softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2020

Pemimpin itu Mengatur, Bukan di Atur




            Seorang pemimpin puncak diharapkan dapat menggerakkan tiap komponen yang ada di bawahnya guna mencapai tujuan organisasi. Pemimpin harus mampu memandang segala sesuatu dengan pandangan luas dan dari sudut pandang yang berbeda. Jika tidak, seorang pemimpin tidak ada bedanya dengan anggotanya. Seorang pemimpin harus memiliki horizon luas dan Cakrawala penglihatan yang mencakup hingga ke pelosok terkecil dari organisasi.

            Pemimpin dituntut untuk memiliki wawasan yang luas agar sudut pandang yang dihasilkan tidak bias. Meski begitu perlu adanya sikap menerima masukan sebagai penambahan wawasan. Sikap kritis seorang anggota merupakan Mutiara yang harus dibina dan di kembangkan, dibarengi dengan sikap tegas dan bijak dalam mengatur keputusan. Untuk itu perlu pemahaman serta wawasan yang cukup dalam agar logika berpikir tetap dalam koridor yang seimbang.

            Dalam praktik sehari-hari memang tidak mudah mempraktekkan teori yang sudah diketahui sebagai seorang pemimpin, perseteruan dan bertindak arif dikala banyak anggota yang tidak sepakat menjadi dilema tersendiri yang harus segera diselesaikan agar menemukan jalan keluar terbaik. Dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mencontohkannya ketika presiden amerika ke-38 Richard Nixon terkena kasus Watergte dan yang membuatnya harus menngundurkan diri. Kemudian Ford yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden, naik menjadi presiden. Ford setelah dilantik kala itu mengambil keputusan berani dengan mengampuni tanpa syarat Nixon dengan kasus-kasus yang menjeratnya. Hal itu Ford lakukan agar Amerika tidak melulu mempermasalahkan problem tersebut serta berupaya agar amerika bisa terus memandang ke depan. Sontak banyak kritikan pedas orang yang tidak sepakat dan menentang keputusan Ford, hingga pada akhirnya dia tidak terpilih menjadi presiden di periode selanjutnya.

            Namun selang bertahun-tahun kemudian, banyak yang memuji keputusan Ford ini sebagai langkah yang tepat agar AS melangkah kedepan, tidak terkungkung oleh masa lalu. Bahkan seorang Ted Kennedy yang dulu menentang keras keputusannya menjadi luluh dan paham dengan keputusan bijak Ford.

            Pemimpin tidak boleh takut dengan putusan mayoritas yang ada, karena mayoritas belum tentu benar, perlu pandangan luas dan kebijaksanaan untuk menghasikan keputusan yang tepat, walau di akhir dilemanya akan di jauhi dan tidak dipercaya oleh beberapa anggota. Namun selaras dengan itu, banyak orang yang akan sadar ketika mereka melihat hasil yang diperoleh dari keputusan tersebut.



Pemimpin adalah Penggerak

            Seorang pemimpin harus tetap menjaga mesin yang ada di organisasinya tetap panas dan terus bergerak. Roda harus diputar demi terus menjalankan kelangsungan organisasi. Tugas utama pemimpin adalah menemukan harmony dan sinkroniasi Gerakan antara tiap bidang yang ada. Bukan malah mencampuradukkan dan saling menyalahkan. Integrasi antar bidang sangat penting agar proses keberlangsungan bisnis bisa berjalan saling beriringan. Disharmoni menyebabkan kekacauan dan berdampak pada permusuhan antar bidang. Jika irama tidak sinkron, tujuan organisasi sulit tercapai.

            Pemimpin secara psikologis harus mengetahui konflik problem yang mengemuka atau tersembunyi di dalam organisasinya. Saat itulah dia harus mengendalikan irama, kapan harus turun tangan, kapan harus menyelesaikan dan membiarkan untuk sejenak. Timing sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan sampai seorang pemimpin itu buta dan hanya fokus pada tujuan. Namun onderdil dalam organisasinya berantakan.


Selasa, 04 Februari 2020

Politicking



Adalah sebutan untuk politik kantor yang biasanya terjadi dalam organisasi profesional. Politicking digunakan untuk mendapatkan keuntungan dan merealisasikan tujuan dalam wadah organisasi atau kantor tersebut, baik itu untuk diri sendiri, kelompok maupun organisasi secara keseluruhan. Keuntungan dapat berupa asset berwujud, asset tak berwujud, maupun kewenangan dan loyalitas anggota.

            Politicking kerap kali dilakukan untuk mendominasi sebuah perusahaan agar terkontrol dan sesuai dengan arah tujuan sang pemangku kepentingan. Kedengarannya memang jahat (hampir mirip istilah kata dictator yang diperhalus), Tapi bukan berarti politik kantor itu selamanya jahat, bisa jadi baik tergantung siapa yang menggunakan.

            Jika ada dua kubu yang melakukan politicking, intrik dan saling sikut pasti akan terjadi untuk mendapatkan dominasi publik. Selama ini politik kantor selalu di pandang negative, yang mengarah kepada perpecahan dan permusuhan, sejatinya politicking mempunyai manfaat tersendiri jika di representasikan dengan benar. Bila kegiatan tersebut dilaksanakan untuk kepentingan organisasi agar tumbuh berkembang. Justru berdampak pada ke efisienan perusahaan, memperkuat hubungan interpersonal dan secara bersamaan menguntungkan individu serta organisasi yang bersangkutan. Intinya jangan sampai politicking disalahgunakan untuk memenuhi Hasrat kepentingan pribadi.

            Dalam melaksanakan politicking yang baik dan benar. Peran pemimpin sangat krusial dalam mengarahkan dan menumbuhkan ikatan dan rasa saling percaya para anggotanya. Menghindarkan perselisihan, penyelewengan, serta rasa tidak puas yang nantinya akan memicu kudeta serta menghambat kinerja yang sudah ada. Seorang pemimpin yang strategis tak akan kehabisan akal untuk mengatasi berbagai macam penyelewengan yang tidak tunduk pada jalan lurus organisasi.


Untuk memaksimalkan politicking, dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mengatakan “…pimpinan perusahaan harus dapat menanamkan rasa saling percaya di antara para karyawan. Komunikasi terbuka harus dikembangkan…” yang intinya adalah, ketika keterikatan karyawan itu renggang, maka politicking justru akan menjadi masalah ketika diterapkan. Hal itu akan memicu konflik perpecahan yang bertimbal balik menyusahkan pimpinan, pertumbuhan organisasi tersendat, bahkan dapat menghancurkan organisasi dari dalam.

            Mencari pendukung dan orang kepercayaan merupakan kewajiban bagi pemimpin ketika ingin menjalankan politicking. Sikap saling terbuka sangat penting untuk memperkuat koalisi dalam menggaet anggota organisasi lain.  pemimpin disini sebelum melaksanakan program yang diingini juga harus memahami kewajiban perusahaan dan mencontohkannya kepada anggota.

Seperti dulu Mandela pernah melakukan politicking. Mandela mengundang para tamunya untuk makan malam baik itu musuh maupun kawan. Mandela yakin bahwa dengan merangkul rival atau musuhnya, ia dapat mengendalikan mereka. Jika tidak dirangkul, mereka justru akan lebih berbahaya. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan loyalitas dari penawaran keuntungan yang di dapatkan.

Selasa, 28 Januari 2020

Kebiasaan Kecil




            Banyak orang beralasan perubahan yang selalu mereka upayakan akan berujung kepada kesia-siaan, buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan juga perasaan. Banyak orang berpikir. Melakukan suatu perubahan positif pada diri itu sangat menyakitkan, sangat susah setengah modar. Bahkan ada juga yang mencobanya berkali-kali, dan akhirnya tanpa memperoleh hasil, walhasil mereka mulai kembali ke jalan setan. Kembali menerapkan kebiasaan buruk, serta lambat laun kebiasaan baik yang sedang di pupuk, mulai ditinggalkan tak berbekas.

            Sebelum masuk ke inti, saya akan membawa pembaca untuk berjalan-jalan dahulu untuk melihat dunia dan sekelilingnya. Melihat ikan, laut, gunung pohon, awan, matahari, Transmart, genteng, pup, anjing, dan berbagai macam hal yang bisa anda lihat dan temui setiap hari. Semua hal besar itu tercipta pada dasarnya dari molekul-molekul kecil, sebuah partikel terkecil yang terdiri dari susunan Atom yang tak terhitung jumlahnya. Atom-atom tersebut terpadu membangun sebuah objek solid yang sering kita lihat sehari-hari. Bahka tubuh kita sendiri terbentuk dari gumpalan Atom yang saling menyatu.

            Yang saya tekankan dari penjabaran di atas adalah… untuk membangun sebuah kebiasaan, atau kita umpamakan sebuah benda berbentuk solid. Kita perlu mendirikan dan menselaraskan jutaan atom yang sebenarnya tak berguna, menjadi sebuah bentuk solid yang akhirnya menuai manfaat. Seperti menyusun batu bata kotakan menjadi sebuah rumah. Seperti memanfaatkan butiran pasir untuk membuat beton. Seperti menyusun sebuah puzzle untuk mendapatkan gambar atau bentuk yang diinginkan. Semua butuh pola, semua butuh usaha dan juga unsur-unsur kecil yang suatu saat akan membentuk sebuah objek yang bermanfaat.

Jadi marilah kita awali dan mulai dengan perubahan kecil, jangan melulu karena kita memiliki tujuan besar. Akhirnya kita mematok target yang besar, menginginkan sehari harus bisa lari lima kilometer, padahal sebelumnya kerjaannya hanya tura turu, berharap besok sudah bisa menulis buku satu bab, padahal kerjaannya setiap hari Cuma scroll sosmed, pengen menurunkan berat badan dalam satu bulan sebesar 20 kg, padahal setiap hari kerjaannya nge-meal.

            Alasan mereka mutung dan berhenti melakukan perubahan karena target dan harapan yang terlalu besar pada hasil. Mereka ingin segera mencicipi hasil nyata dengan memberatkan diri pada target besar yang sangat susah mereka capai. Alhasil sebelum mendapatkan hasil, mereka sudah menyerah dan mulai mengubur impian dan tujuan mereka.


Mengapa perubahan kecil bisa berdampak besar?

            Perubahan kecil, meski terlihat sepele dan lemot. Bahkan orang-orang berpikir tak ada gunanya ketika diri ingin berubah, mereka harus melakukan hal sepele yang mudah mereka lakukan. Banyak orang menyukai tantangan dengan membebani diri dengan target fantastis dan berujung kepada kelelahan kemudian tersungkur.

            Perubahan yang baik harus diawali dengan hal kecil, secara otomatis, hal kecil itu akan tersusun membentuk sebuah pola dan objek yang akan kita rasakan dimasa depan. tersenyum kepada orang lain, kebiasaan mandi pagi, kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi, kebiasaan menggosok gigi. Hal sepele seperti itu akan membawa dampak besar di kemudian hari.

            Bahkan ketika seorang itu mustahil menghafal Al-Qur’an, cukup menerapkan satu hari satu ayat. Secara konsisiten mereka berhasil menghafalkan seluruh ayat Al-Qur’an. Untuk membentuk tubuh yang kuat, awalnya bukan berlari marathon sejauh lima kilo. Cukup berjalan satu kilo yang dilakukan setiap hari. Hal itu akan merubah dan berdampak positif di masa depan.

Dalam buku atomic habbit – James Clear pernah mengatakan bahwa mungkin kamu akan malas mengerjakan sesuatu suatu saat nanti. Namun semalas apapun niatmu tetaplah lakukan hal itu. karena justru kamu akan menjadi pecundang ketika berhenti dan mulai kembali ke titik nol.  Seorang professional akan tetap menjalankannya meski dalam hatinya terdapat rasa malas. Itulah yang harus mereka lawan dengan perbuatan.

Mempelajari sesuatu mulai dari yang terkecil, mulai dari yang ringan, mudah dipahami, dan paling disukai. Memang hasil yang didapatkan tidak serta merta langsung hadir di hadapan, tapi dampak jangka panjangnya akan terasa luar biasa. Metode untuk membangun kebiasaan mulai dari kegiatan sederhana ini sangat bagus dan mudah di terapkan. Karena pada dasarnya kebiasaan itu memang dibangun dengan suatu yang mudah. Jika di awal kalian sudah bertekad dan melakukan penghabisan di awal. Saya yakin belum ada satu minggu tubuh tidak akan kuat dan lambat laun kebiasaan yang sudah di rancang dan di target sedemikian rupa akan hangus dan di tinggalkan.

Untuk itu perlulah merencanakan suatu hal yang paling kecil, yang paling simple, yang paling bisa anda lakukan untuk membuat kebiasaan it uterus terulang dan akhirnya secara otomatis tanpa anda pikirkan,kebiasaan itu akan berjalan sendiri, bahkan kalian akan merasa kurang jika tidak melaksanakannya.

Melakukan kebiasaan besar selain melelahkan juga akan membuat diri cepat bosan. walaupun akan mempercepat hasil yang di dapatkan. Tetap saja hal tersebut terasa sulit. Seperti seorang bayi berumur tiga tahun yang harus menyelesaikan tugas seorang anak SMP. Keuntungan melakukan kebiasaan kecil membuat perubahan itu lebih awet dan tahan lama, melaksanakannya tidak perlu membutuhkan kinerja ekstra dan hemat tenaga.

Kesimpulannya adalah, untuk memupuk kebiasaan positif, menghindarkan diri dari rasa malas dan bosan, kita harus menerapkan sistem yang benar dalam perubahan itu. menurut James Clear, ada empat tahapan utama ketika seorang ingin berubah.

-          Petunjuk yang nyata
-          Buat perbuatan itu terlihat menarik
-          Permudah kegiatan itu semudah mungkin
-          Beri ganjaran yang memuaskan pada tiap hasil kecil yang dilakukan


Dan agar kita bisa menghindari kebiasaan buruk, yang harus dilakukan adalah :

-          Buat segala hal yang merangsang perbuatan buruk itu menjadi tidak terlihat (misal, jauhkan seorang perokok yang ingin taubat dari iklan rokok atau bungkus rokok)
-          Buat kegiatan itu menjadi tidak menarik (misal bungkus rokok yang sekarang dipasang gambar orang penyakitan, atau beri mereka buku atau video tentang bahaya merokok)
-          Persulit akses (missal, suruh seseorang menyembunyikan charge Smartphone, supaya seorang itu tidak melanjutkan bermain Smartphone ketika baterai habis)
-          Beri ganjaran yang mengecewakan (missal, saya harus infaq sepuluh ribu ketika saya bermain game lebih dari satu jam dalam sehari)


 (Terinspirasi dari buku Atomic Habbit – James Clear)





Surakarta, January 28, 2020


M         H         A

Sabtu, 21 Desember 2019

Hakikat manajemen strategis



           Pada dasarnya manajemen strategis adalah kepintaran dalam penempatkan posisi yang ideal, memperhitungkan gerak pesaing, kemudian menentukan langkah taktis agar bisa unggul dari pesaing. Simpelnya adalah, cara agar posisi kita bisa lebih unggul dari pesaing. Kenapa bisa di sebut strategis? Karena peranan tersebut menentukan tata tempat yang tepat untuk menghasilkan nilai maksimal dari hasil usaha yang di kembangkan.

            Hal lain yang harus di perhatikan adalah dimana seorang manajer dalam mengintegrasikan sesuatu. Terutama pemanfaatan peluang sekecil apapun secara maksimal. Mengelola weakness dan threat secara seksama, serta mengintegrasikan segala macam strength dan Opportunity untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

            Perencanaan sangat penting, tindakan tanpa rencana adalah sebuah kesia-siaan. Rencana strategis di buat untuk meminimalkan kerugian demi memaksimalkan keuntungan. Memilih positioning yang tepat agar perusahaan bisa lebih unggul dari perusahaan lainnya.

Proses manajemen strategis terdiri dari tiga tahap: perumusan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi.

Perumusan strategi termasuk mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif, dan memilih strategi tertentu untuk dikejar.

Implementasi strategi membutuhkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, menyusun kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dijalankan.

Evaluasi strategi adalah tahap terakhir dalam manajemen strategis. Manajer sangat perlu tahu kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik; evaluasi strategi adalah cara utama untuk mendapatkan informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor eksternal dan internal terus berubah. Tiga kegiatan evaluasi strategi mendasar adalah (1) meninjau faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar untuk strategi saat ini, (2) mengukur kinerja, dan (3) mengambil tindakan korektif.

            Dalam menerapkan manajemen strategis, tidak hanya dibutuhkan peramalan, analisis, supply information dan penghitungan akurat. Perlu adanya intuisi dan pengalaman lapangan untuk memaksimalkan hasil yang diinginkan. Seorang manajer dan pemimpin hebat memiliki intuisi yang tajam untuk menilai keadaan dimana mereka harus memilih di antara banyak alternative pilihan. Mereka dapat meminimalkan resiko serta sangat akurat dalam menetapkan tujuan. Semua kehebatan intuisi itu didasarkan atas berbagai pengalaman kerja di lapangan. Tidak serta merta hanya sebatas teoritis saja.

            mengapa intuisi sangat berperan disini? Karena manajemen tidaklah murni ilmu eksak 100%, terdapat seni dalam menjalankan manajerial selain analisis teori yang sering tertera di buku-buku pelajaran sekolah. karena disini terdapat banyak ketidak pastian dari berbagai peristiwa random yang akan dihadapi oleh para manajer perusahaan. Berbagai angka, grafik, serta peramalan strategis di buat untuk membantu lebih menguraikan kerumitan dan ke random-an itu untuk menjadi lebih mudah dalam proses pengambilan keputusan.

            Salah satu cara agar perusahaan tetap berada dalam posisi yang strategis adalah selalu berani mengambil langkah dalam tiap perubahan yang ada, entah itu harus belok, tetap lurus, bahkan ada saatnya mengerem dan tancap gas. Semua itu manajer yang memutuskan. Untuk itu, perlu adanya perencanaan serta manajemen strategis untuk membuat pilihan dari dalam maupun dari luar perusahaan.

Kamis, 25 Juli 2019

Upgrade diri itu bernama Masalah



Manusia yang hidup di dunia dituntut untuk sanggup keluar dari berbagai macam masalah. Manusia justru memandanga sebuah cobaan maupun masalah hidup itu sebagai sebuah kejadian yang tidak mengenakkan dan harus dihindari. Merasa pesimis dan tak percaya diri dengan diri ketika masalah itu datang menghampiri.  Takut-takut semisal mereka gagal, takut salah, takut tindakan mereka menyalahi aturan, takut sakit, serta tak mempercayai dengan kemampuan yang diberikan tuhan kepada mereka. Mereka tak memiliki upaya menghadapi cobaan dan larut dalam suasana baper. Tak ayal sedikit orang yang maju dan banyak orang menggalau tiada henti meratapi nasibnya sendiri. Mereka tak bisa belajar, tak mampu untuk berfikir. Sehingga membuat mereka semakin terpuruk dari hari kehari. Membuat mereka tak pernah maju dan selalu terkurung dalam Comfort Zone nya masing-masing.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. 29:2)

Esensi dari cobaan dan masalah yang menduru kita adalah sebagai ajang dari optimalisasi diri. Untuk membuat diri semakin kuat, semakin terlatih dan tidak lembek kek ndok dadar. Untuk menjadi seorang yang kuat, tentu memerlukan proses Panjang nan ribet. Tidak serta merta jadi atau tujuan kita tercapai begitu saja. semua perlu di usahakan. Salah satu dampak usaha dari hasil tujuan kita yakni bernama masalah.

Masalah hadir untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Namun pada kenyataannya manusia memang makhluk yang sangat egois – Pengen enaknya saja. mereka berkhayal tinggi, berharap saban hari untuk sukses di kemudian hari. namun usaha mereka hanya sebatas start kemudian hilang di terpa angin. Tak ada perubahan, yang ada malah penyesalan, rasa malas, serta tak henti-hentinya mengumpat keadaan. Merasa sebuah kegagalan adalah akhir dari segalanya. Menganggap segala macam usahanya itu sia-sia belaka.

Banyak orang Berusaha menghindar dan meringkuk dalam kehidupan. Selalu menghindari masalah justru akan menembah beban itu sendiri. Karena masalah tak akan hilang dengan cara dihindari. Justru masalah itu akan tetap tersimpan hingga menggunung. Bukankah Allah sudah berpesan bahwasanya manusia itu diuji sesuai dengan batas kemampuannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

Namun manusia selalu saja menyerah sebelum sempat mengeluarkan potensi terbaiknya. Untuk itulah mereka tidak bisa berkembang. Dan ketika mereka sadar diri mereka biasa-biasa saja. mereka malah menyalahkan nasib, menyalahkan keadaan, menyalahkan semua yang taka da hubungannya dengan masalahnya. Padahal kenyataan masalah yang paling besar berawal dari dirinya sendiri. Dia tak sadar itu. karena itulah manusia, mereka tak mau di persalahkan. Sehingga walhasil mereka menjadi manusia yang selalu merasa tak puas, merasa tak berguna hidup, selalu memprotes, selalu jadi bad society.

Pemikiran seperti apa yang mendasari manusia sebegitu takutnya dengan masalah? Berifikir untuk sebisa mungkin meminimalkan masalah dalam hidupnya. Tak ingin mengambil resiko lebih besar dari apa yang kiranya mereka sanggupi. Padahal nyatanya mereka masih bisa lebih. Namun sudah puas dengan diri mereka yang standar. Tidak ingin maju lebih jauh karena takut menanti rintangan yang lebih berat ke depan. sejak kapan mental ini terbangun? Menghindari masalah bukan perkara untung, justru malah buntung.

Aspek yang harus diperhatikan adalah mengenai hati dan ruhani dalam diri. Saat ini sudah banyak dari mereka yang sangat mendewakan ilmu, mendewakan sistem, mendewakan segala macam hal yang di buat manusia. Dan ketika mereka kehilangan itu mereka merasa sangat hampa. Apa gerangan? Ternyata faktor utama terdapat di ruhani. Yang mengubah mindset dan cara pandang manusia itu sendiri. Terlalu duniawi sehingga mereka tak pernah percaya dengan adanya alam lain. Mereka tak sadar telah kehilangan jiwa yang menyambung kepada sang pencipta. Rasa arogan kepada segala macam yang bersifat materialistic menghilangkan pandangan murni mereka pada sesuatu yang bersifat absurd.

Tak heran banyak sekali terjadi kerusakan dan degradasi moral di lingkungan kita. Salah satu sebabnya ialah jauhnya orang itu dari agama. Jarang saya lihat seorang yang taat mengalami depresi serta melakukan penyimpangan moral dan sosial. Justru mereka yang tak bisa mendalami kehidupan hanya sebatas melihat sampul hidupnya saja. Sejatinya isi nya mereka tak mampu lihat. kendati dimikian, itulah yang membuat mereka menjadi terombang-ambing. Dan ketika masalah menerpa, mereka kehilangan arah, menganggap diri mereka tak berarti, tak ada pegangan dan seorang yang membantu.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

            Kuncinya adalah dari dalam diri, buat dirimu tersambung kembali dengan sang pencipta. Hidup tidak hanya sebatas diisi dengan ilmu duniawi, karena sejatinya itu belum lengkap tanpa ilmu akhirat. Begitu juga sebaliknya. Saling melengkapi adalah dasar dari alam semesta ini tercipta. Laki-laki dan perempuan, siang dan malam, matahari dan bulan, api dan air. Hal itulah yang menjadikan keseimbangan. Termasuk bagaimana kita bisa mengatur keseimbangan diri ketika menghadapi sebuah masalah. Karena sejatinya masalah hadir untuk meng-upgrade diri untuk menuju stage selanjutnya. Dan ketika gagal, jangan langsung menyerah, bukankah kita masih hidup? Masih bernafas? masih bisa berfikir dan mencoba? Lantas apa yang membuat kita berhenti berjuang ketika kesempatan untuk merubah itu masih ada? Pikirkan.


Wallahu'alam...

Selasa, 16 Juli 2019

Makna Kata



Kursi? Apa itu kursi? Apa yang terbayang dalam pikiran ketika kita sebutkan kata kursi? Sebuah benda yang terbuat dari kayu. Sebuah benda yang biasa digunakan untuk duduk? Lalu pensil. Apa itu Pensil? Apa yang terbayang dalam pikiran ketika kita sebutkan kata pensil? Sebuah benda yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya terdapat graffit berbentuk silinder kecil. yang biasa digunakan ketika menulis.

            Apa yang menyebabkan sebuah kata bisa berkolerasi dengan bayangan yang ada di dalam pikiran? Apa yang memaknai sebuah benda sehingga sebuah kata saja bisa memantik gambaran objek yang pernah terlihat oleh mata?

            Setiap kata mengandung makna, dan ketika kata itu tak bermakna, maka kata tersebut tak akan dapat memantik suatu objek apapun dalam pikiran. Lalu, apa yang akan terjadi ketika kata tersebut mengandung unsur abstrak? Sebuah kata yang absurd? Yang dimana kita tidak pernah tahu bentuknya seperti apa? Itulah kata kerja. Kita tak tahu bentuknya, namun tahu cara kerja dari katanya. “Mengejar” apa itu mengejar? Kita tak akan bisa mendiskripsikan bentuknya. Namun kita tahu maknanya. Yakni kita akan membayangkan “mengejar” adalah sebuah kata yang digunakan ketika berlari untuk menyusul sesuatu. Seperti mengejar maling, mengejar penjual es tung-tung, dan sebagainya.

            Ketika sebuah kata terucap. Dan ketika otak kita connect dengan makna kata yang terucap. Seakan kita merasakan sebuah sensasi yang ada di dalam kepala, sebuah bentuk kepahaman akan sesuatu. Sebuah pengertian yang membuat mudeng. Dan itu terpantik begitu saja dalam impuls otak kita. Lalu, mengapa saya harus repot-repot menjelentrehkan pengertian kata sebegitu rumitnya. Seperti yang tertera di atas? Jujur, banyak orang yang menyepelekan mengenai sebuah “makna kata”. Mereka tak peduli dengan betapa potensialnya sebuah kata yang terucap, sebuah kata yang terketik, dan yang tertulis dimana-mana.

“Kata” mewakili peradaban. Peradaban ada oleh susunan kata yang membentuk kalimat, lalu semakin banyak menjadikannya paragraph. Dan semakin banyak yang kemudian menghasilkan sebuah buku. Tiap kata mencerminkan pengertian. Dan sebuah pengertian bagaikan kode yang memantik sirkuit otak untuk beraksi. Objek atau Suatu system di dunia ini yang terbentuk, akan segera di lebeli sebuah kode berbentuk “kata” dimana ketika kode itu terucap maka langsung otak akan memproses makna yang tepat dari apa yang kita ketahui mengenai kode “kata” yang telah di lebeli itu.

Luar biasa, bahkan sebuah kalimat saja mampu membuat dampak yang luar biasa.
“I love you” bayangkan seorang yang kamu cintai mengatakan itu di hadapanmu. Maka, tentu kita menjadi sangat senang dan hati akan berbunga-bunga. Apa yang menyebabkan reaksi itu muncul pada diri kita? Sebuah kata, sebuah kata yang membentuk kalimat, kalimat bermakna yang tertangkap oleh impuls otak kita. Yang di proses kemudian dimengerti oleh kita. Dan akhirnya menimbulkan reaksi dari kata yang terucap tadi.

            Lalu apa hebatnya? Saya sudah tau? Mengapa perlu dikasih tau? Tenang, justru karena anda sok tahu sehingga anda tak bisa menghargai hebatnya kata yang dipahami oleh manusia. Kita tahu betapa banyak rangkaian kata yang tercipta di bumi. Baik yang sudah ditemukan, yang belum ditemukan, maupun kata yang telah punah di masa lampau. Kata itu bagaikan code script yang tiap kombinasinya menghasilkan sebuah keajaiban reaksi. Dan ketika kombinasi kata tersebut tak sinkron dan terkesan samar. Tubuh akan menolak reaksi dengan eskpresi ‘bungung’. Begitu juga ketika kita meng input code program computer asal-asalan. Computer akan menolak dan bingung dengan perintah itu. Sehingga tidak ada reaksi yang dihasilkan.

            Jadi kalian sudah tahu betapa hebatnya makna kata, betapa luar biasanya fungsi kalimat, sebuah kalimat yang terucap dapat membuat hati manusia menangis, dapat membuat hati manusia merasa bahagia, bahkan sebuah kata juga dapat menimbulkan peperangan. Jadi ketika kita mengetahui makna kata. Tentu kita harus hati-hati dan bijak dalam menggunakan sebuah ‘kata’ ini. Karena semua kata yang tercipta baik secara tulisan, ketikan, maupun ucapan akan berpengaruh ke dunia luar sebagai suatu respon perintak atau code yang biasa diinput ke computer.


Senin, 08 Juli 2019

Berorganisasi dengan Hati

wall.alphacoders.com


            Berkali-kali Saya merasakan peluh kesah di berbagai tingkat organisasi, Terkadang ada yang sreg di hati, namun tak jarang rasa jenuh dan bosan hadir menghantui. Acapkali sering seperti itu. Hati secara otomatis bisa memilih dimana posisi yang nyaman untuk kita tempati.

            Tipikal Hati seseorang memang berbeda-beda, ada yang berwarna putih, abu-abu, bahkan ada juga yang berwarna hitam karena jarang dibersihkan. Semua itu tergantung lingkungan dan teman yang ada di sekitarnya. Hal itu juga akan menentukan dimana letak organisasi yang tepat untuk dirinya.

            Seorang memilih organisasi seperti seorang yang tak bisa melihat karena gelap, dan hanya mengikuti mata hati sesuai dengan keadaan hatinya kala itu. Tugas dari organisasi adalah memberi cahaya. Tapi bukan hanya itu, Peran Organisasi juga sebagai penunjuk jalan agar hati orang tersebut benar-benar nyaman berada di jalan organisasi. Jika tidak, sudah dipastikan dia akan merasa jenuh dan perlahan menghilang untuk meninggalkan jalan organisasi tersebut.

            Dulunya Saya merasa begitu. Beberapa organisasi Saya tinggal karena hati belum menemukan arah yang tepat di dalamnya. Beberapa masih aku pertahankan karena saya anggap disana bagus dan sesuai dengan mata hati. Jadi untuk menggaet seseorang yang masih rapuh hatinya adalah ‘bagaimana cara organisasi menyentuh hatinya’. Bagaimana lingkup organisasi itu sampai dan masuk ke dalam hatinya. Jika sudah di dapat, dapat di pastikan dia akan merasa senang dan jenak dengan seluruh kegiatan yang ada di dalam organisasi tersebut.

            Namun itu baru langkah awal. Menggaet hati seorang itu ibarat merancang sebuah judul dalam sebuah buku. Yang kemudian kita harus menentukan isi buku tersebut supaya pembaca makin tertarik mendalami isi buku. Dibutuhkan keterampilan dalam prosedur organisasi yang professional, efektif, dan efisien. Bagaimana bisa menyelesaikan suatu persoalan dengan lugas tanpa ada rasa kebingungan sama sekali. Dengan susunan prosedur yang rapi, maka pembaca akan semakin nyaman. Organisasi akan semakin ringkas namun produktif. Bisa menjadi pembelajar yang nyaman dalam menyerap pengalaman yang berarti di organisasi. Bukan hanya sebatas menggugurkan proker, bukan hanya sekedar formalitas belaka dimana sebuah organisasi tampak sangat suram dengan berbagai bentuk ke-formalitasannya.

            Formalitas tak selalu melulu harus di hadirkan. Harus ada hati dan canda disana agar organisasi terkesan penuh warna. Bukan hanya sekedar gerak raga yang minim akan eksistensi jiwa, dimana semua berdasarkan apa yang harus dicapai tanpa mengerti esensi kegiatan yang telah di lakukan. Bukan melulu organisasi digunakan sebagai ajang penggugur amanah. Karena sejatinya organisasi adalah tempat untuk menimba ilmu serta menjalin ukhwah antar sesama. Lakukan segala kegiatan dengan hati. Cabut ke formalitasan yang mencekam dengan berbagai pengajaran yang interaktif. Semua itu dilakukan supaya hatinya tak kelu akan tuntutan demi tuntutan proker. Namun haruslah dia berpikir bahwa tugas yang dia dapat sebagai kewajiban yang akan mematangkan dirinya kelak. Pola pikir juga harus dirubah semenjak dini.

            Tentu masih banyak kita dapati para organisator tak memiliki tujuan pasti terkait apa yang mereka harus lakukan ketika mengikuti organisasi. Mereka tak tahu apa dan mengapa mereka ikut. Hanya sebatas mendengar kata hati. Untuk itu tugas paling berat dari organisasi adalah menyulut dan memantik. Memberikan jalan dan arahan supaya mereka tahu apa yang mereka inginkan di orgaisasi? mengapa mereka ikut organisasi? Sehingga terciptalah rasa dan tujuan di hati mereka yang nantinya di gunakan untuk memberikan kontribusi berarti bukan hanya di organisasi saja, namun juga di lingkuan luar.

            Sebagai pemimpin, pertama harus mendalami dulu visi organsiasi yang akan di pimpin. Setelah menetapkan tujuan barulah masuk ke indikator poin misi yang akan di capai di periode itu. Semua harus jelas dan diharapkan tersampaikan bukan hanya secara lisan kepada para staff. Namun juga harus merasuki dalam sanubari supaya Visi misi itu bisa terus dipraktekkan dalam tiap agenda kerja. Penanaman dasar itu sangat penting. Bagai pondasi yang menjaga bangunan rumah agar tetap kokoh. Bagai akar pohon yang menyokong pepohonan agar berdiri tegak, untuk itu berilah pemahaman dasar semenjak dini pada para staff. Gaet hatinya kala itu juga. Cari tahu informasi mereka apa yang ingin mereka kejar dan mengapa mereka ikut organisasi ini. Tanyakan secara serius. Karena itu akan menjadi bekal mereka dalam perjalanan mereka di organisasi.

            Jadi kesan pertama itu penting. Apa yang kita tanam di awal harus di rawat dengan lebih. Seperti bibit tanaman yang tanahnya harus di bajak dan di beri pupuk. Kemudian disirami setiap hari agar tumbuh subur. Begitu juga staff kita. Menjadi pemimpin bukan hanya sekedar menggugurkan tugas semata. Bukan hanya sekedar meneruskan perjalanan amanah dari periode sebelumnya. Namun lebih dari itu. Kita bicara soal pemimpin, kita bicara soal pembentukan pemimpin. Dimana pemimpin harus bisa menciptakan pemimpin baru, entah itu yang akan menggantikannya ataupun untuk menjadi pemimpin yang lainnya. Semua itu perlu proses. Dan proses itu tak hanya bisa digerakkan dengan proker-proker semata. Disitulah peran hati tercipta, disitulah pemahaman akan eksistensi organisasi ditamanamkan. Agar tercipta seorang pemimpin yang baik dan tak hanya bekerja sebatas arahan proker semata.



M       H         A

Minggu, 23 Juni 2019

Impianku Untuk Indonesia



Memandang realitas saat ini, segala macam kerusakan moral dan budaya telah menggerogoti anak bangsa. Hal itu dianggap wajar karena arus globalisasi yang tak terbendung. Serta kurang peran orang tua dalam menjaga anaknya. Namun di lain sisi, kita mengamanatkan kepada mereka untuk menyokong kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. Yang katanya Indonesia akan jaya di tahun 2045. Apakah Indonesia mampu maju? Dengan kualitas sumber daya yang kita lihat sekarang sangat kurang dari segi aspek adab, budaya, dan pola pikir?

Banyak orang menginginkan Indonesia maju dari berbagai aspek. Mulai dari aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Saya telah menanyakan ke khalayak ramai mengenai impian mereka tentang Indonesia. Kurang lebih hampir mirip. Kebanyak ingin menjadikan Indonesia sebagai negara adidaya, menjadi negara maju, menjadi macan asia, serta mensejahterakan rakyatnya dengan sumber daya negara yang dikelola dengan baik.

Kami menginginkan Indonesia menjadi negara berbudaya, Makmur dan beradap, orang-orangnya berpikiran maju, damai, pemimpinnya cerdas dan jujur, toleransi, sejahtera, swasembada pangan, swasembada pekerjaan, menjadi negara eksportir minim impor, pemerataan ekonomi, memberantas kemiskinan, sadar akan masalah sosial ekonomi, mandiri, tidak goyah dengan berbagai tantangan serta ideologi luar, mencintai budaya sendiri, adil untuk setiap golongan masyarakat, hukum yang adil, menjadi pemimpin peradaban, toleransi antar ummat beragama, pemimpin amanah, mensejahterakan rakyat, mengenalkan kearifan lokal dan wisata,

Komentar saya adalah ‘PREET’ melihat realita di lapangan tak seindah ekspektasi dan harapan mereka. Mereka ingin perubahan untuk Indonesia maju? Nyatanya kebanyakan para penduduknya masih kurang berpikir maju. Ngapain coba kita berharap yang besar-besar macam menjadi Macan asia, menjadi negara Super Power dengan militer nomor satu di dunia. Menjadikan sepakbola Indonesia masuk dan juara piala dunia. Lha wong masalah kecil macam bocil pacaran, sampah yang di buang seenaknya, mereka yang sering terlambat dan tidak menghargai waktu. Dan masih banyak problem lainnya saja belum kelar. Hal simple dan disepelakan seperti itu saja masih belum bisa teratasi. Gitu masih mau mikir Indonesia akan maju?

            TENTU MASIH. Meski kenyataan pahit masyarakat kita masih memiliki PR serius dalam hal adab, budaya, dan pola pikir. Setidaknya mereka masih memiliki pandangan untuk maju. Itu penting. Sebab, Itu tandanya mereka masih memiliki harapan serta keinginan agar Indonesia menjadi negara maju kedepannya. Namun disini saya tekankan akan masalah aksi. Ngga asal omong tok. Karena sesuatu yang hanya sebatas pemikiran, jika tidak direalisasikan, maka selamanya pemikiran itu akan menjadi imajinasi.



             Mari mengaca pada diri. Untuk membenahi Indonesia yang carut marut. Permasalahan pertama yang harus diatasi adalah dari diri sendiri. Sudah benarkah kita? Sudah sadarkah kita akan pentingnya kotribusi kita dalam memajukan Indonesia? Sudah adakah kontribusi kita? Dll.., tanyakan hal itu pada diri anda, supaya anda juga sadar jika memiliki peran yang sama seperti 250 juta penduduk Indonesia lainnya. Kemudian setelah diri anda sadar, masuklah ke ranah keluarga, Lalu ke ranah Sanak saudara, kemudian masyarakat secara keseluruhan.

Mengapa untuk membikin negara maju bukan memilih untuk membangun infrastruktur? membangun Gedung penelitian? Mencetak buku sebanyak-banyaknya? Meningkatkan laju produksi negara? Atau membikin lapangan pekerjaan? Karena semua itu bakal percuma jika sumber daya manusia yang ada di negara tersebut tidak terbina dengan baik. Segala sesuatu yang dinilai pertama kali adalah masyarakatnya. Personal adalah hal paling mendasar dalam terciptanya negara. Itu bagaikan sel. Jika sel itu baik semua? Otomatis tubuh juga akan sehat. Bisa melakukan segala aktifitas positif yang tentu bermanfaat pada tubuh.

***



            Disini saya perlu tekankan rasa persatuan dan cinta kepada tanah air. Dengan mencintai budaya serta bangsa sendiri, akan menumbuhkan rasa perjuangan. Perjuangan untu memajukan bangsa akan semakin kuat. Bak seorang pria yang ingin melindungi kekasihnya. Beda lagi dengan mereka yang malah mengadopsi pemikiran luar. Untuk itu mereka malah berperan dalam membantu memajukan negara lain.

            Paradigma yang terjadi disni hanyalah sebatas tentang cita-cita. Sebuah impian yang diharapkan bisa terwujud di masa mendatang. Kapan impian itu menjadi kenyataan? Siapa yang tau. Kita hanya berusaha supaya itu bisa terwujud secepatnya. 2045? Bahkan Dahlan Iskan menyebut itu kelamaan. Mengapa ngga 2025? Tanya beliau kala itu. disitulah saya berpikir, benar juga. Mengapa kita selalu menantikan dan melimpahkan tugas pada yang lain. mmengapa tidak di mulai pada diri kita sendiri? Mengapa harus menunggu 2045 jika sekarang saja kita bisa menyusun pondasi untuk memajukan Indonesia lebih cepat? Ketika kita mengulur waktu untuk bangkit. Secara tidak langsung kita juga ikut mengulur kejayaan Indonesia.

            Cobalah berpikir rasional. Hanya berpikir tanpa bertindak tak akan membuahkan hasil selain wacana. Semua perlu mekanisme aksi supaya keberadaan wacana berubah menjadi realisasi. Mari kita Bersama membangun cita-cita Bersama. Karena jika sendiri akan terasa sulit. Menyusung Bersama akan membawa dampak yang signifikan, konsisten dan efisien dalam membangun Indonesia yang dicita-citakan. Semua lini harus turut ikut andil. Jangan mengelak dan melimpahkan pada yang lain tanpa ada rasa tanggungjawab. Sadarkan pada diri realita yang sekarang tengah menjadi PR Bersama. Kita majukan Indonesia Bersama. Seberbeda dan se heterogennya kita. Kita bawa Indonesia maju dengan ciri khas, gotong royong dan saling bahu membahu untuk mencapai Indonesia yang lebih bailk. Jaya indonesiaku!


Surakarta, 23 June 2019



M         H         A

Senin, 03 Juni 2019

Game dan Kehidupan



Mengapa Game sangat menarik bagi kaum Pemuda? Mereka sampai rela begadangan, membeli item game, Skin dan equipment lain dengan pulsa. Padahal hal tersebut tidaklah berguna sedikitpun di kehidupan nyata. Mengapa mereka sampai rela berkorban dengan kesia-siaan? melampui batas sampai ketagihan, lupa waktu, lupa tidur, lupa isi dompet, lupa tugas, bahkan lupa orang tua? Kenapa, mengapa? Padahal apa yang menjadi penyebab hanyalah game. Apakah peran game dalam merusak generasi muda sampai separah itu? lalu apa kekuatan Game sehingga memiliki daya perusak yang sedemikian besar?

Kalau dipikir secara nalar, bukankah akan lebih baik ketika para pemuda mengalokasikan waktunya dengan membaca? Dengan tilawah? Dengan mencari pengalaman kerja? Dengan menulis? Bisnis? Dan kegiatan produktif lainnya. Ketimbang harus ndekem di kamar sambil bermain game tiada henti. Sebenarnya main game itu boleh, ga haram. Cuma yang jadi kendalanya itu ketika sudah ketagihan, sampai tak bisa mengatur waktu antara bermain dan produktif. Padahal jika dipikir kita bisa bermain sambil produktif (kita akan bahas ini di sesi akhir). Mereka sebenarnya tahu dampak negative nya jika kebablasan bermain game. Namun mereka masih rela membuang waktu untuk itu. Ibarat perokok, meski sudah di peringatkan dengan iklan dan bahaya merokok, tetap saja mereka membelinya.

            Mari kita pelajari apa yang membuat Game sedemikian DIGDAYA. Secara visual, Game manampilkan kesan dan pengalaman yang menakjubkan bagi para pemainnya, apalagi dizaman sekarang grafik game hampir menyerupai tekstur di dunia nyata. Menampilakan alur cerita seru dan unik serta menguji ketangkasan, adrenalin, strategi, dan tantangan bagi para pemain. Tak dipungkiri berbagai Genre Game yang beraneka ragam telah menggantikan peran maupun job di dunia nyata. Contoh nya saja game simulasi truk. Mereka tak harus belajar atau menyetir truk sungguhan, mencari sim B dan melakukan kursus sana-sini. Cukup duduk manis menginstall Euro Truck Simulator bajakan, Mengatur tampilan spesifikasi PC, belajar sepuluh menit, lama-lama mereka sudah mendapatkan pengalaman yang serupa. Dan ketika ada resiko kecelakaan mereka cukup tekan restart, selesai. Jika di dunia nyata, resikonya bisa berujung nyawa dan juga denda.

Kepraktisan game yang bisa di mainkan kapanpun dan dimanapun, tidak terkekang hukum-hukum dunia real, menjadikan para pemain tak perlu ragu untuk berbuat sesuka udelnya. Karena di dalam game kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Beda di dunia nyata dimana resiko pengambilan keputusan akan berakibat nyata dalam kehidupan. Sedangkan di game paling hanya berakibat maya. (Salah dikit tinggal restart, kalau game online tim hampir kalah tinggal AFK :V)

            Intinya adalah kehendak bebas. Sesuai naluri manusia yang ingin mencari kebebasan tanpa kekangan. Sedangkan meraka merasa terkekang dengan rutinitas menjemukan yang mereka alami di dunia nyata. Berbagai macan tekanan batin dan psikis di sekolah, kampus, kantor, maupun saat berinteraksi dengan lingkungan. Membuat jenuh dan akhirnya mereka lampiaskan dengan bermain game untuk mendapatkan kembali ruh kehidupan mereka yang hilang di dunia asli.

            Game tak selalu menawarkan dampak buruk dan perilaku negative. Seperti yang saya sebutkan di awal. Game bisa merangsang otak untuk berpikir kognitive dan berlatih dalam mengambil keputusan, strategi, simulasi, serta mengasah kemampuan motoric. Semua tergantung pada pengguna lebih mengarah ke hal positive atau negative.


Lalu bagaimana cara menselaraskan kehidupan di dunia nyata dan di dunia game? Bagaimana kita bisa menikmati dunia seperti halnya ketika kita menikmati sensasi bermain di dalam game?            

Pertanyaan yang cukup menarik. Dari sini saya ingin memformulasikan pelajaran yang saya dapatkan ketika bermain game, yakni membuat sebuah pola yang hampir sama antara dunia nyata dan dunia isekai (Game).
     
     1.      Buat Tiap hari dikehidupan nyata serasa Login di Game kesayangan kita.

Mengapa seorang itu betah untuk login tiap hari di game online? karena ada event seru seperti skin gratis, peti hadiah atau tambahan Gold ketika mereka menyempatkan login untuk singgah ke menu game utama. Di hari-hari normal yang kita jalani cobalah untuk melakukan hal serupa, ketika bangun dari tidur cobalah untuk bersyukur karena masih diizinkan login di dunia nyata. Hadiahkan diri di pagi hari untuk Sholat subuh ke masjid, olahraga, makan-makanan yang kita pengen atau mungkin kita bisa memberi surprise pada diri sendiri maupun teman kita agar timbul rasa bahagia pada diri.

Kalau missal posisi kita itu sebagai orang tua, maka tunjukkanlah apresiasi itu tiap hari pada anak kita. Kalau mereka berhasil bangun subuh kita masakin makanan yang enak. Atau kalau memang tidak bisa tiap hari, minimal satu kali seminggu seperti di hari senin. Jadi tiap hari senin selalu ada bingkisan untuk anak kita supaya mereka selalu menunggu-nunggu datangnya hari senin untuk bersekolah sekaligus mendapat doorprize yang dijanjikan.

     2.      Beri Apresiasi pada diri atas segala jerih payah yang ada walau itu sepele

            Dalam game juga ketika kita berhasil memenangkan sebuah event atau pertandingan pasti akan ada apresiasi berupa ‘congratulation’ atau pernyataan lain yang membuat hati kita menjadi gembira dan semangat untuk menang lagi dan lagi. Begitu pula dalam kehidupan. Tunjukkan apresiasi pada diri jika kita berhasil melakukan seuatu hal tertentu, semisal telah berhasil tilawah satu juz pada hari itu maka saya akan beli susu mbok darmi. Atau ketika saya berhasil mengerjakan skripsi, saya akan mentraktir teman-teman saya yang ada di kosan.

            Begitu pula ketika kita menjadi orang tua. Kalau anak kita tidak berhasil melakukan sesuatu jangan kita malah memarahi atau mengkritik pedas sehingga membuat mentalnya makin runtuh. Tapi berilah semangat dan apresiasi atas jerih payahnya meski itu hanya sekedar berhasil membuka tutup botol, karena apresiasi kecil sangat berdampak positif untuk menunjang keberhasilan besar yang akan di buat anak kita kedepannya.

     3.      Buat Timeline Event kita sendiri di tiap bulannya

Bahkan di Game online saja ada timelinenya, masak di kehidupan nyata kita engga? Salah satu hal yang membuat para player bisa mengatur dan kebablasan dalam bermain game adalah karena tiap bulannya selalu ada timeline event-event seru dan menggemparkan. Cobalah kita ambil manfaat dan membuat sendiri timeline kita dengan berbagai agenda sesuai dengan passion. Dampak yang dihasilkan akan membuat kehidupan kita menjadi lebih teratur, seperti seorang player game yang sangat teratur memilah dan bermain game hanya untuk menyelesaikan event setiap bulannya. Tentu hidup kita juga jangan mau kalah, kita buat event dalam hidup dan mencoba menyelesaikan segala tugas yang ada di tiap bulan. Lama-lama pasti kita akan lupa untuk menyempatkan waktu login game karena kita sudah dibuat sibuk dengan timeline event di dunia nyata.

     4.      Buat system upgrade leveling dari capaian yang berhasil kita raih

Jadikan event-event dalam hidup kita sebagai peringkat dasar untuk terus menggenjot XP level kehidupan kita. Semisal berhasil tilawah 1 juz sehari maka kita akan mendapatkan XP 10. Sedangkan untuk naik level dua kita butuk 100 XP, level tiga butuh 200 XP, level empat butuh 400 XP, terserah sesuai keinginan kita. Ketika kita membikin kehidupan kita sendiri menjadi seru, maka kita akan lebih menghargai hidup serta jerih payah yang telah dilakukan.

Sesuaikan dengan passion maka secara tidak langsung kita akan merasa nyaman untuk menjalani seluk beluk kehidupan seberat apapun tugas dan cobaan yang menghadang. Terus tertantang untuk maju dan mengambil resiko maupun masalah sulit. Karena kita sudah membentuk peringkat dan konsep dasar yang menjadi acuan untuk menyemangati diri sendiri.

Ketika bermain Game di level easy terus lama-lama pasti bakal bosan dan jenuh. Rasanya ingin sekali mencoba hal baru dengan mengambil tingkat kesulitan medium, hard, bahkan expert. Seperti itulah ketika ingin menjalani sebuah kehidupan. Mulai dari yang mudah dulu dan dapatkan poin sesuai tingkat kesulitan yang ada. Lama-lama kita akan merasa tertantang sendiri dan mencoba untuk mendapatkan poin yang lebih banyak. Misal udah seminggu berhasil membaca buku lima lembar perhari/ maka ciptakan event baru ke mode medium dengan meningkatkan menjadi 8 lembar / hari. Begitu seterusnya sampai kita menjadi expert dan berhasil membaca satu buku dalam sehari. Apa mungkin? Ga ada yang ga mungkin bro kecuali menghidupkan orang mati.

            Di akhir kata mengapa kok saya mengambil tema game disini. Karena menurut pandangan saya banyak pemuda terutama anak lelaki suka banget bermain game sampai lupa waktu. Mungkin dengan penanaman kembali pola pikir mengenai kehidupan yang bisa di gameinisasi membuat kehidupan kita serasa bermain namun juga produktif. Kombinasi ini memang agak nyeleneh namun terbilang efektif untuk menyadarkan mereka, mengembalikan mereka dari buaikan dunia isekai (game) tanpa makna dan bias, menuju ke hamparan kehidupan nyata bermasyarakat yang sebenarnya peran pemuda sangat dibutuhkan disana.

Sekian artikel singkat dari saya. Jangan lupa gunakan waktu untuk terus berjuang memperbaiki kualitas hidup yang produktif dengan event-event yang kita buat setiap hari, bulan, bahkan tahun. Memberi apresiasi untuk memacu semangat orang lain maupun diri sendiri. Berusaha menaikkan kapasitas diri dengan leveling setiap hari (dengan menyelesaikan tugas-tugas kehidupan) Sehingga membuat kita tidak menjadi lupa waktu untuk melakukan perbuatan negative, namun kita menjadi lupa waktu untuk melakukan kegiatan positive. Sampai tak sadar sudah berapa lama waktu yang telah di lewati untuk berjuang. Dan ketika sadar, kita telah berada di ujung jalan dengan capaian-capaian mengagumkan dalam tiap langkah kehidupan kita.



Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…



Minggu, 3 Juni 2019

M         H         A