softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Sabtu, 03 Juni 2017

Kumpulan Cerpen; Bulan Suci Ramadhan



            Rembulan kembali menampakkan diri. Lengkungan cahaya rembulan yang memancar telah memberi tahu penduduk bumi. Ramadhan telah tiba. Umat muslim sedunia telah ketersiap untuk menyambut kedatangannya. Rasa senang dan bahagia tak henti-hentinya tercurah dari lubuk hati orang mukmin sejati. Dimana mereka selalu menanti bulan suci Ramadhan yang datang hanya sekali dalam setahun ini.

“hah.... selesai juga telawih peldananya” sahut teman sebelah Hasrul. Si Udin.
“ngomong-ngomong. Tadi mesjidnya penuh banget. Nggak biasanya sholat isyak sampai membeludak gitu”
“namanya juga awal lamadhan. Itukan sudah menjadi cili khas olang indonesia dalam menyambut lamadhan tiap tahun”
Hasrul mengangguk setuju.
“tapi lihat aja lama-lama. Pasti hali-hali belikutnya olang-olang makin sedikit ke masjid. jadi nggak bakalan beltahan lama”
“konsisten itu memang susah ya”
“betul”

            Malam itu, sebelum Hasrul pulang ke rumah selepas terawih. Dia diajak teman-teman yang lain untuk menyumet mercon.

“ayolah. Untuk memeliahkan suasana bulan lamadhan. Kita nyumet melcon di sekital jalan” Bujuk Udin kepada Hasrul.
“ah, nanti kalau kena orang gimana?”
“kan kita ngelempalnya ke tempat yang nggak ada olangnya”
“suaranya juga bakal nganggu orang lain. Kasihan kan kalau dirumah mereka kebetulan ada yang sedang ngaji. Kita malah dosa nganggu mereka”
“hah... ya udah lah kalau kamu nggak mau. Aku pelgi dulu ya. Nanti kalau kamu mau ikut nusul aja”
Lalu mereka berpisah. Hasrul pun pulang kembali menuju rumahnya.

            Umat muslim menyikapi kedatangan bulan Ramadhan pada tahun ini dengan cara yang berbeda-beda. Bagi yang imannya benar mereka pasti akan bahagia. Bagi yang iman stagnan. Rasanya bakal seperti bulan-bulan biasanya. Dan bagi yang imannya nggak bener. Sudah barang tentu dia akan geting dan dongkol dengan apa yang namanya ramadhan.

Si Joko. Dia adalah seorang yang sangat menyukai kedatangan bulan ramadhan. Hari ini semangatnya membuncah untuk melaksanakan sholat terawih di masjid dekat rumahnya. Dia bahkan datang pertama dan menyempatkan adzan sekalian. Saat ini dia menargetkan sehari bisa tilawah sepuluh juz agar bisa khatam sepuluh kali di bulan ramadhan. Saking Semangatnya si joko harus begadang untuk menyelesaikan target yang dibuatnya. Hingga paginya si Joko telat subuhan karena ketiduran.

            Karadin biasa saja menanggapi bulan yang hanya datang setahun sekali ini. Di dekat masjidnya menerapkan sholat terawih dua puluh tiga roka’at. Tapi Karadin langsung balik kerumah saat imam sudah sholat delapan roka’at. Witirnya dia laksanakan dirumah. Setelah itu dia menyalakan TV dirumah sambil mengorek-ngorek hidungnya.

            Gungun sangat membenci kedatangan bulan ramadhan. Dia malas dan ogah-ogahan shoalat terawih. Alasannya karena malas dan capek. Karena kebiasaannya juga acapkali tidak pernah sholat di masjid. Sekali ke masjid itupun saat hari raya kurban dan sholat id. Padahal itu hanya sholat sunnah. Kerjaannya tiap malam hanya ngelayap. Puasa bolong-bolong. Dan tak peduli akan hari akhir yang mencekatnya kelak.

            Musthofa adalah sesosok muslim ideal. Dia menyambut ramadhan dengan suka cita dan hati berbunga. Dia niatkan puasanya pada tahun ini untuk mengharapkan ridha dan berkah dari Allah. Dia mengaji, sholat ke masjid, sholat tahajud, sholat sunnah, sodakoh, menyapa tetangga, membantu fakir miskin, membaca kitab-kitab riyadhussalihin, dan melakukan amalan-amalan baik yang lain. Dia sangat di segani oleh masyarakat sekitar karena ketawadhu’annya. Dan itulah yang membuatnya sering dipilih menjadi imam masjid. Dan pada kesempatan sore menjelang berbuka puasa. Dia diundang untuk mengisi pengajian.

            “Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah. Dimana terdapat banyak sekali rahmat dan ridha Allah di dalamnya. Dimana kebaikan dilipat gandakan. Dimana pada bulan ini pula Al-qur’an di turunkan. Pada bulan yang suci ini pintu surga dibuka lebar. pintu neraka ditutup. Dan para setan di belenggu”

“Sepatutnya kita memanfaatkan momentum ini untuk beramal sebaik-baiknya dan berdo’a sebanyak-banyaknya kepada Allah. karena tiap do’a yang dipanjatkan umat muslim menjadi mustajab di bulan suci ini”

“ada beberapa keutamaan orang yang melakukan amalan puasa. Beberapa diantaranya adalah; puasa sebagai perisai dari api neraka, orang yang berpuasa mendapat pahala yang amat banyak, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di hadapan Allah daripada bau misik/kasturi, orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka mereka akan gembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka akan bergembira karena puasanya, puasa juga memberi syafaat bagi orang yang menjalankannya, orang yang berpuasa juga mendapat pengampunan dosa, serta, Allah juga sudah menyediakan surga Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa”

itulah sepenggal isi yang didengar oleh Hasrul saat mengikuti pengajian sore itu. Pengajian dilakukan sambil menunggu waktu berbuka. Hasrul yang masih kecil ikut menanti suasana dengan menyambinya dengan bermain bersama anak-anak kecil yang lain. Ada yang nangis gara-gara kepeleset saat lari. Teman yang lain membantu ngetawa’in. Namanya juga anak kecil. Dan yang menolongnya adalah ibunya sendiri. Sambil menasehati anaknya agar berhati-hati ketika bermain.

“Din, kamu puasa apa hari ini?” tanya Hasrul. Saat itu mereka beristirahat karena sudah lelah habis lari-lari.
“puasa sapi. Sebenalnya aku mau puasa penuh. Tapi gala-gala aku lapel banget tadi jam sebelas. Akhilnya aku makan habis dzuhul”
“kalau kamu Jan?” tanya Udin pada Parjandi.
“aku tadi pagi mencret jadi nggak puasa”
“makanya perutmu di jaga. Jangan makan sembarangan” Ujar Hasrul.
Parjandi merengut malu.
“kalau kamu Rul?” Tanya Udin kembali.
“aku puasa sampai magrib”
“eh, katanya teletabis tayang lagi lho”
“masak sih”
“aku nggak mau liat ah. Selem, mata meleka menteleng telus. Nggak pelnah kedip”
“biasa aja kali, namanya juga boneka”
“tapi selem tauk...”
“eh dengerin!” cetus Parjandi mengheningkan suasana.
Adzan magrib sudah berkumandangan. Waktu berbuka pun tiba.
“horee bukaa...!” teriak Parjandi. Padahal nggak puasa.
“apaan sih kamu. Kamu nggak puasa kok seneng banget”
“iya. Aku yang puasa penuh aja biasa. Nggak sombong!”

Seorang ibu-ibu menghampiri mereka dan memberi mereka minuman dan seperangkat takjil.
“ini anak-anak. Makan sambil duduk ya” kata ibu itu ramah.
“makasih buk” sahut Hasrul. Lalu mereka memakan takjil mereka dengan penuh suka cita.

Sumber gambar:

Jepara, 4 Juni 2017

            MHA

Kumpulan Cerpen; Makanan sisa



            Makin lama, makin banyak pula makanan yang Sarjo dapatkan dari tempat sampah. Dia bingung. Seharusnya para pembuang makanan itu sadar betapa berharganya sebutir nasi itu. Kalau mereka tidak suka, bukankah lebih baik memberikannya dengan cara baik-baik kepada para kere yang kurang makan. Bukan malah langsung di buang ke tempat sampah!

“seharusnya mereka bisakan memberikan makanan itu ke kita dengan cara baik-baik. Bukan malah dibuang semena-mena di tempat yang tidak seharusnya. Apa mereka tidak pernah merasakan betapa susahnya mencari makanan!?” Protes Sarjo kepada istrinya.
“namanya juga orang berlebih, mas. Biasa kali, mereka membuang kelebihan harta yang di miliki”
“kan sayang bu... ketimbang di buang kayak gitu, mendingan kan dikasihkan ke kita. Wong itu juga nggak merugikan mereka toh”
”mungkin mereka tidak sadar pak”
“lho, kok bisa nggak sadar?”
“karena dilakukan setiap hari. Jadinya mereka menganggap membuang makanan yang tak habis itu sebagai hal yang wajar”
“Kurangajur! Kita aja mau makan susah. Mereka seenak udelnya sendiri membuang-buang makanan!”
“sudahlah, mas. Yang diatas memang akan selalu memandang kecil apa-apa yang di bawahnya”
“tumben kamu jadi bijak begini”
“hehe. Aku dapat kata-kata barusan dari acara TV yang nggak sengaja aku tonton di warung mbok darni, mas”
“kesukaanmu sekarang pergi ke warung itu to”
“soalnya Cuma warung itu yang masih menyediakan bon untuk kita, mas”
“oh, bagus kalau begitu”

            Keesokan harinya, Sarjo kembali berkeliling untuk bekerja. Benar sekali. Pekerjaannya adalah mendulang sampah. Dengan kata yang lebih simpel, pemulung. Dia memulung sambil mencari makanan seperti biasa. Tapi kesepertibiasaannya itu tidak terjadi pada hari ini. Kini Sarjo mulai sedikit lebih berani untuk mencari makanan. Dahulu dia hanya berani mengoreknya di tempat sampah. Sekarang dia ganti dengan menanti di sebuah warung makan. Sarjo berdiri sambil menantikan sesuatu. Tak berselang lama, muncul orang yang hendak membuang makanan ke tempat sampah.

“BERHENTI!” teriak Sarjo. Sontak pria itu kaget karena merasa diteriaki. Saat ditatap siapa gerangan orang yang meneriakinya. Dia terperanjat ketika tahu bahwa dia adalah seorang pemulung lusuh berbaju keruh. Bajunya dipenuhi tambalan wadah ciki, rambutnya dekil, kulitnya begitu kentara belang hitam dan putih. Setelah ditelaah, ternyata panu.
“Masukin sini!” kata Sarjo sambil menengadahkan kantong kreseknya “makanan kok di buang-buang! Sayang!” katanya sambil memaki.
Pria penjual itu hanya menatap Sarjo dengan muka muak. Sambil memasukkan sisa makanan itu ke kantong kreseknya tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tapi sepotong kalimat.
“risih tau nggak”

            Sarjo tak peduli dan kembali berjalan ke tempat lain. Dia memulung sambil matanya sibuk mengintai di berbagai tempat di sekitarnya. Logatnya seperti seorang detektif yang mencari buronan. Berusaha mencari orang-orang yang ketahuan olehnya hendak membuang makanan sembarangan.

            Ketika didapatinya orang yang membuang makanan. Sarjo langsung melabrak tanpa kenal bini.

“SETOP!”
“WOI BOCAH. ITU MAKANAN! KENAPA DI BUANG-BUANG”
“SEMPRUL. SINI MASUKIN MAKANNYA KESINI!”
“MAKANYA KALAU MAKAN SECUKUPNYA AJA!”
“MENTANG-MENTANG BANYAK MAKANAN TERUS BERBUAT SEENAKNYA SAMA MAKANAN”
“KALAU KAMU YANG DIBUANG MAKANAN APA MAU HAHH!”
“GUA AJA MAKAN SAMPAH SAMPAI HABIS NGGAK BERSISA! KAMU MAKAN YANG ENAK MALAH SEENAKNYA DI BUANG. ANJ***!”
Sarjo terus mencerocos, mencaci, memaki, dan mencerca orang-orang yang ketahuan oleh mata di kepalanya sendiri, jika hendak membuang makanan itu di sembarangan tempat.

Karena sikapnya itu yang begitu berani. hari itu pula Sarjo mendapatkan makanan sekantong kresek penuh. Lalu sarjo pulang dengan ekspresi wajah gembira ke keluarganya. Anak-anak yang tahu ayahnya sudah pulang segera mengerubunginya bagai ayam di kasih dedak.

“papa pulang! Papa pulang!” Sahut si sulung.
“yayy... bisa makan sampah lagi..” sahut si bungsu.
“hus jangan ngomong gitu. Bilangnya makanan sampah. Jangan Cuma sampah tok” sahut si pertengahan. Sarjo adalah seorang bapak yang mempunyai empat anak. Sekarang tinggal tiga. nama anaknya pun dia rahasiakan agar tidak diketahui publik. Biarlah namanya saja yang diketahui, asalkan keluarganya yang lain tetap terjaga identitasnya.
“tenang-tenang. Sekarang ayah nggak akan ngasih ke kalian makanan sampah lagi, apalagi sampah. Ini adalah makanan prasampah. huahahahaha” kata Sarjo enteng. Dia tahu prasampah adalah sebelum sampah. Itu adalah pelajaran waktu SD yang masih dia ingat sampai sekarang.
“bapak dapetinnya sebelum makanannya nyemplung di tempat sampah. Jadi aman dari berbagai bakteri yang ada. huahahahaha.....” kata Sarjo amat girang.
“tapi kan pak. Kreseknya kan dari kresek bekas habis mulung bapak” sahut anak sulung yang sedikit pintar menilik kondisi saat itu.
“huahahaha... padahal kamu nggak sekolah tapi masih bisa mikir juga huahahaha...”
“huss... ayah. Jangan ngomong kayak gitu ke anak kita” kata sang istri, agak marah. Karena dia juga tak bisa menyangkal akan kebenaran omongan Sang Sarjo.
“iya iya. Tenang. besok bapak akan pakai kardus dari toko biar agak steril”
“horeee...” sahut anak-anaknya kegirangan. Lalu Sarjo menuangkan makanan campur aduk itu ke dalam sebuah piring besar yang juga dia pungut dari tempat sampah. Lalu mereka makan dengan lahapnya. Rasanya sudah lebih mendingan. Karena makanan ini belum menyentuh tempat sampah.

            Esok harinya seperti biasa. Sarjo mengumpulkan makan sisa dari berbagai tempat dan menaruhnya ke dalam kardus yang sudah dia siapkan. Sarjo mengumpulkannya sampai kardus itu tidak kuat lagi untuk menampung. Padahal masih banyak orang-orang yang dia temui membuang makananya. Namun karena sudah banyaknya makanan sisa yang dia kumpulkan. Dia pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berlalu menuju rumah.

            Lama-lama Sarjo semakin gregetan dibuatnya. Dia tahu dia miskin. Tapi dia merasa terhina karena banyaknya orang-orang yang membuang makanan tanpa segan, tanpa gentar, tanpa khawatir, tanpa grogi, dan tanpa merasa bersalah. Sarjo marah. Dia kesal. Dia memberongsang. Mukanya merah padam tiap kali melihat orang yang sengaja membuang makanan tepat di depannya saat dia mulung. Alhasil tujuannya sekarang bukanlah menjadi pengepul makanan sisa. Tapi lebih berani lagi. dia kini menjadi seperti seorang polisi keamanan makanan. Karena selalu menceramahi tiap orang yang ketahuan olehnya sedang membuang makanan.

“PERASAAN KAMU ITU SEKOLAH! APA DISANA NGGAK DI AJARI CARA MEMPERLAKUKAN MAKANAN A*U” maki Sarjo. Kepada seorang ibu-ibu gembul yang sedang membuang sisa makanan yang sudah di bungkus kresek putih ke tumpukan sampah depan rumahnya. Sarjo mengamatinya dan langsung mengetahuinya. Karena naluri pencari makanannya sudah sangat peka dengan permasalahan yang menyangkut hal ini.
orang yang diledeknya membantah dan terpancing emosinya.
“KURANGTAJIR! TERSERAH SAYA DONG. MAKAN-MAKANAN SAYA. KENAPA SANA YANG SEWOT!”
“OOH.... JADI KAYAK GINI TOH DIDIKAN ANAK BERPENDIDIKAN ITU. MEMANG MATERI KAMU LEBIH DARI KAMI. TAPI SOAL ROHANI KAMI  LEBIH MANUSIAWI. DASAR MANUSIA SETAN!”
“APA LO BILANG!!!”
“SETAN SUKA MENGHAMBUR-HAMBURKAN MAKANAN. SAYA YANG NGGAK TAMAT SD AJA TAU!”

Lalu ibu-ibu itu semakin marah dan meneriakinya sebagai orang gila. Dan di panggillah sang suami untuk menghadapnya. Seorang yang berotot keluar dengan rupa sangar. Sarjo yang sudah sering merasakan aura kehancuran segera cabut dari situ dengan berlari kencang. Mungkin kecepatannya setara dengan kecepatan Bolt. Ya, mungkin tidak.

Sumber gambar:

Jepara, 2 Juni 2017

            MHA

Sabtu, 06 Mei 2017

Kumpulan Cerpen; Sebuah Cerita Singkat



            Masa lalu, kini, dan nanti. Hari ini, baru, dan lalu. Waktu itu, ini, dan sekarang. Dedauanan, mendesau jatuh ke tanah. Adakalanya langit berwarna abu-abu kehitaman. Terkadang berwarna biru muda. Bisa jadi sekarang mendung. Dan nantinya semakin gelap dan hujan pun turun. Seperti sekarang. Hujan sudah turun. Langit sedari tadi mendung. Banyak orang-orang mulai berteduh. Menghindarkan tubuh mereka agar tidak basah kuyup.

            Dulu tempat ini adalah hutan belantara. Setelah manusia singgah, hutan ini diubah menjadi area persawahan. Lama waktu berlalu, dan sekarang tanah-tanah sawah itu mulai tergerus. Tergerus oleh bangunan-bangunan paprik yang menyemburkan asap kotor ke langit. Dahulu, air disini sangatlah jernih. Tak perlu dimasak sudah boleh langsung diminum. Gratis, tanpa harus membayar sepeser pun. Tapi entah kenapa sekarang menjadi keruh. Sehingga, sekarang banyak air minum yang di wadahi, kemudian dijual beli.

            Harapan adalah sebuah keinginan yang ingin kita wujudkan. Terkadang, keinginan bisa lebih besar dari pada kesanggupan. Bisa jadi kita tak berusaha. Dan hanya menginginkan harapan, yang akhirnya hanya bisa menjadi sebuah angan-angan.

Sebuah warung hik di pinggir jalan. Disana terdapat dua orang pemuda yang masih muda. Namanya juga anak muda. Sudah pasti mereka muda. Jika tidak, maka tidak akan disebut sebagai pemuda.

“kapan kamu mau berubah?” tanyanya. Matanya masih menatapku tanpa bergeming. Dilihat dari reaksinya. Mungkin dia sudah tidak sabar lagi menungguku untuk keluar dari lingkaranku sendiri.
“besok, lusa, atau mungkin minggu depan” jawabku sekenanya. Kualihkan pandangan ke arah lain. Tak kuat aku lama-lama menatap matanya yang tajam.
“jangan hanya berkata besok, besok, dan besok. Kalau bisa sekarang, kenapa kamu tunda terus” Nada suaranya agak sedikit di tekan.  Kulihat wajahnya begitu serius ketika mengatakannya.
“ya, aku tahu”
“kalau kamu tahu. kenapa tidak segera berubah!?”
“tidak semudah itu. kau kira perubahan bisa datang dalam sekejap mata”
Temanku itu terdiam.
“bahkan sebuah mobil saja harus melalui sebuah proses untuk bisa menjadi mobil. Mana ada mobil yang jadi dengan sendirinya“ tambahku.
“aku bahkan tidak melihat proses perubahanmu sama sekali. Ingat, kamu sudah lulus SMA. Sudah sepantasnya kamu memiliki sebuah orientasi yang jelas. Harus sudah memiliki sebuah jati diri yang mantap. Apa lagi kamu ini seorang laki-laki. Maka dari itu. kita dituntut untuk menjadi lebih baik agar kehidupan kita tidak diisi dengan penyesalan dan penyesalan”
Setelah berkata seperti itu, dia segera menenggak minuman es teh pesanannya. Kesempatan break itu juga aku manfaatkan untuk meminum es jerukku yang esnya sudah mulai mencair.

            Kehidupan bisa terasa hambar. Namun kehidupan bisa terasa sangat berwarna dan mencerahkan. Kehidupan sangat sulit. Kehidupan juga sangat menyenangkan. Tergantung ditatap dari sudut pandang yang mana. Setiap hari aku tak bosan-bosannya melihat matahari terbit dan terbenam. Angin tak henti-hentinya berhembus berkelana ke berbagai arah. Ombak laut, tetumbuhan yang tumbuh, cahaya yang menyinari, kegelapan yang membayangi, suara yang memberi warna, hujan yang menghidupkan, panas yang mengeringkan. Bukan berarti kehidupan bisa disalahkan. Karena pada dasarnya dirinya salah memaknai hidup dengan sebaik-baiknya.

            Sejaman dengan waktu yang terus berputar. Banyak sekali manusia yang tidak menerima akan keadaannya. Tidak. Kebanyakan malah memaki kondisinya. Apa hanya semacam firasat? Tidak. Itu bisa dikatakan kenyataannya.

“Aku dengar dahulu kamu pernah menghadiri seminar motivasi?” dia kembali memulai pembicaraan.
“ya. Itu hanya memotivasiku sampai tiga hari saja”
“bentar banget”
“karena motivator yang paling tahan lama itu dari diri sendiri”
Temanku menatap keluar jendela. Awan sudah menutupi sebagian besar langit yang ada.
“sekarang sudah mau hujan lho. Aku juga nggak bawa mantol”
“kamu mau pulang sekarang?”
Dia mengangguk.
“ya udah, hati-hati ya”
“hei?”
“hmm?”
“bukannya kamu mbonceng aku” katanya dengan muka jutek.
“ahahaha... iya, aku lupa. Ayo kita pulang” kami berdua segera beranjak dari kedai itu. temanku menyalakan motornya. Aku membonceng di belakangnya. Kami mengenakan helm masing-masing. Setelah membayar uang parkir, lekas dia mengegas motornya menuju jalan raya.

            Gerimis mulai turun. Temanku melajukan motornya semakin kencang. Menerabas kendaraan, membelah angin kencang. Dingin menggerayangi tubuh. Rintikan hujan terasa seperti butiran-butiran pasir yang berkecamuk menerpa wajahku.

            Dunia ini terasa carut marut. Apa hanya perasaanku? segalanya telah rusak, segalanya telah diputar balikkan. Sulit mencari kebenaran disaat kebatilan menduduki segalanya. Mana orang yang ingin mengubah? Kulihat mereka sebagian besar berada di dasar.

Sangat sulit melangkahkan kaki untuk bisa mencapai puncak kehidupan. Apakah sesulit itu? kurasa tidak. Pikirankulah yang mempersulit itu. Seharusnya itu bisa terjadi jika aku benar-benar ingin. Mengubah semua yang salah. Apakah itu mungkin? Membenahi segala kerusakan. Bukankah itu Cuma mimpi?

Semua bergerak dalam porosnya sendiri-sendiri. Selagi energi masih ada, saat itulah roda dunia masih terus bergerak. Segalanya bergerak. Ada yang lamban, adapula yang cepat. Ada yang segera meraih tujuan, ada yang lama dan bahkan berhenti sebelum sempat meraihnya.

Aku teringat masa kecil, pikiranku belum dipenuhi oleh berbagai hal rumit. Sekarang terasa sulit. Karena banyak hal menuntutku untuk segera memperbaiki. Saat ini, semua terpampang jelas di pelupuk mata. fikiranku mulai terbiasa memilah berbagai hal yang benar dan salah. Mungkinkah saat ini aku harus meninggalkan putaran di lingkaran ku sendiri? Dan mencoba beranjak untuk berhijrah ke berbagai poros untuk mempoles segala hal yang kurasa salah? Tapi, apakah pemikiranku dengan yang lain akan sama? karena belum tentu yang aku anggap salah itu salah di mata orang lain.

“kurasa kita harus berkomitmen terlebih dahulu”
“apa?” dia tidak mendengar apa yang aku ucap. Hembusan udara yang menyelimuti kami membuat suaraku terdengar samar.
“Kita harus memantapkan komitmen dulu!” kataku dengan nada lebih keras.
“akhirnya kamu sadar juga!”
“tapi itu akan sangat sulit!”
“ya, kita lakukan bersama supaya tidak terasa begitu sulit!”
“Ya!”
Jum’at, 5 Mei 2017

MHA

Kumpulan Cerpen; Ketampanan


  
          Stip yang keluar dari sebuah toko. Dibeli dengan uang bernominal 2000. Uang kertas yang sama sekali tidak memiliki nilai guna. Jika tidak ada emas yang menjadi jaminannya. Stip yang digunakan untuk menghapus sebuah tulisan. Tapi hanya tulisan dari pensil yang bisa dihapusnya. Sesekali anak TK itu menghapus tinta dari bolpen. Tulisan itu tak kunjung menghilang. sehingga membuat anak TK itu frustasi karena tangannya pegal akibat menggosok-gosokkan penghapus itu. Akhirnya anak kecil itu menangis. Berlari menuju kamar kakaknya. Untuk mengadukan apa yang barusan dialaminya.

            Kakaknya sedang tiduran di kasur. Sambil memainkan jari jempolnya di layar smartphone. Kakaknya yang bisa dibilang memiliki paras yang sempurna. Terbukti dari banyaknya wanita di sekolahnya yang selalu menggodanya. Chat-chatan hpnya setiap hari tak pernah absen dari berbagai has tag ataupun pesan dari lawan jenisnya. Tentu saja. Sekali ada wanita memandang. Maka terbiuslah mereka munuju suatu dunia yang tak ada bandingannya. Sampai ada pula yang menjebur got karena saking terpananya.

            Perawakannya tinggi. Hidungnya mancung sebagai mana orang barat pada umumnya. Rambutnya menggugah selera. Hitam lebat seperti habis di krimbat. Wajahnya putih bersinar, jika terkena cahaya, maka cahaya itu akan memantul dengan sendirinya. Mukanya bersih tanpa ada tempelan jerawat, yang terkadang diplitesi sebagian besar orang karena saking mengganggunya. Sangat mengagumkan pesona yang ada padanya. Tapi bukan Cuma itu. IQ nya hebat. EQ nya mantap. Nilainya hampir sempurna. Sehingga selalu menyabet rinking satu paralel se-angkatan sekolah. itulah yang membuatnya menjadi idola bagi para perempuan di sekolahnya. Sehingga membuat iri para jomblo yang ngenes. Yang sehari-hari hanya bisa berkhayal memikirkan angan-angan palsu.

“Kak Gabriel.... itu, penghapus yang di beli kakak sudah error. Nggak mau menghapus tulisan adek. HUAAA.....” adiknya menangis dan menjerit semakin kencang. Gabriel yang sayang terhadap adiknya mematikan smartphonenya untuk melayani keluhan sang adik. Sambil mengelus-elus rambutnya. Berusaha menenangkan suasana hati adiknya yang sedang kusut oleh masalah.
“tenanglah adikku. Kakakmu ini akan membelikan alat yang lebih hebat dari penghapus itu. Alat yang bisa menghilangkan tulisan bolpen. Yaitu tipe-x!”

            Gabriel segera keluar dari kamarnya. Sebelum berjalan keluar dari rumah. Entah kenapa burung-burung sudah bertengger di atap rumah untuk menyambutnya di luar. Debu-debu di jalan yang akan dilaluinya bergeser menjauh. Memberikan tempat bersih untuk pijakannya. Sandalnya juga dengan ajaib tertata untuk memudahkan kaki gabriel mengenakannya. Setelah sampai di jalan. Orang-orang seakan melihat seorang pangeran yang berjalan di kampung mereka. Sampai seorang ibu-ibu merasa muda kembali dan lupa jika memiliki suami. Suami yang tahu seketika menyuruh istrinya untuk masuk kerumah lagi. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diingini. Gabriel masih berjalan dengan gagah dan berani. Badannya tegap membuat orang yang memandangnya menjadi nge-fly. Angin bertiup mengibarkan rambutnya. Membuat harum shamponya tercium oleh anak-anak seumurannya.

            Lalu, tibalah Gabriel di sebuah toko eceran kecil. Si mbak-mbak penjual yang ada disana dengan saltingnya melayani Gabriel.
“A.... ada apa mas. Ma... mau beli apah?” badannya panas dingin ketika berjarak dua meteran dari gabriel.
“tolong. Satu tipe X berkualitas prima. Seprima hatiku padamu”
‘JLEB!’ hati mbak-mbak penjaga toko itu langsung keok. Dengan ikhlas yang dipaksakan, mbak-mbak itu memberikan tipe-x itu secara Cuma-Cuma kepada Gabriel. Namun Gabriel menolak dan tetap bersikukuh untuk membayar.
“segala jerih payahmu yang telah kula’an tipe-x. Engkau telah menyediakan apa yang aku butuhkan. Sebagai gantinya, uang ini yang akan berbicara” katanya sambil menyodorkan uang bernominal 10.000. mbak-mbak penjual yang masih mabuk kepayang menerima uang itu dari tangan Gabriel. Namun, tanpa sadar menjujuli uangnya dengan uang bernominal 50.000. Gabriel saat itu tak begitu memperhatikan.
“terimakasih mbak-mbak penjaga toko. Kebaikanmu tak akan pernah hilang dari benakku”
Lalu Mbak-mbak penjaga dengan segera pingsan di tempat. Gabriel lekas cabut untuk kembali lagi ke rumahnya. Untuk memberikan tipe-x itu kepada adiknya.

            Di sekolah. Siapa yang tak kenal dengan Gabriel? Sepanjang hari dia selalu jadi topik pembicaraan. Bahkan sekolah-sekolah lain juga membicarakannya. Jadi dia menjadi sangat terkenal. Dengan berbagai piala yang telah di dapatnya untuk sekolah. sehingga menambah integritasnya. Bahkan di kelas dua SMA ini dia sudah di tawari untuk masuk di berbagai perguruan tinggi yang ada. Tentunya dengan biaya nol.
“uang tak ada artinya. Itu hanyalah kertas yang di beri tinta” kata Gabriel saat di wawancarai untuk masuk majalah sekolah. ini sudah keseratus kalinya dia memapangkan wajahnya di majalah sekolah. dari 101 volume yang telah ada. Satu volume luput karena saat itu dia tak mau di wawancarai karena tak mau terus-terusan ada di majalah.
“jadi kamu sama sekali tak menganggap uang itu berarti?”
“ya. Yang berarti sesungguhnya adalah barang-barang yang telah di beli itu. jadi, ketika ada kuliah yang gratis. Yang aku puji adalah ilmu itu sendiri. masalah biaya itu akan datang dengan sendiri. maka jangan lah bergantung pada uang. Justru uang yang harus bergantung pada kita. Karena kita sendiri juga yang membuatnya”

            Di sisi yang lain. seorang murid cupu bin culun berada di pojokan meja kelas sedang menggerutu. Mulutnya sedari tadi komad-kamid. Bukannya berdzikir. Tapi karena jengkel dengan Gabriel yang selalu saja mendapat muka, padahal dia sudah di beri muka. Dirinya ingin sepertinya. Tapi dia memiliki fisik yang kerdil dan wajah yang membuat lari orang lain. sehingga dia tak pede untuk melakukan sesuatu. Apa lagi dia tak pintar dan pas-pasan. Sehingga membuatnya terus menggerutu dan menganggap gabriel sebagai musuh.

            Disisi yang lain. para siswi sudah berlomba-lomba untuk menjadi istri dari gabriel. Di sisi yang lain. Murid cupu bin culun itu terpeleset di depan para siswi. Sehingga membuatnya di tertawakan. Dia menjadi sangat malu. matanya memerah. Dia menahan tangis. Dan setelah sampai di kamar mandi. Dia tumpahkan seluruh tangisannya itu. tapi nahas. Kesialannya hari itu belum berakhir. Ternyata dia berada di kamar mandi perempuan. sehingga dia mendapat skor seminggu.

            Disisi yang lain. Gabriel memenangi turnamen badminton. Membuatnya sangat populer bagai artis papan atas. Dia menjadi idaman para anak muda. Sampai dia di wawancarai dan masuk TV. Dia di tanya tentang faktor apa yang menjadikannya bisa seterkenal ini.

“entahlah. Yang aku tahu. orang biasanya memandang dari segi luar. Karena luar adalah hal yang paling mudah untuk dilihat dari pada bagian dalam” jawabnya dalam wawancara itu.

            Suara siul terdengar dari celah pepohonan yang perdu di tiup angin. Roda mobil berputar menggilas aspal-aspal berlubang yang belum di tambali. Panas menyengat membuat kelek serasa dibasahi. Air menguap dan menebar di udara sampai batas waktu yang di tentukan. Kini seorang murid cupu bin culun meratapi harinya yang buruk. Dia merasa tak terima dengan kehidupannya. Dia merasa jika hidup itu tak adil. Sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri. Dia bersiap menggantungkan diri. Dan sebelum dia tergantung. Sebuah pisau memutus tali yang akan digunakan untuk menggantung.

“kenapa?” orang cupu bin culun alias Cucun terbelalak. Dia tak tahu kenapa tali itu putus. Padahal talinya sudah cukup kuat untuk membuatnya mampus.
“cukup sampai disitu” teriak salah satu orang dari sudut kuadran dua. membuat Cucun dengan cepat berbalik dan menatap orang tersebut.
“Ka...kau..” Cucun melihat Gabriel berdiri tegap di balik ambang pintu. Dia tak habis pikir dia akan datang disaat yang tepat. Tapi menurut Cucun, dia datang disaat yang tidak tepat
“KENAPA KAU ADA DISINI!” kata-katanya tinggi memekakkan ruangan.
“kenapa kau ingin berakhir seperti itu. Itu akan memperburuk cerita hidupmu”
“tak usah sok peduli. Tak ada gunanya kamu mengurusiku. Lebih baik urusilah kepopuleranmu itu”
Gabriel mendekati Cucun. Cucun yang tak mau di dekati berlari ke pojok ruangan. Tapi Kaki Gabriel masih melangkah mendekati Cucun
“Berhenti!! Aku bilang berhenti!!! Apa kau tuli!! berhentiiii!”
Gabriel mangacuhkan peringatan itu. kini dia berdiri tepat di hadapan Cucun
“kenapa kamu berbuat seperti ini?”
Cucun menahan geram. Dan tak sadar memukul perut Gabriel. Gabriel saat itu merasa ada tepukan yang mengenai perutnya. Tepukan lalat yang biasa dilakukan adeknya.
“jangan pura-pura tak tahu. Hidup ini tak adil. Kenapa hanya kau saja dan orang-orang yang poluler itu saja yang ada. Sedangkan aku hanyalah orang terbuang yang tak ada artinya. Jadi apa yang harus aku perbuat untuk hidupku ini! tak ada yang mau mendekatiku. Dan aku selalu merasa terasing. Tidak sepertimu yang selalu jadi pusat perhatian semuanya”
Mata Gabriel terpejam sejenak sebelum dia mengatakan suatu hal yang besar.
“adil itu tak harus sama. kehidupan itu juga tidak sama antara satu orang dengan orang lain. antara satu dan yang lain juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing”
‘tapi semua kekurangan ada padaku. Dan kamu pun sama sekali tak punya kekurangan!”
“diamlah. Aku belum selesai ngomong!” Cucun langsung terdiam. Gabriel menarik nafas panjang
“begini. Setiap orang pasti punya kelebihan di bidang masing-masing. Dan ada beberapa bagian lain yang menjadi kelemahan. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada rumah yang tak kan roboh. Semua pasti punya kelemahan. Semua orang juga pasti punya kelebihan. Apapun itu. fisikmu yang lengkap sudah membuktikan kamu lebih baik dari pada orang yang cacat. Jadi, apakah kamu masih ingin membunuh dirimu itu?”
Cucun terdiam. Dalam diamnya dia menyesali akan perbuatannya.
“jika dimikian. Lalu apa kelemahanmu itu?” tanya cucun untuk sekian kalinya.
“tidak bisa terbang” jawabnya. Singkat, padat, dan menjelaskan.

Sumber gambar:
http://anakdewahafizhpratama.blogspot.co.id/2013/08/10-anime-terganteng-dan-terkeren.html 


30 Oktober 2016



Muhammad Habib A

Sabtu, 22 April 2017

Kumpulan cerpen; Hari berganti




            Hari sudah berganti. Syamsuddin menatap nanar keluar jendela. Dilihatnya sebuah kejadian yang tak disangka-sangka. Sebuah pembunuhan dilakukan tepat di depan matanya. Di depan rumahnya. Di depan jalanan yang pagi itu sedang membisu. Seorang yang telah membunuh ibu-ibu itu lekas kabur. Dicurinya motor si korban. Sedangkan Korban sudah terkulai tak berdaya di depan jalan rumahnya.

            Tak sampai siang hari. Orang-orang sekitar situ pada geger, mengetahui ada sesosok mayat di jalan raya. Mereka menduga bila pembunuhan ini disebabkan oleh motif pencurian. Semua orang yang ada di interogasi termasuk Syamsuddin. Saat itu dirinya masuk ke ruangan khusus yang tersedia. Hal itu dilakukan untuk mencegah para wartawan tidak seenaknya masuk merekam pembicaraan mereka. Disana hanya ada sang polisi dan Syamsuddin.

“apakah benar. Nama bapak Syamsuddin”
Syamsuddin hanya bisa mengangguk.
“kasus pembunuhan ini terjadi tepat di depan rumah anda. apakah anda tahu proses kejadian pembunuhan ini?”
Syamsuddin mengangguk
“pada pagi itu anda juga sedang berada di depan rumah. Apakah anda melihat proses pembunuhan ini?”
Syamsuddin mengangguk.
“diduga korban dibacok tiga kali menggunakan arit sampai akhirnya sang korban meninggal. Lalu motor korban lekas diambil oleh sang pelaku untuk dibawa lari. Benar begitu kejadiannya?”
Syamsuddin mengangguk.
“saya juga mendengar dari saksi lain. Jika korban saat itu adalah seorang warga desa ini yang notabenenya adalah seorang yang kaya?”
Syamsuddin mengangguk.
“apakah anda bisu sehingga hanya bisa mengangguk?”
Syamsuddin menggeleng.
“kenapa anda sedari tadi tidak berbicara?” tanya polisi dengan ekspresi bingung.
Hening sejenak. Mata Syamsuddin terlihat kosong. Bola matanya memudar seperti sedang melamunkan sesuatu. Polisi yang melihatnya kini menjadi tahu. Pasti dia sedang mengalami tekanan berat karena telah melihat pembunuhan langsung di depan matanya.
“baik. Terimakasih saudara Syamsuddin. Anda sudah membantu proses penyelidikan kami. Jika nanti ada masalah. Saya akan menghubungi anda kembali”
Lalu mereka berdua berjabat tangan. Langkah Syamsuddin lemas meninggalkan ruang introgasi itu. Badannya sempoyongan, semburat wajahnya menggambarkan seseorang yang sudah bosan hidup. Sang polisi hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat kejadian itu.

            Hari kembali berganti. Pagi itu Syamsuddin seperti biasa. Menepi di depan rumahnya, memandang keluar melalui kaca jendela. Sayup pagi itu sepi seperti biasa. Terlihat kapur putih membentuk tubuh seseorang tergambar di jalanan aspal. Tangannya gemetar ketika mengingat pembunuh itu. Pembuluh darahnya terasa menyempit ketika sedang membayangkan kejadian kemarin. Rasa takut saat itu. Kengerian saat itu. Tekanan berat saat itu. Trauma itu telah membuatnya tidak masuk kerja kemarin. Bola matanya masih lekat memandang keluar. Lalu rasa bersalahpun muncul dari lubang hatinya yang kecil.
“kenapa saat itu aku tidak menolongnya!?” jeritnya dalama hati. Dia tahu, saat itu hanya Syamsuddin yang ada di tempat itu.

            Rasa takut ternyata bisa membuat seseorang menjadi tidak berkutik. Syamsuddin masih saja menyalahkan dirinya karena tidak berani menolong ibu-ibu itu. Padahal dia tahu. Bisa saja dia menyelamatkannya. Bisa saja dia berteriak minta tolong sebelum si pelaku kabur. Bisa saja dia menyegat dan meringkus sang pelaku dengan senapan angin yang ada di rumahnya. Ya! dia memiliki senapan angin di rumah. Tapi kenapa dia hanya diam saja. Sambil terpana menatap kejadian pembunuhan yang ada di depan rumahnya!

            Hari kembali berganti. Syamsuddin melangkah keluar untuk masuk kerja kembali. Sudah dua hari dia membolos dari kantor. Sekarang dia harus terima bila gaji bulanannya bakal di potong.

“kemana saja kamu dua hari ini?” tanya sahabat dekatnya saat Syamsuddin tiba di kantor “apa kamu masih ketakutan. Gara-gara pembunuhan yang ada di depan rumahmu?”
Syamsuddin mengangguk.
“jangan diambil hati lah. Mana mungkinkan arwahnya gentayangan di depan rumahmu. Kalau kamu takut di rumah sendiri. Kapan-kapan aku temenin deh”
Syamsuddin menggeleng
“kamu sekarang berlagak bisu ya. Apa kamu lagi main antonim nih” katanya sambil disambut seulas senyuman. Kini dia memeragakan beberapa gerakan antonim yang menjemukan dan tidak layak di tonton.
“ah iya. Aku hampir kelupaan” katanya setelah selesai beberapa kali memperlihatkan antonim tidak bermutu “besok ada pertandingan bola. Aku sudah beli’in tiketnya untuk dua orang nih. Kamu mau kan?”
Syamsuddin mengangguk.
“oke. Siip! Tiga hari lagi kita bakal nonton bareng di stadiun” katanya sambil menepuk bahu Syamsuddin yang layu karena tidak bersemangat.

            Hari kembali berganti. Sudah tiga hari semenjak kejadian yang menggemparkan itu. Dan hari ini dirinya dikagetkan kembali dengan sesuatu. Langkahnya cepat mengambil sandal dan langsung melontar mengeluarkan sepeda motor dari garasi. Lalu menyetarter motor dan lekas minggat menuju kantor.

            Langit masih putih dan matahari belum nampak. Sampai juga Syamsuddin ke area perkantoran. Namun sayang. Tak sampai di depan kantor. Syamsuddin dengan tangan gemetar menghentikan laju motornya. Tubuhnya mendelik di tempat yang sulit dilihat. Ditatapnya dengan gentar. Segerombolan orang sedang menumpahkan beberapa liter bensin ke berbagai sudut kantor. Lalu disulutkan api itu hingga membara. Nyala api mulai berkobar-kobar. Membuat kantor itu terbakar dengan hebatnya. Beberapa gerombolan orang bertopeng itu kini pada kabur menggunakan motor. Syamsuddin hanya bisa terpana melihat kobaran api yang menjilat ganas. menghanguskan bangunan kantor tempatnya bekerja. Mulutnya menganga melihat kejadian yang seharusnya bisa ditangkalnya. Lama dirinya terdiam. Sampai akhirnya beberapa orang disekitar situ yang menyadari adanya kebakaran, saling bergotong royong mencoba memadamkan api dengan segala cara. Lima belas menit setelahnya. Pemadam kebakaran sampai ke area itu untuk segera memadamkan apinya.

            Kantor itu sudah ludes terbakar. Perkakas dan barang-barang di dalam sudah lunas dilalap api. Kerugian ditaksir hingga milyaran rupiah. Bos yang mengetahui gedungnya telah terbakar kabarnya sedang berada di rumah sakit jiwa. Para pekerja otomatis di berhentikan dan menjadi seorang pengangguran. Terlhat marka polisi membentang melingkupi bangunan gosong itu. Disana polisi masih meneliti apa yang sebenarnya terjadi. Lalu beberapa orang di interogasi.

“jadi anda kesana. Datang ke kantor karena mendapat sebuah mimpi jika kantor tempat anda bekerja sedang terbakar?” tanya sang polisi dengan nada tak percaya
Syamsuddin mengangguk.
“apakah saudara saat di tempat kejadian mengetahui apa yang pelaku lakukan sebelum membakar gedung itu?”
Syamsuddin mengangguk.
“apakah benar. Kasus pembakaran ini dengan menggunakan bensin?”
Syamsuddin mengangguk.
“menurut beberapa praduga. Motif yang digunakan adalah persaingan usaha yang tidak sehat. Apakah hal ini juga ada di dalam mimpi anda? Betulkah itu?”
Syamsuddin mengangguk
“ah maaf. Mungkin saya sulit untuk mempercayai  hal ini. Namun, kita sudah bertemu dua kali. Saya rasa, Sebaiknya jika saudara sedang melihat sebuah tindak kejahatan, segeralah melapor kepada kami bila bapak tidak bisa menangkalnya sendiri. Jika bapak diam saja. Maka akan ada banyak orang yang dirugikan” jelas pak polisi
Syamsuddin hanya bisa mengangguk. Matanya sayu dan badannya terlihat lesu. Bibirnya memutih karena semenjak pagi tadi belum makan nasi.

            Syamsuddin sudah diijinkan untuk meninggalkan ruangan. Kali ini tujuannya adalah warung makan pinggir jalan. Saat makan pikirannya melamun kemana-mana. Dirinya merasa serba salah. Dia tahu tapi seperti tidak mau tahu. Syamsuddin seperti telah meninggalkan sebuah tanggungjawab besar. Jiwanya bagai tergerus dalam tekanan berat. Badannya serasa di plekutu oleh orang-orang berbadan kekar. Yaitu rasa takutnya.

            Hari kembali berganti. Temannya datang berkunjung ke rumah Syamsuddin.
“haduuhh.... Sekarang kita jadi pengangguran deh. Maaf ya. Tiketnya ada di laci meja kantor. Dan ikut kebakar. Nggak jadi deh kita nonton sepakbola”
Syamsuddin hanya terdiam dan menyiapkan segelas teh ke hadapan temannya.
“sudahlah tak usah terlalu dipikirkan. Aku tahu perasaanmu sekarang sedang kacau. Kemarin aku juga merasakan hal yang sama. Tapi segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Kan tinggal nyari kerja, udah gampang. Jadi kasir beta maret juga nggak masalah. Yang penting masih bisa hidup” kata orang itu sambil disusul tawa. Syamsuddin yang mendengarnya hanya bisa memberikan senyum kecut.
“sudahlah. Jika kamu masih belum dapat kerja. Aku bisa mencarikannya. Mungkin sekarang, kalau tidak besok. Yang jelas, rawatlah kondisimu dahulu. Kulihat badanmu bau dan rambutmu acak-acakan. Jangan jadi laki-laki kemproh-lah. Pantas saja kamu sampai sekarang masih perjaka melulu” kini dia kembali tertawa. Syamsuddin hanya bisa memberikan senyum kecutnya.
***

            Hari sudah berganti. Malam harinya dia tergugah dan segera mencuci mukanya. Cepat dia keluarkan motor dan berlalu dalam malam yang masih menyisakan kegelapan. Matanya menyipit diterpa hembusan angin yang kuat. Syamsuddin tidak ingin kembali melewatkan tanggungjawab ini.

            Spidometer menunjuk angka seratus lebih. Motornya melaju kencang di jalanan yang lengang. Syamsuddin tidak ingin terlambat sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Setelah sampai, dia banting langkahnya menuju salah satu rumah. Berlari menuju pintu depan rumah dan menggedor pintu itu keras-keras.

“SURYO BANGUN! BANGUN CEPAT!” teriaknya lantang memecah kesunyian malam itu.
“ada apa sih diin... malam-malam kok gembar-gembor. Ada perlu apa?” seseorang keluar dari dalam rumah. Matanya yang sayu terlihat sedang menahan kantuk.
“cepat keluar dari tempat ini. Dirumahmu ada BOM!”
“kamu bicara apaan sih. Apa kamu lagi ngelindur?”
“sudahlah cepat. Sudah tidak ada waktu buat bercanda. Cepat bawa keluar keluargamu dari rumah sekarang!”
“males ah” Suryo tidak menanggapi pernyataan Syamsuddin dengan baik. Kemudian kembali menutup pintu rumahnya. Namun dengan cepat Syamsuddin menahan pintu itu agar tidak tertutup. Lalu menarik lengan Suryo keluar dari rumah. Kemudian berlari menjauh. Lama mereka disana. Suryo merasa dipermainkan.
“sudah cukup! Mungkin pikiranmu sedang bermasalah, sampai kamu tidak bisa berfikir dengan benar” ketus Suryo kesal. kini dia melangkah kembali menuju rumahnya.

            Syamsuddin terpaku dalam keheningan malam. Badannya kaku dan tidak bisa digerakkan. Dirinya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tangan dan kakinya kembali gemetar mengingat mimpinya tadi malam. Pandangannya masih menatap lurus kedepan. Dirinya tidak pernah tahu bila mimpi itu akan menjadi kenyataan. Dan setelah Suryo menutup pintu rumahnya. Di saat yang bersamaan. Rumah itu meledak dengan suara keras.

‘JDDUUUUAAARRRR!!!!’


21-04-17