softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Tampilkan postingan dengan label think. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label think. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2020

Pemimpin itu Mengatur, Bukan di Atur




            Seorang pemimpin puncak diharapkan dapat menggerakkan tiap komponen yang ada di bawahnya guna mencapai tujuan organisasi. Pemimpin harus mampu memandang segala sesuatu dengan pandangan luas dan dari sudut pandang yang berbeda. Jika tidak, seorang pemimpin tidak ada bedanya dengan anggotanya. Seorang pemimpin harus memiliki horizon luas dan Cakrawala penglihatan yang mencakup hingga ke pelosok terkecil dari organisasi.

            Pemimpin dituntut untuk memiliki wawasan yang luas agar sudut pandang yang dihasilkan tidak bias. Meski begitu perlu adanya sikap menerima masukan sebagai penambahan wawasan. Sikap kritis seorang anggota merupakan Mutiara yang harus dibina dan di kembangkan, dibarengi dengan sikap tegas dan bijak dalam mengatur keputusan. Untuk itu perlu pemahaman serta wawasan yang cukup dalam agar logika berpikir tetap dalam koridor yang seimbang.

            Dalam praktik sehari-hari memang tidak mudah mempraktekkan teori yang sudah diketahui sebagai seorang pemimpin, perseteruan dan bertindak arif dikala banyak anggota yang tidak sepakat menjadi dilema tersendiri yang harus segera diselesaikan agar menemukan jalan keluar terbaik. Dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mencontohkannya ketika presiden amerika ke-38 Richard Nixon terkena kasus Watergte dan yang membuatnya harus menngundurkan diri. Kemudian Ford yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden, naik menjadi presiden. Ford setelah dilantik kala itu mengambil keputusan berani dengan mengampuni tanpa syarat Nixon dengan kasus-kasus yang menjeratnya. Hal itu Ford lakukan agar Amerika tidak melulu mempermasalahkan problem tersebut serta berupaya agar amerika bisa terus memandang ke depan. Sontak banyak kritikan pedas orang yang tidak sepakat dan menentang keputusan Ford, hingga pada akhirnya dia tidak terpilih menjadi presiden di periode selanjutnya.

            Namun selang bertahun-tahun kemudian, banyak yang memuji keputusan Ford ini sebagai langkah yang tepat agar AS melangkah kedepan, tidak terkungkung oleh masa lalu. Bahkan seorang Ted Kennedy yang dulu menentang keras keputusannya menjadi luluh dan paham dengan keputusan bijak Ford.

            Pemimpin tidak boleh takut dengan putusan mayoritas yang ada, karena mayoritas belum tentu benar, perlu pandangan luas dan kebijaksanaan untuk menghasikan keputusan yang tepat, walau di akhir dilemanya akan di jauhi dan tidak dipercaya oleh beberapa anggota. Namun selaras dengan itu, banyak orang yang akan sadar ketika mereka melihat hasil yang diperoleh dari keputusan tersebut.



Pemimpin adalah Penggerak

            Seorang pemimpin harus tetap menjaga mesin yang ada di organisasinya tetap panas dan terus bergerak. Roda harus diputar demi terus menjalankan kelangsungan organisasi. Tugas utama pemimpin adalah menemukan harmony dan sinkroniasi Gerakan antara tiap bidang yang ada. Bukan malah mencampuradukkan dan saling menyalahkan. Integrasi antar bidang sangat penting agar proses keberlangsungan bisnis bisa berjalan saling beriringan. Disharmoni menyebabkan kekacauan dan berdampak pada permusuhan antar bidang. Jika irama tidak sinkron, tujuan organisasi sulit tercapai.

            Pemimpin secara psikologis harus mengetahui konflik problem yang mengemuka atau tersembunyi di dalam organisasinya. Saat itulah dia harus mengendalikan irama, kapan harus turun tangan, kapan harus menyelesaikan dan membiarkan untuk sejenak. Timing sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan sampai seorang pemimpin itu buta dan hanya fokus pada tujuan. Namun onderdil dalam organisasinya berantakan.


Selasa, 04 Februari 2020

Politicking



Adalah sebutan untuk politik kantor yang biasanya terjadi dalam organisasi profesional. Politicking digunakan untuk mendapatkan keuntungan dan merealisasikan tujuan dalam wadah organisasi atau kantor tersebut, baik itu untuk diri sendiri, kelompok maupun organisasi secara keseluruhan. Keuntungan dapat berupa asset berwujud, asset tak berwujud, maupun kewenangan dan loyalitas anggota.

            Politicking kerap kali dilakukan untuk mendominasi sebuah perusahaan agar terkontrol dan sesuai dengan arah tujuan sang pemangku kepentingan. Kedengarannya memang jahat (hampir mirip istilah kata dictator yang diperhalus), Tapi bukan berarti politik kantor itu selamanya jahat, bisa jadi baik tergantung siapa yang menggunakan.

            Jika ada dua kubu yang melakukan politicking, intrik dan saling sikut pasti akan terjadi untuk mendapatkan dominasi publik. Selama ini politik kantor selalu di pandang negative, yang mengarah kepada perpecahan dan permusuhan, sejatinya politicking mempunyai manfaat tersendiri jika di representasikan dengan benar. Bila kegiatan tersebut dilaksanakan untuk kepentingan organisasi agar tumbuh berkembang. Justru berdampak pada ke efisienan perusahaan, memperkuat hubungan interpersonal dan secara bersamaan menguntungkan individu serta organisasi yang bersangkutan. Intinya jangan sampai politicking disalahgunakan untuk memenuhi Hasrat kepentingan pribadi.

            Dalam melaksanakan politicking yang baik dan benar. Peran pemimpin sangat krusial dalam mengarahkan dan menumbuhkan ikatan dan rasa saling percaya para anggotanya. Menghindarkan perselisihan, penyelewengan, serta rasa tidak puas yang nantinya akan memicu kudeta serta menghambat kinerja yang sudah ada. Seorang pemimpin yang strategis tak akan kehabisan akal untuk mengatasi berbagai macam penyelewengan yang tidak tunduk pada jalan lurus organisasi.


Untuk memaksimalkan politicking, dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mengatakan “…pimpinan perusahaan harus dapat menanamkan rasa saling percaya di antara para karyawan. Komunikasi terbuka harus dikembangkan…” yang intinya adalah, ketika keterikatan karyawan itu renggang, maka politicking justru akan menjadi masalah ketika diterapkan. Hal itu akan memicu konflik perpecahan yang bertimbal balik menyusahkan pimpinan, pertumbuhan organisasi tersendat, bahkan dapat menghancurkan organisasi dari dalam.

            Mencari pendukung dan orang kepercayaan merupakan kewajiban bagi pemimpin ketika ingin menjalankan politicking. Sikap saling terbuka sangat penting untuk memperkuat koalisi dalam menggaet anggota organisasi lain.  pemimpin disini sebelum melaksanakan program yang diingini juga harus memahami kewajiban perusahaan dan mencontohkannya kepada anggota.

Seperti dulu Mandela pernah melakukan politicking. Mandela mengundang para tamunya untuk makan malam baik itu musuh maupun kawan. Mandela yakin bahwa dengan merangkul rival atau musuhnya, ia dapat mengendalikan mereka. Jika tidak dirangkul, mereka justru akan lebih berbahaya. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan loyalitas dari penawaran keuntungan yang di dapatkan.

Selasa, 28 Januari 2020

Berani tidak Disukai




Ada dua makna kata yang tertangkap dari judul buku yang sedang saya baca akhir-akhir ini. Awalnya saya pikir ‘berani tidak disukai’ adalah salah satu deklarasi seorang yang berani mengambil keputusan penting dan bijak walau banyak orang nantinya tidak akan menyukainya. Sebuah bentuk keberanian yang tidak takut dengan cara pandang orang lain terhadap dirinya. karena sejatinya hal itu dilakukan untuk kebenaran dan keadilan. Namun sepertinya saya salah kaprah. Meski pada hakikatnya pemikiran awal saya masih koheren dengan topik bahasan dalam buku ini.

Namun setelah saya selesai membaca buku ini. Saya baru tersadar dengan makna lain yang tersembunyi dalam judulnya ‘Berani tidak disukai’ yang berarti “sikap berani itu tidak lah disukai kebanyakan manusia” berani tidak disukai’ yang dijabarkan adalah sikap mental manusia yang selalu menghindari perubahan karena takut akan perubahan tersebut. Takut akan bekerja lebih keras, takut dengan lingkungan baru, takut dengan pandangan orang-orang ketika berlatih maju di depan panggung, takut salah ketika mengerjakan sesuatu. Dan berbagai macam ketakutan lain yang membuat seorang manusia lebih memilih untuk masuk ke zona nyaman tanpa sama sekali ingin berubah.

            Penulis memaparkan sudut pandang yang berbeda dengan menitikberatkan pada diri selaku pemilik jasad, dia yang bertanggung jawab atas segala keputusan dan pilihan yang hadir dalam dirinya. Mulai dari dirinya yang penakut, pemberani, suka membenci, suka bergaul, nakal, baik hati. Keseluruhan hal tersebut terbangung sebagian besar atas piliihannya sendiri dari penafsiran subjektif yang dia lihat di sekelilingnya.

            Opening yang terdapat dalam pendahuluan buku ini langsung memikat saya dengan pecakapan dua orang antara Filsuf dan pemuda (mereka terus berbincang dari awal hingga akhir buku ini). Pada mulanya sang pemuda bertanya pada Filsuf.

“apakah kau percaya bahwa dunia ini, dalam segala cara, adalah tempat yang sederhana?”
“ya, dunia ini sangatlah sederhana, begitu juga kehidupan” jawab sang filsuf
“jadi menurutmu segala persoalan yang ada dalam hidup ini juga sederhana?”
“ya, tentu saja”

Sang pemuda tidak terima dengan pernyataan sang Filsuf, karena pemuda itu telah merasakan perih dan sakitnya dunia ketika dirinya beranjak dewasa, mulai dari bekerja, membayar pajak, hubungan rumit keluarga dan teman, deskriminasi, pembantaian. Dan segala macam kegelapan dunia yang dilihat dalam hidupnya.

            Tapi sang filsuf tetap kokoh dengan pernyataannya yang mengganggap kehidupan itu tidak sekompleks itu, sangat sederhana. Mau tidak mau konflik pun terjadi. Perdebatan Panjang antara anak muda dan filsuf berjalan alot hingga memenuhi dua ratus halaman lebih buku ini.

Terdapat banyak intrik yang menarik, pandangan dari sudut pandang baru dari berbagai persoalan, hingga pengetahuan akan unsur diri terbahas dengan sangat jelas disini. Pembaca seperti digiring untuk lebih berpikir terkait dampak terbesar yang mempengaruhi hidup bukan karena orang lain. Tapi dari diri kita sendiri. Penulis menyiratkan agar seorang berhenti membuat alasan setiap kelakuan dan jalan yang dia pilih karena orang lain, dirinya menjadi nakal karena orang lain, dirinya menyimpang karena orang lain, dirinya menjadi penyendiri karena orang lain. sang penulis membantah dan menjabarkan Panjang lebar kalau itu semua adalah hasil keputusan dan tujuan dari diri itu sendiri.

Sebuah buku yang menarik yang dikemas cukup apik, percakapan antara seoarang dengan pemuda ini tak bosan-bosan dibaca dari awal hingga akhir meski kata-kata dan Bahasa yang dijabarkan begitu berat dan perlu proses ekstra untuk memahami maksud perkataannya.



Surakarta 29 January 2020

MHA

Jumat, 26 Juli 2019

Menjadi Inisiator Perubahan



            Apa yang melatar belakangi seorang bisa sangat produktif? Bisa sangat kreatif? Bisa sangat tabah serta gigih? Bisa sangat sukses meski segala keterbatasan menghadang? Kadang sebuah hambatan adalah pemantik yang paling baik untuk menyalakan potensi manusia. Sebuah keadaan yang mengancam membuat diri secara otomatis bereaksi untuk mempertahankan diri.

            Ketika seorang terdesak, maka daya motoric yang ada dalam otaknya akan bekerja keras dalam berfikir. Mengamati segala fenomena yang tengah di deranya. Menyimpulkan kejadian yang selalu menyakitinya. Kemudian sesegera mungkin menemukan sebuah solusi taktis yang saat itu juga harus dia realisasikan dengan tindakannya.

            Dari sebuah keadaan yang mencekam, terkadang sebuah solusi dan produktifitas hadir membawa perubahan yang signifikan. Seperti sebuah keajaiban, seketika dampaknya sanggup untuk  memperbaharui lingkungan disekitarnya. Menjadi seorang inisiator handal adalah ketika melihat ancaman sebagai peluang besar untuk mengentaskan diri dari keterpurukan. Walhasil dia dapat melejit bahkan membantu orang-orang di sekitarnya ikut melejit dengan segala gagasan dan upaya yang dilakukannya.

            Banyak orang merasa masa bodoh dengan lingkungan yang ditinggali. Mungkin karena sudah puas dengan segala kenyamanan yang hadir di sekelilingnya, sehingga menumpulkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Membuatnya jadi seorang pemalas, mental passenger dan hanya bisa menangis ketika kenikmatan itu lenyap ditelan gurami. Berbeda dengan mereka yang gigih berusaha, menghadapi segala keadaan serba sulit dan mencekam. Pola pikir mereka terasah, kemampuan strategi mereka berkembang, kegigihan mereka tiada habis di keluarkan, luapan ide-ide baru bermunculan, dan tubuh begitu ringan melaksanakan tiap ide yang telah di pikirkan. Semua itu karena kondisi, sebuah keadaan dimana manusia dituntut untuk keluar dari zona nyaman.

Banyak sekali permasahan yang begitu kompleks mewarnai negeri ini. Mulai dari kemiskinan, Pendidikan, pengangguran, kemacetan, lapangan kerja, tata kota, utang, dan lain sebagainya. Semua berkutat dalam masalah yang saban hari harus mereka pikul. Seperti sudah tidak ada rongga lagi bagi senyuman dan kepuasan dalam sanubari mereka, yang ada hanya ratapan kepasrahan atas segala hal yang menimpa.

Namun banyak juga orang yang berusaha merubah keadaan dari lingkungan terkecil mereka. ada yang baru tahap merubah perilaku pribadi, ada yang sedang merubah satu orang sahabat dekatnya agar Bersama-sama menuju kebaikan, ada yang membuat komunitas tertentu untuk membantu beberapa tingkat masyarakat. Ada yang secara diam-diam mondar-mandir kesana kemari hanya untuk melatih, mengajar, maupun menyelesaikan problem yang bisa dia atasi saat itu. semua bergerak dalam bidangnya masing-masing, dalam bidang yang mereka kuasai dan mereka bagikan ke orang lain.

            Jangan menjadi apatis. Banyak saudara yang menanti karyamu untuk menolong mereka dari berbagai permasahan. Anda ditunggu, kontribusi anda di nanti. Jangan tunggu perintah karena kesadaran ada dalam diri individu itu sendiri. Keluar dari zona nyaman, jika tidak bisa, buatlah situasi yang tak nyaman. Jadikan lingkungan sekitarmu bagai padang rimba atau gurun tandus yang gersang. Jadikan pikiranmu kalut dengan masalah, terpantik dengan problem yang harus segera diselesaikan. Jadilah seorang yang peka, hadapilah realitas yang ada di sekilingmu. Berpikir! Maka solusi pasti akan hadir. Lakukan! Dengan kegigihan, walaupun gagal kau akan bangkit lagi untuk meraih keberhasilan. Ayo maju! Ayo bangkit! jadilah produktif! Jadikan hidupmu semakin berarti.



M         H         A

Kamis, 25 Juli 2019

Siapkah Kita dengan Perubahan?



            Siapkah kita ketika dihadapkan pada perubahan? Ataukah kita hanya berpura-pura tak tahu atau mungkin berharap agar tidak terjadi perubahan. Karena sejatinya perubahan yang baik adalah yang mengarahkan menuju hakikat kehidupan yang sejati. Bukan malah memperburuk dengan realitas semu yang nyatanya merusak tata sistem dunia ini.

            Semua merasa bisa beradaptasi. Merasa diri sanggup berubah di medan manapun, di posisi manapun. Namun lucunya mereka sagat sulit merubah diri mereka sendiri ke arah yang lebih baik. Itu menjadi paduan yang tak sinkron manakala dirinya menuntut lingkungan supaya berubah menjadi baik, sedangkan dirinya masih saja berkutat pada keterbelakangan tanpa adanya usaha untuk merubah diri.

Lucu? Memang, mereka berpikir sudah berusaha, sudah menuju proses, sudah melakukan ini itu tanpa kenal lelah. Tapi seberapa cepat proses itu berjalan? Sudah berapa persen proses itu dilaksanakan? Bayangkan saja ketika kita mendownload sesuatu, dan kelarnya lama, masih berkisar satu persen. Padahal data yang di download 20 Giga. Dituliskan disitu akan selesai di Download satu hari lima jam! Pasti sudah banyak orang akan men-cancel nya tanpa pikir Panjang. Orang itu pasti akan beralih menuju Wifi.id yang jaringannya lebih cepat. Sehingga ketika mendownload data besar akan terasa nyaman.

Begitu juga dengan diri, seberapa cepat kita mengisi kapasitas diri? Bukankah kita siap dengan perubahan? Menginginkan perubahan yang lebih baik? Lantas kenapa kita tak sanggup merubah suatu hal yang sangat mendasar yakni diri sendiri? Sok-sok an mengurus yang lain, berkomentar sana sini ketika melihat problem. Memandang orang lain rendah ketika berbuat salah dalam tindakannya. Tanpa sadar jika diri ini sebenarnya juga banyak salah, banyak ngawurnya, ga peka, dan bisa jadi diri ini lebih buruk dari orang lain yang dikomentari.

Merubah lingkungan menjadi lebih baik memang penting. Namun jangan lupa bahwa diri juga perlu dibina untuk melakukan perubahan tersebut. Karena sebuah perubahan tidak bisa didasari hanya dengan kata-kata bualan belaka. Perlu adanya action, bahkan diri sendirilah yang harus mengawali action tersebut. Jika semua saling menunggu seorang untuk beraksi. Maka akan memakan waktu lama, bahkan agenda perubahan tersebut tak akan terealisasi alias hanya akan menjadi wacana.

Faktor utama untuk merubah keadaan dan siap menerima perubahan, adalah manakala bisa berfikir dan sadar peran kita, terus mengisi kapasitas diri menjadi layak, bersikap terbuka dan fleksibel dengan keadaan sosial, sanggup mengendalikan diri serta berusaha merubah diri ke arah yang lebih baik, mampu berfikir akan perlunya perubahan kemudian di realisasikan dengan tindakan nyata. Sehingga dengan berbagai hal tersebut kita akan meraih sebuah dukungan. Masyarakat tak sekedar melihat kata-kata perubahan yang kita gelontorkan, namun sikap dan tindakan kita juga ikut mendukung perubahan yang dikatakan. Sehingga antusias relasi akan terbangun dalam membantu kita menghadapi perubahan tersebut.


Wallahu’alam…

Amanah Memimpin itu Berat



Amanah itu berat, saya pasti akan menabok orang yang bilang itu ringan. Saya merasa sangat khawatir ketika sebuah amanah berupa jabatan selalu di perebutkan. Karena ketika seorang menjabat sebuah divisi, organisasi, menteri, atau presiden. Maka rasa bangga akan tercipta dalam diri. Merasa lebih hebat, lebih baik, dan lebih besar kuasanya dari pada yang lain. amanah jabatan yang mereka pikirkan seperti sebuah restu Tuhan yang digelarkan di pundak mereka. Alhasil mereka merasa bangga dan akhirnya berusaha mati-matian untuk mendapatkannya.

            Memang bentuk amanah beraneka macam, Arti dari amanah ini sendiri adalah terpercaya. Oleh KBBI, kata amanah ini disamakan dengan kata setia dan diartikan sebagai sifat yang bisa dipercaya, sesuatu hal yang bisa untuk ditipkan atau dipercayakan pada orang lain dan sebagainya. Sehingga seorang yang diberi amanah, hendaknya memiliki rasa tanggungjawab dengan apa yang di amanahkan padanya. Semisal contoh ada yang menitipkan sendal, itu termasuk amanah. Ada yang menitipkan modal usaha, itu juga amanah. Dan yang terakhir adalah jabatan, saya rasa itu adalah amanah yang paling berat.

            Setiap pemimpin selalu dimintai pertanggungjawaban. Entah itu saat rabes di periode akhir, ataupun penghakiman di akhirat kelak. Untuk itu seharusnya menjadi seorang pemimpin dan seorang yang memiliki jabatan harusnya memiliki rasa ketakutan dalam diri, rasa was-was jikalau dia tak bisa maksimal dengan amanah ini. Bahkan ummar ketika menjabat sebagai khalifah saja berjuang keras agar rakyatnya tidak menderita, tidak ingin memakan daging selama rakyatnya masih ada yang memakan roti kering dicampur zaitun. Lantas mengapa zaman sekarang justru mereka sangat bangga dan merasa besar dengan jabatan. Apa yang membuat seorang menjadi arogan dan tidak melihat dampak besar dari amanah yang di emban?

            Pemimpin yang arogan dan merasa berkuasa terkadang tak memperhatikan amanah yang disematkan kepadanya. Padahal sejatinya seorang pemimpin adalah melayani mereka yang telah memilihnya berada di posisi tersebut. Tak ada posisi atas dan bawah, yang ada hanyalah mereka pemberi amanah dan pemegang amanah. Memang sifat pemimpin adalah mengayomi jundi serta jundi harus taat kepada pemimpin. Namun disisi lain pemimpin harus siap menanggung resiko paling depan ketika sebuah problem menerpa masyarakatnya.

Bicara soal jabatan, Umar bin Khattab pernah berpidato yang penjabaran isinya adalah sebagai berikut :

 Pertama, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang tidak perlu diperebutkan. Apalagi sampai meneteskan darah manusia.

Kedua, Sayyidina Umar mengakui kalau dirinya keras, kasar, lemah, dan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, dia berdoa kepada Allah untuk selalu membimbingnya menjalankan amanah tersebut.

Ketiga, menjadi pemimpin dan yang dipimpin adalah ujian. Sayyidina Umar sadar bahwa menjadi pemimpin itu adalah ujian. Begitupun mereka yang dipimpin. Oleh sebab itu, baik pemimpin atau yang dipimpin harus saling mengingatkan agar apa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah.

Keempat, tugas pemimpin adalah menyelesaikan persoalan rakyatnya.

Kelima, siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik. Begitupun sebaliknya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS az-Zalzalah.

            Untuk itu, hendaknya ketika seorang diamanahi sebagai pemimpin, harusnya dia sadar posisinya seperti seorang yang tengah berjalan di jalanan sempit di tepi jurang. Posisi yang sangat berbahaya dimana dirinya dituntut untuk menyelesaikan problematika ummat. Memberikan sebuah kontribusi yang akan menghantarkan ke arah perubahan yang lebih baik. Bukan justru malah berbangga diri serta merasa besar.


Wallahu’alam…

Upgrade diri itu bernama Masalah



Manusia yang hidup di dunia dituntut untuk sanggup keluar dari berbagai macam masalah. Manusia justru memandanga sebuah cobaan maupun masalah hidup itu sebagai sebuah kejadian yang tidak mengenakkan dan harus dihindari. Merasa pesimis dan tak percaya diri dengan diri ketika masalah itu datang menghampiri.  Takut-takut semisal mereka gagal, takut salah, takut tindakan mereka menyalahi aturan, takut sakit, serta tak mempercayai dengan kemampuan yang diberikan tuhan kepada mereka. Mereka tak memiliki upaya menghadapi cobaan dan larut dalam suasana baper. Tak ayal sedikit orang yang maju dan banyak orang menggalau tiada henti meratapi nasibnya sendiri. Mereka tak bisa belajar, tak mampu untuk berfikir. Sehingga membuat mereka semakin terpuruk dari hari kehari. Membuat mereka tak pernah maju dan selalu terkurung dalam Comfort Zone nya masing-masing.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

Esensi dari cobaan dan masalah yang menduru kita adalah sebagai ajang dari optimalisasi diri. Untuk membuat diri semakin kuat, semakin terlatih dan tidak lembek kek ndok dadar. Untuk menjadi seorang yang kuat, tentu memerlukan proses Panjang nan ribet. Tidak serta merta jadi atau tujuan kita tercapai begitu saja. semua perlu di usahakan. Salah satu dampak usaha dari hasil tujuan kita yakni bernama masalah.

Masalah hadir untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Namun pada kenyataannya manusia memang makhluk yang sangat egois – Pengen enaknya saja. mereka berkhayal tinggi, berharap saban hari untuk sukses di kemudian hari. namun usaha mereka hanya sebatas start kemudian hilang di terpa angin. Tak ada perubahan, yang ada malah penyesalan, rasa malas, serta tak henti-hentinya mengumpat keadaan. Merasa sebuah kegagalan adalah akhir dari segalanya. Menganggap segala macam usahanya itu sia-sia belaka.

Banyak orang Berusaha menghindar dan meringkuk dalam kehidupan. Selalu menghindari masalah justru akan menembah beban itu sendiri. Karena masalah tak akan hilang dengan cara dihindari. Justru masalah itu akan tetap tersimpan hingga menggunung. Bukankah Allah sudah berpesan bahwasanya manusia itu diuji sesuai dengan batas kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

Namun manusia selalu saja menyerah sebelum sempat mengeluarkan potensi terbaiknya. Untuk itulah mereka tidak bisa berkembang. Dan ketika mereka sadar diri mereka biasa-biasa saja. mereka malah menyalahkan nasib, menyalahkan keadaan, menyalahkan semua yang taka da hubungannya dengan masalahnya. Padahal kenyataan masalah yang paling besar berawal dari dirinya sendiri. Dia tak sadar itu. karena itulah manusia, mereka tak mau di persalahkan. Sehingga walhasil mereka menjadi manusia yang selalu merasa tak puas, merasa tak berguna hidup, selalu memprotes, selalu jadi bad society.

Pemikiran seperti apa yang mendasari manusia sebegitu takutnya dengan masalah? Berifikir untuk sebisa mungkin meminimalkan masalah dalam hidupnya. Tak ingin mengambil resiko lebih besar dari apa yang kiranya mereka sanggupi. Padahal nyatanya mereka masih bisa lebih. Namun sudah puas dengan diri mereka yang standar. Tidak ingin maju lebih jauh karena takut menanti rintangan yang lebih berat ke depan. sejak kapan mental ini terbangun? Menghindari masalah bukan perkara untung, justru malah buntung.

Aspek yang harus diperhatikan adalah mengenai hati dan ruhani dalam diri. Saat ini sudah banyak dari mereka yang sangat mendewakan ilmu, mendewakan sistem, mendewakan segala macam hal yang di buat manusia. Dan ketika mereka kehilangan itu mereka merasa sangat hampa. Apa gerangan? Ternyata faktor utama terdapat di ruhani. Yang mengubah mindset dan cara pandang manusia itu sendiri. Terlalu duniawi sehingga mereka tak pernah percaya dengan adanya alam lain. Mereka tak sadar telah kehilangan jiwa yang menyambung kepada sang pencipta. Rasa arogan kepada segala macam yang bersifat materialistic menghilangkan pandangan murni mereka pada sesuatu yang bersifat absurd.

Tak heran banyak sekali terjadi kerusakan dan degradasi moral di lingkungan kita. Salah satu sebabnya ialah jauhnya orang itu dari agama. Jarang saya lihat seorang yang taat mengalami depresi serta melakukan penyimpangan moral dan sosial. Justru mereka yang tak bisa mendalami kehidupan hanya sebatas melihat sampul hidupnya saja. Sejatinya isi nya mereka tak mampu lihat. kendati dimikian, itulah yang membuat mereka menjadi terombang-ambing. Dan ketika masalah menerpa, mereka kehilangan arah, menganggap diri mereka tak berarti, tak ada pegangan dan seorang yang membantu.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

            Kuncinya adalah dari dalam diri, buat dirimu tersambung kembali dengan sang pencipta. Hidup tidak hanya sebatas diisi dengan ilmu duniawi, karena sejatinya itu belum lengkap tanpa ilmu akhirat. Begitu juga sebaliknya. Saling melengkapi adalah dasar dari alam semesta ini tercipta. Laki-laki dan perempuan, siang dan malam, matahari dan bulan, api dan air. Hal itulah yang menjadikan keseimbangan. Termasuk bagaimana kita bisa mengatur keseimbangan diri ketika menghadapi sebuah masalah. Karena sejatinya masalah hadir untuk meng-upgrade diri untuk menuju stage selanjutnya. Dan ketika gagal, jangan langsung menyerah, bukankah kita masih hidup? Masih bernafas? masih bisa berfikir dan mencoba? Lantas apa yang membuat kita berhenti berjuang ketika kesempatan untuk merubah itu masih ada? Pikirkan.


Wallahu'alam...

Senin, 03 Juni 2019

Game dan Kehidupan



Mengapa Game sangat menarik bagi kaum Pemuda? Mereka sampai rela begadangan, membeli item game, Skin dan equipment lain dengan pulsa. Padahal hal tersebut tidaklah berguna sedikitpun di kehidupan nyata. Mengapa mereka sampai rela berkorban dengan kesia-siaan? melampui batas sampai ketagihan, lupa waktu, lupa tidur, lupa isi dompet, lupa tugas, bahkan lupa orang tua? Kenapa, mengapa? Padahal apa yang menjadi penyebab hanyalah game. Apakah peran game dalam merusak generasi muda sampai separah itu? lalu apa kekuatan Game sehingga memiliki daya perusak yang sedemikian besar?

Kalau dipikir secara nalar, bukankah akan lebih baik ketika para pemuda mengalokasikan waktunya dengan membaca? Dengan tilawah? Dengan mencari pengalaman kerja? Dengan menulis? Bisnis? Dan kegiatan produktif lainnya. Ketimbang harus ndekem di kamar sambil bermain game tiada henti. Sebenarnya main game itu boleh, ga haram. Cuma yang jadi kendalanya itu ketika sudah ketagihan, sampai tak bisa mengatur waktu antara bermain dan produktif. Padahal jika dipikir kita bisa bermain sambil produktif (kita akan bahas ini di sesi akhir). Mereka sebenarnya tahu dampak negative nya jika kebablasan bermain game. Namun mereka masih rela membuang waktu untuk itu. Ibarat perokok, meski sudah di peringatkan dengan iklan dan bahaya merokok, tetap saja mereka membelinya.

            Mari kita pelajari apa yang membuat Game sedemikian DIGDAYA. Secara visual, Game manampilkan kesan dan pengalaman yang menakjubkan bagi para pemainnya, apalagi dizaman sekarang grafik game hampir menyerupai tekstur di dunia nyata. Menampilakan alur cerita seru dan unik serta menguji ketangkasan, adrenalin, strategi, dan tantangan bagi para pemain. Tak dipungkiri berbagai Genre Game yang beraneka ragam telah menggantikan peran maupun job di dunia nyata. Contoh nya saja game simulasi truk. Mereka tak harus belajar atau menyetir truk sungguhan, mencari sim B dan melakukan kursus sana-sini. Cukup duduk manis menginstall Euro Truck Simulator bajakan, Mengatur tampilan spesifikasi PC, belajar sepuluh menit, lama-lama mereka sudah mendapatkan pengalaman yang serupa. Dan ketika ada resiko kecelakaan mereka cukup tekan restart, selesai. Jika di dunia nyata, resikonya bisa berujung nyawa dan juga denda.

Kepraktisan game yang bisa di mainkan kapanpun dan dimanapun, tidak terkekang hukum-hukum dunia real, menjadikan para pemain tak perlu ragu untuk berbuat sesuka udelnya. Karena di dalam game kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Beda di dunia nyata dimana resiko pengambilan keputusan akan berakibat nyata dalam kehidupan. Sedangkan di game paling hanya berakibat maya. (Salah dikit tinggal restart, kalau game online tim hampir kalah tinggal AFK :V)

            Intinya adalah kehendak bebas. Sesuai naluri manusia yang ingin mencari kebebasan tanpa kekangan. Sedangkan meraka merasa terkekang dengan rutinitas menjemukan yang mereka alami di dunia nyata. Berbagai macan tekanan batin dan psikis di sekolah, kampus, kantor, maupun saat berinteraksi dengan lingkungan. Membuat jenuh dan akhirnya mereka lampiaskan dengan bermain game untuk mendapatkan kembali ruh kehidupan mereka yang hilang di dunia asli.

            Game tak selalu menawarkan dampak buruk dan perilaku negative. Seperti yang saya sebutkan di awal. Game bisa merangsang otak untuk berpikir kognitive dan berlatih dalam mengambil keputusan, strategi, simulasi, serta mengasah kemampuan motoric. Semua tergantung pada pengguna lebih mengarah ke hal positive atau negative.


Lalu bagaimana cara menselaraskan kehidupan di dunia nyata dan di dunia game? Bagaimana kita bisa menikmati dunia seperti halnya ketika kita menikmati sensasi bermain di dalam game?            

Pertanyaan yang cukup menarik. Dari sini saya ingin memformulasikan pelajaran yang saya dapatkan ketika bermain game, yakni membuat sebuah pola yang hampir sama antara dunia nyata dan dunia isekai (Game).
     
     1.      Buat Tiap hari dikehidupan nyata serasa Login di Game kesayangan kita.

Mengapa seorang itu betah untuk login tiap hari di game online? karena ada event seru seperti skin gratis, peti hadiah atau tambahan Gold ketika mereka menyempatkan login untuk singgah ke menu game utama. Di hari-hari normal yang kita jalani cobalah untuk melakukan hal serupa, ketika bangun dari tidur cobalah untuk bersyukur karena masih diizinkan login di dunia nyata. Hadiahkan diri di pagi hari untuk Sholat subuh ke masjid, olahraga, makan-makanan yang kita pengen atau mungkin kita bisa memberi surprise pada diri sendiri maupun teman kita agar timbul rasa bahagia pada diri.

Kalau missal posisi kita itu sebagai orang tua, maka tunjukkanlah apresiasi itu tiap hari pada anak kita. Kalau mereka berhasil bangun subuh kita masakin makanan yang enak. Atau kalau memang tidak bisa tiap hari, minimal satu kali seminggu seperti di hari senin. Jadi tiap hari senin selalu ada bingkisan untuk anak kita supaya mereka selalu menunggu-nunggu datangnya hari senin untuk bersekolah sekaligus mendapat doorprize yang dijanjikan.

     2.      Beri Apresiasi pada diri atas segala jerih payah yang ada walau itu sepele

            Dalam game juga ketika kita berhasil memenangkan sebuah event atau pertandingan pasti akan ada apresiasi berupa ‘congratulation’ atau pernyataan lain yang membuat hati kita menjadi gembira dan semangat untuk menang lagi dan lagi. Begitu pula dalam kehidupan. Tunjukkan apresiasi pada diri jika kita berhasil melakukan seuatu hal tertentu, semisal telah berhasil tilawah satu juz pada hari itu maka saya akan beli susu mbok darmi. Atau ketika saya berhasil mengerjakan skripsi, saya akan mentraktir teman-teman saya yang ada di kosan.

            Begitu pula ketika kita menjadi orang tua. Kalau anak kita tidak berhasil melakukan sesuatu jangan kita malah memarahi atau mengkritik pedas sehingga membuat mentalnya makin runtuh. Tapi berilah semangat dan apresiasi atas jerih payahnya meski itu hanya sekedar berhasil membuka tutup botol, karena apresiasi kecil sangat berdampak positif untuk menunjang keberhasilan besar yang akan di buat anak kita kedepannya.

     3.      Buat Timeline Event kita sendiri di tiap bulannya

Bahkan di Game online saja ada timelinenya, masak di kehidupan nyata kita engga? Salah satu hal yang membuat para player bisa mengatur dan kebablasan dalam bermain game adalah karena tiap bulannya selalu ada timeline event-event seru dan menggemparkan. Cobalah kita ambil manfaat dan membuat sendiri timeline kita dengan berbagai agenda sesuai dengan passion. Dampak yang dihasilkan akan membuat kehidupan kita menjadi lebih teratur, seperti seorang player game yang sangat teratur memilah dan bermain game hanya untuk menyelesaikan event setiap bulannya. Tentu hidup kita juga jangan mau kalah, kita buat event dalam hidup dan mencoba menyelesaikan segala tugas yang ada di tiap bulan. Lama-lama pasti kita akan lupa untuk menyempatkan waktu login game karena kita sudah dibuat sibuk dengan timeline event di dunia nyata.

     4.      Buat system upgrade leveling dari capaian yang berhasil kita raih

Jadikan event-event dalam hidup kita sebagai peringkat dasar untuk terus menggenjot XP level kehidupan kita. Semisal berhasil tilawah 1 juz sehari maka kita akan mendapatkan XP 10. Sedangkan untuk naik level dua kita butuk 100 XP, level tiga butuh 200 XP, level empat butuh 400 XP, terserah sesuai keinginan kita. Ketika kita membikin kehidupan kita sendiri menjadi seru, maka kita akan lebih menghargai hidup serta jerih payah yang telah dilakukan.

Sesuaikan dengan passion maka secara tidak langsung kita akan merasa nyaman untuk menjalani seluk beluk kehidupan seberat apapun tugas dan cobaan yang menghadang. Terus tertantang untuk maju dan mengambil resiko maupun masalah sulit. Karena kita sudah membentuk peringkat dan konsep dasar yang menjadi acuan untuk menyemangati diri sendiri.

Ketika bermain Game di level easy terus lama-lama pasti bakal bosan dan jenuh. Rasanya ingin sekali mencoba hal baru dengan mengambil tingkat kesulitan medium, hard, bahkan expert. Seperti itulah ketika ingin menjalani sebuah kehidupan. Mulai dari yang mudah dulu dan dapatkan poin sesuai tingkat kesulitan yang ada. Lama-lama kita akan merasa tertantang sendiri dan mencoba untuk mendapatkan poin yang lebih banyak. Misal udah seminggu berhasil membaca buku lima lembar perhari/ maka ciptakan event baru ke mode medium dengan meningkatkan menjadi 8 lembar / hari. Begitu seterusnya sampai kita menjadi expert dan berhasil membaca satu buku dalam sehari. Apa mungkin? Ga ada yang ga mungkin bro kecuali menghidupkan orang mati.

            Di akhir kata mengapa kok saya mengambil tema game disini. Karena menurut pandangan saya banyak pemuda terutama anak lelaki suka banget bermain game sampai lupa waktu. Mungkin dengan penanaman kembali pola pikir mengenai kehidupan yang bisa di gameinisasi membuat kehidupan kita serasa bermain namun juga produktif. Kombinasi ini memang agak nyeleneh namun terbilang efektif untuk menyadarkan mereka, mengembalikan mereka dari buaikan dunia isekai (game) tanpa makna dan bias, menuju ke hamparan kehidupan nyata bermasyarakat yang sebenarnya peran pemuda sangat dibutuhkan disana.

Sekian artikel singkat dari saya. Jangan lupa gunakan waktu untuk terus berjuang memperbaiki kualitas hidup yang produktif dengan event-event yang kita buat setiap hari, bulan, bahkan tahun. Memberi apresiasi untuk memacu semangat orang lain maupun diri sendiri. Berusaha menaikkan kapasitas diri dengan leveling setiap hari (dengan menyelesaikan tugas-tugas kehidupan) Sehingga membuat kita tidak menjadi lupa waktu untuk melakukan perbuatan negative, namun kita menjadi lupa waktu untuk melakukan kegiatan positive. Sampai tak sadar sudah berapa lama waktu yang telah di lewati untuk berjuang. Dan ketika sadar, kita telah berada di ujung jalan dengan capaian-capaian mengagumkan dalam tiap langkah kehidupan kita.



Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…



Minggu, 3 Juni 2019

M         H         A

Kamis, 02 Mei 2019

Formalitas Dakwah Muntijah



Ngga perlu banyak basa-basi, kita langsung menuju pokok bahasan utama. Esensi DAKWAH adalah untuk menyerukan kebaikan, dengan hasil kita bisa menyeret orang-orang yang masih berperilaku buruk menuju ke dalam kebaikan. Jika dipikir sampai sekarang, sudah berapa banyak orang yang hijrah dari tangan kita? Seberapa banyak orang yang mau kita ajak Sholat atau berhenti melakukan kegiatan buruk macam merokok?

Perkara hati memang urusan Allah, namun sudahkah kita berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka dari jurang kedzaliman. Atau mungkin, kita hanya sekedar menyerahkan mereka kepada Allah, mendo’akan saja supaya mereka segera taubat, tanpa perlu kita bersusah payah merubah keadaan mereka. Menghindar untuk sekedar menyelamatkan diri sendiri agar tidak terjerumus, atau mungkin mengajak dan berbuat baik hanya sekedar menggugurkan agenda proker yang telah di rancang pada awal periode.

Sungguh keliru, rupanya kita masih perlu meng-cross-check niat kita. Cara pandang akan tujuan dakwah, cara kerja akan esensi tiap kegiatan, serta sudut pandang dari urgensi ukhwah. Mungkin kita masih perlu belajar banyak untuk kembali memantapkan pondasi yang terabaikan.

Dakwah muntijah ialah dakwah produktif. Seperti melakukan banyak agenda keagamaan, terus menerus mengajak orang kepada kebaikan, merancang sekian ratus agenda organisasi, mengeluarkan biaya berjuta-juta untuk snack gratis. Nyatanya semua itu serasa ampas karena hanya dihadiri oleh segelintir orang, dari internal organisasi sendiri, itupun ga semua, parahnya lagi ga ada setengahnya dari total keseluruhan staff. Itupun kalau dari luar mereka yang datang kebanyakan udah bener dalam hal pemahaman dan fikrah islam. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah. Apa esensi dari tiap agenda yang di buat tersebut? Selain hanya buang-buang tenaga, buang-buang uang, buang-buang waktu, dan buang-buang pikiran. MIRIS.

Banyak dari LDF yang sering mengeluh

“anggota kami sedikit”
“susah banget menggaet massa untuk masuk ke organisasi dakwah. Mereka lebih memilih organisasi lain yang lebih glamour dan asik”
“segala bentuk kegiatan kami selalu dihadiri sedikit orang”

Dan berbagai hal lain yang intinya segala kendala itu merujuk pada SDM yang ada. Target yang jarang tercapai. Dan segala kesulitan dalam menggaet orang luar. Padahal sebagian besar mahasiswa di tiap universitas yang ada di indonesia itu beragama islam. Lucunya meski notabenenya memiliki jumlah penganut islam terbanyak justru malah LDF nya kekurangan sumber daya. Begitupun setiap agenda yang ada hanya di hadiri secuil simpatisan staff LDF,  bahkan ada juga acara yang gagal diakibatkan ga ada orang yang hadir. MIRIS.

            Semua menganggap masalah tersebut wajar dan lumrah. Masalah mainstream yang sudah menjadi adat dan kebiasaan LDF ataupun LDK di tiap kampus. Masalah yang tak akan pernah berubah seberapa keras kita berusaha untuk merubahnya. Padahal selama ini mereka bekerja dengan cara yang salah, tujuan yang salah, dan strategi yang salah. Hanya berkutat pada agenda. Sama sekali tidak memperhatikan hakikat individu yang sebenarnya perlu untuk mendapatkan penanganan lebih jauh.

            Merubah cara pandang dan pikiran memang sulit. Merubah perusahaan kearah yang lebih baik perlu pengorbana ekstra. Dahulu perpindahan dari minyak tanah ke kompor gas untuk memasak juga perlu waktu lama. untuk itu sebelum kita pasrah dan hanya berserah diri dengan hasil kerja yang kurang tepat. Lebih baik kita memuhasabah tiap hasil kerja yang telah di lakukan terdahulu, Mempelajari tiap kesalahan dan bertanya mengapa yang datang Cuma segelintir? Mengapa mereka tidak mau ikut LDF? Mengapa tiap kegiatan LDF itu kebanyakan tidak mengasyikkan? Apakah orang yang ingin berhijrah harus melalui kegiatan LDF? Dan berbagai pertanyaan lain yang memacu otak untuk berpikir kritis.

            Untuk menerapkan dakwah muntijah tidak hanya cukup mengandalkan proker-proker formal yang kaku. Mereka pasti menghindar dan malas karena tahu kegiatan itu hanya buang-buang waktu. Perlu adanya semacam penyuluhan informal. Pendekatan manual tanpa embel-embel kegiatan terencana maupun embel-embel organisasi. Tak perlu adanya jarkoman, nge tag tempat, persiapan konsumsi, pengadaan dana organisasi, kerjasama antar UKM dan lain sebagainya yang ribet dan bikin riwil. CUKUP BERTEMU, MENYAPA, BERINTERAKSI, MENGAJAK SEDIKIT DEMI SEDIKIT DIRINYA HIJRAH, SAMBIL KITA MENCONTOHKAN PERILAKU TERPUJI YANG KITA DAPATKAN DI LDF. This simple, tapi memang kebanyakan kader dakwah tak bisa menerapkan hal tersebut.

Mana mau mereka menerima ajakan orang asing untuk hijrah? Walaupun itu dalam hal kebaikan, tapi ketika orang tersebut tidak begitu dekat maka akan sangat sulit bagi orang itu untuk mau  di ajak. Beda lagi kalau itu orang terdekat mereka, yang sering mengajak berinteraksi dan bermain Bersama. Mereka rela di ajakin nongkrong sampai larut malam, karena memang mereka sudah mendapatkan HATINYA.

            Nah sekarang kita masuk ke ranah HATI!. Ranah yang paling sakral di miliki oleh tiap manusia. Seperti yang pernah saya perumpamakan sebelumnya bahwa
‘manusia tidak seperti robot yang hanya di input perintah tertentu langsung jalan. Manusia itu kompleks, setiap input yang sama tidak selalu menghasilkan output yang sama’
Tiap hati beda cara penginputannya, tiap individu berbeda cara penangannya. Untuk menggaet hati manusia memerlukan cara spesial yang tidak hanya bisa dilakukan oleh proker formal yang di tujukan pada satu/dua watak individu. Tetapi menyeluruh sesuai dengan variasi hati tiap individu. Untuk itulah, perlu penekanan bahwasanya LDF tidak memulu perkara organisasi dan proker semata yang di tonjolkan, tetapi juga dari segi interaksi antar personal yang perlu di tekankan untuk bisa menggaet mereka menuju kebaikan. Sekali lagi Perlu adanya penekanan INFORMAL pada organisasi. Jangan melulu formal.

            Contoh nyata, Rasul berdakwah di tiap-tiap rumah dengan melakukan interaksi, memperlakukan tiap individu dengan cara-cara berbeda. Mengenal mereka yang di dakwahi dan mengetahui kebutuhan apa yang mereka butuhkan per-individu, bayangin, per-individu! Bukan hanya sekedar agenda formal rutinan yang sering digembar-gemborkan memalui jarkoman! (itupun hanya di scroll up).

            Intinya dakwah muntijah bukan hanya sekedar mengandalkan aspek kualitas proker yang dirancang dan dilaksanakaan. Bukan hanya sekedar mengeksekusi kuantitas proker yang telah dijalankan. Namun disini juga ada kualitas diri dan kualitas dalam berinteraksi, kualitas dalam mengajak, kualitas dalam merangkul hati, kuantitas dalam memperbanyak channel pertemanan, kuantitas dalam berbagai interaksi yang dilakukan setiap hari. Semua perlu di upayakan untuk apa? Tentu dan pasti, untuk dakwah muntijah yang tidak hanya membeku dalam kontek formalitas belaka. Namun juga masuk ke ranah informal di tiap kehidupan, di tiap-tiap hari yang selalu kita lewati dengan saudara kita.