softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Jumat, 13 Maret 2020

Kumpulan Cerpen; Apatheia

https://wall.alphacoders.com/



            Ketika membual tentang masa depan, Kita berkhayal membuat sebuah mahakarya besar perubah peradaban. Berharap meraih gambaran sempurna dalam menjalani tiap liku kehidupan. Berperan menjadi seorang protagonist, dalam serial film bioskop kesayangan.

“bukankah dulu kamu ingin menjadi seorang pemain bola?” – Haikal.
Rei tersenyum simpul “em, aku ingat. Saking kebeletnya ingin menjadi pemain pro, pada hari itu juga aku sampai menangis untuk segera dibelikan sepatu bola”
“tapi lucunya itu hanya bertahan beberapa minggu saja ya, hingga kamu keluar dari SSB”
Rei mengangguk. “yah, hanya sesaat, lalu dorongan itu perlahan lenyap. Bagai sariawan yang diobati lasegar”
“setelah itu kamu sempat berganti cita-cita. Mulai dari hal konyol seperti ingin menjadi badut, hingga sesuatu yang hebat seperti seorang ilmuan, dan kamu mengatakan itu dengan sangat percaya diri dan penuh keyakinan”

Rei mengingatnya “hari-hari yang menyenangkan”
“aku selalu menantikannya, dorongan-dorongan yang pernah kamu ciptakan di masa lalu, membuatmu berani mengambil jalan berbahaya untuk menggapai suatu tujuan”
Rei duduk santai di samping Haikal. Berdua menikmati senja ditemani hembusan angin berbau tebu. Dia Mengarahkan pandangannya ke langit. Di bawah pohon rindang membujur hamparan dataran tanah luas yang ditanami ratusan tebu berbatang besar.
“Kamu benar Kal, dari dulu aku sering berganti pilihan untuk mengambil sebuah keputusan”
“mengapa?” Tanya Haikal. Melihat wajah sendu Rei yang ketika itu masih menatap kosong sang senja.

Rei berpikir sejenak. Mengingat segala hal yang membuatnya ragu selama ini. “jalan itu, atau manusia, atau kebosanan, atau bisa jadi…”
“bisa jadi…?”
“bisa jadi aku tidak menemukan diriku yang asli di jalan itu”
Hening sejenak, sekawanan burung berkelompok di atas membentuk formasi ‘V’ untuk terbang ke arah utara. Awan mulai berkumpul menutup langit. Senja perlahan mulai redup dihempas angin. Dua sekawan itu masih berada disitu, terdiam untuk menantikan sesuatu yang telah lama mereka cari.
“dirimu yang asli memang seperti apa?” tanya Haikal. Sebuah pertanyaan dadakan yang meluncur keluar dari tenggorokannya. “apakah kamu mengetahui tentang dirimu sendiri?”
“diriku sendiri? Diriku yang asli ya…” Rei berpikir sejenak, berusaha memahami bagian dirinya yang hilang.
“apa kamu sendiri juga tidak tahu?”
Rei mengangguk.
Haikal tersenyum.

“memang tidak mudah untuk mengenali diri sendiri. Itu hal dasar yang harus kamu kenali sebelum mengenal orang lain”
“aku hanya mengingat diriku yang dulu lebih hebat, lebih berani, lebih perkasa…”
“tapi kamu dulunya juga yang paling cengeng, paling penakut, dan paling ceroboh…”
“seorang yang tidak ingin mendapat luka apapun, sekaligus seorang yang ingin menerjang ke depan tak peduli dengan berbagai luka yang ada”
“seorang yang tak peduli dan tetap maju sejauh apapun rasa sakit yang di dapatnya”

Rei dan Haikal tersenyum. Tatapan Rei yang kosong kini mulai terisi, matanya yang sayu perlahan kembali normal.
“namun orang seperti itu sudah tidak ada lagi. Rasanya seperti… menjadi orang lain” – Rei.
“rasanya seperti tidak menjadi diri sendiri, atau berubah menjadi diri yang lain?” – Haikal.
Rei menggeleng “diriku tetaplah diriku”
“kamu benar…”

***



            Waktu bergulir semakin menjelaskan keberadaan kehidupan. Entah itu mengarah kepada suatu hal suram atau kepada kebahagiaan. Usaha dan harapan yang kuat dalam meraih cita-cita. Serta pengorbanan tanpa kenal lelah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tak bisa di pungkiri hal itu bisa lenyap hanya dengan sebuah ketukan kecil dari dalam diri.

“perubahan itu apa selalu membawa kepada kebaikan?” – Rei.
“Perubahan kadang membawa pada kehancuran” – Haikal.
“bukankah lucu banyak orang disana ingin sekali untuk berubah…”
“mereka berharap dengan perubahan itu akan menjadi lebih baik”
“perubahan untuk menjadi lebih baik? Atau justru kebaikan yang mereka khayalkan sebenarnya mengarah ke kebaikan yang menjerumuskan?”
“aku tidak bisa menjawabnya” Haikal memalingkan mukanya kebawah. Menatap rerumputan yang tumbuh di sekitar tempat duduknya ”lagi pula, aku bukanlah orang yang berhak mengomentari perubahan seseorang”

Rei terdiam.

Dalam benak Rei masih memiliki tekad dan harapan untuk di capai di masa depan. Kemauan kuat untuk mendapatkan impian yang telah lama di idam-idamkan. Berharap agar terus bangkit sebanyak apapun dirinya terjatuh ke dalam jurang. Berharap masih mampu berdiri walau beribu kali tubuhnya ambruk tertusuk panah.

“hidup … apakah sesulit itu?” – Rei.
Haikal menggelengkan kepalanya. “yang ada merekalah yang mempersulit diri”
“menurutmu… Bagaimana sikapmu atas cara pandang orang lain?”
“mengapa kamu bertanya hal itu?”
“dari dulu aku tidak pernah terusik seburuk atau sebaik apapun seseorang memandangku”
“lalu?”
“sekarang aku mulai merasa terusik atas pandangan itu”
“apakah itu yang membuat beban di dalam dirimu”
Rei mengangguk, berpikir bahwa hal inilah yang membuatnya berubah.
“kalau dari pandanganku… kita hidup bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain”
“Maksudmu?”

Haikal tersenyum “Kita hidup sejatinya untuk diri kita sendiri, termasuk setiap langkah yang kita bangun. Jika hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain, jelas saja hidupmu serasa terkekang karena sibuk memenuhi keinginan mereka terhadapmu”
Rei Paham. Sambil tersenyum dirinya mulai memutuskan sesuatu “terimakasih”
Haikal tersenyum.
Rei ikut tersenyum.

            Segala yang diusahakan belum tentu akan berdampak pada perubahan. Yang dinilai bukanlah hasil sementara yang ada di lapangan. Namun hasil akhir ketika pertandingan itu telah selesai. Sejauh apapun, sekeras apapun seorang ingin berubah dan beralih itu tidak menjadi masalah. Toh mereka akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan usaha yang mereka lakukan ketika bermain. Ketika waktu itu masih berjalan.

“aku sekarang sadar, bukan hanya soal orang lain. bahkan bukan hanya soal diri sendiri”
“kehadiran orang lain memang penting, kehadiran diri juga sama penting, jadi mengapa kamu memilih untuk berganti yang lain?”
“tidak ada yang lebih penting dari pada hidup yang memiliki tujuan pasti”
“semua sudah ada jalannya. Tinggal kita mau berjalan menyusurinya atau tidak”

Rei tersenyum, Haikal ikut tersenyum. Sejauh ini mereka hanya bisa melihati diri mereka terus berubah digiring oleh waktu. Bercanda, berkumpul, bermain, bertemu, dan berpisah. Diantaranya mereka harus membuat keputusan untuk bersikap, di antaranya kadang harus memperoleh suatu hal agar tetap ada, terus bersemangat dalam menempuh hari, dan berharap waktu terakhir menjadi kemenangan manis.





Surakarta, 12 Maret 2020

M         H         A

Kamis, 06 Februari 2020

Kumpulan Cerpen ; Ataraxia




            Surejan hanya bisa pasrah menerima gempuran problem yang berkecamuk di dalam otaknya. Tak siap dengan masa depan dan kedewasaan yang sebentar lagi datang menghampar. Sinar harapan di matanya lenyap, begitu juga hati dan jiwa tak sanggup lagi menerima kenyataan hidup yang kian menusuk urat nadi di lehernya.

            Namun semua itu berubah ketika Surejan secara kebetulan melihat seekor kodok. Tadinya Surejan sangat takut dengan hewan berlendir menjijikkan itu. tapi entah kenapa sekarang hewan berlendir itu menjadi pusat perhatian Surejan. Katak itu berdiam dalam genangan air, sambil sesekali bernyanyi saling menyahut dengan kodok – kodok lain. Surejan tidak tahu menahu mengapa sangat menikmati para kodok itu bernyanyi riang di antara rintikan hujan. Serangga-seangga lain saling menyahut. Menyambut dan meramaikan hujan deras yang sebentar lagi mengguyur kota itu.

“Kodok itu…”  (batin Surejan)

Dia memperhatikan senyuman yang menerkah pada kodok itu. begitu juga dengan kodok-kodok lain yang nangkring di genangan lain. Hujan lebat dan badai petir tak membuat nyali kodok ciut, justru mereka semakin lantang bernyanyi.

Kang kung kang growk kung kang kung growk ~
kung kang kung growk kung kang kung growk ~

hingga tak sadar satu jam telah berlalu dan Surejan masih saja menatap kodok-kodok itu.

“Aku kira lu takut sama kodok Sure. Mau makan Swike?” tanya Nopejan yang sudah berada disampingnya sambil memainkan game keluaran terbaru.
“Kau bercanda! melihatnya saja sudah membuatku muntah” Kata Surejan dengan ekspresi jijik
“Lantas kenapa sekarang kamu ga muntah-muntah? Padahal dari tadi kamu liatin kodok itu” sambil menunjuk kodok hijau besar yang ada di depan kosan.
“Yang kulihat sekarang bukanlah kodok yang menjijikkan…”
“Nani?...”
“Kodok yang sekarang ada didepanku ini sangat special. Dia mengajarkanku bagaimana cara menjalani kehidupan ini dengan lebih terbuka dan sederhana”
“Heh, plis jangan halu. Aku tahu sekarang kerjaanmu makin banyak tapi jangan sampai hal itu membuatmu menjadi sinting!” Nopejan mulai ketakutan dan menghindar beberapa meter dari Surejan.
“Gua masih waras cuy. Kalau lu ga ada kerjaan, ayo bareng nonton orchestra kodok yang ada di depan kita” ajak Surejan
“Ogah ah! mending gue main WODN buat dapat CP gede. Bye. Nikmatin kesintingan lu” Nopejan berlalu menuju ke kamarnya.

Surejan tidak terusik dan tetap melanjutkan menatap kodok-kodok itu, dia mulai mendapatkan sebuah inspirasi dari seekor kodok yang bernyanyi di tengah guyuran hujan lebat.

“Aku ingin menjadi seekor kodok” (batin Surejan) “bernyanyi penuh riang bersama teman-teman yang lain. Badai diluar tak mengusiknya, bahkan kodok-kodok itu makin lantang bernyanyi. Padahal kodok-kodok itu tahu di luar sana petir bisa saja membuatnya menjadi Swike goreng”
“Lantas mengapa aku malah selalu merasa terbebani? Mengapa aku selalu berpikiran dangkal dan selalu protes dengan beban yang ada di sekeliling. Merasa takut dengan tanggung jawab yang akan didapatkan nanti, bahkan mencoba menghindari berbagai macam masalah dengan melarikan diri? Ya, aku harus menghadapi kehidupan. Seperti para kodok yang menikmati hidupnya di atas guyuran hujan”

Surejan membuka kamarnya lebar-lebar. Semua keluh kesah hilang saat itu juga. Semangat yang sudah luntur berbulan-bulan kini kembali bagai ditransfer oleh fiber optic berpaket 100/mbps.

“Akan kubuat hidup ini tidak ada penyesalan, jika ada sesuatu yang disesalkan, penyesalan itulah yang membuat kita kesal” (batin Surejan)

Tanpa banyak bacot, Surejan mulai menganalisis problem apa saja yang membuat tidak semangat, apa yang membuat tetap semangat, apa yang sekiranya mengganggu, apa yang membuat bisa berjuang, apa yang menghalangi untuk bisa tersenyum, apa yang membuat pikiran frustasi, apa yang bisa membuat tertawa, apa yang bisa membuat menangis, dan apa-apa lain yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari.

“dahulu aku terlalu banyak berpikir ruwet. Sampai lupa betapa sederhananya mendapatkan kebahagiaan itu. dahulu aku terlalu ambil pusing dengan beban hidup serta rutinitas yang membelenggu. Sampai aku lupa betapa sederhana hidup ini seperti yang pernah aku rasakan ketika kecil” kata Surejan penuh dengan senyuman, sesekali dia menirukan suara kodok yang menginspirasinya di dalam kamar.

Growk growk… Kang kung kang kung ~ Surejan menirukan suara kodok dengan irama yang mengenaskan.

Nopejan yang mendengar suara Surejan lekas cepat-cepat kabur dari kamar. Mencoba menelpon kating untuk membawa Surejan ke RSJ terdekat.
“Ada apa Nope? Gue lagi jalan-jalan sama kucing nih”
“Penting mas. Gara-gara tugas yang dikasih mas Reynhard kemarin, Surejan jadi makin sinting! Kalau ga cepet-cepet aku takut ntar ketularan” Kata Nopejan sambil menangis ketakutan.
***


Setelah menganalisis tiap ‘apa’ saja yang ada dalam kehidupannya, Surejan mulai menanyakan ‘mengapa’ dirinya hidup? Mengapa dirinya berjuang? Mengapa dirinya membenci? Mengapa dirinya mencintai? Mengapa hidupnya sumrawut? Mengapa hidupnya tidak tenang? Mengapa kaos kakinya bolong? Mengapa guntung kuku nya ilang? Dan berbagai problem lain yang selalu menjadi pertanyaan dikala gusar. Sebuah jangkar yang selalu menghalanginya bergerak maju. Masalah-masalah itu bagaikan jangkar yang menghentikan kapal sampai ke tujuan. Jika tidak dihilangkan, yang ada akan membebani kapal untuk sampai ke seberang.

Surejan mulai mengerti sedikit dari arti kehidupan. Mulai memahami arti dari kedewasaan. Mulai belajar dari kesalahan untuk menggapai tujuan. Surejan sadar tidak setiap saat terus mengeluh seperti anak-anak remaja. Mulai tersadarkan dan menghilangkan emosi negative dengan senyuman. Untuk kesekian kalinya, Surejan merasa yakin bisa menghadapi berbagai hal yang ada di depan dengan dada membusung.
***


            Suara serine ambulan terdengar di luar kosan. Surejan mengerti mungkin karena nyanyian kodoknya membuat Nopejan mengira dia telah sinting.

“tak apa Nope, aku tidak akan membencimu karena ini. Kamu bisa mencancel orderan mobil RSJ mu itu” kata Surejan.
“TIDAK!!! Aku gamau sebelahan kamar sama orang sinting kaya kamu!” kata Nope setengah sinting.
“yang ada, jika kamu terus stress begitu, kamulah yang bakal jadi sinting”
“DIAM, aku gamau denger itu dari orang sinting!” suara Nopejan semakin keras hingga terdengar tetangga sebelah.
Dua orang perawat keluar dari mobil ambulan.
“oke, sekarang siapa yang harus kami bawa menuju ke RSJ Setia Burhan?”
“DIA ORANGNYA DOK!” sahut Nopejan. Menunjuk dengan bringas ke arah Surejan.
“apakah benar?” kata sang dokter memastikan.
“jika benar, kalian harus tahu siapa yang harus dibawa ke RSJ” sahut Surejan dengan senyuman hangat. Emosinya jauh terkontrol karena sudah mempelajari arti-arti kehidupan dari sang kodok.
“CEPAT DOK BAWA DIA, KESINTINGANNYA SUDAH LEVEL AKUT! AKHH…” kata Nope sambil memeluk sang dokter berusaha menghindar dari tangan Surejan. Sebenarnya Surejan berniat untuk menenangkannya.

“tolong ya dok, rawat dia dengan baik” sahut Surejan.
“baik mas, saya akan bawa pasiennya ke RSJ sekarang” kedua dokter itu sekuat tenaga menggiring Nopejan ke dalam mobil ambulan berjeruji besi.
“WOI BANG*AT KENAPA GUA YANG MASUK RSJ, WOI, ASW, JANGKR*K” Nopejan tak hentinya misuh-misuh sambil memelototi Surejan.
Surejan tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. “semoga lekas sehat sobat” sahutnya penuh perhatian.
“TIDAAAK BUKAN AKU YANG SINTING. KALIAN SALAH ORANG, B*DEBAAAH!”
Mobil ambulan berlalu dengan suara jeritan dari Nopejan.

“seorang yang tidak mengerti arti dari kesederhanaan hidup akan berakhir dengan mengenaskan. Itulah petuah dari kodok sensei. Kalian tak akan bisa melawannya dengan pikiran kompleks”

Surejan menatap langit biru, banyak hal yang harus dilakukan untuk menikmati kehidupan. Merasakan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Mencoba memanfaatkan apa yang dia punya untuk mengerti apa yang menjadi kekurangan. Mencoba memahami diri dan tidak membenci diri adalah hal dasar untuk menikmati dunia. Menyederhanakan pola pikir dan tindakan merupakan hal lumrah untuk melihat kebahagiaan. Menghindari tekanan, amarah, rasa furstasi, sehingga bisa menangkap penuh kesempurnaan yang terpampang jelas dalam matanya…

Sang kodok terlihat tememplek di batang pohon. Surejan berterimakasih telah mengingatkan dirinya dari keterpurukan akan kedewasaan. Mengucapkan syukur kepada tuhan karena telah kembali diingatkan dengan perantara makhluknya. Kemudian kembali masuk ke dalam kosan dengan perasaan tanpa beban.




Surakarta, February 6, 2020

MHA

Rabu, 05 Februari 2020

Pemimpin itu Mengatur, Bukan di Atur




            Seorang pemimpin puncak diharapkan dapat menggerakkan tiap komponen yang ada di bawahnya guna mencapai tujuan organisasi. Pemimpin harus mampu memandang segala sesuatu dengan pandangan luas dan dari sudut pandang yang berbeda. Jika tidak, seorang pemimpin tidak ada bedanya dengan anggotanya. Seorang pemimpin harus memiliki horizon luas dan Cakrawala penglihatan yang mencakup hingga ke pelosok terkecil dari organisasi.

            Pemimpin dituntut untuk memiliki wawasan yang luas agar sudut pandang yang dihasilkan tidak bias. Meski begitu perlu adanya sikap menerima masukan sebagai penambahan wawasan. Sikap kritis seorang anggota merupakan Mutiara yang harus dibina dan di kembangkan, dibarengi dengan sikap tegas dan bijak dalam mengatur keputusan. Untuk itu perlu pemahaman serta wawasan yang cukup dalam agar logika berpikir tetap dalam koridor yang seimbang.

            Dalam praktik sehari-hari memang tidak mudah mempraktekkan teori yang sudah diketahui sebagai seorang pemimpin, perseteruan dan bertindak arif dikala banyak anggota yang tidak sepakat menjadi dilema tersendiri yang harus segera diselesaikan agar menemukan jalan keluar terbaik. Dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mencontohkannya ketika presiden amerika ke-38 Richard Nixon terkena kasus Watergte dan yang membuatnya harus menngundurkan diri. Kemudian Ford yang kala itu menjabat sebagai wakil presiden, naik menjadi presiden. Ford setelah dilantik kala itu mengambil keputusan berani dengan mengampuni tanpa syarat Nixon dengan kasus-kasus yang menjeratnya. Hal itu Ford lakukan agar Amerika tidak melulu mempermasalahkan problem tersebut serta berupaya agar amerika bisa terus memandang ke depan. Sontak banyak kritikan pedas orang yang tidak sepakat dan menentang keputusan Ford, hingga pada akhirnya dia tidak terpilih menjadi presiden di periode selanjutnya.

            Namun selang bertahun-tahun kemudian, banyak yang memuji keputusan Ford ini sebagai langkah yang tepat agar AS melangkah kedepan, tidak terkungkung oleh masa lalu. Bahkan seorang Ted Kennedy yang dulu menentang keras keputusannya menjadi luluh dan paham dengan keputusan bijak Ford.

            Pemimpin tidak boleh takut dengan putusan mayoritas yang ada, karena mayoritas belum tentu benar, perlu pandangan luas dan kebijaksanaan untuk menghasikan keputusan yang tepat, walau di akhir dilemanya akan di jauhi dan tidak dipercaya oleh beberapa anggota. Namun selaras dengan itu, banyak orang yang akan sadar ketika mereka melihat hasil yang diperoleh dari keputusan tersebut.



Pemimpin adalah Penggerak

            Seorang pemimpin harus tetap menjaga mesin yang ada di organisasinya tetap panas dan terus bergerak. Roda harus diputar demi terus menjalankan kelangsungan organisasi. Tugas utama pemimpin adalah menemukan harmony dan sinkroniasi Gerakan antara tiap bidang yang ada. Bukan malah mencampuradukkan dan saling menyalahkan. Integrasi antar bidang sangat penting agar proses keberlangsungan bisnis bisa berjalan saling beriringan. Disharmoni menyebabkan kekacauan dan berdampak pada permusuhan antar bidang. Jika irama tidak sinkron, tujuan organisasi sulit tercapai.

            Pemimpin secara psikologis harus mengetahui konflik problem yang mengemuka atau tersembunyi di dalam organisasinya. Saat itulah dia harus mengendalikan irama, kapan harus turun tangan, kapan harus menyelesaikan dan membiarkan untuk sejenak. Timing sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jangan sampai seorang pemimpin itu buta dan hanya fokus pada tujuan. Namun onderdil dalam organisasinya berantakan.


Selasa, 04 Februari 2020

Politicking



Adalah sebutan untuk politik kantor yang biasanya terjadi dalam organisasi profesional. Politicking digunakan untuk mendapatkan keuntungan dan merealisasikan tujuan dalam wadah organisasi atau kantor tersebut, baik itu untuk diri sendiri, kelompok maupun organisasi secara keseluruhan. Keuntungan dapat berupa asset berwujud, asset tak berwujud, maupun kewenangan dan loyalitas anggota.

            Politicking kerap kali dilakukan untuk mendominasi sebuah perusahaan agar terkontrol dan sesuai dengan arah tujuan sang pemangku kepentingan. Kedengarannya memang jahat (hampir mirip istilah kata dictator yang diperhalus), Tapi bukan berarti politik kantor itu selamanya jahat, bisa jadi baik tergantung siapa yang menggunakan.

            Jika ada dua kubu yang melakukan politicking, intrik dan saling sikut pasti akan terjadi untuk mendapatkan dominasi publik. Selama ini politik kantor selalu di pandang negative, yang mengarah kepada perpecahan dan permusuhan, sejatinya politicking mempunyai manfaat tersendiri jika di representasikan dengan benar. Bila kegiatan tersebut dilaksanakan untuk kepentingan organisasi agar tumbuh berkembang. Justru berdampak pada ke efisienan perusahaan, memperkuat hubungan interpersonal dan secara bersamaan menguntungkan individu serta organisasi yang bersangkutan. Intinya jangan sampai politicking disalahgunakan untuk memenuhi Hasrat kepentingan pribadi.

            Dalam melaksanakan politicking yang baik dan benar. Peran pemimpin sangat krusial dalam mengarahkan dan menumbuhkan ikatan dan rasa saling percaya para anggotanya. Menghindarkan perselisihan, penyelewengan, serta rasa tidak puas yang nantinya akan memicu kudeta serta menghambat kinerja yang sudah ada. Seorang pemimpin yang strategis tak akan kehabisan akal untuk mengatasi berbagai macam penyelewengan yang tidak tunduk pada jalan lurus organisasi.


Untuk memaksimalkan politicking, dalam buku Strategic Leadership, AB Susanto mengatakan “…pimpinan perusahaan harus dapat menanamkan rasa saling percaya di antara para karyawan. Komunikasi terbuka harus dikembangkan…” yang intinya adalah, ketika keterikatan karyawan itu renggang, maka politicking justru akan menjadi masalah ketika diterapkan. Hal itu akan memicu konflik perpecahan yang bertimbal balik menyusahkan pimpinan, pertumbuhan organisasi tersendat, bahkan dapat menghancurkan organisasi dari dalam.

            Mencari pendukung dan orang kepercayaan merupakan kewajiban bagi pemimpin ketika ingin menjalankan politicking. Sikap saling terbuka sangat penting untuk memperkuat koalisi dalam menggaet anggota organisasi lain.  pemimpin disini sebelum melaksanakan program yang diingini juga harus memahami kewajiban perusahaan dan mencontohkannya kepada anggota.

Seperti dulu Mandela pernah melakukan politicking. Mandela mengundang para tamunya untuk makan malam baik itu musuh maupun kawan. Mandela yakin bahwa dengan merangkul rival atau musuhnya, ia dapat mengendalikan mereka. Jika tidak dirangkul, mereka justru akan lebih berbahaya. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan loyalitas dari penawaran keuntungan yang di dapatkan.

Selasa, 28 Januari 2020

Berani tidak Disukai




Ada dua makna kata yang tertangkap dari judul buku yang sedang saya baca akhir-akhir ini. Awalnya saya pikir ‘berani tidak disukai’ adalah salah satu deklarasi seorang yang berani mengambil keputusan penting dan bijak walau banyak orang nantinya tidak akan menyukainya. Sebuah bentuk keberanian yang tidak takut dengan cara pandang orang lain terhadap dirinya. karena sejatinya hal itu dilakukan untuk kebenaran dan keadilan. Namun sepertinya saya salah kaprah. Meski pada hakikatnya pemikiran awal saya masih koheren dengan topik bahasan dalam buku ini.

Namun setelah saya selesai membaca buku ini. Saya baru tersadar dengan makna lain yang tersembunyi dalam judulnya ‘Berani tidak disukai’ yang berarti “sikap berani itu tidak lah disukai kebanyakan manusia” berani tidak disukai’ yang dijabarkan adalah sikap mental manusia yang selalu menghindari perubahan karena takut akan perubahan tersebut. Takut akan bekerja lebih keras, takut dengan lingkungan baru, takut dengan pandangan orang-orang ketika berlatih maju di depan panggung, takut salah ketika mengerjakan sesuatu. Dan berbagai macam ketakutan lain yang membuat seorang manusia lebih memilih untuk masuk ke zona nyaman tanpa sama sekali ingin berubah.

            Penulis memaparkan sudut pandang yang berbeda dengan menitikberatkan pada diri selaku pemilik jasad, dia yang bertanggung jawab atas segala keputusan dan pilihan yang hadir dalam dirinya. Mulai dari dirinya yang penakut, pemberani, suka membenci, suka bergaul, nakal, baik hati. Keseluruhan hal tersebut terbangung sebagian besar atas piliihannya sendiri dari penafsiran subjektif yang dia lihat di sekelilingnya.

            Opening yang terdapat dalam pendahuluan buku ini langsung memikat saya dengan pecakapan dua orang antara Filsuf dan pemuda (mereka terus berbincang dari awal hingga akhir buku ini). Pada mulanya sang pemuda bertanya pada Filsuf.

“apakah kau percaya bahwa dunia ini, dalam segala cara, adalah tempat yang sederhana?”
“ya, dunia ini sangatlah sederhana, begitu juga kehidupan” jawab sang filsuf
“jadi menurutmu segala persoalan yang ada dalam hidup ini juga sederhana?”
“ya, tentu saja”

Sang pemuda tidak terima dengan pernyataan sang Filsuf, karena pemuda itu telah merasakan perih dan sakitnya dunia ketika dirinya beranjak dewasa, mulai dari bekerja, membayar pajak, hubungan rumit keluarga dan teman, deskriminasi, pembantaian. Dan segala macam kegelapan dunia yang dilihat dalam hidupnya.

            Tapi sang filsuf tetap kokoh dengan pernyataannya yang mengganggap kehidupan itu tidak sekompleks itu, sangat sederhana. Mau tidak mau konflik pun terjadi. Perdebatan Panjang antara anak muda dan filsuf berjalan alot hingga memenuhi dua ratus halaman lebih buku ini.

Terdapat banyak intrik yang menarik, pandangan dari sudut pandang baru dari berbagai persoalan, hingga pengetahuan akan unsur diri terbahas dengan sangat jelas disini. Pembaca seperti digiring untuk lebih berpikir terkait dampak terbesar yang mempengaruhi hidup bukan karena orang lain. Tapi dari diri kita sendiri. Penulis menyiratkan agar seorang berhenti membuat alasan setiap kelakuan dan jalan yang dia pilih karena orang lain, dirinya menjadi nakal karena orang lain, dirinya menyimpang karena orang lain, dirinya menjadi penyendiri karena orang lain. sang penulis membantah dan menjabarkan Panjang lebar kalau itu semua adalah hasil keputusan dan tujuan dari diri itu sendiri.

Sebuah buku yang menarik yang dikemas cukup apik, percakapan antara seoarang dengan pemuda ini tak bosan-bosan dibaca dari awal hingga akhir meski kata-kata dan Bahasa yang dijabarkan begitu berat dan perlu proses ekstra untuk memahami maksud perkataannya.



Surakarta 29 January 2020

MHA

Kebiasaan Kecil




            Banyak orang beralasan perubahan yang selalu mereka upayakan akan berujung kepada kesia-siaan, buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan juga perasaan. Banyak orang berpikir. Melakukan suatu perubahan positif pada diri itu sangat menyakitkan, sangat susah setengah modar. Bahkan ada juga yang mencobanya berkali-kali, dan akhirnya tanpa memperoleh hasil, walhasil mereka mulai kembali ke jalan setan. Kembali menerapkan kebiasaan buruk, serta lambat laun kebiasaan baik yang sedang di pupuk, mulai ditinggalkan tak berbekas.

            Sebelum masuk ke inti, saya akan membawa pembaca untuk berjalan-jalan dahulu untuk melihat dunia dan sekelilingnya. Melihat ikan, laut, gunung pohon, awan, matahari, Transmart, genteng, pup, anjing, dan berbagai macam hal yang bisa anda lihat dan temui setiap hari. Semua hal besar itu tercipta pada dasarnya dari molekul-molekul kecil, sebuah partikel terkecil yang terdiri dari susunan Atom yang tak terhitung jumlahnya. Atom-atom tersebut terpadu membangun sebuah objek solid yang sering kita lihat sehari-hari. Bahka tubuh kita sendiri terbentuk dari gumpalan Atom yang saling menyatu.

            Yang saya tekankan dari penjabaran di atas adalah… untuk membangun sebuah kebiasaan, atau kita umpamakan sebuah benda berbentuk solid. Kita perlu mendirikan dan menselaraskan jutaan atom yang sebenarnya tak berguna, menjadi sebuah bentuk solid yang akhirnya menuai manfaat. Seperti menyusun batu bata kotakan menjadi sebuah rumah. Seperti memanfaatkan butiran pasir untuk membuat beton. Seperti menyusun sebuah puzzle untuk mendapatkan gambar atau bentuk yang diinginkan. Semua butuh pola, semua butuh usaha dan juga unsur-unsur kecil yang suatu saat akan membentuk sebuah objek yang bermanfaat.

Jadi marilah kita awali dan mulai dengan perubahan kecil, jangan melulu karena kita memiliki tujuan besar. Akhirnya kita mematok target yang besar, menginginkan sehari harus bisa lari lima kilometer, padahal sebelumnya kerjaannya hanya tura turu, berharap besok sudah bisa menulis buku satu bab, padahal kerjaannya setiap hari Cuma scroll sosmed, pengen menurunkan berat badan dalam satu bulan sebesar 20 kg, padahal setiap hari kerjaannya nge-meal.

            Alasan mereka mutung dan berhenti melakukan perubahan karena target dan harapan yang terlalu besar pada hasil. Mereka ingin segera mencicipi hasil nyata dengan memberatkan diri pada target besar yang sangat susah mereka capai. Alhasil sebelum mendapatkan hasil, mereka sudah menyerah dan mulai mengubur impian dan tujuan mereka.


Mengapa perubahan kecil bisa berdampak besar?

            Perubahan kecil, meski terlihat sepele dan lemot. Bahkan orang-orang berpikir tak ada gunanya ketika diri ingin berubah, mereka harus melakukan hal sepele yang mudah mereka lakukan. Banyak orang menyukai tantangan dengan membebani diri dengan target fantastis dan berujung kepada kelelahan kemudian tersungkur.

            Perubahan yang baik harus diawali dengan hal kecil, secara otomatis, hal kecil itu akan tersusun membentuk sebuah pola dan objek yang akan kita rasakan dimasa depan. tersenyum kepada orang lain, kebiasaan mandi pagi, kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi, kebiasaan menggosok gigi. Hal sepele seperti itu akan membawa dampak besar di kemudian hari.

            Bahkan ketika seorang itu mustahil menghafal Al-Qur’an, cukup menerapkan satu hari satu ayat. Secara konsisiten mereka berhasil menghafalkan seluruh ayat Al-Qur’an. Untuk membentuk tubuh yang kuat, awalnya bukan berlari marathon sejauh lima kilo. Cukup berjalan satu kilo yang dilakukan setiap hari. Hal itu akan merubah dan berdampak positif di masa depan.

Dalam buku atomic habbit – James Clear pernah mengatakan bahwa mungkin kamu akan malas mengerjakan sesuatu suatu saat nanti. Namun semalas apapun niatmu tetaplah lakukan hal itu. karena justru kamu akan menjadi pecundang ketika berhenti dan mulai kembali ke titik nol.  Seorang professional akan tetap menjalankannya meski dalam hatinya terdapat rasa malas. Itulah yang harus mereka lawan dengan perbuatan.

Mempelajari sesuatu mulai dari yang terkecil, mulai dari yang ringan, mudah dipahami, dan paling disukai. Memang hasil yang didapatkan tidak serta merta langsung hadir di hadapan, tapi dampak jangka panjangnya akan terasa luar biasa. Metode untuk membangun kebiasaan mulai dari kegiatan sederhana ini sangat bagus dan mudah di terapkan. Karena pada dasarnya kebiasaan itu memang dibangun dengan suatu yang mudah. Jika di awal kalian sudah bertekad dan melakukan penghabisan di awal. Saya yakin belum ada satu minggu tubuh tidak akan kuat dan lambat laun kebiasaan yang sudah di rancang dan di target sedemikian rupa akan hangus dan di tinggalkan.

Untuk itu perlulah merencanakan suatu hal yang paling kecil, yang paling simple, yang paling bisa anda lakukan untuk membuat kebiasaan it uterus terulang dan akhirnya secara otomatis tanpa anda pikirkan,kebiasaan itu akan berjalan sendiri, bahkan kalian akan merasa kurang jika tidak melaksanakannya.

Melakukan kebiasaan besar selain melelahkan juga akan membuat diri cepat bosan. walaupun akan mempercepat hasil yang di dapatkan. Tetap saja hal tersebut terasa sulit. Seperti seorang bayi berumur tiga tahun yang harus menyelesaikan tugas seorang anak SMP. Keuntungan melakukan kebiasaan kecil membuat perubahan itu lebih awet dan tahan lama, melaksanakannya tidak perlu membutuhkan kinerja ekstra dan hemat tenaga.

Kesimpulannya adalah, untuk memupuk kebiasaan positif, menghindarkan diri dari rasa malas dan bosan, kita harus menerapkan sistem yang benar dalam perubahan itu. menurut James Clear, ada empat tahapan utama ketika seorang ingin berubah.

-          Petunjuk yang nyata
-          Buat perbuatan itu terlihat menarik
-          Permudah kegiatan itu semudah mungkin
-          Beri ganjaran yang memuaskan pada tiap hasil kecil yang dilakukan


Dan agar kita bisa menghindari kebiasaan buruk, yang harus dilakukan adalah :

-          Buat segala hal yang merangsang perbuatan buruk itu menjadi tidak terlihat (misal, jauhkan seorang perokok yang ingin taubat dari iklan rokok atau bungkus rokok)
-          Buat kegiatan itu menjadi tidak menarik (misal bungkus rokok yang sekarang dipasang gambar orang penyakitan, atau beri mereka buku atau video tentang bahaya merokok)
-          Persulit akses (missal, suruh seseorang menyembunyikan charge Smartphone, supaya seorang itu tidak melanjutkan bermain Smartphone ketika baterai habis)
-          Beri ganjaran yang mengecewakan (missal, saya harus infaq sepuluh ribu ketika saya bermain game lebih dari satu jam dalam sehari)


 (Terinspirasi dari buku Atomic Habbit – James Clear)





Surakarta, January 28, 2020


M         H         A

Minggu, 26 Januari 2020

Kumpulan Cerpen : Bimbang




Sampai sekarang aku tidak tahu faktor apa yang mengganggu hidupku. Mungkin lebih tepatnya tidak mengerti masalah yang harus di selesaikan saat ini. Semua itu terasa aneh bagai makhluk astral yang sekarang sering dilempari gas LPG di yutub-yutub. Atau rasanya seperti sedang berada di daerah terpencil tanpa bisa menggunakan google maps. Rasanya panas, seperti kuah soto sebelum di celup es batu, atau bisa diibaratkan panasnya seperti ketika kaki terkena knalpot. Kemungkinan hal ini terjadi akibat dari efek berpikir keras.

“pesanan satu sudah datang” seorang pelayan cantik ber make up tebal datang menghampiri meja pesananku.
“ah terimakasih banyak” kataku dengan senyuman ramah, walaupun aku tahu di balik tebalnya make up itu, tersimpan lusinan jerawat yang sering dia plitesin.
Semangkuk kare sudah terhidang di hadapan. Uap panas dan harum membuat perut ini tak sabar untuk segera menyuruh mulut melahapnya. Dengan hati-hati sambil menghindari panas kuah, aku menyantapnya dengan khidmat. Sebuah kesempatan yang tak terkira bisa kembali memakan masakan enak ini lagi.

Tit tit tit tit….

Suara handphone kembali berderit. Kurasa aku mendapat panggilan lagi semenjak mengabaikan pesan selama dua hari belakangan. Perasaan jenuh bercampur aduk dikala beban selalu menindih dikala aku tidak siap menerimanya.
(tolong beri aku waktu untuk rehat sejenak)

Aku sama sekali tidak menggubrisnya. Mengabaikannya mungkin akan mendatangkan masalah baru. Masa bodoh, saat ini aku butuh ketenangan untuk dapat merasakan kehidupan kembali dikala sudah lama merasakan kematian dalam menjiwai peran kehidupan lain.
Telpon mati, sudah kelima kalinya dan aku tak peduli, kembali memakan masakan yang enak ini dengan penuh kekhidmatan.

            Beberapa hari ini tidak banyak yang terjadi, hanya mencoba mengasing sambil terus berpikir tanpa henti. Tak ada bedanya seperti orang mati, menghilang dalam jalan yang sudah kutempuh beberapa tahun ini. Apakah ini pilihan yang tepat? Siapa yang tahu. Aku merasakan kinerjaku selama ini belum sepenuhnya maksimal, atau kurasa sudah maksimal hanya saja beberapa faktor eksternal menghalangiku untuk dapat membuktikan kinerja maksimal yang dilakukan. Tak ada harapan atau penghargaan, walau itu bukan hal yang aku harapkan. Aku hanya ingin beberapa orang mengerti akan hasil kinerja yang selama ini terbangun, perubahan yang harus dilakukan, agenda yang harus di efektifkan, jalan pemikiran dan alur proses yang harus di perbaiki yang selama ini aku pelajari di bangku perkuliahan tapi…

“ti tung”

Aku kembali mengecek smartphone, sudah terdapat seratus enam belas pesan yang belum kubaca, Aku hanya membalas pesan ibu ku yang besok akan mengirim sari kurma karena mengetahui kondisi badanku yang tidak sehat. Memang benar, saat ini badanku tak sehat, mentalku rapuh dan ruh ku terasa kosong.

            Dahulu aku bisa bangkit begitu cepat, ketika menemui problem hanya butuh beberapa hari untuk segera mengatasinya. Pahitnya untuk bangkit dari posisi sekarang terasa sulit seperti melompati tembok setinggi lima meter. Suatu yang mustahil kecuali jika ada alat atau orang yang membantu. Dan aku belum menemukan alat atau orang yang dapat membantuku untuk melompati tembok setinggi lima meter itu.

“umik sudah kirim ya mas Sapto, sari kurma sama hebattusauda, diminum dua kali sehari”
“iya mik”
“jangan lupa makan tidur teratur, mandi yang bersih, baju di laundry saja kalau hujan, kalau uang jajan kurang bisa minta ke umi lagi”
“iya mik, makasih”
“ya udah, semoga cepat sehat. Kalau ada apa-apa kabari umik lagi”
“iya mik”
“assalamualaikum”
“waalaikumussalam”

Telfon dimatikan. Sampai sekarang aku masih bingung bagaimana cara membalas jasa kedua orang tuaku yang terus saja berjuang merawatku sampai sekarang. Padahal umurku sudah segede ini. Aku jadi merasa malu dengan Muhammad al faith yang sudah berjasa menjadi panglima perang yang padahal usianya lebih muda dariku.

            Guruku pernah berpesan banyak di kala SMA, dimana cerita yang dipaparkan terkait anak muda yang berprestasi, pantang menyerah, seperti Muhammad Al Fatih, Ali, Usamah bin Zain, Zaid bin Tsabit, dan berbagai macam pendahulu yang kisahnya masih bergaung hingga sekarang. Sebuah cerita menginspirasi yang membuatku bisa masuk ke universitas ini meski presentasenya teramat kecil.

            Dan sekarang aku terkapar. Kisah semangat juang yang sering dibaca tetap belum bisa menstarter semangat juang. Aku takut kehilangan arah dan berakhir mengenaskan. Seperti cerita-cerita kakak tingkat yang dulu berkeribadian baik, taat, dan soleh, kini menjadi bejat, no life, dan fuckboy.

beberapa cara sudah aku lakukan baik itu dengan pendekatan rohani maupun jasad. Semua sia-sia. Kinerja mesin ini sudah tidak berfungsi dengan baik. Aku benar-benar merasa dalam masa terburuk. Terlalu sering berpikir dan berpikir, meski itu pikiran yang tak penting untuk dipikirkan. Tak ada ruginya jika tak dipikir, tapi malah merugikan ketika dipikir. Tapi masih saja aku berpikir.

“seriusan kamu mau ngambil organisasi lagi To?”
“apa boleh buat, aku di desak terus dan tak ada yang bisa menggantikan posisi itu”
“sudah semester tua lho”
“ya benar, tapi yang menjadi problem utamanya bukan itu”
“lalu?”
“aku tak pantas saja, lagian, harusnya masih banyak di luar sana yang lebih baik. Hanya saja mereka malas saja mencari tahu”

“walhasil kamu menjadi korban”
“aku tidak merasa menjadi korban, hanya merasa sebagai seorang yang tak bisa mengerjakan sesuatu dengan baik. Atau mungkin sebenarnya sudah baik, tapi belum ada backup yang pas, kau tahu, jalan pikiranku sangat berbeda dengan orang kebanyakan. Hal itu sering menjadi crash ketika sedang berdebat atau menyelesaikan konflik, dan itu lumayan mengangguku”
“kau tidak bisa mengutarakan gagasanmu?”
“saat itu aku bersusah payah mengkulturasikan agar kita bisa sejalan. Cuma mungkin karena aku terlalu nyeleneh juga. Jadi terkadang pikiranku sulit di terima. Aku tak ingin membuat hal itu terjadi lagi, merepotkan dan juga menyebalkan. Kurasa hanya beberapa orang yang bisa aku ajak diskusi dengan baik”
“aku tahu perasaanmu, tapi bukankah hal itu sering terjadi di organisasi”
“jika dasarnya pas aku masih terima, aku selalu menggunakan dasar atas semua argumenku. Namun disini kadang dasarnya ngawur, hanya mengikut sistem dan terbatasi dengan cara pikir lama. itu yang membuatku lumayan bad mood”
“mungkin caramu yang salah dalam menyikapi mereka yang tak sejalan denganmu. Bukankah para pendahulumu dulu lebih sulit memperjuangkan perkara agama kita di tengah kemrumunan orang-orang yang tak percaya”
“kau benar, aku memang terlalu lembek, untuk itu aku setidaknya tidak cocok untuk menjabat posisi se strategis itu”

“tapi sebenarnya kamu bisa kan melakukan itu, anggap saja ini kesempatan terakhirmu membenahi kesalahanmu dahulu”
“yah, aku menerimanya juga karena itu, Cuma luka dulu belum tersembuhkan sama sekali, semenjak itu aku mulai menjauh dan tak pernah kesana entah apapun caranya”
“ingat To, jangan sampai hal sekecil ini justru malah membikinmu babak belur, masih ada babak selanjutnya yang tak kalah garang dan tanpa ampun menggerusmu di waktu yang bersamaan. Ingatlah semakin tinggi pohon angin akan semakin kencang menerpa. Jangan pedulikan sesuatu yang sebenarnya tak pantas kau pikirkan. Muhasabah itu penting, namun jangan sampai gerak langkahmu terhenti. Kamu masih terhitung muda, masih ada berjuta kesempatan untuk mengubah di masa datang”
Aku tertawa kecil, temanku itu memoles kepalaku karena mengira celotehnya malah aku tertawakan.
“apa maksudmu malah menertawakan nasehatku. Lo yang minta dikasih nasehat kan tadi”
”aku hanya merasa senang saja”
“senang?”
“ya, senang sekaligus prihatin”
“prihatin? Kenapa?”
“aku senang kamu bisa menasehatiku sampai masuk ke dalam-dalamnya, namun aku juga prihatin karena orang yang melakukannya justru malah teman lamaku, bukan teman terdekatku yang selama ini aku habiskan waktu Bersama dengan mereka tiga tahun belakangan ini”
“oh begitu”

“meski kami dekat, tapi sebenarnya kita tidaklah dekat, justru ketika aku bertemu denganmu, sesuatu yang jauh namun terasa dekat. Padahal kita hanya bersua selama satu jam ini, tapi entah kenapa kamu selalu bisa melihatku sampai kedalamnya”
“hahahah, sudahlah ga usah baper, lagian kamu juga tak bisa menyalahkan mereka, mungkin mereka masih belum begitu tahu tipikalmu, karena dulu aku melihatmu juga sangat misterius”
“hahaha, namun pada akhirnya kau selalu saja bisa menebak apa yang kulakukan dan kubutuhkan”
“yah, kamu juga sama”
“setidaknya aku ingin mencari beberapa rekan yang bisa saling mengerti dan memahami seperti ini, hanya saja belum aku temukan sama sekali”
“santai bro, yakinlah masih banyak orang-orang di sekeleiling kita yang seperti itu, Cuma kita belum saling bertemu”


Surakarta, 27 Januari 2020

M         H         A