softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Jumat, 08 Maret 2019

Mempertautkan Ulum Al-Diin, Al-Fikr Al-Islamy, dan Dirasat Islamiyyah

https://wall.alphacoders.com

REVIEW ARTIKEL

Pendahuluan
            Sebenarnya sudah dari tahun 80-han Istilah “act locally and think globally” sudah ada. Namun sampai sekarang belum menemui formula yang pas, sehingga bukan kedamaian dan sikap tasamuh yang didapat, justru malah kekerasan, perebutan kepentingan, dan hal buruk lain yang didapat. Menurut pandangan penulis Seringkali kita tidak dapat membedakan secara jelas dan gamblang antara Ulu, Al-Diin, Al-Fikr Al-Islamy, dan Dirasat Islamiyyah. Sehingga tidak dapat membentuk satu pandangan keagamaanIslam yang utuh, yang dapat mempertemukan dan mendialogkan secara positif-konstruktif antara yang “lokal” dan “global”, antara yang “partikular” dan “universal”, antara “distinctive values” dan “shared values”, antara yang biasa disebut “dzanni” dan “qath’iy” dalam pemikiran fikih Islam dalam hubungannnya dengan keberadaan pandangan hidup dan pandangan keagamaan tradisi dan budaya lain (others; al-akhar) di luar budaya Islam.
Pendidikan merupakan alat yang dapat mencerahkan peradaban itu sendiri. Pendidikan Islam secara utuh, terstruktur dan tersistimatisasi yang diharapkan dapat memberikan gambaran keislaman kepada masyarakat luas, termasuk para alumni perguruan tinggi umum, para pemimpin negara dan tokoh pemimpin gerakan sosial keagamaan. Tapi dengan majunya IPTEK semua informasi mengenai Islam justru membuat masyarakat kesulitan karena tidak terstruktur secara sisematis.
Maka diperlukan konsep baru yang dapat mencerahkan, yang dapat mengolah kembali silabi, dan pendekatan mengenai Pendidikan Agama Islam supaya peserta didik, masyarakat luas tetap mampu berpikir jernih, santun, etis, penuh pertimbangan yang rasional-logis, dan dapat mendorong untuk berpikiran “Act locally and think globally”. Tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Isi Materi
Empat fase studi agama dari teolog Keith Ward :
·         Local
Pada masa prasejarah Agama termasuk dikategorikan memiliki sifat lokal karena masih melakukan tradisi, kultur, adat istiadat, norma, yang ada disekitar tempat batas geografinya. Dan kelokalan ini tidak dapat dihindari karena salah satu factor yang mendasarinya adalah bahasanya.

·         Canonical/ Propositional
Era agama-agama besar dunia. Kehadiran agama Ibrahimi dan juga agama di Timur umumnya menggunakan kitab suci. Pada saat itu, tradisi yang awalnya hanya menggunakan Lisan kemudian mulai mengenal budaya baca tulis menggunakan huruf, tulisan (alphabet, huruf, kata, anak kalinatm dll). Sejarah manusia memasuki babak baru ketika norma, aturan, kesepakatan lokal ditulis dan dibukukan disebut Canonical. Yang mana masing-masing agama memiliki aturan, norma, dan kesepakatan berdasarkan kitab suci yang menjadi panduan hidup moral, hukum, dan sosial. Era ini muncul juga empat model pemahaman tentang realitas spiritualitas :
ü  Idealis
ü  Dualis
ü  Teis
ü  Monois
Agama-agama Canonical keseluruhannya memberikan pandangan tentang realitas yang sangat tinggi dalam penafsiran yang berbeda. Panduan keagamaan inilah yang berdasarkan kitab suci sangat berkembang di abad pertengahan dan mempunyai andil dalam pemebentukan keberagaman.
·         Critical
Kesadaran beragama di Eropa pada abad ke 16 dan 17 terjadi perubahan yang radikal, agama-agama tradisional pun mengalami tantangan berat yang mana memaksa para pengikutnya untuk memikirkan kembali secara menyeluruh asumsi dasar menjadi habits of mind dan belief. Kalau umat beragama menerima dua prinsip Enlightement bisa jadi menyebabkan kepercayaan agama dalam bentuk tradisional-konvensional selama ini, tidak akan bisa dipertahankan lagi. 
·         Global
Di era ini perkembangan teknologi informasi, didukung dengan kemajuan transportasi udara, laut, dan darat dapat mempercepat terwujudnya borderless society. Selain itu glokalisasi (tradisi lokal dibawa ke arena global).Tradisi lokal dibawa ke arena global. Muslim diaspora, immigrant muslim di Eropa, gerakan transnasionalisme menempati salah satu bagian dari kompleksitas kehidupan agama di era global ini


Perkembangan Pemikiran Kalamiyyah dari Waktu ke Waktu
Hasan Hanafi menggambarkan ada lima fase perjalanan yang dialektis dari karya-karya ilmu Ushuluddin :
1.      Kemunculan objek dan aliran
2.      Dari pokok-pokok agama (ushuluddin) menuju konstruksi ilmu pengetahuan
3.      Dari konstruksi ilmu pengetahuan menuju keyakinan-keyakinan keimanan
4.      Dari keyakinan-keyakinan keimanan menuju ideologi revolusi

Kelebihan Artikel
1.      Artikel yang digunakan oleh penulis sangat informatif dan menarik karena menyampaikan informasi secara jelas, Terpola dan cukup padat sehingga tidak membuat pembaca kebingungan karena tulisan arikel yang panjang.
2.      Ada penjelasan mengenai istilah asing atau kata Asing, sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan dan kebingungan untuk memahami artikel yang ada.
3.      Penyampaian materi disertai dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Penggunaan garis miring, huruf tebal, dan huruf besar yang tepat, guna menggambarkan dan memperjelas isi dari Artikel yang dijelaskan.
5.      Terdapat Footnote untuk membantu para pembaca jika ingin lebih mendalami Artikel yang dibaca.

Kekurangan Artikel
1.      Terdapat banyak sekali kata asing bagi orang awam, sehingga sulit untuk memahami makna kata-kata yang dipaparkan
2.      Dalam memahami artikel tersebut pembaca haruslah membaca berulang kali untuk dapat menafsirkan isi dari artikel itu sendiri.
3.      Penulis tidak memberikan kesimpulan untuk menyimpulkan informasi yang telah dibahas.

Kesimpulan
Kesimpulannya yakni, bahwa kita haruslah dapat mempertahankan Sifat Local (tradisi, adat istiadat, norma, serta aturan yang ada) dalam keagamaan dengan menggunakan cara berpikir global. Tidak mementingkan kepentingan golongan maupun mendiskriminasi Sebagian kelompok tertentu. Penulis juga memaparkan tentang adanya empat fase studi agama yang menjelaskan perkembangan mulai dari Sifat Local, kemudian berkembang dari yang semula hanya menggunakan Lisan menjadi budaya baca tulis yang kemudian pada akhirnya berkembang menuju era global. Tapi di era gobal seperti sekarang tidaklah membuatnya budaya lokal hilang justru membuatnya dapat masuk ke arena global. Kehidupan beragama tidak boleh kebal dari kritik, supaya kehidupan beragama yang majemuk antar kelompok tidak mengalami crash yang akan menimbulkan kekacauan. Saling menghargai dan bertoleransi dalam hal yang dibolehkan. Membangun kembali sisi intelektual Islam dengan memperhatikan Tradisi, pemikiran, dan Studi Islam.

Sistem Informasi Manajemen




         Menurut Budi Sutedjo (2002) ”Sistem” adalah kumpulan elemen yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk satu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan.

         Informasi merupakan hasil pemprosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupa pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan dalam pemahaman fakta-fakta yang ada. (Budi Sutejo, 2002)

         Data adalah sekumpulan fakta, bilangan, angka dan simbol yang dibentuk dan diolah menjadi informasi (Scott)

         “Informasi” adalah hasil dari “data processing”, Sedangkan… “Data”, adalah fakta-fakta yang ada namun belum diproses.

Jadi inti dari kita belajar Sistem Informasi Manajemen adalah bagaimana peran kita sebagai seorang manajer, sebisa mungkin untuk mengolah Informasi berbasis Sistem.

         Inti dari Bisnis adalah bagaimana kita bisa menjual produk baik itu barang maupun jasa yang dihasilkan kepada konsumen untuk mendapatkan laba. Laba sebagai tujuan utama yang menjadi titik akhir bagi para pelaku bisnis. Segala upaya akan dilakukan baik itu lewat penawaran, peningkatan kualitas, maupun efektivitas manajerial guna memaksimalkan prodaknya, setidaknya bisa diterima oleh masyarakat.

         Segala bentuk usaha yang dilakukan oleh pelaku bisnis untuk memasarkan produknya ke masyarakat membutuhkan sebuah alat, salah satunya informasi. Dengan adanya informasi dalam proses pembuatan produk, akan membantu efektifitas bisnis. Karena informasi yang di dapat akan membantu proses pengambilan kebijakan keputusan, yang tentunya setelah di kalkulasi oleh para manajer akan menciptakan porsi yang pas untuk bertindak.



Sejarah Sistem Informasi

         Dalam buku yang beredar, perkembangan informasi yang masif sekarang ini bermula dari revolusi industry pada tahun 1800 an. Mereka menggunakan teknologi untuk membuat produk dari versi 1.0 sampai yang terbaru pada saat ini 4.0. lihat aja perkembangan teknologi yang dulunya berupa mesin uap berbadan besar kini bergeser menjadi mesin-mesin canggih bertubuh ramping serta berkemampuan berkali-kali lipat dari teknologi zaman dahulu.

         Diceritakan bahwa dahulu untuk mengambil keputusan, perlu waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mengolah data yang itu nanti berguna untuk mempengaruhi keputusan manajer. Namun sekarang semua itu secara otomatis dilakukan oleh computer sehingga manusia sekali lagi dimudahkan dengan terciptanya teknologi yang semakin canggih mengelola informasi. Keakuratan serta singkatnya proses pengolahannya membuat kini para manajer dituntut untuk bisa memberdayakan, bijak, dan selektif dalam menerima data untuk mengambil sebuah keputusan. Karena hal itu akan sangat mempengaruhi proses keberlangsungan perusahaan kedepannya.

         Ada berbagai fase dalam penggunaan fungsi bisnis yang kiranya dapat kita lihat. Bermula dari tahun 2000 an muncul search angine seperti google dan yahoo. Kemudian di lanjutkan munculnya sistem belanja online atau e-commerce yang diawali dengan munculnya amazon dan e-bay. Kemudian lahirlah medsos bagian dari interactial yang kebanyakan kita kenal yakni facebook, Instagram, twitter dll. Yang akhirnya informasi bisnis mulai berkembang yang mengakibatkan pola pikir dalam berbisnispun ikut berubah. Yang awalnya profit sharing, berubah menjadi collaborative sharing. Yang awalnya hanya para pemilik modal besar saja yang bisa untung besar, kini para pelaku bisnis kreatif meski dengan modal kecilpun bisa mendapat hasil maksimal dengan membuat sistem kreatif yang menerapkan sistem kolaboratif sharing. Kita ambil contoh grab, tokopedia, bukalapak, gojek, rnb, dll.

         Kini dunia telah berubah sepenuhnya dan selama ini bukan hanya inovasi saja yang bekerja, tapi disitu juga ada disruption yang menganggu mekanisme dari sistem lama, karena ada upgrading dari sistem lama ke baru. Hal ini perlu adanya tanggapan serius apalagi para pemain lama untuk merubah pola pikir mereka yang selalu defensive untuk lebih terbuka dalam menyikapi perubahan teknologi yang terjadi pada saat ini. Karena seperti kata sebuah manajer pemasaran besar “beradaptasi atau mati”

         Inti dari MIS (Management Information System) adalah mengola informasi berbasis sistem. Para manajer pada zaman sekarang wajib untuk mengetahui bagaimana sebuah informasi didapat, bagaimana cara mengelola dan memilah informasi yang banyak itu secara efektif, serta memadukan informasi yang telah di dapat dengan pengambilan keputusan yang tepat dan cepat. Karena kecepatan sangat dituntut dalam zaman ini, lelet sedikit bisa jadi pesaing kita sudah mendahului.

         Sistem collaborative sharing memang sudah sangat menjamur belakangan ini. Kita bisa melihat start up – start up kecil yang sudah mulai eksis menapaki lini bisnis baru di berbagai prodak. Ini adalah hasil dari pemikiran kreatif orang-orang dalam memanfaatkan teknologi yang pada saat ini sudah mengarah ke internet of thinks (IOT). Karena memang untuk saat ini pemanfaatan internet sangat menyeluruh bukan hanya pada ranah bisnis dan menawarkan barang. Namun sudah memasuki seluruh aspek kehidupan. Mengalirnya informasi tanpa batas sampai untuk membayar, transfer uang bisa dilakukan hanya dalam satu kali klik. Istilah kerennya dunia sudah berada di dalam genggaman (smartphone)

         Dalam segala hal positif yang diberikan oleh internet, tentu juga terdapat dampak negative yang harus kita hindari. Memilah dan menjaring informasi yang bijak dari internet harus dilakukan untuk menghindari beberapa konten negative yang benar-benar sangat merugikan. Kita ambil contoh deep web, konten video dewasa, kekerasan, bahkan terkadang challenge yang tidak cetho pun menyuarak dan terkesan viral, padahal hal itu sering memiliki resiko bahaya yang tinggi. Untuk itulah selektif dalam bertindak dan berselancar di internet. Ambil apa yang bermanfaat serta hindari sejauh-jauhnya dampak negative yang dihasilkan. See you next leter…


Referensi :

Disruption, Maret 2017, Rhenald Kasali.
The Great Shifting, Juli 2018, Rhenal Kasali.
Sistem Informasi Manajemen : Buku Referensi, Lembaga Komunitas Informasi Teknologi Aceh (KITA), 2018, Munawir Munawir.


Kumpulan Cerpen ; Day

https://wall.alphacoders.com

Sudah Pagi? kataku ketika terbangun dan merasakan terpaan udara pagi. Setelah sholat subuh, kurasa aku tak sengaja kembali mendengkur akibat rasa Lelah kemarin.  Rasa pegal menjalar mengekang tubuh yang sulit digerakkan di atas Kasur. Mataku memicik, dipaksa untuk membuka walau memang resikonya kepala pusing. Hari berlanjut tanpa ada kabar. Istirahatku pada malam itu begitu lelap sampai tak mungkin aku bakal terbangun walau di gebyur oleh satu ember air sekalipun.

 “mantaplah” kataku lirih, pertarungan sengit memanfaatkan waktu berjalan mulus. walau meski tertatih-tatih sampai merasakan demam sesekali. Setidaknya semua itu terbayar karena dulunya aku masih menghamburkan waktu berhari-hari dengan main game dan kesia-siaan. Kini hariku sudah mulai terisi dengan agenda padat yang menjemukan badan. Setidaknya dua minggu ini.

“halo?” seseorang menelponku.
“Qon, longgar?” kata seseorang dari balik telepon, aku menggunakan speaker supaya bisa mendengarnya walau posisi hpku jauh dari telinga.
“yah, untuk saat ini, ada apa?”
“aku tadi pagi pulang ke rumah, belum beli’in makanan buat si mpus karena tokonya masih tutup. nah kan kos kayaknya Cuma ada kamu aja kan, tolong nanti belikan makanan kucing ya, uangnya bakal di ganti, santai”

Aku berpikir sejenak, baru sadar jika sekarang adalah hari libur. Kebanyakan temanku se-kosan sudah pada balik ketika hari libur tiba. Rencananya aku juga ingin mengisi waktu libur ini dengan istirahat melepas Lelah. Tapi rasanya bakal mustahil, cucianku masih menggunung hingga seekor kocheng pun bisa mengadakan muncak bareng di tumpukan pakaianku yang kotor. Kamar amburadul dengan bau luar binasa yang seokor lalerpun yang notabenenya suka tempat kotor harus berpikir Panjang ketika ingin masuk ke dalam kamar. Sepatu basah yang mengeluarkan bau apek akibat sering dipake, diterpa hujan, dan kejatuhan kuah telor asin tempo hari lalu di kantin. Hari ini setidaknya aku harus mengatasi semua itu yang mungkin bakal menguras waktu libur. Dan sekarang, tambah beli’in makanan buat kocheng?

“oi gimana Qon? Mau kan” tanyanya untuk memastikan lagi. Tapi pada dasarnya dia ingin memaksaku untuk setuju.
“yow” kataku dengan suara serak, berusaha untuk ikhlas.
“ok, thanks bro. Assalamualaikum”
“waalaikumussalam” telpon di matikan.

            Setidaknya tenagaku sudah pulih, kulihat jam smartphone menunjuk angka 08.00 lebih satu detik. Aku ketiduran tiga jam setelah melaksanakan sholat subuh di masjid. Padahal  tak ada sama sekali niat untuk tidur lagi setelah sholat. Namun karena memang sudah menjadi kebiasaan, akhirnya aku ketiduran dengan sendirinya. Hal ini juga salah satu faktor bagaimana kedepannya aku tidak tidur lagi selepas subuh untuk memnafaatkan waktu di pagi hari dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

          “UOOOOOOOOOOO!!!” teriakku sambil melejitkan tubuh keluar dari digdaya kasur. HARUS SEMANGAT, JANGAN MENYERAH, PANTANG KENDUR, PANTANG TURATURU TOK, DAN LEKAS AKU MENJALANI HARI INI SECARA MAKSIMAL KEMBALI!!!

            Eongan kucing begitu lembut mengiang di telinga, kubuka kendang kucing itu dan lekas mereka menjerit sambil menaiki pahaku untuk sekedar leyeh-leyeh disana. Aku tahu mereka sudah ingin makan dan minum susu khusus kocheng, dan persediaan itu sudah habis satu hari yang lalu.

“Sabar ya mpus, bentar lagi aku beliin pellet sama susu cap kocheng, eh makanan kocheng yang padet itu juga Namanya pellet kan?” tanyaku pada diri sendiri, tapi ah sudahlah, mungkin ketimbang aku bilang beli pellet kocheng ke penjual lebih baik aku langsung mengatakan pakan kocheng. Mereka masih kecil, imut, dan kunyu. Aku mengelus dan mmbelai mereka untuk memberikan kehangatan, kenyamanan, dan kesempurnaan, cintaaa, sambil menunggu motorku yang masih dipanasi di luar.

Mungkin setelah itu aku juga harus mengganti pasir untuk si mpus, berhubungan pasir itu sekarang sudah sangat penuh dengan TA1. Beberapa hari ini juga para kucing ini sudah ogah-ogahan untuk sekedar mengeluarkan ampasnya di pasir tersebut, akibat banyaknya ampas dan bau ampas yang sebenarnya dihasilkan oleh kocheng itu sendiri. Alhasil beberapa kamar penghuni kos menjadi korban ajang kebiadapan TA1 kocheng yang menambah bau kamar mereka yang sudah bau dari awal.

         Aku melaju dengan motor berkecepatan kurang dari 60 km/second. Melewati jalan beraspal mulus hasil cor seminggu yang lalu karena sebentar lagi menjelang pemilu. Untuk mengefektifkan waktu, sebelum berangkat aku sudah mengekom pakaian ke dalam air kemudian memberinya detergen sambil di injek-injek pakai kaki. Sudah beberapa bulan ini aku menerapkan sistem foot pressure multifungsional ketika sedang mencuci baju. Itu sangat efektif karena tekanan yang dihasilkan begitu kuat dengan kinerja yang maksimal, mengangkat kotoran yang membandel serta membuat tanganku tak perlu capek-capek mengulek-ulek pakaian itu kembali. Sebenarnya aku ingin mendownload, eh upload cara mencuci dengan kaki ini ke youtube. Untung-untung nanti bakal viral dan aku bakal dapet duit dari sana seperti Batta halilintar.

            Makanan kocheng sudah terbeli, memang sedikit menguras uang, tapi toh nanti bakal di ganti oleh urunan satu kos. Kita sudah bersepakat untuk merawat, menyantuni dan menafkahi kocheng kos bersama. Aku menyiapkan makanan dan minuman si Mpus. Mereka makan begitu lahap, ini bukti bahwa mereka masih sehat dan aktif. Kusiapkan pasir yang telah aku ambil dari luar, meminta sedikit pasir pada salah satu kuli bangunan yang tengah membangun rumah di dekat kosku berada. Kemudian menuju ke lantai dua untuk kembali mengurus cucianku.

            Dua jam berlalu, kamar ku yang seperti kandang kocheng dan berbau telek kocheng sudah bersih mengkilap seperti baru. Sarang-sarang semut maupun laba-laba yang bertengger di eternit atas sudah aku bersihkan dengan segenap kelelahan. Untung saja aku membeli hemaviton c 100 pas keluar tadi, sehingga menyebabkan tubuh ini terasa biasa aja. Karena memang rasanya tidak ada perubahan yang signifikan dalam tubuh selain efek kembung akibat kebanyakan minum.

            Untuk saat ini setidaknya aku sudah memanfaatkan waktuku untuk hal-hal yang bermanfaat. Teringat dikala dulu diriku yang masih bersikap masa bodoh dengan masalah waktu dan merasa memiliki cukup banyak waktu untuk hidup, untuk bermain, dan bersenda gurau. Ketika melihat kos kotor dan sampah menumpuk bagai TPA, selama itu aku hanya acuh dan menghiraukan kekotoran itu berlarut sampai melahirkan sindat-sindat kecil nan imut. Tak selamanya aku ingin merasa begitu. Kesadaranku untuk memanfaatkan waktu dengan baik kuharap akan terus terjaga hingga ajal menjemput.

            Tekanan yang begitu besar membuat tubuhku serasa panas di awal waktu, mengharap untuk tak kendur membuat diri kalut untuk mundur. Sudah kesekian kali selalu saja diri ini kendur ketika melewati waktu seminggu atau sebulan. Sekali lagi jangan, rasa malas memang selalu menghantui dengan menawarkan kenikmatan dunia khayalan yang melibatkan status quo yang melenakan. Namun efek yang dihasilkan sangat luar biasa menimbulkan keteteran waktu yang berakibat fatal dalam kehidupan.

            Sebelum dzuhur berkumandang aku telah menyelesaikan misi kebersihan untuk diri sendiri. Sepatuku yang berbau kaki cap kuah telor asin kini sudah selesai dibilas bersih dan terpajang di pagar teras atas kosan. Menunggu kering oleh sang surya yang masih menyala menerangi lingkungan. Kuharap hari ini tidak hujan, karena menurut prediksi dari BMKG hari ini akan cerah sampai larut malam, semoga.

Berikutnya adalah bersih diri. Aku lupa jika shompoku habis karena tadi pagi aku lupa ketika mencuci baju malah menaruh shampoo di atas cucianku, kurang ajar memang namun karena sudah terlanjur yasudahlah. Tak mungkin sebagai gantinya aku membasuh rambut dengan detergen. Akhirnya aku membeli shampoo sachet yang di jual di toko kelontong dekat kosanku.

“Hei Tall” seseorang kembali menelpon selepas aku mandi. Kunyalakan kembali speaker smartphone, menaruhnya di atas meja, lalu kembali aku melanjutkan memakai celana dan baju yang sempat tertunda.
“ada apa Jo?”
“jangan lupa, besok kita presentasi Pemasaran. Kamu bagian materi bla… bla… bla…”
“okey”
“ok, BTW besok pastikan jangan telat berangkat yak, Tall”
“sans… aku sudah berubah”
"shap, kutunggu materi pptnya juga malam nanti, ntar share grub"
"berezz"

Telfon dimatikan. Selagi di kuliah aku memang familiar di panggil Tall, sedangkan kalau di kosan aku biasa di panggil Qon. Benar sekali, namaku adalah Tallqon. Siapapun yang membalik nama itu akan merasakan kepretan dariku.

            Tak terasa hari sudah menjelang magrib. Waktu berlalu untuk istirahat di siang hari dan membaca buku di sore hari. Mungkin untuk nanti malam aku bakal menyambinya dengan bermain game sekitar satu jam untuk merefleksikan diri. Selekas itu belajar untuk kegiatan mata kuliah esok hari. Aku harap saat bermain game bisa win streak karena jika lose streak biasanya aku kebablasan main sampai jam dua belas malam.

            Inilah hari yang selalu dinamakan hari, hidup di tiap hari untuk merasakan berbagai perasaan lain dari hari ke hari, hari memberikan pengalaman di tiap jam yang hadir dalam kehidupan, memberikan pelajaran bahwa hari akan terasa sia-sia jika untuk dilewatkan, hari memberikan sebuah kenyataan manis dan pahit dalam menapaki alur kehidupan, hari menamakan dan menaggalkan diri sehingga kita bisa mewanti-wanti dan mengatur setiap kegiatan. Rasakanlah keindahan hari. Kuharap diriku, kalian, bisa mengenal hari lebih baik, untuk merasakan manfaat dari hari yang selalu kita lalui dengannya.




8 March 2019

M         H         A

Sabtu, 09 Februari 2019

Bad Strategy






“Strategi yang buruk bukan hanya ketiadaan strategi yang baik. Strategi buruk tumbuh dari kesalahpahaman yang spesifik dan kepemimpinan yang tidak berfungsi” (good strategy bad strategy – Richard P. Rumelt)

Richard menjelaskan bahwa sebuah strategi buruk bukan karena tidak memiliki strategi ataupun gagal meraih tujuan. Sebaliknya, strategi buruk merupakan suatu cara memikirkan yang dapat dikenali secara langsung oleh banyak orang. strategi buruk hanya berisi sasaran tujuan yang ingin dicapai tanpa menimbang permasalahan, konsep yang jelas, dengan kata-kata ambigu dan omong kosong.

Setidaknya terdapat empat tanda utama ciri-ciri strategi buruk menurut Richard P Rumelt :

·         Omong kosong : ada omong kosong yang menyamar sebagai konsep strategis. Digunakan oleh kebanyakan eksekutif dengan menggunakan kata-kata tingkat tinggi dan konsep-konsep rumit yang sulit di mengerti

·         Kegagalan untuk menghadapi tantangan : strategi buruk gagal untuk mengenali atau menentukan apa tantangannya. Ketika sebuah strategi tidak mengenali tantangan yang sedang dihadapinya, akan mustahil untuk mengevaluasi strategi yang telah di buat sebelumnya

·         Salah mengartikan tujuan sebagai strategi : dalam sebuah konteks strategi hanya berisi keinginan dan tujuan yang ingin di capai ketimbang rencana untuk mengatasi rintangan yang mungkin akan dihadapi

·         Sasaran strategis yang buruk : Suatu sasaran strategis ditetapkan oleh seorang pemimpin sebagai sarana mencapai tujuan akhir. Sasaran strategis dikatakan “buruk”ketika gagal mengatasi masalah-masalah  kritis, atau strategi tersebut bersifat tidak praktis

n             Pada dasarnya strategi yang buruk meski menggunakan kata-kata pemanis maupun tingkat tinggi pada dasarnya bersifat dangkal, hampa, tidak memiliki konsep yang jelas, serta menjengkelkan bagi yang benar-benar paham akan maksud utama dari strategi tersebut. hal tersebut jelas tidak mendefinisikan sebuah rumusan inti maupun menyebutkan masalah yang akan dihadapi dengan jelas. sehingga menimbulkan perasaan jengkel dan bosan dengan apa yang telah dinyatakan dalam sebuah strategi sarat makna tersebut. mungkin dengan beberapa pelatihan anda bisa dengan mudah membedakan mana yang di sebut dengan strategi baik dan mana yang di sebut dengan strategi buruk.

Jumat, 01 Februari 2019

Peranan Dakwah Kampus

wall.alphacoders.com



            Dakwah berarti menyeru, mengajak, dan memanggil manusia untuk beriman dan taat kepada Allah. Dakwah digunakan untuk menyeru kepada manusia untuk mengerjakan yang baik dan Menjauhi yang bathil. Dalam Ayat Al-Qur’an disebutkan.

“Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (Q. S. A-Nahl : 125)

Banyak orang mengira bahwa dakwah baru bisa dilakukan setelah mereka berada dalam suatu tempat atau naungan (organisasi), ataupun setelah mereka mendapat ilmu dan kapasitas yang cukup (‘Alim) tentang agama. Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi sebenarnya, meskipun tidak berada di dalam dua ranah tersebut, kita masih bisa berdakwah asalkan konteksnya mengarah kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Seperti halnya yang pernah dikatakan baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“…Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari Muslim)

Menjelaskan bahwasanya meski hanya satu ayat saja yang kita tahu dan pahami – Saat kita melihat seorang yang belum tahu atau seorang yang menyimpang dari kebenaran – kita sudah berhak mengajarkan itu kepada orang lain.

Meski seorang diri sudah bisa berdakwah. Namun jika di bandingkan dengan mereka yang berdakwah dalam kesatuan jama’ah, akan berbeda jauh dalam hal kapasitas, kualitas, dan jangkuan. Berjuang sendiri ibarat satu buah lidi yang mudah patah, dimana seorang itu hanya akan terpatahkan oleh mereka yang membenci dakwah. Berbeda lagi semisal lidi itu banyak dan membentuk suatu ikatan, sehingga sulit untuk dipatahkan. Tidak ada yang bisa menjamin keistiqomah dalam berjuang di jalan dakwah ketika sendirian. Apalagi sekaliber kampus yang heterogen. Kampus diibaratkan sebuah negara kecil, sebuah miniature negara yang nantinya kita akan berproses, belajar, dan berkarya untuk menjadi bekal kita saat terjun bermasyarakat. Akan ada banyak godaan yang didapat dan mematikan jalan dakwah yang dibangun seorang diri dengan susah payah, bahkan bisa jadi kita akan terjerumus mengikuti arus negatif. Untuk itulah saya menekankan pentingnya aspek berjama’ah dalam relung dakwah kontemporer dengan salah satu caranya ialah mengikuti Lembaga dakwah yang ada di kampus. Mengapa demikian? Karena LDK (Lembaga dakwah Kampus) menjadi Garda terdepan dalam Syiar di kampus (Prolog risalah dakwah kampus. ntd). Mereka sudah memiliki Metode-metode teratur yang terus dibenahi secara terus menerus.

wall.alphacoders.com


            Ketika memasuki sebuah organisasi keislaman kampus. Organisasi yang menjalankan amanat dakwah, tentunya disana sudah terdapat aturan, mekanisme, pedoman-pedoman yang harus ditegakkan para pengurus untuk menunjang keberlangsungan dan keteraturan dalam berdakwah. LDK bukan hanya membuat kita menjadi rileks dalam berdakwah namun juga berfungsi sebagai tameng, proteksi yang menjaga serangan dan gangguan dari luar.

            Peranan dakwah kampus yang harus di tekankan sekarang ini ialah harus bisa memposisikan diri dengan lingkungan serta orang yang di dakwahinya. Ibarat bermain bola dia jangan sampai buta posisi entah GK,CB,CMF,CF, dll… Bisa jadi dia ditugaskan jadi kiper ndelalah waktu main menjadi gelandang sayap, hal itu akan menjadi kesalahan fatal yang mengakibatkan kebobolan. Jika dia seorang awam dan belum begitu mengenal islam, maka hendaknya kita perkenalkan dulu secara baik-baik sesuai dengan kapasitas yang dia miliki saat itu. Begitupun juga ketika kita berdakwah kepada seorang yang sudah memiliki ilmu agama yang baik, saat melakukan kesalahan kita boleh menggertaknya keras karena dia melakukan hal tersebut padahal dia tahu hukumnya.

Kejadian ini pernah terjadi di zaman Rasul ketika seorang badui kencing di masjid. Rasul tidak marah, bahkan berusaha meredakan amarah para sahabat yang ingin menghakiminya. Rasul dengan rileks menyuruh menyiram kencingnya dengan Air dan memberi tahu Badui itu baik-baik karena memang pada dasarnya dia tidak tahu. Maka dari itulah yang membuat hati badui itu terpikat dan tsiqoh kepada islam. Namun lain halnya ketika yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mengerti tentang agama, tentu cara mengingatkan juga berbeda. Maka dari itu, seorang pendakwah hendaknya harus tahu betul siapa yang mereka dakwahi dan lingkungan yang mereka tempati, untuk bisa memposisikan diri dalam ragam mahasiswa yang ada di kampus. Bahkan kita pun juga harus tahu bagaimana cara memperlakukan non muslim dengan baik dan benar.

Anggaplah kita berhasil menyadarkan teman-teman kita dan berhasil menariknya ke dalam LDK. Setelah berhasil merangkul mereka untuk tsiqoh terhadap dakwah. Tugas selanjutnya dari organisasi adalah membina dari dalam. Tujuannya adalah didapatkannya kemampuan yang baik dari segi kepahaman dan kapasitas dari seorang pendakwah, bukan hanya di lingkungan organisasi LDK namun juga di lingkungan tempat dia berkumpul. Supaya dia bisa membaur dan mengajak kepada kebaikan, bukan malah melebur dan terbias dengan segala herarki yang ada di sekitarnya.

wall.alphacoders.com


faktor yang tak kalah penting lainnya bagi para pengemban dakah kampus adalah belajar. Tujuan utama kita berkuliah adalah untuk menuntut menggapai ilmu. Jangan sampai alasan sibuk beraktivitas di organisasi membuat kita lalai dalam belajar dan menggapai Ilmu. Membagi waktu sangat penting agar para pendakwah bisa berlatih memanajemen waktunya dengan baik (apalagi mereka yang mengambil jurusan manajemen).

Selanjutnya adalah membuat jaringan. Mengingat sebuah LDK tak akan sempurna jika berdiri sendiri, untuk menyesuaikan sinergi dan tujuan Bersama, alangkah baiknya menjalin hubungan kental dengan LDK atau LDF yang ada di universitas sendiri maupun di universitas lain. Diharapkan dengan adanya ikatan – seperti acara silaturahmi Bersama – akan menguatkan tali silaturahmi. Menciptakan nuansa sharing dan tukar pikiran untuk membuat LDK lebih aktif, produktf, inovatif, dan efisien.

LDK juga harus mencari relasi dari berbagai elemen, institute, maupun organisasi yang berada di sekitarnya. Menjalin kekerabatan serta komunikasi aktif sehingga organisasi kita tidak di pandang sangat eksekutif. Jika sebuah organisasi menutup diri dari lingkungan luar akan sangat sulit dan menjadi penghambat dalam jalannya dakwah kampus itu sendiri. Dalam buku RMDK (Risalah Manajemen Dakwah Kampus) sendiri juga telah diingatkan bahwasanya…
Membangun jaringan ibarat membuat sebuah simbiosis antara kita (LDK) dengan elemen lain… … pengelolaan jaringan harus dilakukan secara benar agar timbul suatu kerjasama yang saling menguntungkan dan agar kita tak lantas dirugikan atau dimanfaatkan pihak lain. (dalam BAB IX Jaringan Lembaga Dakwah Kampus.ntd)

Tentu masih banyak hal lain seperti pengaturan dana, surat-surat organisasi, mekanisme kaderisasi dan pembinaan yang semua itu bisa anda temui di buku Risalah Manajemen Dakwah Kampus Edisi terbaru. Anda bisa mengunduhnya atau mencarinya Via internet. Saya hanya memaparkan pokok-pokok permasalahan klise yang sering ditemui dan dilalaikan dalam diri pendakwah saat mengemban amanah Dakwah di kampus.

Sekian Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…



Oleh : Muhammad Habib Amrullah
Monday, January 28, 2019