategi mereka berkembang, kegigihan mereka tiada habis di keluarkan, luapan ide-ide baru bermunculan, dan tubuh begitu ringan melaksanakan tiap ide yang telah di pikirkan. Semua itu karena kondisi, sebuah keadaan dimana manusia dituntut untuk keluar dari zona nyaman.

Banyak sekali permasahan yang begitu kompleks mewarnai negeri ini. Mulai dari kemiskinan, Pendidikan, pengangguran, kemacetan, lapangan kerja, tata kota, utang, dan lain sebagainya. Semua berkutat dalam masalah yang saban hari harus mereka pikul. Seperti sudah tidak ada rongga lagi bagi senyuman dan kepuasan dalam sanubari mereka, yang ada hanya ratapan kepasrahan atas segala hal yang menimpa.

Namun banyak juga orang yang berusaha merubah keadaan dari lingkungan terkecil mereka. ada yang baru tahap merubah perilaku pribadi, ada yang sedang merubah satu orang sahabat dekatnya agar Bersama-sama menuju kebaikan, ada yang membuat komunitas tertentu untuk membantu beberapa tingkat masyarakat. Ada yang secara diam-diam mondar-mandir kesana kemari hanya untuk melatih, mengajar, maupun menyelesaikan problem yang bisa dia atasi saat itu. semua bergerak dalam bidangnya masing-masing, dalam bidang yang mereka kuasai dan mereka bagikan ke orang lain.

            Jangan menjadi apatis. Banyak saudara yang menanti karyamu untuk menolong mereka dari berbagai permasahan. Anda ditunggu, kontribusi anda di nanti. Jangan tunggu perintah karena kesadaran ada dalam diri individu itu sendiri. Keluar dari zona nyaman, jika tidak bisa, buatlah situasi yang tak nyaman. Jadikan lingkungan sekitarmu bagai padang rimba atau gurun tandus yang gersang. Jadikan pikiranmu kalut dengan masalah, terpantik dengan problem yang harus segera diselesaikan. Jadilah seorang yang peka, hadapilah realitas yang ada di sekilingmu. Berpikir! Maka solusi pasti akan hadir. Lakukan! Dengan kegigihan, walaupun gagal kau akan bangkit lagi untuk meraih keberhasilan. Ayo maju! Ayo bangkit! jadilah produktif! Jadikan hidupmu semakin berarti.



M         H         A

Kamis, 25 Juli 2019

Siapkah Kita dengan Perubahan?



            Siapkah kita ketika dihadapkan pada perubahan? Ataukah kita hanya berpura-pura tak tahu atau mungkin berharap agar tidak terjadi perubahan. Karena sejatinya perubahan yang baik adalah yang mengarahkan menuju hakikat kehidupan yang sejati. Bukan malah memperburuk dengan realitas semu yang nyatanya merusak tata sistem dunia ini.

            Semua merasa bisa beradaptasi. Merasa diri sanggup berubah di medan manapun, di posisi manapun. Namun lucunya mereka sagat sulit merubah diri mereka sendiri ke arah yang lebih baik. Itu menjadi paduan yang tak sinkron manakala dirinya menuntut lingkungan supaya berubah menjadi baik, sedangkan dirinya masih saja berkutat pada keterbelakangan tanpa adanya usaha untuk merubah diri.

Lucu? Memang, mereka berpikir sudah berusaha, sudah menuju proses, sudah melakukan ini itu tanpa kenal lelah. Tapi seberapa cepat proses itu berjalan? Sudah berapa persen proses itu dilaksanakan? Bayangkan saja ketika kita mendownload sesuatu, dan kelarnya lama, masih berkisar satu persen. Padahal data yang di download 20 Giga. Dituliskan disitu akan selesai di Download satu hari lima jam! Pasti sudah banyak orang akan men-cancel nya tanpa pikir Panjang. Orang itu pasti akan beralih menuju Wifi.id yang jaringannya lebih cepat. Sehingga ketika mendownload data besar akan terasa nyaman.

Begitu juga dengan diri, seberapa cepat kita mengisi kapasitas diri? Bukankah kita siap dengan perubahan? Menginginkan perubahan yang lebih baik? Lantas kenapa kita tak sanggup merubah suatu hal yang sangat mendasar yakni diri sendiri? Sok-sok an mengurus yang lain, berkomentar sana sini ketika melihat problem. Memandang orang lain rendah ketika berbuat salah dalam tindakannya. Tanpa sadar jika diri ini sebenarnya juga banyak salah, banyak ngawurnya, ga peka, dan bisa jadi diri ini lebih buruk dari orang lain yang dikomentari.

Merubah lingkungan menjadi lebih baik memang penting. Namun jangan lupa bahwa diri juga perlu dibina untuk melakukan perubahan tersebut. Karena sebuah perubahan tidak bisa didasari hanya dengan kata-kata bualan belaka. Perlu adanya action, bahkan diri sendirilah yang harus mengawali action tersebut. Jika semua saling menunggu seorang untuk beraksi. Maka akan memakan waktu lama, bahkan agenda perubahan tersebut tak akan terealisasi alias hanya akan menjadi wacana.

Faktor utama untuk merubah keadaan dan siap menerima perubahan, adalah manakala bisa berfikir dan sadar peran kita, terus mengisi kapasitas diri menjadi layak, bersikap terbuka dan fleksibel dengan keadaan sosial, sanggup mengendalikan diri serta berusaha merubah diri ke arah yang lebih baik, mampu berfikir akan perlunya perubahan kemudian di realisasikan dengan tindakan nyata. Sehingga dengan berbagai hal tersebut kita akan meraih sebuah dukungan. Masyarakat tak sekedar melihat kata-kata perubahan yang kita gelontorkan, namun sikap dan tindakan kita juga ikut mendukung perubahan yang dikatakan. Sehingga antusias relasi akan terbangun dalam membantu kita menghadapi perubahan tersebut.


Wallahu’alam…

Amanah Memimpin itu Berat



Amanah itu berat, saya pasti akan menabok orang yang bilang itu ringan. Saya merasa sangat khawatir ketika sebuah amanah berupa jabatan selalu di perebutkan. Karena ketika seorang menjabat sebuah divisi, organisasi, menteri, atau presiden. Maka rasa bangga akan tercipta dalam diri. Merasa lebih hebat, lebih baik, dan lebih besar kuasanya dari pada yang lain. amanah jabatan yang mereka pikirkan seperti sebuah restu Tuhan yang digelarkan di pundak mereka. Alhasil mereka merasa bangga dan akhirnya berusaha mati-matian untuk mendapatkannya.

            Memang bentuk amanah beraneka macam, Arti dari amanah ini sendiri adalah terpercaya. Oleh KBBI, kata amanah ini disamakan dengan kata setia dan diartikan sebagai sifat yang bisa dipercaya, sesuatu hal yang bisa untuk ditipkan atau dipercayakan pada orang lain dan sebagainya. Sehingga seorang yang diberi amanah, hendaknya memiliki rasa tanggungjawab dengan apa yang di amanahkan padanya. Semisal contoh ada yang menitipkan sendal, itu termasuk amanah. Ada yang menitipkan modal usaha, itu juga amanah. Dan yang terakhir adalah jabatan, saya rasa itu adalah amanah yang paling berat.

            Setiap pemimpin selalu dimintai pertanggungjawaban. Entah itu saat rabes di periode akhir, ataupun penghakiman di akhirat kelak. Untuk itu seharusnya menjadi seorang pemimpin dan seorang yang memiliki jabatan harusnya memiliki rasa ketakutan dalam diri, rasa was-was jikalau dia tak bisa maksimal dengan amanah ini. Bahkan ummar ketika menjabat sebagai khalifah saja berjuang keras agar rakyatnya tidak menderita, tidak ingin memakan daging selama rakyatnya masih ada yang memakan roti kering dicampur zaitun. Lantas mengapa zaman sekarang justru mereka sangat bangga dan merasa besar dengan jabatan. Apa yang membuat seorang menjadi arogan dan tidak melihat dampak besar dari amanah yang di emban?

            Pemimpin yang arogan dan merasa berkuasa terkadang tak memperhatikan amanah yang disematkan kepadanya. Padahal sejatinya seorang pemimpin adalah melayani mereka yang telah memilihnya berada di posisi tersebut. Tak ada posisi atas dan bawah, yang ada hanyalah mereka pemberi amanah dan pemegang amanah. Memang sifat pemimpin adalah mengayomi jundi serta jundi harus taat kepada pemimpin. Namun disisi lain pemimpin harus siap menanggung resiko paling depan ketika sebuah problem menerpa masyarakatnya.

Bicara soal jabatan, Umar bin Khattab pernah berpidato yang penjabaran isinya adalah sebagai berikut :

 Pertama, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang tidak perlu diperebutkan. Apalagi sampai meneteskan darah manusia.

Kedua, Sayyidina Umar mengakui kalau dirinya keras, kasar, lemah, dan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, dia berdoa kepada Allah untuk selalu membimbingnya menjalankan amanah tersebut.

Ketiga, menjadi pemimpin dan yang dipimpin adalah ujian. Sayyidina Umar sadar bahwa menjadi pemimpin itu adalah ujian. Begitupun mereka yang dipimpin. Oleh sebab itu, baik pemimpin atau yang dipimpin harus saling mengingatkan agar apa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah.

Keempat, tugas pemimpin adalah menyelesaikan persoalan rakyatnya.

Kelima, siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik. Begitupun sebaliknya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS az-Zalzalah.

            Untuk itu, hendaknya ketika seorang diamanahi sebagai pemimpin, harusnya dia sadar posisinya seperti seorang yang tengah berjalan di jalanan sempit di tepi jurang. Posisi yang sangat berbahaya dimana dirinya dituntut untuk menyelesaikan problematika ummat. Memberikan sebuah kontribusi yang akan menghantarkan ke arah perubahan yang lebih baik. Bukan justru malah berbangga diri serta merasa besar.


Wallahu’alam…

Upgrade diri itu bernama Masalah



Manusia yang hidup di dunia dituntut untuk sanggup keluar dari berbagai macam masalah. Manusia justru memandanga sebuah cobaan maupun masalah hidup itu sebagai sebuah kejadian yang tidak mengenakkan dan harus dihindari. Merasa pesimis dan tak percaya diri dengan diri ketika masalah itu datang menghampiri.  Takut-takut semisal mereka gagal, takut salah, takut tindakan mereka menyalahi aturan, takut sakit, serta tak mempercayai dengan kemampuan yang diberikan tuhan kepada mereka. Mereka tak memiliki upaya menghadapi cobaan dan larut dalam suasana baper. Tak ayal sedikit orang yang maju dan banyak orang menggalau tiada henti meratapi nasibnya sendiri. Mereka tak bisa belajar, tak mampu untuk berfikir. Sehingga membuat mereka semakin terpuruk dari hari kehari. Membuat mereka tak pernah maju dan selalu terkurung dalam Comfort Zone nya masing-masing.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

Esensi dari cobaan dan masalah yang menduru kita adalah sebagai ajang dari optimalisasi diri. Untuk membuat diri semakin kuat, semakin terlatih dan tidak lembek kek ndok dadar. Untuk menjadi seorang yang kuat, tentu memerlukan proses Panjang nan ribet. Tidak serta merta jadi atau tujuan kita tercapai begitu saja. semua perlu di usahakan. Salah satu dampak usaha dari hasil tujuan kita yakni bernama masalah.

Masalah hadir untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Namun pada kenyataannya manusia memang makhluk yang sangat egois – Pengen enaknya saja. mereka berkhayal tinggi, berharap saban hari untuk sukses di kemudian hari. namun usaha mereka hanya sebatas start kemudian hilang di terpa angin. Tak ada perubahan, yang ada malah penyesalan, rasa malas, serta tak henti-hentinya mengumpat keadaan. Merasa sebuah kegagalan adalah akhir dari segalanya. Menganggap segala macam usahanya itu sia-sia belaka.

Banyak orang Berusaha menghindar dan meringkuk dalam kehidupan. Selalu menghindari masalah justru akan menembah beban itu sendiri. Karena masalah tak akan hilang dengan cara dihindari. Justru masalah itu akan tetap tersimpan hingga menggunung. Bukankah Allah sudah berpesan bahwasanya manusia itu diuji sesuai dengan batas kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

Namun manusia selalu saja menyerah sebelum sempat mengeluarkan potensi terbaiknya. Untuk itulah mereka tidak bisa berkembang. Dan ketika mereka sadar diri mereka biasa-biasa saja. mereka malah menyalahkan nasib, menyalahkan keadaan, menyalahkan semua yang taka da hubungannya dengan masalahnya. Padahal kenyataan masalah yang paling besar berawal dari dirinya sendiri. Dia tak sadar itu. karena itulah manusia, mereka tak mau di persalahkan. Sehingga walhasil mereka menjadi manusia yang selalu merasa tak puas, merasa tak berguna hidup, selalu memprotes, selalu jadi bad society.

Pemikiran seperti apa yang mendasari manusia sebegitu takutnya dengan masalah? Berifikir untuk sebisa mungkin meminimalkan masalah dalam hidupnya. Tak ingin mengambil resiko lebih besar dari apa yang kiranya mereka sanggupi. Padahal nyatanya mereka masih bisa lebih. Namun sudah puas dengan diri mereka yang standar. Tidak ingin maju lebih jauh karena takut menanti rintangan yang lebih berat ke depan. sejak kapan mental ini terbangun? Menghindari masalah bukan perkara untung, justru malah buntung.

Aspek yang harus diperhatikan adalah mengenai hati dan ruhani dalam diri. Saat ini sudah banyak dari mereka yang sangat mendewakan ilmu, mendewakan sistem, mendewakan segala macam hal yang di buat manusia. Dan ketika mereka kehilangan itu mereka merasa sangat hampa. Apa gerangan? Ternyata faktor utama terdapat di ruhani. Yang mengubah mindset dan cara pandang manusia itu sendiri. Terlalu duniawi sehingga mereka tak pernah percaya dengan adanya alam lain. Mereka tak sadar telah kehilangan jiwa yang menyambung kepada sang pencipta. Rasa arogan kepada segala macam yang bersifat materialistic menghilangkan pandangan murni mereka pada sesuatu yang bersifat absurd.

Tak heran banyak sekali terjadi kerusakan dan degradasi moral di lingkungan kita. Salah satu sebabnya ialah jauhnya orang itu dari agama. Jarang saya lihat seorang yang taat mengalami depresi serta melakukan penyimpangan moral dan sosial. Justru mereka yang tak bisa mendalami kehidupan hanya sebatas melihat sampul hidupnya saja. Sejatinya isi nya mereka tak mampu lihat. kendati dimikian, itulah yang membuat mereka menjadi terombang-ambing. Dan ketika masalah menerpa, mereka kehilangan arah, menganggap diri mereka tak berarti, tak ada pegangan dan seorang yang membantu.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

            Kuncinya adalah dari dalam diri, buat dirimu tersambung kembali dengan sang pencipta. Hidup tidak hanya sebatas diisi dengan ilmu duniawi, karena sejatinya itu belum lengkap tanpa ilmu akhirat. Begitu juga sebaliknya. Saling melengkapi adalah dasar dari alam semesta ini tercipta. Laki-laki dan perempuan, siang dan malam, matahari dan bulan, api dan air. Hal itulah yang menjadikan keseimbangan. Termasuk bagaimana kita bisa mengatur keseimbangan diri ketika menghadapi sebuah masalah. Karena sejatinya masalah hadir untuk meng-upgrade diri untuk menuju stage selanjutnya. Dan ketika gagal, jangan langsung menyerah, bukankah kita masih hidup? Masih bernafas? masih bisa berfikir dan mencoba? Lantas apa yang membuat kita berhenti berjuang ketika kesempatan untuk merubah itu masih ada? Pikirkan.


Wallahu'alam...

Selasa, 16 Juli 2019

Makna Kata



Kursi? Apa itu kursi? Apa yang terbayang dalam pikiran ketika kita sebutkan kata kursi? Sebuah benda yang terbuat dari kayu. Sebuah benda yang biasa digunakan untuk duduk? Lalu pensil. Apa itu Pensil? Apa yang terbayang dalam pikiran ketika kita sebutkan kata pensil? Sebuah benda yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya terdapat graffit berbentuk silinder kecil. yang biasa digunakan ketika menulis.

            Apa yang menyebabkan sebuah kata bisa berkolerasi dengan bayangan yang ada di dalam pikiran? Apa yang memaknai sebuah benda sehingga sebuah kata saja bisa memantik gambaran objek yang pernah terlihat oleh mata?

            Setiap kata mengandung makna, dan ketika kata itu tak bermakna, maka kata tersebut tak akan dapat memantik suatu objek apapun dalam pikiran. Lalu, apa yang akan terjadi ketika kata tersebut mengandung unsur abstrak? Sebuah kata yang absurd? Yang dimana kita tidak pernah tahu bentuknya seperti apa? Itulah kata kerja. Kita tak tahu bentuknya, namun tahu cara kerja dari katanya. “Mengejar” apa itu mengejar? Kita tak akan bisa mendiskripsikan bentuknya. Namun kita tahu maknanya. Yakni kita akan membayangkan “mengejar” adalah sebuah kata yang digunakan ketika berlari untuk menyusul sesuatu. Seperti mengejar maling, mengejar penjual es tung-tung, dan sebagainya.

            Ketika sebuah kata terucap. Dan ketika otak kita connect dengan makna kata yang terucap. Seakan kita merasakan sebuah sensasi yang ada di dalam kepala, sebuah bentuk kepahaman akan sesuatu. Sebuah pengertian yang membuat mudeng. Dan itu terpantik begitu saja dalam impuls otak kita. Lalu, mengapa saya harus repot-repot menjelentrehkan pengertian kata sebegitu rumitnya. Seperti yang tertera di atas? Jujur, banyak orang yang menyepelekan mengenai sebuah “makna kata”. Mereka tak peduli dengan betapa potensialnya sebuah kata yang terucap, sebuah kata yang terketik, dan yang tertulis dimana-mana.

“Kata” mewakili peradaban. Peradaban ada oleh susunan kata yang membentuk kalimat, lalu semakin banyak menjadikannya paragraph. Dan semakin banyak yang kemudian menghasilkan sebuah buku. Tiap kata mencerminkan pengertian. Dan sebuah pengertian bagaikan kode yang memantik sirkuit otak untuk beraksi. Objek atau Suatu system di dunia ini yang terbentuk, akan segera di lebeli sebuah kode berbentuk “kata” dimana ketika kode itu terucap maka langsung otak akan memproses makna yang tepat dari apa yang kita ketahui mengenai kode “kata” yang telah di lebeli itu.

Luar biasa, bahkan sebuah kalimat saja mampu membuat dampak yang luar biasa.
“I love you” bayangkan seorang yang kamu cintai mengatakan itu di hadapanmu. Maka, tentu kita menjadi sangat senang dan hati akan berbunga-bunga. Apa yang menyebabkan reaksi itu muncul pada diri kita? Sebuah kata, sebuah kata yang membentuk kalimat, kalimat bermakna yang tertangkap oleh impuls otak kita. Yang di proses kemudian dimengerti oleh kita. Dan akhirnya menimbulkan reaksi dari kata yang terucap tadi.

            Lalu apa hebatnya? Saya sudah tau? Mengapa perlu dikasih tau? Tenang, justru karena anda sok tahu sehingga anda tak bisa menghargai hebatnya kata yang dipahami oleh manusia. Kita tahu betapa banyak rangkaian kata yang tercipta di bumi. Baik yang sudah ditemukan, yang belum ditemukan, maupun kata yang telah punah di masa lampau. Kata itu bagaikan code script yang tiap kombinasinya menghasilkan sebuah keajaiban reaksi. Dan ketika kombinasi kata tersebut tak sinkron dan terkesan samar. Tubuh akan menolak reaksi dengan eskpresi ‘bungung’. Begitu juga ketika kita meng input code program computer asal-asalan. Computer akan menolak dan bingung dengan perintah itu. Sehingga tidak ada reaksi yang dihasilkan.

            Jadi kalian sudah tahu betapa hebatnya makna kata, betapa luar biasanya fungsi kalimat, sebuah kalimat yang terucap dapat membuat hati manusia menangis, dapat membuat hati manusia merasa bahagia, bahkan sebuah kata juga dapat menimbulkan peperangan. Jadi ketika kita mengetahui makna kata. Tentu kita harus hati-hati dan bijak dalam menggunakan sebuah ‘kata’ ini. Karena semua kata yang tercipta baik secara tulisan, ketikan, maupun ucapan akan berpengaruh ke dunia luar sebagai suatu respon perintak atau code yang biasa diinput ke computer.


Senin, 08 Juli 2019

Berorganisasi dengan Hati

wall.alphacoders.com


            Berkali-kali Saya merasakan peluh kesah di berbagai tingkat organisasi, Terkadang ada yang sreg di hati, namun tak jarang rasa jenuh dan bosan hadir menghantui. Acapkali sering seperti itu. Hati secara otomatis bisa memilih dimana posisi yang nyaman untuk kita tempati.

            Tipikal Hati seseorang memang berbeda-beda, ada yang berwarna putih, abu-abu, bahkan ada juga yang berwarna hitam karena jarang dibersihkan. Semua itu tergantung lingkungan dan teman yang ada di sekitarnya. Hal itu juga akan menentukan dimana letak organisasi yang tepat untuk dirinya.

            Seorang memilih organisasi seperti seorang yang tak bisa melihat karena gelap, dan hanya mengikuti mata hati sesuai dengan keadaan hatinya kala itu. Tugas dari organisasi adalah memberi cahaya. Tapi bukan hanya itu, Peran Organisasi juga sebagai penunjuk jalan agar hati orang tersebut benar-benar nyaman berada di jalan organisasi. Jika tidak, sudah dipastikan dia akan merasa jenuh dan perlahan menghilang untuk meninggalkan jalan organisasi tersebut.

            Dulunya Saya merasa begitu. Beberapa organisasi Saya tinggal karena hati belum menemukan arah yang tepat di dalamnya. Beberapa masih aku pertahankan karena saya anggap disana bagus dan sesuai dengan mata hati. Jadi untuk menggaet seseorang yang masih rapuh hatinya adalah ‘bagaimana cara organisasi menyentuh hatinya’. Bagaimana lingkup organisasi itu sampai dan masuk ke dalam hatinya. Jika sudah di dapat, dapat di pastikan dia akan merasa senang dan jenak dengan seluruh kegiatan yang ada di dalam organisasi tersebut.

            Namun itu baru langkah awal. Menggaet hati seorang itu ibarat merancang sebuah judul dalam sebuah buku. Yang kemudian kita harus menentukan isi buku tersebut supaya pembaca makin tertarik mendalami isi buku. Dibutuhkan keterampilan dalam prosedur organisasi yang professional, efektif, dan efisien. Bagaimana bisa menyelesaikan suatu persoalan dengan lugas tanpa ada rasa kebingungan sama sekali. Dengan susunan prosedur yang rapi, maka pembaca akan semakin nyaman. Organisasi akan semakin ringkas namun produktif. Bisa menjadi pembelajar yang nyaman dalam menyerap pengalaman yang berarti di organisasi. Bukan hanya sebatas menggugurkan proker, bukan hanya sekedar formalitas belaka dimana sebuah organisasi tampak sangat suram dengan berbagai bentuk ke-formalitasannya.

            Formalitas tak selalu melulu harus di hadirkan. Harus ada hati dan canda disana agar organisasi terkesan penuh warna. Bukan hanya sekedar gerak raga yang minim akan eksistensi jiwa, dimana semua berdasarkan apa yang harus dicapai tanpa mengerti esensi kegiatan yang telah di lakukan. Bukan melulu organisasi digunakan sebagai ajang penggugur amanah. Karena sejatinya organisasi adalah tempat untuk menimba ilmu serta menjalin ukhwah antar sesama. Lakukan segala kegiatan dengan hati. Cabut ke formalitasan yang mencekam dengan berbagai pengajaran yang interaktif. Semua itu dilakukan supaya hatinya tak kelu akan tuntutan demi tuntutan proker. Namun haruslah dia berpikir bahwa tugas yang dia dapat sebagai kewajiban yang akan mematangkan dirinya kelak. Pola pikir juga harus dirubah semenjak dini.

            Tentu masih banyak kita dapati para organisator tak memiliki tujuan pasti terkait apa yang mereka harus lakukan ketika mengikuti organisasi. Mereka tak tahu apa dan mengapa mereka ikut. Hanya sebatas mendengar kata hati. Untuk itu tugas paling berat dari organisasi adalah menyulut dan memantik. Memberikan jalan dan arahan supaya mereka tahu apa yang mereka inginkan di orgaisasi? mengapa mereka ikut organisasi? Sehingga terciptalah rasa dan tujuan di hati mereka yang nantinya di gunakan untuk memberikan kontribusi berarti bukan hanya di organisasi saja, namun juga di lingkuan luar.

            Sebagai pemimpin, pertama harus mendalami dulu visi organsiasi yang akan di pimpin. Setelah menetapkan tujuan barulah masuk ke indikator poin misi yang akan di capai di periode itu. Semua harus jelas dan diharapkan tersampaikan bukan hanya secara lisan kepada para staff. Namun juga harus merasuki dalam sanubari supaya Visi misi itu bisa terus dipraktekkan dalam tiap agenda kerja. Penanaman dasar itu sangat penting. Bagai pondasi yang menjaga bangunan rumah agar tetap kokoh. Bagai akar pohon yang menyokong pepohonan agar berdiri tegak, untuk itu berilah pemahaman dasar semenjak dini pada para staff. Gaet hatinya kala itu juga. Cari tahu informasi mereka apa yang ingin mereka kejar dan mengapa mereka ikut organisasi ini. Tanyakan secara serius. Karena itu akan menjadi bekal mereka dalam perjalanan mereka di organisasi.

            Jadi kesan pertama itu penting. Apa yang kita tanam di awal harus di rawat dengan lebih. Seperti bibit tanaman yang tanahnya harus di bajak dan di beri pupuk. Kemudian disirami setiap hari agar tumbuh subur. Begitu juga staff kita. Menjadi pemimpin bukan hanya sekedar menggugurkan tugas semata. Bukan hanya sekedar meneruskan perjalanan amanah dari periode sebelumnya. Namun lebih dari itu. Kita bicara soal pemimpin, kita bicara soal pembentukan pemimpin. Dimana pemimpin harus bisa menciptakan pemimpin baru, entah itu yang akan menggantikannya ataupun untuk menjadi pemimpin yang lainnya. Semua itu perlu proses. Dan proses itu tak hanya bisa digerakkan dengan proker-proker semata. Disitulah peran hati tercipta, disitulah pemahaman akan eksistensi organisasi ditamanamkan. Agar tercipta seorang pemimpin yang baik dan tak hanya bekerja sebatas arahan proker semata.



M       H         A

Senin, 03 Juni 2019

Game dan Kehidupan



Mengapa Game sangat menarik bagi kaum Pemuda? Mereka sampai rela begadangan, membeli item game, Skin dan equipment lain dengan pulsa. Padahal hal tersebut tidaklah berguna sedikitpun di kehidupan nyata. Mengapa mereka sampai rela berkorban dengan kesia-siaan? melampui batas sampai ketagihan, lupa waktu, lupa tidur, lupa isi dompet, lupa tugas, bahkan lupa orang tua? Kenapa, mengapa? Padahal apa yang menjadi penyebab hanyalah game. Apakah peran game dalam merusak generasi muda sampai separah itu? lalu apa kekuatan Game sehingga memiliki daya perusak yang sedemikian besar?

Kalau dipikir secara nalar, bukankah akan lebih baik ketika para pemuda mengalokasikan waktunya dengan membaca? Dengan tilawah? Dengan mencari pengalaman kerja? Dengan menulis? Bisnis? Dan kegiatan produktif lainnya. Ketimbang harus ndekem di kamar sambil bermain game tiada henti. Sebenarnya main game itu boleh, ga haram. Cuma yang jadi kendalanya itu ketika sudah ketagihan, sampai tak bisa mengatur waktu antara bermain dan produktif. Padahal jika dipikir kita bisa bermain sambil produktif (kita akan bahas ini di sesi akhir). Mereka sebenarnya tahu dampak negative nya jika kebablasan bermain game. Namun mereka masih rela membuang waktu untuk itu. Ibarat perokok, meski sudah di peringatkan dengan iklan dan bahaya merokok, tetap saja mereka membelinya.

            Mari kita pelajari apa yang membuat Game sedemikian DIGDAYA. Secara visual, Game manampilkan kesan dan pengalaman yang menakjubkan bagi para pemainnya, apalagi dizaman sekarang grafik game hampir menyerupai tekstur di dunia nyata. Menampilakan alur cerita seru dan unik serta menguji ketangkasan, adrenalin, strategi, dan tantangan bagi para pemain. Tak dipungkiri berbagai Genre Game yang beraneka ragam telah menggantikan peran maupun job di dunia nyata. Contoh nya saja game simulasi truk. Mereka tak harus belajar atau menyetir truk sungguhan, mencari sim B dan melakukan kursus sana-sini. Cukup duduk manis menginstall Euro Truck Simulator bajakan, Mengatur tampilan spesifikasi PC, belajar sepuluh menit, lama-lama mereka sudah mendapatkan pengalaman yang serupa. Dan ketika ada resiko kecelakaan mereka cukup tekan restart, selesai. Jika di dunia nyata, resikonya bisa berujung nyawa dan juga denda.

Kepraktisan game yang bisa di mainkan kapanpun dan dimanapun, tidak terkekang hukum-hukum dunia real, menjadikan para pemain tak perlu ragu untuk berbuat sesuka udelnya. Karena di dalam game kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Beda di dunia nyata dimana resiko pengambilan keputusan akan berakibat nyata dalam kehidupan. Sedangkan di game paling hanya berakibat maya. (Salah dikit tinggal restart, kalau game online tim hampir kalah tinggal AFK :V)

            Intinya adalah kehendak bebas. Sesuai naluri manusia yang ingin mencari kebebasan tanpa kekangan. Sedangkan meraka merasa terkekang dengan rutinitas menjemukan yang mereka alami di dunia nyata. Berbagai macan tekanan batin dan psikis di sekolah, kampus, kantor, maupun saat berinteraksi dengan lingkungan. Membuat jenuh dan akhirnya mereka lampiaskan dengan bermain game untuk mendapatkan kembali ruh kehidupan mereka yang hilang di dunia asli.

            Game tak selalu menawarkan dampak buruk dan perilaku negative. Seperti yang saya sebutkan di awal. Game bisa merangsang otak untuk berpikir kognitive dan berlatih dalam mengambil keputusan, strategi, simulasi, serta mengasah kemampuan motoric. Semua tergantung pada pengguna lebih mengarah ke hal positive atau negative.


Lalu bagaimana cara menselaraskan kehidupan di dunia nyata dan di dunia game? Bagaimana kita bisa menikmati dunia seperti halnya ketika kita menikmati sensasi bermain di dalam game?            

Pertanyaan yang cukup menarik. Dari sini saya ingin memformulasikan pelajaran yang saya dapatkan ketika bermain game, yakni membuat sebuah pola yang hampir sama antara dunia nyata dan dunia isekai (Game).
     
     1.      Buat Tiap hari dikehidupan nyata serasa Login di Game kesayangan kita.

Mengapa seorang itu betah untuk login tiap hari di game online? karena ada event seru seperti skin gratis, peti hadiah atau tambahan Gold ketika mereka menyempatkan login untuk singgah ke menu game utama. Di hari-hari normal yang kita jalani cobalah untuk melakukan hal serupa, ketika bangun dari tidur cobalah untuk bersyukur karena masih diizinkan login di dunia nyata. Hadiahkan diri di pagi hari untuk Sholat subuh ke masjid, olahraga, makan-makanan yang kita pengen atau mungkin kita bisa memberi surprise pada diri sendiri maupun teman kita agar timbul rasa bahagia pada diri.

Kalau missal posisi kita itu sebagai orang tua, maka tunjukkanlah apresiasi itu tiap hari pada anak kita. Kalau mereka berhasil bangun subuh kita masakin makanan yang enak. Atau kalau memang tidak bisa tiap hari, minimal satu kali seminggu seperti di hari senin. Jadi tiap hari senin selalu ada bingkisan untuk anak kita supaya mereka selalu menunggu-nunggu datangnya hari senin untuk bersekolah sekaligus mendapat doorprize yang dijanjikan.

     2.      Beri Apresiasi pada diri atas segala jerih payah yang ada walau itu sepele

            Dalam game juga ketika kita berhasil memenangkan sebuah event atau pertandingan pasti akan ada apresiasi berupa ‘congratulation’ atau pernyataan lain yang membuat hati kita menjadi gembira dan semangat untuk menang lagi dan lagi. Begitu pula dalam kehidupan. Tunjukkan apresiasi pada diri jika kita berhasil melakukan seuatu hal tertentu, semisal telah berhasil tilawah satu juz pada hari itu maka saya akan beli susu mbok darmi. Atau ketika saya berhasil mengerjakan skripsi, saya akan mentraktir teman-teman saya yang ada di kosan.

            Begitu pula ketika kita menjadi orang tua. Kalau anak kita tidak berhasil melakukan sesuatu jangan kita malah memarahi atau mengkritik pedas sehingga membuat mentalnya makin runtuh. Tapi berilah semangat dan apresiasi atas jerih payahnya meski itu hanya sekedar berhasil membuka tutup botol, karena apresiasi kecil sangat berdampak positif untuk menunjang keberhasilan besar yang akan di buat anak kita kedepannya.

     3.      Buat Timeline Event kita sendiri di tiap bulannya

Bahkan di Game online saja ada timelinenya, masak di kehidupan nyata kita engga? Salah satu hal yang membuat para player bisa mengatur dan kebablasan dalam bermain game adalah karena tiap bulannya selalu ada timeline event-event seru dan menggemparkan. Cobalah kita ambil manfaat dan membuat sendiri timeline kita dengan berbagai agenda sesuai dengan passion. Dampak yang dihasilkan akan membuat kehidupan kita menjadi lebih teratur, seperti seorang player game yang sangat teratur memilah dan bermain game hanya untuk menyelesaikan event setiap bulannya. Tentu hidup kita juga jangan mau kalah, kita buat event dalam hidup dan mencoba menyelesaikan segala tugas yang ada di tiap bulan. Lama-lama pasti kita akan lupa untuk menyempatkan waktu login game karena kita sudah dibuat sibuk dengan timeline event di dunia nyata.

     4.      Buat system upgrade leveling dari capaian yang berhasil kita raih

Jadikan event-event dalam hidup kita sebagai peringkat dasar untuk terus menggenjot XP level kehidupan kita. Semisal berhasil tilawah 1 juz sehari maka kita akan mendapatkan XP 10. Sedangkan untuk naik level dua kita butuk 100 XP, level tiga butuh 200 XP, level empat butuh 400 XP, terserah sesuai keinginan kita. Ketika kita membikin kehidupan kita sendiri menjadi seru, maka kita akan lebih menghargai hidup serta jerih payah yang telah dilakukan.

Sesuaikan dengan passion maka secara tidak langsung kita akan merasa nyaman untuk menjalani seluk beluk kehidupan seberat apapun tugas dan cobaan yang menghadang. Terus tertantang untuk maju dan mengambil resiko maupun masalah sulit. Karena kita sudah membentuk peringkat dan konsep dasar yang menjadi acuan untuk menyemangati diri sendiri.

Ketika bermain Game di level easy terus lama-lama pasti bakal bosan dan jenuh. Rasanya ingin sekali mencoba hal baru dengan mengambil tingkat kesulitan medium, hard, bahkan expert. Seperti itulah ketika ingin menjalani sebuah kehidupan. Mulai dari yang mudah dulu dan dapatkan poin sesuai tingkat kesulitan yang ada. Lama-lama kita akan merasa tertantang sendiri dan mencoba untuk mendapatkan poin yang lebih banyak. Misal udah seminggu berhasil membaca buku lima lembar perhari/ maka ciptakan event baru ke mode medium dengan meningkatkan menjadi 8 lembar / hari. Begitu seterusnya sampai kita menjadi expert dan berhasil membaca satu buku dalam sehari. Apa mungkin? Ga ada yang ga mungkin bro kecuali menghidupkan orang mati.

            Di akhir kata mengapa kok saya mengambil tema game disini. Karena menurut pandangan saya banyak pemuda terutama anak lelaki suka banget bermain game sampai lupa waktu. Mungkin dengan penanaman kembali pola pikir mengenai kehidupan yang bisa di gameinisasi membuat kehidupan kita serasa bermain namun juga produktif. Kombinasi ini memang agak nyeleneh namun terbilang efektif untuk menyadarkan mereka, mengembalikan mereka dari buaikan dunia isekai (game) tanpa makna dan bias, menuju ke hamparan kehidupan nyata bermasyarakat yang sebenarnya peran pemuda sangat dibutuhkan disana.

Sekian artikel singkat dari saya. Jangan lupa gunakan waktu untuk terus berjuang memperbaiki kualitas hidup yang produktif dengan event-event yang kita buat setiap hari, bulan, bahkan tahun. Memberi apresiasi untuk memacu semangat orang lain maupun diri sendiri. Berusaha menaikkan kapasitas diri dengan leveling setiap hari (dengan menyelesaikan tugas-tugas kehidupan) Sehingga membuat kita tidak menjadi lupa waktu untuk melakukan perbuatan negative, namun kita menjadi lupa waktu untuk melakukan kegiatan positive. Sampai tak sadar sudah berapa lama waktu yang telah di lewati untuk berjuang. Dan ketika sadar, kita telah berada di ujung jalan dengan capaian-capaian mengagumkan dalam tiap langkah kehidupan kita.



Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…



Minggu, 3 Juni 2019

M         H         A

Sabtu, 01 Juni 2019

Pemuda Muslim Ideal Berjiwa Milenial




            Dizaman Milenial ini, berbagai macam budaya dan gaya merambah bagai jet berkecepatan suara. Begitu cepat membuat kehidupan di sekitar kita serasa berwarna dengan hegemoni dan berbagai tipe budaya yang beragam. Diserap oleh khalayak muda, yang itu entah berdampak positif dari segi kreasi dan kemajuan teknologi, sampai ke dampak negative mulai dari kecanduan sampai penyimpangan sosial.

            Bagaimana peran selaku pemuda islam dalam menangani arus globalisasi yang semakin meng-Global ini? Tentu tak bisa dihindari, untuk itulah perlu adanya sikap dan antisipasi.

Dalam memerangi, eh bukan. Dalam menyikapi dunia yang sudah mulai memasuki ranah 4.0, tentu kita tak boleh lupa mengenai indentitas kita sebagai seorang pemuda muslim. Tak usah larut dalam hagemoni namun ikut andil dalam mewarnai dan menselaraskan situasi. Bak warna yang menghiasi pelangi, mari hadirkan generasi pemuda islam berjiwa madani. Pemuda yang dikenal memiliki jiwa yang kokoh dan hati yang bersih, berani, mandiri, cinta pada sesama, serta bermanfaat bagi sekitar.

Emang mudah kalau Cuma omong doang, saya akui untuk merealisasikannya itu sulit dan butuh pengorbanan. Pengorbanan itu perlu guys, bahkan ketika ngerjain tugas kuliah pun, kalian perlu mengorbankan waktu buat belajar dan mencari artikel sana-sini.

Mengapa kok menjadi seorang muslim ideal berjiwa milenial itu penting? TENTU SANGAT PENTING! Sadar ga sadar sebenarnya kita ini sudah tertinggal dari mereka. Kondisi kita tidak bisa dibilang baik-baik saja. Fikrah Pemuda Islam sudah tercekoki oleh budaya negative dari luar yang membuat kita semakin jauh dari agama islam itu sendiri. Akibatnya, kita merasa minder dan berpikir bahwa menjadi pemuda islam itu memalukan, ngga keren, kurang trendy dan kerjanya Cuma keluar masuk masjid. BUKAN BEGITU, TENTU ITU CARA PANDANG YANG SALAH. Apa penyebab kebanyakan orang berpikir demikian? Kembali ke bahasan awal, fikiran kita sudah ter-setting oleh budaya arus informasi dari luar yang kurang ter-filter di jagad raya.

Lanjut ke bahasan utama, Apa itu muslim Ideal? Dari segi Bahasa, Secara harfiah muslim bisa berarti damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salamat).
Ideal bersumber dari sesuatu yang di iimpikan, di idam-idamkan, dan dikehendaki.
Sehingga bisa disimpulkan bahwasanya muslim ideal ialah
‘seorang yang membawa kepada kebaikan kepada diri maupun orang lain kapanpun dan dimanapun, menjalankan berbagai macam syariat yang telah di tetapkan islam mulai dari yang kecil sampai yang besar, menjauhi larangan dan melaksanakan perintahnya. Tidak menentang dan santun kepada sesama, hablum minallah dan hablum minannas’

            Kendati sebelum kita masuk ke penjabaran bagaimana cara untuk menjadi seorang muslim yang ideal, mari saya ajak dulu untuk mengerti gambaran seorang muslim yang ideal itu.

            Islam adalah agama sempurna yang relevan dari masa ke masa. segalanya tepat di atur dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sebagai seorang Muslim ideal tentu harus berusaha menguasai segala seluk beluk ajaran islam supaya tidak salah paham mengenai isi dan kandungan yang diajarkan di dalamnya. Membuat tingkah laku kita setiap hari memiliki landasan yang teratur, tidak asal neko-neko, sanggup memilih yang baik dan bathil, kedepannya itulah yang akan membantu kita dalam menghadapi dunia yang sudah mulai frontal ini. Intiya menerapkan dalam kehidupan keseharian sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadtis. Seorang muslim ideal haruslah memiliki pemikiran yang idealis serta sangat memperhatikan tingkah laku. Entah itu ketika dia sedang berhadapan dengan manusia maupun saat berinteraksi dengan Allah subhanahu wata’ala.

            Dahulu ketika Aisyah ditanya tentang sifat rasullullah SAW. Aisyah berkata dalam sebuah hadits bahwasanya perilaku nabi itu sama dengan tuntunan yang di ajarkan dalam Al-qur’an sehingga Rasullah seperti Al-Qur’an yang berjalan dimana segala apa yang ada di dalamnya diterapkan dan diimplementasikan di kehidupan nyata.

            Ada beberapa aspek untuk menjadi seorang muslim ideal, yakni 10 muhasofat. Dimana ketika berhasil menerapkan sepuluh hal tersebut. Insyaa Allah kita akan menjadi seorang muslim ideal yang milenial. 10 Muhasofat di antaranya adalah :

    1.      Salimul Aqidah (Aqidah Yang Bersih)
    2.      Shahihul Ibadah (Ibadah Yang Benar)
    3.      Matinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh/Mulia)
    4.      Qawiyyul Jism (Fisik yang Kuat/Kekuatan Jasmani)
    5.      Mutsaqqoful Fikri (Intelek Dalam berfikir)
    6.      Mujahadatul Linafsihi (Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
    7.      Harishun Ala Waqtihi (Pandai Menjaga Waktu)
    8.      Munazhzhamun fi Syuunihi (Teratur dalam suatu urusan)
    9.      Qadirun Alal Kasbi(Mandiri)  
  10.  Nafi'un Lighoirihi (Bermanafaat Untuk Orang Lain)

Insyaa Allah kita akan bahas dan kupas satu persatu di tulisan selanjutnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarokatuh…

M         H         A