Selasa, 20 Juni 2017

Perjalanan Hati kehadirat tuhan



1
Sesungguhnya, bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (akhir). Siapa yang bidayahnya selalu bersandar kepada Allah, pasti nihayah-nya akan sampai kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

            Artinya, permulaan seorang murid adalah gambaran akhirnya. Jika di awal ia sudah memiliki tekad kuat untuk menghadap Allah dan berjuang dalam ibadah dan riyadhah, maka di akirnya nanti ia akan mendapatkan kemenangan besar. Begitu juga sebaliknya.

2
Yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang engkau sukai dan semangat dalam melakukannya, sdangkan yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang sering memengaruhi.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

            Yang harus dikerjakan adalah amalan sholeh yang mendekatkanmu kepada Allah. Adapun yang harus diabaikan dan tidak perlu dipedulikan ialah keinginan hawa nafsu dan maslahatmu yang akan sirna.

3
Siapa yang yakin bahwa Allah menyuruhnya melakukan ibadah, pasti ia bersungguh-sungguh menghadap kepada Nya. Siapa yang mengetahui bahwa segala urusan itu di tangan Allah, pasti bulatlah tawakalnya kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

4
Bangunan alam ini pasti rusak binasa. Lenyap pula semua barang berharga yang ada di dalamnya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

5
Orang yang sempurna akalnya ialah yang lebih bahagia dengan yang kekal daripada yang rusak binasa karena cahaya hatinya telah terang dan tanda-tanda cahaya itu tampak pada air mukanya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Orang yang berakal ialah orang yang lebih bahagia dan gemar kepada akhirat daripada kepada dunia yang fana.

6
Orang yang berakal memalingkan mukanya dari dunia ini, mengabaikannya dengan memejamkan mata, dan terus berlalu meninggalkannya. Ia tidak menganggapnya sebagai tanah air atau tempat tinggal.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Dia bisa melihat jelas apa saja yang perlu dijauhinya di dunia ini. ia tidak menjadikan dunia sebagai tempat berleha-leha atau tempat bersenang-senang. Tidak pula menjadikannya sebagai tempat tinggal yang dicintainya.

7
Bahkan semangatnya terus bangkit untuk segera sampai kepada Allah dan terus berjalan menuju-Nya sambil berharap pertolongan-Nya agar segera sampai.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

8
Kendaraan semangatnya terus berjalan tiada henti sampai berlabuh di hadirat Ilahi, di atas hamparan kesenangan, tempat kelapangan, berhadapan dengan-Nya, bercakap-cakap dan menyaksikan-Nya, dan bersimpuh di tempat belajar ilmu-Nya sehingga hadirat Ilahi itu menjadi sarang hati mereka. Ke sana mereka kembali dan di sana pula mereka tinggal.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

Biasanya yang menghalangi kendaraan tekad itu ialah sikap bergantung kepada selain Allah, misalnya terhadap dunia.

9
Apabila mereka tiba di langit kewajiban (menunaikan kewajiban) atau turun ke bumi kepentingan (hawa nafsu) hal itu terjadi dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Mereka tidak menunaikan kewajiban dengan lalai dan menyalahi adab. Demikian pula bila menuruti hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk ke dalamnya dengan pertolongan Allah untuk meraih keridhaan-Nya, menuruti tuntutan-Nya, dan berharap kepada-Nya.
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

10
Katakanlah “tuhanku masukkanlah aku melalui pintu kebenaran dan keluarkanlah aku melalui pintu kebenaran pula supaya pandanganku tetap bulat pada kekuasaan dan kekuatan-Mu ketika Kau memasukkanku, dimikian pula kepasrahan dan ketundukanku selalu kepada-Mu ketika Kau mengeluarkanku”
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –

11
“Dan berikan untukku, langsung dari-Mu kekuatan dan pertolongan yang membantuku untuk melawan nafsuku, membantu kawan-kawanku dan orang-orang yang kukasihi, serta membantuku untuk mengenali kelemahan diri dan melenyapkanku dari kurungan perasaanku, bukan kekuatan dan pertolongan yang membantu nafsu dan musuh-musuhku.”
– ibnu Atha’illah al-Iskandari –



Disadur dan diringkas dari buku AL-Hikam (Hal 359-370)

0 komentar:

Posting Komentar