softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Minggu, 18 Juni 2017

Kumpulan Cerpen; Humor


Ayam berbicara padanya bahwasanya hari sudah menjelang pagi. Tapi nyatanya langit masih gelap dan matahari sama sekali belum menampakkan batang hidungnya. Paijon sudah susah payah bangun dari ranjangnya dan menemukan kenyataan pahit bila jam di dinding masih menuding angka satu dini hari.
“Ayam-ayam itu rupanya lagi cari mampus. Kenapa mereka sudah mulai berkokok. Fajar saja belum datang! Sial!” Gerutunya sambil melempari ayam-ayam itu dengan menggunakan batu. Ayam-ayam itu berlari berhamburan dengan mengepakkan sayapnya. Mencoba melarikan diri dari perbuatan mereka yang berkokok tidak pada jadwalnya.

            Langit Membeku dan tanah membisu. Aroma semerbak Kasturi terpancar mengitari berbagai sudut rumah yang ditinggali Paijon. Dirinya mulai terbangun dari tidurnya. Tak biasanya rumah ini penuh dengan wewangian yang memanjakan hidungnya. Karena biasanya bau rumahnya hanya berkisar antara bau kentut atau bau pesing.

“bau wangi apa ini?” tanyanya pada dirinya sendiri.
“Ini Bau yang dihasilkan halusinasimu sobat. Pada dasarnya bau tempat ini memang busuk” terdengar suara yang entah datang dari mana. Membuat Paijon segera melonjak dan terjungkal dari ranjangnya.
“SI-SIAPA YANG BICARA!” teriaknya sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.
“ini aku. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kita adalah satu tubuh. Kamu nggak sadar ya...” candanya. Namun Paijon berpikir jika hal itu justru sebagai sebuah ancaman.
“Woi setan alas! Keluar dari sini. Cepetan!” kata Paijon menjeriti dirinya sendiri “mana bisa tubuhku ngomong sama diriku sendiri! kamu kira aku gila!” ketusnya lagi.
“Bicara apa sih kamu itu” terdengar suara dari yang lain.
“si-siapa lagi itu!?” tanyanya ketakutan. Badannya menggigil tak karuan. Matanya sedari tadi melotot. Rasa gelisah mulai merayap cepat bagai ingus yang terserot.
“ini aku. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kita adalah satu tubuh. Jangan sok nggak kenal gitu ah. Hahahahaha....” Sahutnya disusul tawa.
“Bukaaaan! aku bukan kamu, dan kamu bukan aku! jangan mengusik kehidupanku! Aku masih waras! Jangan bikin aku GILAAA!” katanya mantap.
“haduh, kenapa dia nggak mau mengakui kita ya. Padahal kita sudah lama sekali bersama”
“mungkin pahitnya hidup sudah membuatnya buta akan kebenaran”
“jangan! Jangan bicara disekitar sini! Bicara di beringin aja sono! Pergi! Nanti aku bisa sinting!” jerit Paijon yang sudah ketakutan seperempat mati.
“hoi, Paijon”
“Nggak mauuu! Jangan bicara padaku! Cepetan pergi!” jeritnya kembali.
“tengoklah tanganmu” pintanya.

Dengan takut-takut Paijon mengangkat perlahan kedua tangannya. Matanya terbelalak. Dia sampai ingin pingsan karena tidak sanggup menerima kenyataan yang sangat tidak masuk di akalnya.
“Ha...ha....haa.....” Paijon tergagap-gagap dibuatnya. Reaksinya sama seperti sedang menatap sesosok wanita tidak cantik yang mencoba mencantik-cantikkan diri.
“tenanglah. Jangan keget begitu. kalau kamu sampai kena serangan jantung dan mati disini. Akupun juga akan ikut mati tahu” sahut tangan kiri.
“sudahlah tangan kiri. Jangan menyudutkannya terus. Dia mungkin sedang berusaha berpikir untuk mencerna kejadian kali ini. sebaiknya kita memperkenalkan diri kita dulu” kata tangan kanan.
“hah, males ah. Bukannya tanpa perkenalan dia sudah tahu bila kita adalah bagian dari anggota tubuhnya. Dan dari awal kan kita juga telah menjelaskan siapa kita kepadanya” Kata Tangan kiri.
“Ke-kenapa kalian bisa bicara?” tanya Paijon. Pandangannya masih melukiskan rasa ketidakpercayaan dengan apa yang sedang dilihatnya.
“nggak tau tuh. Tiba-tiba saja aku bisa bicara begini. Mungkin karena Tuhan telah mengabulkan do’aku untuk bisa bicara denganmu. Karena aku ingin protes mengenai masalah percebokan” sahut tangan kiri.
“janganlah begitu tangan kiri. Kasihan dia” kata tangan kanan.
“kamu gampang aja bilang kaya gitu. Coba kamu jadi aku. Nyerah aja deh”
“apa hanya kalian yang bisa berbicara?” Tanya Paijon kembali.
“sebenarnya semua tubuhmu bisa bicara. Namun sekarang mereka semua sedang diam karena mengetahui reaksimu yang begitu ketakutan” Jawab Tangan kanan.
“ja-jadi”
“ya mereka semua bisa bicara. Coba saja sapa salah satu dari mereka semua. Pasti mereka akan menyahutimu”
“ini bukan mimpi kan?”
“coba saja di tes” sahut tangan kiri sambil terkekeh.
Lalu Paijon mencubit pipi kirinya.
“AUW! Sakit bego!” sahut pipi kiri geram.
“WAAAA! SIAPA ITU!” kata Paijon terperengah. Karena kaget dan terlempar, kakinya tak sengaja menjaduk lemari sehingga menimbulkan luka lebam.
“SAKIIT! Kamu kira aku batang besbol apa. Seenaknya kamu gedukin ke lemari! Makanya punya mata itu dipakek!” gerutu kaki kanan.
“Seenaknya aja nyalahin gue. Dasar kaki korengan!” celetuk Mata.
“WOI! Kalau bilang kaki jangan yang umum dong. Gue tersinggung nih...” sahut kaki kiri nggak terima dibilang kaki korengan. Padahal sudah ada sekitar tiga koreng yang melekat di sekitarnya.
“Berhenti. Jangan berteriak disekitarku!” Paijon semakin ketakutan.
Untung tangan kanan segera menenangkan. “sudah-sudah. Janganlah kalian ribut terus. Kalau dia sampai gila kita juga kan yang ribet”
“Oi Paijon. Mulai sekarang lebih baik kamu tenangkan dirimu dulu”
Paijon mengangguk cepat.

Paijon mulai menenangkan dirinya. Dia berjalan ke dapur untuk meneguk beberapa gelas air. Kali ini pikirannya sudah tenang. Beberapa keringatnya sudah dia lap pakai handuk. Untuk meringankan nuansa suram yang ada. Paijon memilih melangkah keluar untuk menyerap udara segar. Sambil duduk di teras. Kini dia mulai berbicara dengan anggota tubuhnya yang mendadak bisa berbicara.

“apa yang membuat kalian bisa berbicara?”
“aku tidak tahu. yang jelas, aku merasakan ada sebuah perantara yang membuat kami bisa berbicara seperti mulutmu”
“lalu jika kalian bisa berbicara begini. Apa yang akan kalian lakukan?”
“kami ingin unjuk rasa” kata telinga.
“benar, unjuk rasa. Kami ingin menuntut hak kami sebagai anggota badan!” sahut anggota tubuh yang lain.
“ya, kamu harus melayani kami sebagai anggota tubuhmu”
“benar. segera kembalikan hak kami yang hilang”
“tuntut.... tuntut..... tuntut...!” teriak mereka semua kepada Paijon.
“apa-apaan sih. Jangan buat aku layaknya kriminal yang telah berbuat jahat kepada korbannya dong. Yang tenang. diskusikanlah dengan baik dan layak” sahut Paijon.
“kami memang korban dari hak asasi anggota badan!”
“iya deh iya. Emang kalian mau nuntut apa sama aku?”
“Pertama kami” sahut mata ”kami sebagai sepasang mata ingin kamu berhenti begadang sampai larut malam Cuma gara-gara ngadep layar PC. Apa kamu nggak merasakan penderitaan kami menatap cahaya itu lama-lama. Rasanya itu perih, panas, dan pedih. Lihat nih, kami jadi memerah. Dan bawahanku jadi kendur dan melebam gara-gara kurang istirahat!”
“hahh... iya. Nanti jamku begadang akan di kurangi”
“Aku juga mau menuntut!” gugat hidung.
“ya silakan”
“kamu kira sudah berapa penderitaan yang selama ini aku rasakan hah!”
“oh, seberapa?”
“apa kamu bercanda! Tiap hari selama hidupmu aku hanya mencium aroma kentut dan pesing yang ada di rumahmu. Sekali-kali kamu harus bersih-bersih rumahmu yang jorok ini biar wangi! Trus tubuhmu juga kasihlah minyak wangi. Minimal beli yang sepuluh ribuan itulah. Manjakan aku dikit kek! Masak tiap hari aku disuruh uji nyali dengan bau-bau yang seperti merontokkan bulu hidungku ini” geram hidung.
“oke oke”
“aku juga mau komplain!” kata mulut. Kini mereka saling bergantian untuk menggunakan mulut itu.
“ya silakan”
“apa kamu nggak sadar bila ababmu itu bau hahh....!”
Paijon menjajal dengan menciumnya untuk memastikan bau ababnya.
“Woi! Ngapain lo nambahin penderitaan gue brengsek!” Maki hidung.
“sorry lah dung, namanya juga mau ngecek abab”
“sialan lo. Udah tau bau masih aja di cek. Ke gue lagi!”
“masak mau saya cek ke telinga, ya kan nggak maksud dung”
“udah nggak usah ribut, gimana baunya!?” tanya mulut.
“yaa... emang agak bau sih”
“agak bau jidatmu! Apa kamu ingat kapan terakhir kali kamu sikatan?” amuk hidung.
“emmh.... kurasa nggak pernah”
“nah. Mulai sekarang sikatanlah! Kalau enggak. Maka hukumannya akan aku cabuti gigimu satu persatu biar kamu jera!” ketus mulut.
“iya iya. Nanti aku beli sikat”
“aku juga!” tuntut telinga.
“iya silakan”
“berhetilah menempeliku dengan earphone baumu itu! itu membuatku tidak bisa merasakan udara segar. Di dalamku jadinya bau semua nih! Dan kalau kamu mau membersihkan dalemanku pakai katenbat. Nggak usah dalem-dalem sialan! Pinggir-pinggirnya aja!”
“siap laksanakan”
“sekarang ganti aku yang komplain!” sahut tangan kiri
“ya silakan”
“kalau cebok itu yang bersih. Jangan lupa gue disabunin. Jangan Cuma di celup ke air trus di lap! Gue masih bau tronyong! Dan lagi. kalau ngupil pakai gue. Ya langsung cuci tangan. Jangan Cuma di eser ke tembok terus kelar. Gue masih lengket tau nggak hah!”
“maaf, nggak akan aku lakukan lagi”
“kalau aku, Cuma menyarankanmu untuk berdo’a kalau mau melakukan sesuatu denganku” sahut tangan kanan.
“laksanakan”
“sekarang ganti aku yang mau menuntut!” sahut kaki kiri.
“waktu dan tempat dipersilakan”
“woi cengkring!”
“yap”
“woi goblok, woi cengeng”
“yap, yap”
“Lemah, lembek, cebol, tengik”
“yap, yap, yap, yap”
“sekali-kali kamu harus sering olahraga. Emang gue disini Cuma buat pajangan apa! Sekali-kali itu olahraga. Buat gue kuat sampai berotot kaya kakinya Ronaldo. Gila. Risih gua liat diriku dipenuhi tulang kaya orang kurang gizi gini. Korengan lagi. Makanya kalau mandi jangan lupa gue di kosok”
“oi. Dia kan jarang mandi” sahut kaki kanan.
“benar juga. Kamu juga mulai sekarang harus sering mandi. Awas kalau sehari kagak mandi. Gua cabut diri dari tubuhmu kelar dah hidup lo!”
“siap laksanakan”
“sekarang giliranku” kata kaki kanan.
“silakan silakan”
“sama. Aku juga sependapat dengan kaki kiri. Selain itu aku juga mau menambahkan sesuatu”
Kaki kanan diam sebentar.
“apa itu?” tanya Paijon penasaran.
“SEKARANG UDAH TIBA WAKTU SUBUH! CEPETAN BANGUN. SEKALI-KALI SHOLAT DIMASJID NAPA HAH! MAU MASUK NERAKA LHO. NGGAK KASIHAN APA SAMA KITA! KALAU LO MASUK NERAKA NANTI KITA BAKAL KESERET JUGA! CEPETAN BANGUN SHOLAT KE MASJID. JANGAN TIDURAN MELULU!!!”

‘Brak!’ mata Paijon tiba-tiba terbuka lebar. Segera tubuhnya terlempar ke posisi duduk. Nafasnya terengah-engah. Tadi adalah mimpi yang teramat menakutkan baginya. Ditatapnya segala anggota tubuhnya. Diceknya satu-persatu bagian-bagian yang didalam mimpinya telah meneriakinya sedemikian rupa. Untungnya mereka semua masih terdiam dan tidak berkata sepatah katapun. Mengetahui bila tidak ada masalah apapun membuat perasaan hatinya menjadi lega.

“untuuung Cuma mimpi” desisnya dipenuhi rasa plong yang luar biasa.

Tak berapa lama, terdengar adzan subuh berkumandang. Paijon yang selama ini malas-malasan sholat ke masjid mencoba kembali ke posisi tidurnya. Belum sempat matanya terpejam. Suara menakutkan itu datang lagi menghantam urat sarafnya.

“Woi, bangun coy. Sholat ke masjid sana” sahut Kaki kanan.

Sumber Gambar : www.blogarama.com

Jepara, 18 Juni 2017

            MHA 

Sabtu, 03 Juni 2017

Kumpulan Cerpen; Word World



            Sudah delapan belas tahun lebih aku ada di dunia ini. tak terasa memang. Ternyata perumpamaan “mampir ngombe” itu ada benarnya juga. Aku teringat perumpamaan itu saat aku sedang minum. Setelah minumku habis, aku lanjutkan langkahku menuju rumah.

Orang-orang berlalu lalang mencari rezeki. Bus-bus angkutan telah berangkat meniti jalanan aspal untuk mencari para penumpang. Anak-anak semangat berangkat ke sekolah karena telah mendapat pacar baru. Burung kutilang bertengger di pucuk dahan, sampai akhirnya burung itu terbedil oleh seorang maniak burung. Miris. Tapi inilah dunia yang sedang kupijak. Agamaku telah mengajarkan jika dunia ini berisi dengan cobaan dan kesenangan. Alhasil statement tersebut juga memberitahuku bahwa aku harus berhati-hati dalam menjalani dan menyikapi kehidupan.

“Mas, bisa kita bicara sebentar?”
Aku menoleh ke arah orang itu, ternyata dia adalah seorang perempuan yang umurnya sebaya denganku. “ada apa?” tanyaku bingung.
“apa mas nggak merasa bersalah sudah membuat hatiku hancur!”
“ngomong apaan sih?” aku semakin tak mengerti.
“KAMU TELAH MENGHANCURKAN HATIKU!” jeritnya. Kontan para pejalan kaki di sekitar sini pada melihat kesini. Aku sama sekali tidak mengerti. Perempuan itu mulai menangis. Aku jadi merasa aneh. Sampai akhirnya dua orang berpakaian serba putih menghampiri kami.
“itu dia disini!” sahut salah satu perawat disusul anggukan perawat satunya. “ayo kita tangkap!”
Singkat cerita. Perempuan di depanku ini di belenggu dan di ikat kaki dan tangannya oleh dua perawat itu.
“maaf ya mas, saya mau mengembalikan dia ke karantina”
“orang gila ya mbak” kataku sambil menunjuknya. Meski sudah di pasung, perempuan itu masih saja terus meronta-ronta.
“iya dek” katanya sambil tertawa kecil. Aku juga ikut tersenyum aneh. Tak kusangka kejadian ini telah membuat pandangan semua orang mengarah ke arah kami. Membuat aku jadi merasa kikuk sendiri.
“mbak?” aku ingin menanyakan sesuatu sebelum dia pergi.
“ya ada apa?”
“saya mau tanya”
“dia gila karena apa?” tebaknya.
“bukan”
“terus?”
“kenapa dia gila?” perkataanku itu membuat perawat itu sedikit tersulut emosinya. Tapi karena menatap kepolosan wajahku. Perawat itupun Cuma membuang nafas berat, dan lebih memilih untuk menjawab pertanyaanku.
“dia dulu sudah pacaran selama lima tahun, mas. Trus dia melihat pacarnya sedang selingkuh dengan perempuan lain. karena merasa frustasi dia maki pacarnya. Akhirnya dia diputusin pacarnya dan menjadi gila”
“gilak!”
“benar-benar gilak mas. Jaman sekarang memang ada-ada saja yang bikin orang jadi gila. Dari dulu juga kita sudah masuk ke dalam jaman edan. Tapi sekarang jaman edan itu sudah tidak digemborkan lagi semasif dulu. mungkin karena sudah banyak orang yang edan, alhasil mereka tidak mau menyebut diri mereka edan karena memang sudah edan. Mana ada orang edan menyebut dirinya edan. Benar nggak mas” jelasnya panjang lebar. Padahal aku tidak mengharapkan penjelasan tersebut. Tapi aku iyakan saja agar permasalahan cepat selesai.

            Jarak rumahku tinggal beberapa ratus meter lagi. Mataku menjadi lebih waspada mengamati di sekitar area ini. Langkahku sudah kubuat sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara gesekan. Aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi berulang kembali. Sudah tidak terhitung lagi sudah berapa kali aku mengalami masalah ini. kejadian-kejadian sebelumnya telah memberikanku pengalaman yang berarti. Sekarang aku sudah mengerti beberapa tips dan trik untuk menghindari hal yang akan terjadi.

            Namun sayang seribu dayang. Dia tetap mendengarku dan mengejarku dengan kecepatan tinggi!
“GUK.....GUK......GUK....... AUUUUNGG......” dari belakang sudah terlihat seonggong anjing berbadan besar. Ingin rasanya aku menyumpahi sang pemilik yang tidak merantai binatang berbahayanya ini. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Sekarang aku harus mencari tempat sembunyi atau mencari tempat yang tinggi. Berhubung sebentar lagi aku akan terkejar.

            Nafasku memburu. Jantung berdetak hebat. Panas mulai menjalar mengelilingi tubuh. Perasaan trauma saat digigit anjing kala itu masih membekas didalam lekukan otakku. Gawat. Disaat-saat genting seperti ini masih sempatnya perutku kepelintir. Aku tetap paksakan diri untuk berlari. Berhubung tempat relokasiku sudah dekat dari sini. Relokasi adalah nama tempat perpindahanku.

            Sampailah aku di tempat relokasi. Aku membuang kresek yang semenjak tadi aku bawa ke sebalik tembok ini. Dan dengan cekatan aku memanjat tembok itu, lalu terjun ke bagian sebaliknya. Anjing itu tak bisa melakukannya dan hanya bisa menggonggo dari sudut lain. Aku tersenyum puas. Sambil tanganku menyusap peluh yang ada di dahi.

“sepertinya anjing itu masih menyimpan dendam padaku” kataku di luar hati. Aku teringat pertemuan pertamaku dengan anjing itu. Awalnya dia baik, ramah, santun, penurut, dan tidak pernah mengejarku saat aku melewati pekarangan rumah itu. Tapi entah mengapa segalanya berubah semenjak aku tak sengaja menginjak buntutnya dulu. Kini anjing itu mulai mengejar-ngejarku terus.

            Aku menganggap kejadian ini sebagai sebuah ujian. Tak perlu aku pikirkan matang-matang. Toh aku bersyukur tidak tergigit oleh anjing itu. Setidaknya aku masih tetap berpikir positif. Kejadian barusan aku anggap sebagai sebuah olahraga pagi. Karena seingatku, akhir-akhir ini aku jarang berolahraga. Mungkin kejadian ini bisa menjadi media pengingat agar aku lebih rajin lagi berolahraga.

“berhenti” kata seorang yang memanggilku dari belakang. Aku menoleh. Ternyata.... oh tidak...
“kamu harus membayarnya!” katanya sambil menahan letupan emosi yang sudah siap di ledakkan kapanpun. Dia adalah teman seperkuliahanku.
“kan pas disekolah sudah aku kasih uang seribu”
“KURANG!!!”
“memang harga mainanmu berapa sih”
“ITU BUKAN MAINAN BEGO! ITU ACTION FIGURNYA UENO!”
“ah iya, maksudku si Waifumu itu ya... hahahaha...” aku mencoba meredakan suasana dengan tertawa. Tapi nampaknya tidak berhasil. “memang berapa harganya sih?” tanyaku dengan nada sesantai mungkin.
“SATU JUTA!” katanya dengan luapan emosi.
“oh... tak cicil bolehkan. Sehari seribu. Kan lama-lama bisa lunas”
“KELAMAAN BEGO!”
“yah, kalau begitu dua ribu”
“JANGAN MAIN-MAIN!!! MINIMAL 100.000 SEMINGGU! Kalau nggak mau. Kek!” katanya mengancam sambil tangannya di gorokkan ke lehernya.

            Aku hanya bisa menelan ludah. Tapi memang aku harus bertanggung jawab menggantinya mainan yang tidak ingin disebut mainan olehnya. Apalagi mainan itu adalah mainan kesayangan temanku. Berhubung dia seorang otaku tulen.

“baiklah” kataku. Dia pun mengerti dan berjalan pergi. Sepertinya dia datang di dekat rumahku hanya untuk membicarakan masalah ini. Lagian aku juga salah karena membayar uang DP cuma seribu.

            Namun saat itu, entah karena pikirannya sedang kalut atau karena melamun. Dia tak sadar ada seonggok anjing yang mendekat ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Aku yang sadar segera berlari untuk menyelamatkannya.

“AWAAS!!!” kataku mendorongnya keras. Mencoba menghindarkannya dari gigitan anjing ini. tak kusangka. Anjing ini masih saja berniat mengejarku sampai ke sini. Sepertinya bau daging yang kubawa telah menjadi alat pelacak bagi penciumannya  yang tajam.
“Farly! Kamu — ” kata temanku itu yang tercekat ketika tahu aku sedang tercokot.
“tidak apa-apa. Cepatlah lari!” anjing itu masih mengigiti kakiku. Rasanya begitu sakit. Anjing itu tak mau melepas gigitannya walaupun sudah aku jewer kupingnya.
“ta-tapi kamu. Kamu —” dia menangis karena merasakan penderitaanku.
“tidak masalah. Aku bisa mengatasinya karena sudah sering. Kamu cepat larilah. Apa kamu mau digigit juga!”
“nggak mau!”
“makanya lari! Cepat!”
“baiklah” lalu dia lari tergopoh-gopoh menjauh. Tapi sebelum dia meninggalkanku yang sedang bergelut dengan anjing ini. dia berbalik badan dan mengatakan sesuatu.
“terimakasih Farly karena telah membantuku. Tak usahlah kamu mengganti itu untukku. Aku ikhlas” lalu dia kembali lagi berlari meninggalkan kami. Mendengar pernyataannya seketika membuatku bengong. Padahal situasiku saat itu begitu genting.

            Tiba-tiba saja aku merasakan energi yang amat besar. Mungkin perkataan temanku itu telah membangkitkan ulti yang terpendam dalam diriku. Kini aku mulai menghajar anjing itu sambil memukul kepalanya. singkat cerita aku berkelahi dengan anjing dan akupun menang.

            Akhirnya sampai juga aku di depan rumah. Aku membuka pintu rumah dan memberikan salam kepada penghuninya. Ibuku lekas menjawab salam dan menghampiriku.
“kok lama banget belanjanya?” setelah memandangku dan melihat kondisiku sesaat,  beliau akhirnya merasa miris dibuatnya. “kenapa kamu bisa sampai seperti ini nak!???”
Aku hanya tersenyum hangat sambil memberikan kresek belanjaan ini kepada beliau.
“tadi ada beberapa cobaan. Tapi alhamdulillah saya masih bisa selamat sampai ke rumah” kataku sambil tetap tersenyum. Karena senyum adalah sedekah.

Jepara, 3 Juni 2017

            MHA

Kumpulan Cerpen; Bulan Suci Ramadhan



            Rembulan kembali menampakkan diri. Lengkungan cahaya rembulan yang memancar telah memberi tahu penduduk bumi. Ramadhan telah tiba. Umat muslim sedunia telah ketersiap untuk menyambut kedatangannya. Rasa senang dan bahagia tak henti-hentinya tercurah dari lubuk hati orang mukmin sejati. Dimana mereka selalu menanti bulan suci Ramadhan yang datang hanya sekali dalam setahun ini.

“hah.... selesai juga telawih peldananya” sahut teman sebelah Hasrul. Si Udin.
“ngomong-ngomong. Tadi mesjidnya penuh banget. Nggak biasanya sholat isyak sampai membeludak gitu”
“namanya juga awal lamadhan. Itukan sudah menjadi cili khas olang indonesia dalam menyambut lamadhan tiap tahun”
Hasrul mengangguk setuju.
“tapi lihat aja lama-lama. Pasti hali-hali belikutnya olang-olang makin sedikit ke masjid. jadi nggak bakalan beltahan lama”
“konsisten itu memang susah ya”
“betul”

            Malam itu, sebelum Hasrul pulang ke rumah selepas terawih. Dia diajak teman-teman yang lain untuk menyumet mercon.

“ayolah. Untuk memeliahkan suasana bulan lamadhan. Kita nyumet melcon di sekital jalan” Bujuk Udin kepada Hasrul.
“ah, nanti kalau kena orang gimana?”
“kan kita ngelempalnya ke tempat yang nggak ada olangnya”
“suaranya juga bakal nganggu orang lain. Kasihan kan kalau dirumah mereka kebetulan ada yang sedang ngaji. Kita malah dosa nganggu mereka”
“hah... ya udah lah kalau kamu nggak mau. Aku pelgi dulu ya. Nanti kalau kamu mau ikut nusul aja”
Lalu mereka berpisah. Hasrul pun pulang kembali menuju rumahnya.

            Umat muslim menyikapi kedatangan bulan Ramadhan pada tahun ini dengan cara yang berbeda-beda. Bagi yang imannya benar mereka pasti akan bahagia. Bagi yang iman stagnan. Rasanya bakal seperti bulan-bulan biasanya. Dan bagi yang imannya nggak bener. Sudah barang tentu dia akan geting dan dongkol dengan apa yang namanya ramadhan.

Si Joko. Dia adalah seorang yang sangat menyukai kedatangan bulan ramadhan. Hari ini semangatnya membuncah untuk melaksanakan sholat terawih di masjid dekat rumahnya. Dia bahkan datang pertama dan menyempatkan adzan sekalian. Saat ini dia menargetkan sehari bisa tilawah sepuluh juz agar bisa khatam sepuluh kali di bulan ramadhan. Saking Semangatnya si joko harus begadang untuk menyelesaikan target yang dibuatnya. Hingga paginya si Joko telat subuhan karena ketiduran.

            Karadin biasa saja menanggapi bulan yang hanya datang setahun sekali ini. Di dekat masjidnya menerapkan sholat terawih dua puluh tiga roka’at. Tapi Karadin langsung balik kerumah saat imam sudah sholat delapan roka’at. Witirnya dia laksanakan dirumah. Setelah itu dia menyalakan TV dirumah sambil mengorek-ngorek hidungnya.

            Gungun sangat membenci kedatangan bulan ramadhan. Dia malas dan ogah-ogahan shoalat terawih. Alasannya karena malas dan capek. Karena kebiasaannya juga acapkali tidak pernah sholat di masjid. Sekali ke masjid itupun saat hari raya kurban dan sholat id. Padahal itu hanya sholat sunnah. Kerjaannya tiap malam hanya ngelayap. Puasa bolong-bolong. Dan tak peduli akan hari akhir yang mencekatnya kelak.

            Musthofa adalah sesosok muslim ideal. Dia menyambut ramadhan dengan suka cita dan hati berbunga. Dia niatkan puasanya pada tahun ini untuk mengharapkan ridha dan berkah dari Allah. Dia mengaji, sholat ke masjid, sholat tahajud, sholat sunnah, sodakoh, menyapa tetangga, membantu fakir miskin, membaca kitab-kitab riyadhussalihin, dan melakukan amalan-amalan baik yang lain. Dia sangat di segani oleh masyarakat sekitar karena ketawadhu’annya. Dan itulah yang membuatnya sering dipilih menjadi imam masjid. Dan pada kesempatan sore menjelang berbuka puasa. Dia diundang untuk mengisi pengajian.

            “Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah. Dimana terdapat banyak sekali rahmat dan ridha Allah di dalamnya. Dimana kebaikan dilipat gandakan. Dimana pada bulan ini pula Al-qur’an di turunkan. Pada bulan yang suci ini pintu surga dibuka lebar. pintu neraka ditutup. Dan para setan di belenggu”

“Sepatutnya kita memanfaatkan momentum ini untuk beramal sebaik-baiknya dan berdo’a sebanyak-banyaknya kepada Allah. karena tiap do’a yang dipanjatkan umat muslim menjadi mustajab di bulan suci ini”

“ada beberapa keutamaan orang yang melakukan amalan puasa. Beberapa diantaranya adalah; puasa sebagai perisai dari api neraka, orang yang berpuasa mendapat pahala yang amat banyak, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di hadapan Allah daripada bau misik/kasturi, orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan, pertama ketika berbuka mereka akan gembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka akan bergembira karena puasanya, puasa juga memberi syafaat bagi orang yang menjalankannya, orang yang berpuasa juga mendapat pengampunan dosa, serta, Allah juga sudah menyediakan surga Ar Rayyan bagi orang yang berpuasa”

itulah sepenggal isi yang didengar oleh Hasrul saat mengikuti pengajian sore itu. Pengajian dilakukan sambil menunggu waktu berbuka. Hasrul yang masih kecil ikut menanti suasana dengan menyambinya dengan bermain bersama anak-anak kecil yang lain. Ada yang nangis gara-gara kepeleset saat lari. Teman yang lain membantu ngetawa’in. Namanya juga anak kecil. Dan yang menolongnya adalah ibunya sendiri. Sambil menasehati anaknya agar berhati-hati ketika bermain.

“Din, kamu puasa apa hari ini?” tanya Hasrul. Saat itu mereka beristirahat karena sudah lelah habis lari-lari.
“puasa sapi. Sebenalnya aku mau puasa penuh. Tapi gala-gala aku lapel banget tadi jam sebelas. Akhilnya aku makan habis dzuhul”
“kalau kamu Jan?” tanya Udin pada Parjandi.
“aku tadi pagi mencret jadi nggak puasa”
“makanya perutmu di jaga. Jangan makan sembarangan” Ujar Hasrul.
Parjandi merengut malu.
“kalau kamu Rul?” Tanya Udin kembali.
“aku puasa sampai magrib”
“eh, katanya teletabis tayang lagi lho”
“masak sih”
“aku nggak mau liat ah. Selem, mata meleka menteleng telus. Nggak pelnah kedip”
“biasa aja kali, namanya juga boneka”
“tapi selem tauk...”
“eh dengerin!” cetus Parjandi mengheningkan suasana.
Adzan magrib sudah berkumandangan. Waktu berbuka pun tiba.
“horee bukaa...!” teriak Parjandi. Padahal nggak puasa.
“apaan sih kamu. Kamu nggak puasa kok seneng banget”
“iya. Aku yang puasa penuh aja biasa. Nggak sombong!”

Seorang ibu-ibu menghampiri mereka dan memberi mereka minuman dan seperangkat takjil.
“ini anak-anak. Makan sambil duduk ya” kata ibu itu ramah.
“makasih buk” sahut Hasrul. Lalu mereka memakan takjil mereka dengan penuh suka cita.

Sumber gambar:

Jepara, 4 Juni 2017

            MHA

Kumpulan Cerpen; Makanan sisa



            Makin lama, makin banyak pula makanan yang Sarjo dapatkan dari tempat sampah. Dia bingung. Seharusnya para pembuang makanan itu sadar betapa berharganya sebutir nasi itu. Kalau mereka tidak suka, bukankah lebih baik memberikannya dengan cara baik-baik kepada para kere yang kurang makan. Bukan malah langsung di buang ke tempat sampah!

“seharusnya mereka bisakan memberikan makanan itu ke kita dengan cara baik-baik. Bukan malah dibuang semena-mena di tempat yang tidak seharusnya. Apa mereka tidak pernah merasakan betapa susahnya mencari makanan!?” Protes Sarjo kepada istrinya.
“namanya juga orang berlebih, mas. Biasa kali, mereka membuang kelebihan harta yang di miliki”
“kan sayang bu... ketimbang di buang kayak gitu, mendingan kan dikasihkan ke kita. Wong itu juga nggak merugikan mereka toh”
”mungkin mereka tidak sadar pak”
“lho, kok bisa nggak sadar?”
“karena dilakukan setiap hari. Jadinya mereka menganggap membuang makanan yang tak habis itu sebagai hal yang wajar”
“Kurangajur! Kita aja mau makan susah. Mereka seenak udelnya sendiri membuang-buang makanan!”
“sudahlah, mas. Yang diatas memang akan selalu memandang kecil apa-apa yang di bawahnya”
“tumben kamu jadi bijak begini”
“hehe. Aku dapat kata-kata barusan dari acara TV yang nggak sengaja aku tonton di warung mbok darni, mas”
“kesukaanmu sekarang pergi ke warung itu to”
“soalnya Cuma warung itu yang masih menyediakan bon untuk kita, mas”
“oh, bagus kalau begitu”

            Keesokan harinya, Sarjo kembali berkeliling untuk bekerja. Benar sekali. Pekerjaannya adalah mendulang sampah. Dengan kata yang lebih simpel, pemulung. Dia memulung sambil mencari makanan seperti biasa. Tapi kesepertibiasaannya itu tidak terjadi pada hari ini. Kini Sarjo mulai sedikit lebih berani untuk mencari makanan. Dahulu dia hanya berani mengoreknya di tempat sampah. Sekarang dia ganti dengan menanti di sebuah warung makan. Sarjo berdiri sambil menantikan sesuatu. Tak berselang lama, muncul orang yang hendak membuang makanan ke tempat sampah.

“BERHENTI!” teriak Sarjo. Sontak pria itu kaget karena merasa diteriaki. Saat ditatap siapa gerangan orang yang meneriakinya. Dia terperanjat ketika tahu bahwa dia adalah seorang pemulung lusuh berbaju keruh. Bajunya dipenuhi tambalan wadah ciki, rambutnya dekil, kulitnya begitu kentara belang hitam dan putih. Setelah ditelaah, ternyata panu.
“Masukin sini!” kata Sarjo sambil menengadahkan kantong kreseknya “makanan kok di buang-buang! Sayang!” katanya sambil memaki.
Pria penjual itu hanya menatap Sarjo dengan muka muak. Sambil memasukkan sisa makanan itu ke kantong kreseknya tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tapi sepotong kalimat.
“risih tau nggak”

            Sarjo tak peduli dan kembali berjalan ke tempat lain. Dia memulung sambil matanya sibuk mengintai di berbagai tempat di sekitarnya. Logatnya seperti seorang detektif yang mencari buronan. Berusaha mencari orang-orang yang ketahuan olehnya hendak membuang makanan sembarangan.

            Ketika didapatinya orang yang membuang makanan. Sarjo langsung melabrak tanpa kenal bini.

“SETOP!”
“WOI BOCAH. ITU MAKANAN! KENAPA DI BUANG-BUANG”
“SEMPRUL. SINI MASUKIN MAKANNYA KESINI!”
“MAKANYA KALAU MAKAN SECUKUPNYA AJA!”
“MENTANG-MENTANG BANYAK MAKANAN TERUS BERBUAT SEENAKNYA SAMA MAKANAN”
“KALAU KAMU YANG DIBUANG MAKANAN APA MAU HAHH!”
“GUA AJA MAKAN SAMPAH SAMPAI HABIS NGGAK BERSISA! KAMU MAKAN YANG ENAK MALAH SEENAKNYA DI BUANG. ANJ***!”
Sarjo terus mencerocos, mencaci, memaki, dan mencerca orang-orang yang ketahuan oleh mata di kepalanya sendiri, jika hendak membuang makanan itu di sembarangan tempat.

Karena sikapnya itu yang begitu berani. hari itu pula Sarjo mendapatkan makanan sekantong kresek penuh. Lalu sarjo pulang dengan ekspresi wajah gembira ke keluarganya. Anak-anak yang tahu ayahnya sudah pulang segera mengerubunginya bagai ayam di kasih dedak.

“papa pulang! Papa pulang!” Sahut si sulung.
“yayy... bisa makan sampah lagi..” sahut si bungsu.
“hus jangan ngomong gitu. Bilangnya makanan sampah. Jangan Cuma sampah tok” sahut si pertengahan. Sarjo adalah seorang bapak yang mempunyai empat anak. Sekarang tinggal tiga. nama anaknya pun dia rahasiakan agar tidak diketahui publik. Biarlah namanya saja yang diketahui, asalkan keluarganya yang lain tetap terjaga identitasnya.
“tenang-tenang. Sekarang ayah nggak akan ngasih ke kalian makanan sampah lagi, apalagi sampah. Ini adalah makanan prasampah. huahahahaha” kata Sarjo enteng. Dia tahu prasampah adalah sebelum sampah. Itu adalah pelajaran waktu SD yang masih dia ingat sampai sekarang.
“bapak dapetinnya sebelum makanannya nyemplung di tempat sampah. Jadi aman dari berbagai bakteri yang ada. huahahahaha.....” kata Sarjo amat girang.
“tapi kan pak. Kreseknya kan dari kresek bekas habis mulung bapak” sahut anak sulung yang sedikit pintar menilik kondisi saat itu.
“huahahaha... padahal kamu nggak sekolah tapi masih bisa mikir juga huahahaha...”
“huss... ayah. Jangan ngomong kayak gitu ke anak kita” kata sang istri, agak marah. Karena dia juga tak bisa menyangkal akan kebenaran omongan Sang Sarjo.
“iya iya. Tenang. besok bapak akan pakai kardus dari toko biar agak steril”
“horeee...” sahut anak-anaknya kegirangan. Lalu Sarjo menuangkan makanan campur aduk itu ke dalam sebuah piring besar yang juga dia pungut dari tempat sampah. Lalu mereka makan dengan lahapnya. Rasanya sudah lebih mendingan. Karena makanan ini belum menyentuh tempat sampah.

            Esok harinya seperti biasa. Sarjo mengumpulkan makan sisa dari berbagai tempat dan menaruhnya ke dalam kardus yang sudah dia siapkan. Sarjo mengumpulkannya sampai kardus itu tidak kuat lagi untuk menampung. Padahal masih banyak orang-orang yang dia temui membuang makananya. Namun karena sudah banyaknya makanan sisa yang dia kumpulkan. Dia pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil berlalu menuju rumah.

            Lama-lama Sarjo semakin gregetan dibuatnya. Dia tahu dia miskin. Tapi dia merasa terhina karena banyaknya orang-orang yang membuang makanan tanpa segan, tanpa gentar, tanpa khawatir, tanpa grogi, dan tanpa merasa bersalah. Sarjo marah. Dia kesal. Dia memberongsang. Mukanya merah padam tiap kali melihat orang yang sengaja membuang makanan tepat di depannya saat dia mulung. Alhasil tujuannya sekarang bukanlah menjadi pengepul makanan sisa. Tapi lebih berani lagi. dia kini menjadi seperti seorang polisi keamanan makanan. Karena selalu menceramahi tiap orang yang ketahuan olehnya sedang membuang makanan.

“PERASAAN KAMU ITU SEKOLAH! APA DISANA NGGAK DI AJARI CARA MEMPERLAKUKAN MAKANAN A*U” maki Sarjo. Kepada seorang ibu-ibu gembul yang sedang membuang sisa makanan yang sudah di bungkus kresek putih ke tumpukan sampah depan rumahnya. Sarjo mengamatinya dan langsung mengetahuinya. Karena naluri pencari makanannya sudah sangat peka dengan permasalahan yang menyangkut hal ini.
orang yang diledeknya membantah dan terpancing emosinya.
“KURANGTAJIR! TERSERAH SAYA DONG. MAKAN-MAKANAN SAYA. KENAPA SANA YANG SEWOT!”
“OOH.... JADI KAYAK GINI TOH DIDIKAN ANAK BERPENDIDIKAN ITU. MEMANG MATERI KAMU LEBIH DARI KAMI. TAPI SOAL ROHANI KAMI  LEBIH MANUSIAWI. DASAR MANUSIA SETAN!”
“APA LO BILANG!!!”
“SETAN SUKA MENGHAMBUR-HAMBURKAN MAKANAN. SAYA YANG NGGAK TAMAT SD AJA TAU!”

Lalu ibu-ibu itu semakin marah dan meneriakinya sebagai orang gila. Dan di panggillah sang suami untuk menghadapnya. Seorang yang berotot keluar dengan rupa sangar. Sarjo yang sudah sering merasakan aura kehancuran segera cabut dari situ dengan berlari kencang. Mungkin kecepatannya setara dengan kecepatan Bolt. Ya, mungkin tidak.

Sumber gambar:

Jepara, 2 Juni 2017

            MHA