softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Rabu, 19 Juli 2017

Novel; Arthof's Journey (Hal 10-14)



            Rasanya begitu aneh, mungkin ada yang habis kentut. Bau ini begitu menyengat di lubang hidungku. Tak berselang lama, rasa perih mulai terasa menjalar ke seluruh bagian tubuh.

“ukh...” kubuka mataku perlahan. Butuh beberapa hitungan detik hingga aku bisa melihat sekeliling dengan jelas.

Aku sedang berada di sebuah kamar tidur. Temboknya terdiri atas kayu tua dan berpasak bambu. Atapnya pun masih terdiri dari jerami tua yang di anyam. Aku mencoba bangkit tapi luka di tubuhku tak mengijinkannya. Lama aku di ruangan ini sendiri. ternyata bau yang menyengat itu adalah bau menyan. Dari dulu Aku tidak suka dengan bau-bauan seperti itu.

Pintu perlahan terkuak. Mata kupicingkan untuk melihat siapa gerangan orang yang masuk tanpa mengetuk pintu. Setelah jelas mataku memandang. Tak kusangka dia adalah seorang perempuan. Parasnya yang menawan membuatku tidak bisa berkedip untuk sesaat. Namun karena letupan rasa sakit di pinggang membuatku akhirnya tersadar dari angan-angan palsu.

            Sambil meringis kesakitan. Dia mendekat menuju ke arahku dengan membawa segelas air teh. Aku menelan ludah. Jantungku bertambah cepat seiring jaraknya semakin dekat denganku. Saat ini aku benar-benar diuntungkan dengan rupa menawanku. Sehingga kuyakin dia pasti akan tersipu malu saat akan berbicara denganku. Tapi –  

“bagaimana perasaanmu sekarang ini?” Tanyanya dengan nada malas. Cara bicaranya sama sekali tidak menampakkan kesan kasihan akan kondisi parahku ini. Dan rupanya dia sama sekali tidak kepincut dengan keelokan rupaku. Padahal setiap pagi saat berangkat ke sekolah. Sudah terdapat jejeran para siswi yang merapat di setiap jalan lewatku hanya untuk memandang wajahku.

“Oi... kenapa nggak dijawab. Apa sekarang kamu sudah mulai bisu?” tiba-tiba dia menggertak.

“A-aku...”

“hah... kalau nggak kuat ngomong nggak usah dipaksakan. Kamu nanti malah tambah sakit dan membuatku bekerja ekstra lagi menyembuhkan luka-lukamu”

Kali ini gambaranku padanya mulai berbalik. Ternyata watak wanita ini berbanding terbalik dengan wajah cantiknya itu. benar-benar sangat disayangkan.

            Setelah menaruh segelas air teh. Hampir saja dia pergi dan meinggalkan kamar ini kembali. Namun aku segera menyahutnya karena memiliki berbagai macam pertanyaan yang menyelimuti otak ini.

“Tunggu sebentar!”

“Apa?” katanya tanpa penuh hasrat.

“bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Dia diam sejenak sambil melangkah kembali dengan malasnya “jangan banyak-banyak. Aku tak punya waktu banyak untuk mengurusimu lebih lama”
Dahiku berkerut. Ternyata dia cukup menjengkelkan juga. “Apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku sampai disini? Tolong ceritakan padaku. Jika kamu menjelaskannya secara rinci. Mungkin itu adalah satu-satunya pertanyaanku saat ini”
Setelah berpikir sejenak. Akhirnya Wanita itu angkat bicara.

“kamu beruntung bisa selamat dari kejarannya. Si Gael telah berjuang mati-matian menyelamatkan nyawamu yang terancam. Untung dia juga selamat. Tapi lukanya lebih parah darimu”

“Gael. Maksudmu. Bocah  itu?”

“APA KATAMU!!!”

‘Buag!’ dia menendang perutku keras. Seperti tidak peduli bila aku sedang setengah sekarat di kasur ini.

“AKH!!!” rasanya begitu sakit seperti operasi usus tanpa obat bius.

“Ke-Kenapa kamu tiba-tiba... ukh...!” aku menahan perih yang bagai melumat organ dalamku ini.

“kuperingatkan kau. Jangan seenaknya memanggil kakakku dengan sebutan bocah, bocah”

(Tak kusangka dia kakaknya. Pantas saja orang yang kukira bocah itu memanggilku bocah. Dan lagi, padahal dia seumuran denganku. Mengapa juga memanggilku bocah! Sialan!)

“ma-maaf” kataku, sambil tetap meringis kesakitan. Aku tahu bila salah. Cuman, kenapa hukumannya harus sekeras ini.

“lain kali kalau kamu ulangi, aku akan menjejak kepalamu”

(di-dia ternyata seorang psikopat!)

“sampai jumpa” dia mulai melangkah pergi.

“tunggu!”

Dia berhenti tanpa menoleh ke arahku “kamu bilang satu pertanyaankan”

“satu lagi. sebenarnya tempat apa ini? dimana aku sekarang?”

“dasar laki-laki payah. memegang kata-katamu sendiri saja tidak becus. Aku tak akan menjawabnya jadi cari tahulah sendiri”

Sampai dia menutup pintu kamar. Barulah dengan nada berbisik aku mengumpatinya habis-habisan.
(dasar perempuan menyebalkan! lucknut! sinting!!!)
***

            Aku mungkin tertidur cukup lama. Aku tidak tahu ini hari apa atau jam berapa, tanggal apa dan tahun berapa. Aku tidak tahu lagi sudah terbaring disini berapa hari. Yang kutahu cuma bertemu dengan wanita cantik yang menjengkelkan. Yang merawat dan memberiku makan dengan tidak ikhlas. Sampai saat inipun dia tidak mengenalkan nama ataupun dirinya. Hal itulah yang mendorongku agar cepat sembuh dan supaya bisa pergi menjauh dari perempuan itu.

“dok dok” terdengar ketukan dari pintu. Itu bukan dari wanita itu. Karena aku hafal betul bila dia msauk pasti langsung membuka tanpa mengetuk pintu. Pintu perlahan terkuak. muncullah sesosok orang tua yang rambutnya sudah beruban semua. Berjenggot panjang dan  berkulit sawo langsat.

“bagaimana kondisimu sekarang, nak? Apa sudah merasa baikan?” tanyanya penuh dengan kewibawaan.

“Ya... seluruh luka-lukaku sudah sembuh. Apa aku boleh pulang sekarang?”

“jangan terburu-buru. Menginaplah semalam lagi”

“maaf mbah, tapi aku tidak punya bayak waktu lagi. mungkin sekarang kedua orangtuaku tengah sibuk mencariku kemana-mana”
Wajah orang tua itu mendadak berubah sesaat sampai akhirnya dia menyodorkan tangannya ke arahku. 

“perkenalkan. Saya Sudjiwo. Panggil saja Mbah Jiwo”

“ba-baik mbah Jiwo. Saya Arthof” aku menjabat tangannya erat.

“apa putriku merawatmu dengan baik”

Ingin sekali aku menyatakan ketidaksukaanku, namun sepertinya itu bukan pilihan yang baik. “ya, dia sudah cukup baik merawat saya. Bukti kalau saya masih hidup adalah kerja keras dari putri anda”

“Hohohoho.... apa kamu langsung tertarik dengannya pada pandangan pertama”

“ah... mungkin untuk beberapa detik saat awal kami bertemu”

“hohohoho... maafkan anakku ya bila kamu merasa kurang nyaman dengannya. Dari dulu dia memang begitu. Dia adalah orang yang sangat membenci pria”

“oh begitu” (Pantas saja) aku ingin sekali menanyakan apakah dia seorang lesbi. Tapi kurasa itu tidak perlu.

“kalau anda bagaimana. Mbah Jiwo kan pria?”


“kecuali aku dan Gael tentunya”

“maksud mbah boc-... eh si kecil itu?” aku hampir keceplosan.

“ya. Umurnya sudah tiga puluh tahun. Dia adalah anak kandungku”

“Kuda Gile! kalau yang putri!?”

“dia anak angkatku, umurnya baru lima belas tahun”

(jadi umurnya sama denganku ya...)

“kenapa dia sampai segitunya membenci pria mbah?” tanyaku penasaran.

“hohoho.... ceritanya cukup panjang. Mungkin lain kali akan kuceritakan bila kamu bersedia tinggal disini lebih lama”

Pintu terkuak kembali. ternyata si dia muncuk kembali. Bicaranya sangat sopan ketika dengan mbahnya.

“Makanannya sudah siap yah” Katanya lembut lalu disusul melirik ke arahku dengan tatapan tajam. Membuatku agak sedikit kikuk, bingung, dan juga kesal.

“baiklah. Aku akan segera ke sana bersama dengan pemuda ini” kata simbah itu dengan penuh kebijaksanaan.

Lalu dia berlalu pergi sambil menutup pintu.

“kenapa dia ini?”

“Namanya Harumi. Dia itu sebenarnya anak yang baik kok”

(mungkin aku tidak butuh tahu namanya, mengingat aku akan segera melupakannya)

“mari ikut makan bersama. Berhubung kami saat ini sedang memasak aneka masakan yang lezat”
Aku menangguk dan kami berjalan bersama menuju ruang makan.
***

Setelah menginap semalam di rumah mbah Jiwo. Akhirnya aku membulatkan tekat untuk balik ke rumah secepatnya.

“baiklah, aku akan pulang sekarang”

“tidak semudah itu nak”

aku tidak menegerti sama sekali “kenapa?”

“setidaknya untuk pulang ke rumahmu, kamu harus bisa melewati beberapa ujian yang ada di sini”

“jangan bercanda mbah Jiwo. Anda tahu sendirikan bagaimana perasaan kedua orangtua ku merasakan anak mereka hilang cukup lama. Mereka pasti sedang frustasi disana. Kalau anda ingin uang. Nanti akan saya transfer deh pas saya udah sampai rumah”

“tenang saja, saya tidak butuh uang. Kedua orang tuamu juga tidak akan mencarimu sekarang ini. Jadi semua alasan yang kamu ajukan sudah teratasi”

“aku belum sepenuhnya mengerti. Apa maksudnya mereka tidak bisa mencariku untuk saat ini?”

“yak... mengerti atau tidak. Tapi kamu tidak akan kuijinkan kembali kesana”

“kalau begitu aku akan kembali sendiri” lalu aku mulai berjalan menelusuri hutan ini.

“percuma, aku yakin kamu akan mati duluan sebelum berhasil melewati hutan ini. kamu harus tahu kalau sekarang kita berada di hutan Anjel. Hutan paling angker nomor dua setelah hutan Saban di negara Indons. Melewatinya sendiri tanpa persiapan sama saja mencari mati”

“—...!!!” aku tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika mengetahui lokasiku sekarang ini. kukira ini hanyalah di sebuah pegunungan kecil yang bertempat di sebelah kotaku. Aku bisa mempercayai perkataan dari mbah Jiwo ketika dalam waktu yang sama melihat hutan lebat membentang sejauh mataku memandang dari pegunungan kecil ini.

“maka dari itu, disini aku akan membantumu sampai kamu benar-benar layak untuk melewati hutan ini”

“kira-kira berapa lama?” kataku dengan nada terpuruk.

“Selama engkau mampu mengatasi semuanya, jadi ini tergantung seberapa kerasnya dirimu mencoba”
***

Bersambung....

Rabu, 12 Juli 2017

Free download MP3 Jepang 3



1. High & High
    http://tinyical.com/1Eea

2. KASUMI
    http://tinyical.com/1Ef6

3. Knock Days - one piece
    http://tinyical.com/1Efw

4. Sense of wonder
    http://tinyical.com/1EhD

5. Late show
    http://tinyical.com/1EiX

6. Wish
    http://tinyical.com/1EjP

7. Summer rain
    http://tinyical.com/1Ek6

8. 笑顔が似合う日
    http://tinyical.com/1Ekh

9. Day to Story
    http://tinyical.com/1ElW

10. Saigo no tabi
      http://adfoc.us/x64816206

Free download MP3 Jepang 2



Nggak usah basa-basi. kalau mau comot silakan.....

Link :
http://tinyical.com/1ERp

Kumpulan Cerpen; Bisa Berpikir



           Pada suatu masa yang tidak diketahui. Hiduplah seorang anak kere yang suka menginjak batu empuk (istilah bakunya adalah ta1, lihat kamus anwar zahid dalam ceramahnya). Badannya kumal, keleknya bau, kakinya berborok, berbadan krempeng, dan kerapatan rambutnya melebihi ijuk sapu, atau lebih tepatnya pring yang disagar-sigar.

Memasuki semester ke 48 awal kehidupannya. Dia mulai bosan menjadi sesosok kere yang keleweran di trotoar jalan. Pikirannya yang dangkal dan tak terpelajar masih sempat terbesitkan keinginan untuk mengubah kehidupannya. Dirinya saja nggumun bisa berpikir. Dia amat bangga karena bisa berpikir layaknya manusia lain yang mendapat gaji itu.

Dalam sela-sela pikirannya. Dia mencoba berpikir lebih dalam dengan menemukan beberapa masalah yang selama ini tidak pernah ia temukan pemecahannya selama hidupnya. Dan ketika berhasil tahu. Rasanya seperti di beri Ilham dari langit.
“saya sekarang paham mengapa satu jika ditambah satu sama dengan dua!” pekiknya.

Kini dia merasa sedikit lebih pintar. Kemajuannya dalam berpikir ini membuatnya amat bahagia dan bangga. Barulah sekarang dia menyadari dan amat bersyukur bila bisa menjadi seorang yang bisa berpikir. Lalu, dengan segenap kesadaran, akhirnya dia memampirkan diri menuju masjid untuk sholat yang pertama kalinya.

Setelah sholat. Sekarang dia mulai duduk-duduk sambil merenung. Mengumpulkan konsentrasi untuk bisa berpikir kembali. Namun perutnya tiba-tiba merengek meminta isi. Dengan cekatan dia meloncat ke tempat sampah yang ada di dekatnya. Mengorek serpihan makanan sisa yang biasa dia lakukan sehari-hari. Namun dia tidak menemukan apapun disitu.

“hah...” keluhnya.

Namun beberapa saat dia teringat. Dia punya tuhan untuk dimintai pertolongan. Pikirannya yang melesat cepat bagai peluru segera membuatnya tersadar. Dia teramat takjub. Dia geleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya bila bisa berpikir secepat itu dan menyadari jika dia mempunyai tuhan. Karena dia tahu, bukan sembarangan orang bisa berpikir dan menyadari bila dia mempunyai tuhan setiap waktu.

“mungkin karena aku habis sholat tadi” batinnya. Dan kini dia menengadahkan tangan untuk berdo’a kepada tuhan.

‘ya Allah, beri saya makan. Karena jika tidak. Saya nggak akan bisa berpikir gara-gara diganggu suara perut ini ya Allah. Ya Allah, berilah saya makan. Karena sudah dari kemarin saya belum makan. Kalau bisa berilah saya makanan yang baik. Kalau boleh usul, saya maunya steak ya Allah. Karena seumur hidup saya belum pernah nyoba steak. Aamiin...’

Lalu dia menelangkupkan tangannya ke mukanya.

Beberpa saat dia menanti di pinggiran tong sampah sambil menunggu makanan yang dia minta. Namun tak kunjung datang.

“apa Allah belum mendengar do’a saya. Atau do’a saya masih dalam masa transfer?” dia bingung. Dalam kebingungannya, dia mencoba menganalisa ke dalam otaknya atas permasalahan yang dihadapinya.

Namun tak kunjung ketemu. Dia mulai gerah walau masih tetap bersabar menanti pesanan. Setengah jam berlalu dan tiada hasil. Perutnya terus memelas dan panas. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan berjalan mencari makan.

Di perempatan. Dia menyenggol seorang laki-laki yang membawa sekresek steak ayam yang dibelinya di warung steak ternama. Dan salah satu kreseknya terjatuh dari genggaman pria itu. Steak itupun jatuh melesat ke tanaha dan akhirnya kotor. Sang kere yang sadar segera meminta maaf sambil mengiba. Namun sang pemuda itu untungnya baik. Dia tak mempermasalahkan karena yang jatuh itu adalah bonus. Berhubung warung steak yang dia beli pada waktu itu menerapkan sistem beli satu gratis satu pada hari itu.

“saya minta maaf mas. Jangan pukul saya”

“ndak apa-apa. Lagian itu bukan rezeki saya”

“tapi saya nggak bisa mengganti steak bapak yang kotor itu”

“ndak papa. Saya masih punya satu kok”

Ketika sang pemuda itu ingin membuangnya di tempat sampah, sang kere dengan responsif mencegatnya.
“tunggu mas!”

“he?”

“biar saya ambil boleh. Saya belum makan dari kemarin”

“oh silakan.. meski agak kotor. Insya Allah akan bersih jika di lap pakai tangan”

Lalu dia memberikan steak yang jatuh itu ke tangan sang kere.

“makasih banget mas” katanya setengah menangis.

“jangan makasih ke saya. Bersyukurlah ke Allah saja. Saya hanyalah sebagai perantara pak. Kalau begitu saya permisi dulu. istri saya tadi ngebel akan ngamuk bila saya nggak segera mati’in kecoa yang ngumpet di kolong kasur”

“ya silakan-silakan”
Lalu sang pemuda tadi berlalu meninggalkan sang kere.

Sang kere tadi begitu senang mendapat makanan yang diinginkannya. Setelah selesai makan. Dia kembali bersyukur kepada tuhan yang telah memberikannya.
“terimakasih ya Allah telah mengabulkan do’a hamba sehingga hamba bisa tenang untuk berfikir lagi”
Lalu dia kembali mencari kursi umum. Duduk disana dan berfikir kembali dengan tenang. Saat itulah dia mulai berpikir mengapa dia bisa menjadi kere, mengapa ada banyak kere, mengapa orang yang tidak kere kebanyakan tidak peduli dengan nasib kere, mengapa para kere dilihat seperti sampah yang merusak pemandangan. Dia berpikir lebih dalam untuk mengorek segala realita yang ada di hadapannya. Tanpa bergeming dahinya mulai berkerut memeras keringat sehingga menjatuhkan beberapa tetes ke tanah.

“aku harus jadi presiden!” katanya mantap dalam hati.

Dia pikir bila seandainya jadi presiden. Dia akan bisa menuntaskan ketidakadilan dan kekurang efisienan. Dia berpikir bila awal mula permasalahan yang terjadi disebabkan oleh sistem pemerintahan yang kurang becus. Maka dari itu, dia berpikir untuk menjadi presiden dan membenahi semua permasalahan yang ada.

“benar, presiden! Orang tertololpun tahu bila presidenlah yang memikul tanggung jawab atas negara. Ini negara sedang carut marut. Berarti presiden belum sepenuhnya bijak mengelola negara. Itulah alasannya kenapa selama kehidupanku yang singkat ini tetap menjadi kere melulu” pikirnya dalam batin.

Kemudian dia mencari tempat yang ramai dan memposisikan diri terlebih dahulu.

“perhatian masyarakat sekalian!” pekiknya. Ternyata perbuatannya tak sedikit mengundang banyak perhatian.

“wahai para saudaraku yang terjajah oleh para penguasa bengis. Mari kita tegakkan kembali keadilan dan meminta kembali hak kita yang terebut!!!” kini makin banyaklah orang yang berkumpul dan mendengarkannya.

“mari kita ciptakan kehidupan yang selama ini kita impikan. Mari kita lepas belenggu yang terus memeras pikiran dan tenaga kita untuk memenuhi hasrat mereka!” kali ini jalanan mulai macet karena banyak pengendara yang berhenti di sekitar situ.

“dengarkan saudara-saudara sependeritaanku!!! Jika nanti saya terpilih menjadi presiden kalian. Saya berjanji akan menegakkan keadilan untuk segala jenjang masyarakat!!! Tidak merendahkan dan meninggikan sebagian golongan!!! Semua dipikul sama rata. Maka dari itu, pilihlah saya!! Dukunglah saya menjadi presiden selanjutnya!!!” tak berselang lama beberapa polisi yang tahu bila ada keributan segera datang ke tempat kejadian.

“kalian pasti berpikir. Meski di buat sibuk saya yakin sebagian kalian pasti ada yang sadar!! Bahwa kita sedang diperbudak. Itulah sebab yang pasti membuat saya menjadi seorang kere dari dulu hingga sekarang. Dan apakah kalian sadar bila selama ini bertambah miskin. Lihatlah sekarang makanan harganya sudah 10.000 lebih!!! Padahal dahulu 50 perak saja sudah kenyang!!!”

Tiga polisi lekas berlari dan membekuk sang kere untuk di bawa ke kantor polisi.

“lepaskaaan!!! Lepaskaan saya!!! Saya pingin jadi presiden untuk merubah tatanan sial ini!!! minggaat!!!” dia terus mencerocos dan berusaha melepaskan diri dan berteriak. Sedangkan polisi yang tentunya lebih kuat berhasil membekuknya dan segera di masukkan ke dalam mobil polisi yang sudah disediakan.

“Kurang Tajir! Mana keadilan kalian! Mana semua keadilan yang kalian gemborkan! Apa nggak boleh saya mendeklarasikan diri sebagai calon presiden! Apa hanya orang-orang kalian saja yang boleh jadi presiden!! Wooii!!!!” dia akhirnya masuk ke dalam mobil polisi. Lalu mobil itu segera berlalu dengan sirine yang memekakkan telinga.

Semua orang yang ada disana melihat, semua orang yang ada di sana mendengar, semua orang yang ada di sana merasakan. Mereka tahu, mereka mengerti, mereka menyadari. Namun dalam satu sisi, sebagian dari mereka berpikir, bila cara yang dilakukan pemuda kere tadi  salah dan terlalu cepat.
Jepara, 12 Juli 2017

MHA

Kumpulan Cerpen; Sinektika



            Bisakah sebuah pohon berjalan dari tempatnya? Itu adalah sebuah pertanyaan goblok bagi sebagian orang pintar yang ternyata goblok. Bisakah Buah mengeluarkan buah? Itu adalah sebuah pertanyaan konyol yang ternyata tidak terlalu konyol bila di telaah lebih dalam. Bila ayah bukan lagi bapak, Mengapa ibu bisa menjadi mama? Pertanyaan itu begitu pelik dan lebih baik dilupakan dan tidak perlu di bahas panjang lebar.

Sebuah kejadian yang menggemparkan terdapat di sebuah kota. Hal itu sontak mendapat reaksi dari berbagai golongan masyarakat. Semua berspekulasi dan berpendapat sesuai kapasitas ilmunya masing-masing. Dan yang merasa bodoh hanya terdiam menanggapi berita-berita yang halur mudik tiada henti.

            Namun sayang sekarang orang-orang tidak ingin dianggap bodoh. Hal apapun mereka lakukan agar kebodohan mereka tertutupi walaupun pada kenyataannya mereka benar-benar bodoh.

“kejadiannya memang terasa aneh. Ini hanyalah konspirasi para elite agar para rakyat jelata melupakan penderitaannya!”

Yang lainnya menyanggah.

“bohong! Mereka yang berkoar-koar tak jelas itu hanyalah para konspirator yang cuma omong besar”

Polemik tidak hanya menggerogoti para pemuka dan pembesar saja. Bahkan rakyat kecil tak henti-hentinya mengemukakan pendapat mereka di zaman politik bebas ini.

“mereka semua adalah musuh. Kitalah yang benar. mereka seenaknya berkoar di jalan-jalan tanpa kenal bulug!”

“kita harus bertindak! Membubarkan mereka adalah pilihan yang terbaik untuk menjaga keutuhan dan kesatuan! Sekarang juga bubarkaaan!”

“benaar! Segera bubarkan golongan yang tidak bisa bertoleransi dengan golongan yang lainnya!”

            Dari beberapa orang yang berbeda haluan mengkritik balik gugatan yang ditujukan kepada mereka.

“Bubarkan udelmu! Kamilah yang kalian sakiti. Mana ada kami ini pernah menyakiti kalian. Mana ada kami tidak bertoleransi kepada kalian. Mana ada kami sebagai orang yang teraniaya, memecah belah ataupun memecah persatuan bangsa. TIDAAK! Kami sama sekali tidak pernah melakukan apapun yang kalian tuduhkan! Justru kami disini sebagai yang tersakiti, mencoba bertindak untuk menegakkan kembali keadilan!”

            Dalam kalangan saintis. Mereka tidak terlalu menggugu masalah yang tidak benar-benar menyangkut dengan bidang yang ditekuninya saat ini. Namun dewasa ini, tayangan vidio yang teramat viral di youtub* telah membuat ubun-ubun para kalangan saintis terasa meletup-letup bagai popcorn yang mengembung.

“Siapa yang buat video konspirasional itu. Mana ada bentuk bola itu datar!”

“kurang tajir! Seenaknya saja yang buat video itu dengan lancangnya mencap kita sebagai pembohong! Mana ada hah... masak riset kita yang telah kita lakukan selama berpuluh-puluh tahun lamanya Cuma dianggap sebagai sebuah isapan jentik! Kau kira penelitian kami ini Cuma dolan neker apa! Kami ini serius mengorbankan jiwa dan raga dalam mengembangkan ilmu sains, tahu nggak!”

Sedangkan para pendukung flat ball yang sudah percaya dengan tayangan di youtub* masih tetap meneguhkan pendirian dan tetap melawan. Mereka melakukannya  karena sudah merasa kenyang telah dibohongi oleh para elite gombal selama ini.

            Dalam kalangan Budayawan. Segala tetekbengek kehidupan hanyalah sebuah sandiwara yang hanya perlu dijalankan dengan segenap hati, jiwa, dan raga. Maka, ketika mereka menemui sebuah intrik dan peristiwa yang bertentangan. Mereka hanya menulisnya, bahkan kejadian itu dijadikan sebagai bahan refrensi dan inspirasi untuk membuat suatu karya mereka yang baru dan sensasional.

            Semakin cepat hari bergulir. Segala macam kejadian telah membenturkan beberapa golongan dalam satu kisi. Pertikaian dan saling tuduh menjadi hal yang biasa terjadi.

“Fitnah lagi ya...” Kata orang tua itu, disusul hembusan nafas panjang.

“benar. Mengapa mereka sebegitunya membenci kita guru?”

“itu sudah takdir, nak. Mereka tidak akan suka dan tidak akan pernah berhenti mengusik kita sampai kita keluar dari jalan yang lurus ini”

“tapi, bukannya lebih baik kita melawan mereka! Dan menyingkirkan segala tuduhan ini!”

“tidak semudah itu, zaman dulu bukanlah seperti zaman yang ada sekarang ini. jika kita melawannya dengan berperang. Maka kitalah yang akan habis. Karena kita akan tercap sebagai sebuah golongan yang bengis, dan malah akan membenarkan fitnah-fitnah yang mereka lontarkan itu”

“jadi, apa yang harus kita lakukan guru?” tanyanya setengah memelas.

“belajarlah yang rajin nak. Sekarang zamannya adalah peperangan fikiran. Asahlah akal dan pikiranmu. Jangan kau susupi dengan hal tidak berguna yang akan menuntunmu ke lembah kebinasaan”

“apakah dengan itu kita akan berhasil mengalahkan mereka guru?”

“ah, jangan berpikiran begitu, kita bertarung dan berperang bukan untuk mengalahkan, tapi kita bertarung dan berperang adalah untuk menyadarkan dan menegakkan panji Allah. Dan jika sempat, do’akanlah mereka agar segera tersadar dari kejahiliyyahannya”

“maafkan saya guru. Mungkin saya kurang banyak belajar lagi”

“tidak apa, kamu masih muda. Setidaknya jalanmu masih panjang jika Allah memanjangkan umurmu”

“Aamiin... guru”


Jepara, 6 Juli 2017


M H A

Novel; Arthof's Journey (Hal 7-10)

Chapter 2

            Seminggu telah berlalu semenjak kejadian miris itu. Berkali-kali aku diintrogasi oleh polisi dan ditanyai berbagai macam hal dan seberapa jauh keterlibatanku pada kasus ini. Sampai akhirnya mereka pun melepaskanku karena tidak menemukan bukti apapun bila akulah sang pelakunya. Akupun sendiri bingung mengapa bisa dituduh sebagai pelaku pembunuhan teman sekolahku sendiri.

            Sampai saat ini perasaan trauma itu tidak kunjung hilang dari ingatanku. Terkadang badanku menggigil sendiri ketika melihat warna merah cat atau sirup. Sehingga kini kedua orang tuaku mulai menjauhkan barang-barang itu dari jangkauanku.

“Mau kemana Arthof?” Tanya ibuku ketika melihatku sedang berjalan menuju pintu.
“aku mau keluar menenangkan diri”
“dimana?”
“ditaman kota”
“mau dianterin?”
“nggak usah bu... Aku bisa sendirian naik motor”
“Kalau begitu hati-hati ya nak. Kalau ada apa-apa segera telfon ibu”
“baik bu”
Aku segera bergegas mengambil motor di garasi dan melajukannya ke taman kota.

            Seperti biasa. Pagi ini taman begitu ramai. Apalagi ini adalah hari libur. Dan berhubung sekolahku ditutup, sehingga sekarang aku jadi seorang pelajar yang nganggur.

            Disini aku berjalan kesana kemari. Mencari tempat yang teduh, tenang, dan sepi. Aku ingin merilekskan pikiran ini. sudah beberapa hari ini aku mengurung diri di kamar. Keluarpun hanya untuk bertemu polisi yang ingin mengitrogasiku. Kehidupanku yang tenang dan indah bisa kandas bagai puing-puing. Tak kusangka kehidupanku yang tentram bisa berubah secepat ini.

            Angin yang berhembus di sekitarku membuatku kedua mataku mengantuk. Rasanya begitu sejuk menjalar ke seluruh tubuhku. Tak sadar kepalaku sudah miring dan kesadarankupun sebentar lagi lenyap tersapu angin.

‘PSYUU!!!’

Suara itu terdengar tepat di sisi kiri kupingku. Membuatku segera tergugah untuk melihat benda yang tampaknya telah membentuk sebuah lubang di pohon tempatku bersandar.
“Untung tadi kepalaku miring ke kanan!” aku menelan ludah. Dilihat dari bentuknya, itu adalah selongsong peluru. Pikiranku kembali kalut mengingat penjahat itu pasti masih mengincarku. Mereka pasti tahu bila akulah satu-satunya siswa yang masih hidup.

            Segera aku berlari untuk meminta bantuan. Karena terlalu gugup tak sengaja kakiku menyandung sebuah batu. Seketika aku terjatuh dan meringkik kesakitan.

‘PSYUU!!’

Lagi-lagi tembakan itu. kali ini tepat menyenggol bajuku. Mungkin jika aku tidak jatuh tadi, sudah terdapat lubang menganga di perutku. Ternyata tuhan belum berkenan untuk membuatku mati disini. Untuk itu aku segera mersponnya dengan bangkit dan berlari kencang menuju ke tempat yang ramai tadi.
“Dimana orang-orang!” aku tercengang. Entah kenapa, taman yang semula ramai mendadak sepi. Mataku melotot mengitari seluruh taman yang kosong melompong. Semua orang lenyap tak tersisa.

‘PSYUU!!!’

“akhh....!”

Kali ini tembakan itu mengenai bahu kiriku. Darah hangat mulai mengalir di sela-sela tangan kananku yang menutupinya. Rasa sakit dan perih mulai terasa persekian detik kemudian. Tanpa pikir panjang. Aku segera berlari menuju jalanan raya untuk meminta pertolongan. Niat kehidupanku yang besar menyangkal agar aku tidak mati disini. Namun semenjak aku berlari. Tembakan itu semakin liar saja menuju ke arahku.

‘PSYU PSYU PSYU PSYU’

            Aku menghindari tembakan itu sekenanya. Dan untungnya semuanya berhasil aku hindari. Walaupun aku sendiri sampai kaget jika bisa menghindari semua tembakannya. Walau tak jarang ada beberapa yang menyerempet dan mengoyak kausku.

Aku hampir sampai ke jalanan raya. Disana mungkin orang itu tak akan berani membunuhku disana, dalam keramaian. Dan semoga saja mereka mau membantuku agar lepas dari maut. Namun sayang, harapan itu tiba-tiba pupus kala seseorang pemuda berusia dua puluh tahunan berjubah serba hitam muncul di hadapanku. Tatapan matanya begitu dingin. Terselip pedang tipis di belakang pundaknya. Sambil membawa pistol di tangan kanan yang entah itu pitol jenis apa. Dia terus menatapku sehingga tanpa sadar membuatku ngompol.

“a...a...ap...” aku tergagap sampai tak bisa berkata-kata lagi. Yang kupikirkan saat itu adalah kematian dan nasib celanaku yang sudah basah kuyup. Aura orang ini luar biasa. Dia seperti seorang pembunuh professional yang sudah sering membunuh banyak orang.

“luar biasa” katanya kalem dan singkat. Ekspresi wajahnya datar ketika menatapku yang sedang ketakutan dua pertiga mati.

“a....a...ap..?” rupanya aku masih belum bisa ngomong.

“kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil menghindar dari pembunuhan yang aku lakukan. Awalnya kukira kamu adalah seorang yang hebat. Nyatanya Cuma anak ingusan”
Aku hanya melotot ketakutan sampai tidak bisa bergerak. Dia kembali menodongkan pistol hitamnya ke arah jidatku.

“bagus, diamlah disitu. Maka kematianmu tidak akan menyakitkan”
Tangannya sudah bersiap menekan pelatuknya. Mataku terpejam dan harapanku sudah pupus. Mungkin sebentar lagi aku akan segera mati.

‘PSYUU!!’

‘TRAANGG!!!’

Lama waktu berlalu dan aku tidak merasakan timah panas yang menembus jidatku.

“WOI bocah sedeng! cepat lari! Apa kamu ingin mati hah!”

Mataku segera aku buka. Terlihat seorang anak kecil yang barusan mengatai aku bocah.

“jangan hanya diam saja. Larilah. Akan kutahan dia sebisa mungkin” dia memakai pedang pendek sambil memasang kuda-kuda.

“ta-tapi harus lari kemana? Jalan satu-satunya ialah melewati orang ini!”

“ya lewati saja. Kamu ini pintar apa bego sih. Nanti aku akan menahannya. Tenang saja!”

“Baiklah bocah. Lain kali jangan panggil aku bocah!”

            Segera aku berlari melewati orang berjubah itu. Kulihat dia merespon cepat dan bergerak menuju ke arahku. Tapi bocah itu segera bereaksi dan menahanya agar diam di tempatnya. Sekilas aku kembali teringat pada bocah yang waktu itu aku beri es krim dan menipuku lalu mendadak hilang.

“ka-kau kan!?” aku sekarang ingat bocah itu.

Si jubah hitam itu berhasil mengelak dan menyingkirkan anak kecil itu. dia menyayatkan pedangnya di udara dan muncul padatan angin tajam layaknya di serial anime menuju ke arahku. Kurasa aku harus menghindari angin yang bergerak cepat itu, jika tidak pasti kepalaku akan terpenggal. Namun karena tidak fokus menatap ke arah depan, aku tidak menyadari ada sebatang pohon besar yang menantiku disana.

‘DUUAAK!!’ benturan keras kontan membuat kepalaku puyeng.

Semua terasa berputar-putar bagai menaiki komedi putar berkecepatan 120 rads/secon. Lekas badanku terjatuh dan berhasil menghindari padatan sayatan angin yang kini merobek batang pohon dan membuatnya tumbang. Sialnya batang pohon itu segera ambruk menuju ke arahku. Sedangkan akibat benturan keras tadi, Menyebabkan kesadaranku perlahan pudar dan tidak bisa merasakan apapun lagi pada saat itu.

***
                                                                                                                        Bersambung......