softness

Selamat datang di blogku...

Hadits

Seungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah/lelah dalam mencari rezeki yang halal.(HR.Ad-Dailami)

Tafakkur

tafakkur berarti memikirkan atau mengamati.

Road

pemandangan yang indah membantu pikiran kita menjadi indah

Al-Qur'an

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan, tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang-orang yang sabar, dan tiada yang dianugerahi taufik itu selain orang yang mempunyai bagian besar dalam kebaikan. (Q.S. 41: 35-36)

Himbauan

jangan marah, bagimu surga

Rabu, 27 November 2019

Kumpulan Cerpen; Datar



            “Apa yang membedakan hari ini dengan hari lalu?” Tanya Budiawan.
“kemarin hari rabu, sekarang hari kamis?” Jawabku.
“ya, tapi bukan Cuma itu cuy?” dia Nampak girang, ingin mengungkapkan sesuatu yang selama ini tertahan semenjam satu jam yang lalu. Setidaknya aku sudah menebak isi kepalanya.
“kemarin cintaku di terima! Gila ga sih? Padahal aku Cuma keceplosan!”
Aku mencoba ikut berbahagia, memberikan setidaknya senyum renyah sebagai bentuk apresiasi atas capaian yang dia dapat. Inilah yang menjadi jawaban mengapa dia mentraktirku mie ayam siang ini.
“Dan ternyata selama ini dia juga memendam rasa sama aku! Aduh, jika saja aku lebih cepat menyatakan cintaku…”
well, lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”
“nanti hari sabtu cuy, aku ada first date bareng dia, bakal aku baca berbagai tutorial kencan agar kesan pertamaku baik ke dia”
“semoga sukses, tapi jangan sampe kelewat batas ya”
“tenang saja bor, pacaranku lebih mengarah untuk menjaga dia, kencan kami ini bakalan syar’i kok”
***

“mas, ingin cendol dawet?”
“yah, saya beli satu”
Dengan ekpresi senang pedagang itu membuatkan ku satu gelas cendol yang kupesan. Membuatnya dengan lincah, menandakan pengalamannya dalam membuat minuman cendol dawet. Segelas cendol dawet tersaji di hadapanku.
“terimakasih”
“siap mas”

Mungkin dia sudah menjalani pekerjaan ini dengan sangat baik. Sambil memakan cendol aku masih kepikiran tentang apa yang aku hadapi saat ini. Tak ada rasa, tak berasa, hambar, bahkan cendol dawet ini saja tak bisa kurasakan setengah mati, padahal lidahku ini normal. Tak ada rasa, bagaik meminum air putih.

“ada apa mas, apa rasanya kurang enak?” rupanya bapak itu melihat raut mukaku yang masam
“tidak kok, rasanya enak” aku harus menipunya untuk mengenmabalikan senyumnya yang hilang lima detik yang lalu.

            Melihat orang yang sedang tersandung. Melihat seorang yang menangis, anak-anak yang nakal dan membully seorang anak yang lain. semua itu terkesan biasa di mataku. Semua seakan tidak ada artinya, tidak ada hablumnya. Bahkan ketika diriku sedang bergurau dengan orang lain. aku tidak menemukan sensasi tawa yang ada dalam setiap jokes nya. Sama sekali tidak.

“tadi sepertinya kamu memaksakan tawamu, apakah guyonan kami tadi segaring itu?” tanya rasya, dia sangat teliti sampai bisa merasakan ekspresi yang telah kusembunyikan
“tidak. Guyonan kalian sangat lucu, mengalahkn juara 1 stand up comedy”
“tapi, kenapa kamu tidak tertawa seperti biasanya? Apakah kamu memiliki masalah yang ingin kamu sharing denganku disini” pintanya sekali lagi. Dia memang orang yang sangat bisa membaca orang lain.
“tidak ada, aku tidak memiliki masalah, ataupun beban yang harus dipikirkan hingga otakku stress, tapi…”
Dia mendekatkan kepalanya ke arahku
“aku mungkin sudah tidak bisa disebut manusia lagi”
Rasya memiringkan kepalanya, kebingungan menjabarkan kata-kataku.

            Seekor kucing yang kehilangan buntutnya, kulitnya mengelupas dan bulunya mulai rontok, seorang yang kecipratan genangan  air saat berjalan di trotoar, seorang yang kesandung, seorang yang sedang mengupil, seorang yang sedang membasuh keringat ketek, seorang yang sedang menggaruk-garuk Joni kemudian di cium, seorang yang sedang tertimpuk baseball, seorang yang sedang terkena hantaman bola di kepala. Semua tertawa, semua bisa merasakan sakitnya, malunya, lucunya, keindahannya. Namun aku lain. mengapa sekarang aku tidak merasakan hal itu?

“aneh” pikirku, seandainya ini diriku yang dulu, sudah barang tentu aku akan merasa kasihan, atau mungkin tertawa terbahak, atau menolong, atau mungkin setidaknya ikut berbela sungkawa
“ada apa denganku?”
Perasaan yang hilang, rasa empati yang sirna, semua terhempas entah kemana. Dimana aku harus mencari? Rasa yang sungguh datar, berbeda dengan diriku dulu. Waktu kecil bahkan aku bisa membedakan pola warna dari tiap agenda yang biasa kujalani, penuh warna dan mudah untuk di ingat. Apakah ini karena pola hidup? Tekanan hidup yang menekan sehingga lantas membuatku masa bodoh dan kehilangan tekanan itu? tekanan yang menyesakkan hati. Sebuah intens yang kadangkala membuatku khawatir sampai tidak bisa tidur pada malam hari. Namun sekarang segala tekanan itu serasa biasa, segala keadaan itu serasa ampas. Tak penting.

“kenapa kamu tidak mau membantunya? Apakah kamu hanya mau diam disana dan melihat” tanya seorang ibu-ibu ketika di hadapanku terjadi kecelakaan beruntun.
Lamunanku terbuyar. Orang-orang banyak berhamburan ke lokasi kejadian. Membantu mereka yang terjepit, mengevakuasi para korban yang luka-luka. Mengkondisikan lokasi yang kacau balau. Mengatur jalan raya agar tidak macet parah.

“ketika ada kejadian seperti itu, kamu masih bisa-bisanya diam?”
Aku mengangguk
“Dimana hati nuranimu? Dimana empatimu? Dimana sisi kemanusiaanmu!?”
“sudah hilang, dan yang menghilangkannya tak lain manusia itu sendiri”


Surakarta, 28 November 2019

M         H         A

Rabu, 06 November 2019

Kumpulan Cerpen ; 21



Waktu semakin menipis, Raga semakin tergerus. Tak terasa, tak berasa, tak kuasa, merasa asa ini tak bisa lagi di perjuangkan. Menyalakan lentera, mengusir kegelapan yang seketika lenyap tersapu cahaya kuning kemerahan. Jalan yang ditempuh tak selamanya benar, yang ada hanyalah arah yang sebenarnya sudah di rancang. Namun sulit untuk bisa berjalan pada sebongkah aspal kecil yang tertera di depan, apakah ini jalan yang benar? karena jalan yang benar bukan berarti itu selalu sempit, kadang luas, hanya saja kita belum menemukannya.

“gimana? Motor lu bisa lewat ga?”
“mustahil, kalaupun bisa, itupun pasti esoknya motorku harus di servis karena jalanan yang begitu terjal”
“gapapa, ketimbang ga sampek tujuan, lagian lo harus kuliah besok. Masalah servis motor paling Cuma nunggu ngga ada tiga jam, kalo ga rame” Jelas Sudirjo.

Aku mengangguk setuju. Besok ada kuliah, dan aku harus menghadiri sesi itu untuk partisipasi kehadiran 75 persen. Ngga masuk sekali maka pupus sudah, mau tak mau harus mengulang lagi di semester selanjutnya.

            Aku beranikan diri melawati jalan itu, sebuah jalan yang harusnya tengah di perbaiki. Tak ada jalan lain selain jalan itu. padahal kedua orang tuaku sudah menyuruh untuk izin saja dan menghendaki agar berangkat kuliah pekan depan.

“tidak bisa, aku ingin menggali ilmu di kuliah, aku yakin itu masih worth it, dan masih diperlukan di dunia ini, tinggal bagaimana cara kita mengembangkan dan mempraktekkan ilmu itu di kehidupan nyata” jawabku seketika membantah mereka yang bilang kuliah itu buang-buang waktu, meski pada dasarnya memang iya. Karena alasan terselubungku adalah agar tidak alpha untuk yang ke empat kalinya.

            Hari berganti. Motorku benar-benar K.O. dan harus menjalani masa rehabilitasi selama empat jam di bengkel. Akhirnya memesan ojek online, sampai di kelas tepat waktu. Menyapa beberapa teman kemudian menikmati perkuliahan dengan seksama.

“ada yang janggal. Tak biasanya kamu kesini tepat waktu”
“biasanya kamu ke kunci di luar kelas kan. hebat banget bisa datang paling pagi di kelas?”
mereka tersenyum sinis, berusaha mengejek denga kata-kata santuy yang menghujam tajam ke dalam jiwa.
***


            Kelas selesai. Semua kembali seperti semula. Tersisa waktu setengah jam sampai motorku selesai di reparasi.

“mas, ini motormu sering kamu ajak trill2an to?” tanya bang Tubeless
“ndak mas. Cuma kemarin aja agak kurang beruntung harus lewatin jalan jelek”
“soalnya ini motor tua mas. Kalau ndak di rawat baik-baik bakal mati kayak kentut”
“iya mas saya tau”
Mulai saat itu aku paham bahwa benda harus di rawat dengan sebaik baiknya.
***


            Manusia. Begitulah kata orang-orang. mereka selalu mengingat hidup tanpa mengingat mati. Selalu merasa nikmat kadang merasa sakit. Membayangkan jika segala rasa sakit yang di dapat lebih perih dari orang lain. Tanpa peduli rasa sakit orang lain. dan begitu abai dengan nikmat yang selalu di terima setiap hari. Kesadaran itu berdampak pada tindakan, yang di olah dalam persepsi bawah sadar. Itu menjadi pokok dasar tolak ukur orang itu sukses atau tidak.

            Seseorang nongkrong di kolong jembatan. Para kere itu, mengapa mereka bisa menetap disana? Para politikus, para insinyur, para anggota dewan yang memiliki berbagai macam kekayaan. Mereka juga berposisi dan nongkrong di Gedung-gedung mewah. Orang-orang pintar, orang-orang goblok, orang terpelajar, maupun yang kurang ajar. Mereka semua nongkrong di tempat masing-masing. Di tempat-tempat yang telah di tentukan. Di sesuaikan dengan adil menurut dengan kapasitasnya. Namun banyak orang menganggap nya tidak adil. Lantas kenapa?

Mereka yang miskin membelot dan gusar. Merasa marah atas keadaan mereka yang serba kekurangan. Mereka yang kurang ajar frustasi. Merasa tersakiti dan hidup serasa seperti amplas kopling. Para terpelajar sambat, merasa hidupnya monoton, taka da gairah, dan ujung-ujungnya hanya bisa jadi pesuruh kerja. Para politikus, mereka nyaman, Cuma segala macam rasa khawatir selalu hinggap di dada mereka akibat tekanan-tekanan dari para invisible hand.

            Serasa tidak ada sama sekali nikmat. Seakan nikmat begitu mahal dirasakan di kehidupan sehari-hari. Seakan nikmat itu barang langka yang jarang di dapat semua orang. padahal mereka bisa saja merasakan nikmat itu di sekitar. Jika mereka sadar bahwa hanya dengan menghirup dan menghembuskan nafas saja itu merupakan salah satu nikmat. Hanya saja mereka tidak menyadarinya.

            Mereka hanya terlambat menyadari. Ketika mereka sadar mereka baru tahu kalau itu sudah terlambat. Terlambat akan satu hal yang membuat mereka berpaling dari kenyataan. Menuju dalam kesemuan yang mereka anggap itu nyata. Sesuatu yang melalaikan, bahkan membuat diri tak kuasa berpaling darinya.

“akan kuberi tahu apa yang Namanya penderitaan”
“aku sudah sering mengalaminya”
“seberapa sakit itu?”
“tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Tapi aku yakin setiap orang pasti memiliki deritanya masing-masing. Itulah cobaan, itulah pembelajaran. Yang kutahu itu membuatku semakin dewasa dan tegar menjalani hidup”
“mungkinkah begitu? Apa kau bisa merasakan mereka yang dilibas oleh berbagai penderitaan tiada akhir”
“aku bisa membayangkannya. Aku juga banyak melihatnya, mendengar ceritanya, mendengar jeritannya, rintihannya, melihat peluhnya, sakitnya, semua”

Melihat realitas sekarang begitu pelik. Tak semua kebaikan masuk hanya dengan di sampaikan. Tampilan ternyata sangat berpengaruh. Kalian bisa membuktikan itu melalui perbuatan. Tapi perbuatan itu tak melulu bisa dilakukan setiap waktu.

Ini kesekian kalinya aku menemukan diri berbalut amarah. Ingin rasanya melampiaskan tapi diri berusaha agar tetap sabar. Segala tanggungan yang luar biasa. Terus menderu bagai peluru yang menyasar ke berbagai tempat.

Beberapa hari menjelang. Memang seperti tidak ada penyelesaian yang berarti. Sebenarnya aku tahu mengapa masalah ini bisa terjadi. Bahkan aku tahu cara penangan yang sekiranya tepat untuk mengatasi segala macam problem yang menderu. Hanya saja tubuh ini tak sepakat dengan apa yang ada dalam pikiranku, walhasil dampak dan perbuatan berbeda dari apa yang di hasilkan oleh pikiran

“itu membuatku frustasi. Pantas saja katingku dulu sampai keluar. Padahal kutahu dia sedang mendapatkan tempat yang nyaman. Menghilang seperti di telan bumi”
“yah, aku juga tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk mendapatkan sesuatu yang sebisa mungkin itu akan menghasilkan dampak yang besar”
“kau pikir apa yang membuat sebuah organisasi, komunitas atau kumpulan itu bubar dan tak membekas”
“karena mereka tak menghasilkan output. Kalaupun ada itu tak seberapa. Atau mungkin itu adalah output yang dipaksakan”
“hmm, seseorang yang tidak melihat hasil apapun disitu. Namun disitu aku melihat hasil yang banyak. Hanya saja disitu juga terjadi banyak penyimpangan. Kenapa?”
“bukankah dirimu juga? Tidak bisa menjaga yang harusnya kau jaga?”
“memang benar. aku tidak bisa mengelaknya lagi. Itu sudah terjadi di depan mataku dan aku tahu itu semua bermula dari diri ini”
“lantas apa yang membuatmu marah ketika itu salahmu sendiri?”
“aku marah pada diriku sendiri”



Surakarta, 6 November 2019

M         H         A

Selasa, 05 November 2019

Kumpulan Cerpen ; SADTO



            Terlihat ambigu, berbagai hal buruk mulai berdatangan satu demi satu. Tak hanya berdampak dari diri Sadto sendiri, namun juga berdampak buruk bagi orang lain. Apakah karena manusia itu makhluk sosial? Sehingga dampak buruk itu bisa terbagi, menyatu, berpadu, dan berkesinambungan bagai domino.

            Sadto terlihat lesu, lemas, dan lelah dengan apa yang terjadi. Sudah berapa banyak orang yang dikecewakan. Awalnya Sadto berpikir jika kesialan itu akan mengena pada diri sendiri, nyatanya hal itu berdampak juga pada orang-orang yang ada di sekililingnya. Sadto tidak ingin hal ini terus berlanjut. Membiarkan orang tak bersalah terkena imbas atas tingkah laku Sadto.
“Mengapa kami saling terhubung? Apa yang membuat segala tindakanku berefek pula pada orang lain?” Sadto tak habis pikir. Dia pandang anak-anak sedang berlari mengejar layangan putus. Entah apa yang merasuki jiwa anak-anak itu sehingga membuat mereka lari tunggang langgang hanya untuk mendapatkan layangan putus seharga seribu rupiah.

            Tak heran Sadto saat ini tengah di jauhi banyak orang. Menghindari kesialan yang kerap kali didapatkan ketika berada di dekat Sadto. Sadto bukannya marah justru malah senang, karena korban kesialannya akan berkurang. Menerima kondisi ini merupakan pilihan bijak. Tidak melibatkan orang lain dalam masalah adalah pilihan terbaik yang bisa Sadto lakukan.
“Sadto kurang ajar, lain kali aku ngga mau sekelompok sama kamu”
Sadto hanya bisa menunduk tak berdaya, pasrah menerima lontaran kata pedas atas ketidak bertanggungjawabannya. Cacian dan cibiran memang layak untuk Sadto dapatkan.
“Gara-gara kamu nilai kami jadi jelek tau nggak, kalau mau males-malesan jangan sampe yang lain kena imbasnya dong. Simpan masalahmu sendiri”
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Sadto yang masih terduduk kaku disitu. Termenung menatap layar smartphone untuk mendapatkan sinyal wifi. Beberapa rekannya yang lain juga Nampak tak ingin mendekati Sadto.
***

            Sampailah Sato di tempat yang sepi.

“rasanya aku ingin sekali menghindari orang-orang. Menentramkan diri dalam kesendirian batin, ditemani dentuman music mellow, bagai seorang ampas yang telah kehilangan sari-sari kehidupannya”

Pepohonan rimbun kala itu membawa beberapa nyamuk yang kemudian menggigit Sadto. Sadto tak peduli lekas mempersilakan mereka meminum darahnya. Dia tak ingin mencari gara-gara dengan kerumunan nyamuk itu, apalagi untuk fokus menamplek para nyamuk itu gara mati berdarah-darah di telapak tangan. Sadto hanya pasrah saja sambil menyesali perbuatannya.

            Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Sadto masih berada disitu. Data Ponsel ia matikan untuk menghilangkan keberadaannya dari orang-orang. Dia tidak ingin diganggu pada saat ini. Meskipun masih ada banyak tugas yang menanti.

Lantas beberapa ada yang mencoba menelfonnya dengan menggunakan panggilan pulsa. Dahi Sato berkerut. Mengapa dia tidak dibiarkan untuk sendiri untuk beberapa saat.

What?

Dia membiarkan Smartphonenya berdering sendiri untuk beberapa lama. menunggu sang penelpon bosan dengan panggilannya. Setelah lima kali barulah panggilan itu berhenti. Suasana tenang kembali di dapatkan oleh Sato.

“sepertinya aku harus membangun kembali bangunan yang telah runtuh”

Sadto berfikir keras untuk bisa kembali menemukan semangatnya. Menemukan alasan yang mendasari tindakannya. Menemukan cahaya terang, yang selama ini hilang dari dalam hatinya. Dia ingin bangkit, namun tidak tahu untuk apa. Dia ingin berjuang, namun tidak tahu apa dan siapa yang harus di perjuangkan. Setelah melihat realita Sadto mulai paham, sedikit-demi sedikit itu mengikis bangunan yang telah lama di buat. Sadto menjadi luntur, lembek bagai permen karet yang di dudul sekali langsung berubah bentuk. Dia tidak memiliki pegangan yang kuat untuk melanjutkan apa yang selama ini di perjuangkan. Hingga akhirnya dia berkubang dalam lubang nestapa yang cukup dalam, dan pada saat itu orang-orang justru malah menambah bebannya dengan sampah-sampah yang di buang kelubang itu.

“jika dibiarkan maka bangunan yang selama ini kubangun akan runtuh semua, tak berbekas, rata dengan tanah”

Sudah berapa banyak kekecewaan. Dan itu dia dapatkan hanya dalam kurun waktu yang singkat. Namun yang membuatnya bingung adalah beberapa hal yang itu berimbas pada… pada…

“aku tak ingin membahasa itu. setiap orang memiliki penilaian dan tujuannya sendiri. Diri sendiri, eksistensi diri, merupakan tolak ukur nomor satu yang harus wajib terpenuhi. Sifat ke Akuan, ke angkuhan, kedigdayaan. ketika merasa dirugikan jelas diri akan berjuang membela dan mempertahankan diri, melampiaskan ke mereka yang bersalah, menyalahkan mereka yang tidak benar, mengutuk mereka yang menganggu kebebasannya, mengganggu eksistensinya”

“banyak orang berpikir asalkan diri mereka tidak terusik maka semua itu baik. yang jelas patokan utama adalah diri sendiri. Kepentingan diri jauh lebih baik dari pada orang lain. meski secara sadar mereka menolak argument itu, namun alam bawah sadar mereka menindak hal itu ”

Kesimpulan berani yang bisa Sadto kemukakan saat ini. Namun semua itu ada benarnya. Dia masih belum bisa membedakan, sebenarnya bisa, Cuma masih belum berani memastikan itu benar atau tidak. Bagaimana bekerja dengan hati dan bekerja hanya untuk kepentingan diri. Jika itu untuk kepentingan banyak orang mengapa tidak ada rasa keterikatan ketika menyelesaikan suatu masalah? Hanya sebatas menunggu dan membiarkan orang lain bekerja tanpa peduli dengan kondisi yang bekerja?

“itulah yang selama ini menjadi patokanku menilai kinerja mereka atas dasar kebersamaan atau kepentingan diri”

            Paksaan memang jalan terbaik untuk menimbulkan rasa tanggung jawab pada jiwa manusia. Tak ada pilihan lain selain mengikuti atau ter cap sebagai seorang yang tidak kompeten yang nantinya bakal di nyinyir oleh banyak orang.

“apakah hal itu termasuk dari kebersamaan kerja? Apakah itu yang Namanya menjalin hubungan baik antar sesama manusia? Menyalahkan atas dasar tanggung jawab tanpa peduli subjek yang melaksanakan tanggung jawab?  bahkan selama ini dia hanya melihat dari kejauhan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mau tahu asalkan kerjaan berjalan dengan baik, baru mau tahu ketika semua sudah terlambat untuk di ubah lagi”
“Statementku barusan tidak lain hanyalah pembelaan belaka. Aku tak bisa memandang secara objektif jika orang yang menjadi objek masalah adalah aku”

Memang fitrah manusia tidak ingin disalahkan. Sadto paham itu. dia tersenyum dan kembali menata pola pikirnya. Melupakan segala bentuk hambatan yang selama ini menerpa. Fokus utama Sadto adalah kembali membangun bangunan yang telah runtuh. Bukan menyalahkan mereka yang menghancurkan bangunan itu.

            Sadto berdiri. Malam sudah terlalu larut. Lampu-lampu jalan menyala semenjak tadi. Nyamuk-nyamuk menghilang karena kekenyangan menyerap darah dari Sadto. Sadto berkemas untuk kembali ke kosan. Tidak ingin berlama-lama melakukan uji nyali disitu ditemani dengan setan-setan alas.





Surakarta, November 5, 2019


M         H         A

Rabu, 23 Oktober 2019

Kumpulan Cerpen ; Panas



“bukankah ini sudah musim penghujan ayah? Mengapa disini masih belum turun hujan?”
“kita tunggu saja nak, mungkin besok, atau beberapa hari lagi hujan pasti datang ke kota ini”
“aku iri dengan temanku yang ada di kota sebelah. Mereka sudah hujan-hujanan, berlarian sambil bermain air, sedangkan disini, panasnya bukan main. Bahkan untuk sekedar keluar saja rasanya seperti masuk ke dalam panggangan” keluh sang anak
Ayah itu tersenyum pada anaknya yang sedang sambat. Mengelus kepalanya sambil berujar. “Tuhan ingin menunjukkan sesuatu atas kejadian yang kita alami”
“sesuatu seperti apa?” kepo sang anak
“sesuatu pembelajaran yang bisa di petik hikmahnya bagi orang-orang yang berpikir”
“apakah panas ini salah satu bentuk kuasa Tuhan untuk menunjukkan pembelajaran kepada manusia? Aku masih bingung pelajaran apa yang bisa aku petik dari kejadian ini. Bukankah panas ini malah menyiksa? Hanya sekedar untuk keluar dan bermain saja aku tidak berani”
Sang ayah menggendong anak mungilnya. Mengajak untuk berjalan berkeliling. membawa sebuah payung untuk menepis sengatan panas matahari.
“mau kemana kita yah?” tanya sang anak
“jalan-jalan” penjelasan ayah hanya sebatas itu. mengenakan sandal kemudian pergi keluar.
***


“kita sudah sampai” kata ayah
“sungai?”
“ya”
“disini tidak ada air. Airnya kering kerontang”
“benar”
“ini karena panas. Musim panas yang begitu lama sehingga membuat air mengering”
“betul”
“untuk apa kita kesini?”
“melihat sungai”
“sungai yang kering?”
“benar. mari menuju ke tempat lain” sang ayah kembali berjalan ke tempat lain.
***


            “kita sudah sampai”
“bendungan? Kenapa kita kesini”
“apa yang kamu lihat pada bendungan ini nak?”
“kumpulan air, kumpulan air yang sangat banyak”
“yap”
“tapi air disini sudah menyusut. Dulu aku pernah datang kesini airnya masih segitu” sambil menunjuk parameter air yang ada di tembok gerbang pintu bendungan.
“tapi sekarang airnya sudah surut hingga setengahnya”
“iya, bahkan air sebanyak ini hampir mengering karena panas”
Sang ayah mengangguk atas perkataan anaknya.
“apakah ini yang ingin Tuhan tunjukkan kepada kita? Wabah Kekeringan?”
Sang ayah tertawa renyah kemudian menepuk-nepuk kepala anaknya dengan lembut.
“memang kebanyakan dari kita akan menganggap hal ini sebagai cobaan atau musibah, namun lihatlah baik-baik, kamu pasti akan mempelajari sesuatu”
Sang anak menjadi semakin penasaran. Sang ayah kembali berjalan menuju ke suatu tempat.
***


            “kita sudah sampai”
“kenapa ayah membawaku kemari? Bukankah kita tidak kekurangan air dirumah”
“benar”
“mengapa ayah membawaku ke tempat pengantrian air bersih?”
“lihatlah wajah-wajah mereka”
“mereka sangat letih dan kecapaian”
“bisa kamu gambarkan situasinya saat ini”
“antrian yang Panjang, dengan orang berbondong-bondong membawa jirigen untuk bisa mendapatkan suplai air dari truk itu”
Ayah mengangguk “lalu setelah mereka mengantri dan mendapatkan air. Apa yang kamu lihat dari diri mereka?”
“perasaan gembira karena mendapatkan air”
“apakah kamu tahu darimana air itu di dapat”
“tidak tahu, apakah dari waduk itu? atau dari kota sebelah?”
“ya, kedua-duanya benar”
“kenapa ayah repot-repot mau menunjukkan hal-hal itu kepadaku? Bukankah aku seharusnya sudah tahu mengenai hal-hal simpel semacam ini?”
“tapi tidak semua orang bisa memetik pelajaran dari hal umrah yang mereka ketahui, itulah pentingnya manusia bepikir atas setiap kejadian”
“Pelajaran? Dari Tuhan?”
Ayah mengangguk. Meletakkan anaknya di sebuah bangku teduh tertutupi oleh pohon rindang. Matahari semakin condong ke barat, waktu magrib segera tiba.
“coba jelaskan apa yang kamu lihat selama kita keluar dari rumah”
“sungai yang kering, kemudian waduk yang masih ada airnya meski sudah menyusut, kemudian orang yang mengantri untuk mendapatkan air”
“menurut kamu, mengapa sungai menjadi kering?”
“karena musim panas mengeringkan air yang ada di dalam sungai”
“lantas walaupun airnya berkurang setengah, mengapa waduk itu masih memiliki air ketika musim kemarau?”
“karena ada pintu penahan agar air itu tidak mengalir ke laut. Sehingga kita bisa menyimpan air yang ada di dalamnya”
“menurutmu mengapa mereka kekurangan air?”
“mungkin sumur di rumah mereka sudah kering, atau mereka tidak menyimpan air”
“bagus, ini adalah salah satu hikmah dari berbagai macam pelajaran yang bisa kamu ambil dari musim panas ini. Bisa kamu simpulkan sebelum ayahmu menjelaskannya?”
“manusia harus menyimpan air, untuk persiapan agar tidak kekurangan air saat musim panas?”
“itu topik besarnya. Ingatlah nak. Tak semua peristiwa itu merugikan manusia, tergantung manusia mengamatinya dari sudut pandang mana. Jika kamu adalah seorang yang selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, pasti ada banyak hikmah yang mampu kamu pelajari dari berbagai macam peristiwa sepelik apapun”

Sang anak menangguk

“jadi jangan mengeluh soal panas. Mungkin memang Tuhan sedang menguji kita. Tapi di balik itu hendaknya kita bisa memetik pelajaran di dalamnya”

Sang anak kembali menangguk

“manusia diajarkan untuk lebih menghargai air, belajar untuk menggunakannya secara optimal, cara pendistribusiannya, memikirkan cara penyimpanannya, pengalirannya entah itu untuk kebutuhan lading atau untuk kebutuhan rumah tangga. Pengontrolan air dibutuhkan untuk menghadapi musim kemarau. Begitupun ladang juga mempunyai pari untuk penyimpanan stok makanan di masa mendatang. Kejadian inilah yang membuat manusia sadar pentingnya pengontrolan, pendistribusian, stok persediaan serta berupaya untuk menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien”

Sang anak mengangguk riang

“bagus, sekarang coba kamu pikirkan, kira-kira pelajaran apa lagi yang bisa kamu petik dari musim panas ini?”



Surakarta, 23 Oktober 2019

M         H         A

Jumat, 18 Oktober 2019

Kumpulan Cerpen ; Telatdan



“Selamat malam, dengan bapak Subagyon?”
“Ya saya disini, ada yang bisa saya bantu?”
“maaf menganggu waktu istirahat Bapak, saya dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa tiga murid yang bersekolah di tempat bapak telah melakukan pencurian berencana di salah satu mesin ATM Progolimo”
“ah masa’, mungkin mereka cuma ngaku-ngaku dari sekolah kami” Tepis Pak Bagyo, tidak percaya jika murid-muridnya telah melakukan pencurian, apalagi pencurian mesin ATM.
“awalnya kami juga berbikir seperti itu pak. namun setelah kami selidiki, mereka benar-benar berasal dari sekolah bapak” Jelas Pak Polisi.
“saya masih tetap ngga percaya. Yang saya tahu murid-murid di sekolah saya itu soleh-soleh, disiplin, rajin belajar dan suka menabung di wc”
“kalau begitu saya akan mengirimkan foto-foto pelaku agar bapak bisa percaya”
“oh silakan-silakan” tawar pak Bagyo.
Beberapa detik kemudian, WA pak Bagyo berdering seru, melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh pak polisi. Tiga orang yang sedang di bekuk di kantor polisi.

Telfon kembali di koneksikan…

“ah, bapak ini, pintar sekali editing foto ahhaha” tawa Pak Bagyo lewat saluran telponnya. Pak polisi hanya bisa tersenyum bingung mendengar tanggapan yang dilontarkan pak Subagyon.
 “Ini pasti foto editan kan? ngga mungkin mereka itu si Adrian, faras, dan kepin. Mereka bertiga adalah aikon sekolah, bintang sekolah yang selalu mengisi posisi rinking tiga teratas paralel, menjadi dambaan setiap kaum hawa entah di internal maupun di eksternal sekolah. Masak orang serajin, sedisiplin dan sesoleh mereka bisa tega melakukan pencurian keji, yang agama kami saja melarang melakukannya. Jadi gini, bapak mengaku saja, itu foto editan kan?”

Pak polisi masih dengan nada tenang mencoba meyakinkan pak Subagyon “kalau bapak tidak percaya coba saja sekarang bapak kemari, ke kantor polisi untuk mengecek secara langsung anak didik bapak yang sedang bermasalah, Sebagai gantinya kami bersedia membayar bensin bapak”
“oke tunggu, saya otw kesana”
Pak Subagyon berkemas meninggalkan rumah, mengeluarkan mobilnya dari garasi, kemudian berangkat menyusuri jalanan sepi ke kantor polisi

***


            Sesampainya di kantor polisi, Pak Subagyon dengan ramah menyapa para polisi yang sedang begadang menjaga kantor kepolisian.

“selamat malam pak Bagyo, maaf menganggu malam bapak untuk beristirahat” sapa hangat komandan kepolisian menyambut pak bagyo. “mari saya antar ke ruang tamu” mereka berdua berjalan beriringan menuju sebuah ruangan sejuk ber AC. Salah seorang polisi datang membawakan dua cangkir kopi anget untuk menemani mereka berdua bercakap pada malam hari itu.
“sekali lagi maaf pak malam-malam harus mengundang bapak kemari”
“sans, besok juga hari liburkan. Jadi masih bisa dibuat istirahat. Gimana kabarnya para penculik itu? bisa saya ketemu mereka sekarang? Lagian saya juga tak begitu peduli karena tentu mereka bukan murid saya”
“mereka sedang diintrogasi pak, mungkin sekitar sepuluh menit bapak bisa menemui mereka bertiga”
“bagus-bagus, mumpung masih muda, buat mereka jera sekalian biar ngga keterusan waktu besar. Masak masih SMA udah berani nyolong. Di sekolah saya itu ya, para mahasiswa kami dididik dengan tekun, ditanamkan budaya-budaya Pancasila, dibentuk dengan budi pekerti luhur yang terjamin kualitasnya dari generasi ke generasi. Jadi yah bisa bapak bayangkan lulusan-lulusan dari sekolah kami itu ada yang jadi DPR, kementrian, bahkan seorang pengusaha besar yang ulung. Mereka semua terbentuk mental dan kualitasnya tak lain ya dari ajaran sekolah kami” Jelas pak Subagyon dengan bangga. Pak polisi mendengarkan dengan seksama sambil manggut-manggut.
“saya ingat dulu Adrian, Faras, dan Kepin, meraih nilai sempurna semenjak kelas satu sampai tiga. Kadang yang rinking satu Adrian, kadang Faras, kadang juga Kepin. Kompetisi mereka selalu disambut antusias sekolah kami dan secara tidak langsung mendorong yang lain menjadi semangat belajar dan berprestasi”
“saya sebenarnya juga kepingin cepet-cepet ketemu sama mereka bertiga. Ingin memberi nasehat kalau berbuat salah jangan suka bawa-bawa sekolah kami, wah sudah sering pak sekolah kami selalu mendapat fitnah-fitnah dan serangan dari luar. Mulai dari kualitas yang tak sebanding harga SPP, Siswa yang diajarkan Radikal, Guru yang memebri nilai Auto A. padahal bukan, saya sebagai kepala sekolah sudah men cek itu. taka da indikasi kecurangan apapun. Yah Namanya juga iri pak. Pasti apapun mereka lakukan, termasuk kasus pada malam hari ini. Saya jamin mereka itu pasti siswa dari sekolah lain yang memiliki dendam kepada sekolah kami akibat kesal karena selalu kalah saat tawuran antar sekolah ahahahahaha” Tawa Bahak Pak Subagyon kemudian dilanjut dengan menyeruput kopi anget yang terhidang di meja.
“Kalau dengar dari cerita bapak, saya jadi kepingin sekolah di situ, mungkin sekarang saya bisa jadi Kapolri” Guyon pak Polisi, disambut tawa meledak dari pak Subagyon.
“ada kalanya memang hidup ini sulit pak. Lagian jadi polisi sekarang juga susah kan. apalagi polisi sekarang sering di cap buruk oleh masyarakat sendiri”
Pak Polisi mengangguk setuju.
“sebaik apapun seorang polisi yang ada di sebuah kantor. Citranya pasti juga akan rusak oleh salah satu polisi oplosan yang suka bikin gaduh di masyarakat. Kalian ndak seperti seorang tokoh yang jika berbuat salah maka yang kena batunya orang itu juga. Tapi kalian adalah bentuk institutisitas. Salah satu kalian makar, yang bakal kena imbasnya adalah department itu sendiri, alias kalian semua. Hahaha, begitulah realitas”
“meski begitu saya tetap ikhlas mengabdi ke masyarakat pak” Pak Komandan memandang ke atas ”Entah senegatif apapun pandangan mereka terhadap kepolisian. Jikapun ada yang ingin merusak citra polisi, saya sendiri disini akan membuktikan bahwa polisi tidak seperti yang mereka pikirkan. Saya anggap itulah jalan yang benar meski perjuangannya berat, Justru saya salah ketika melihat realitas seperti itu, namun saya biarkan bahkan jauhi. Itu justru tidak akan menyelesaikan masalah”
“nah, saya suka jawaban itu”

Seorang kepolisian datang menemui mereka berdua yang sedang asyik mengobrol

“lapor pak komandan. Proses introgasi sudah selesai. Besok mereka bisa dikembalikan ke orang tuanya kembali dengan syarat yang sudah ditentukan”
“ok bagus. Tolong pertemukan mereka dengan Pak Subagyo untuk memastikan bahwa mereka adalah siswa beliau”
“Siap laksanakan!”
“Hahahaha, ndak mungkin kalau siswa saya sampai berani mencuri kaya gitu. Ngawur ah ahaha”
“baik pak mari saya antarkan ke ruangannya”

Sebelum meninggalkan ruangan tamu, Pak Komandan dan Pak subagyon saling berjabat tangan, polisi yang bertugas menuntun sang kepala sekolah menuju ke ruangan tiga siswa yang sedang di tangkap pada malam itu.

            Keheningan malam yang syahdu. Dimana desiran angin terdengar jelas, namun sayang, suara ambulan membuat beberapa orang terbangun dari tidurnya. Yang tak paham pasti akan kembali tertidur dan menutup kepalanya dengan kemul, yang paham tentu saja berusaha bangkit dari Kasur, kemudian melakukan ibadah malam kepada sang pencipta. Bersyukur atas nikmat kehidupan yang diberikan padanya pagi itu.



Surakarta, 18 Oktober 2019

M         H         A

Sabtu, 24 Agustus 2019

Kumpulan Cerpen; Penculik



Badoi mencoba untuk tenang. Badannya yang semenjak tadi bergetar, membuat Badoi harus beberapa kali mangambil nafas dalam-dalam. Dahi dan ketiaknya berkeringat. Lebih lagi kakinya terasa dingin seperti membeku. Badoi mencoba berkonsentrasi agar lebih rileks. Dia hilangkan  ketakutannya. tubuhnya masih kaku di kursi. Dia merasakan tubuhnya yang terikat kuat dan hampir membuatnya tak bisa bergerak. Tali yang merangkul kaki dan perutnya juga sangat kuat. Badoi Cuma pasrah. Beberapa kali keringatnya menetes ke tanah.
Pintu terkuak. Di serentetan kegelapan. Penerangan di ruangan itu hanyalah sebuah lampu bolam berdaya 15 watt. Setelah agak lama menunggu. Muncullah 2 orang berpenampilan preman. Tangan mereka kekar. Pandangannya tajam ke arah badoi. Badoi juga tersontak. Dirinya merasa tak enak dipandangi begitu. Keringat dingin terus mengucur. Membasahi sekujur tubuh badoi. saking takutnya, dia mulai tergagap-gagap. Ketenangan yang semenjak tadi di kumpulkan, buyar sia-sia seperti terhempas gelombang. Kedua orang itu mendekati badoi yang masih lemas ketakutan.
“ hei bocah!, siapa namamu?”
“Bba...Badoi”
“apa kerjanya bapak dan ibumu?”
“I...itu...Bba..pak...ee....itu...bba..”
“Jawab!!” menjewer kuping Badoi sambil di pluntir-pluntir.  “ngomong yang jelas, kuat, dan bertenaga!. Kamu itu laki-laki, bukan banci. Cepat jawab!”
“bapak saya kerjanya tiduran di rumah. Kalau ibu saya jadi pengusaha yang punya 4 cabang di empat negara” Badoi menjawab dengan spontan. Dirinya belum sepenuhnya tenang. 2 preman tadi lalu berbisik.
“eh, Ini pasti anaknya orang kaya. Bayangin aja, pengusaha di empat negara!. Pasti penghasilannya perbulan lebih dari ratusan milyar”
“He’em. Tapi kok, bapaknya Cuma nganggur ya. Padahal ibunya kerja jadi pengusaha”
“halah, gitu aja kok dipikirin. Yang paling utama itu duit, jangan ngurusi yang lain. Nah tanyain aja nomer hape ibunya. Bukan bapaknya. Trus seperti biasa. Kita weden-wedeni dan minta tebusan 10 milyar aja. Nggak usah banyak-banyak”
“ok bro”
Lalu 2 preman itu mringis sambil menatap Badoi.
“tenang dek. Kamu nggak bakalan di sakiti. Tapi ada syaratnya. Om minta nomer hape ibumu, setelah itu om telfon untuk suruh njemput. Mudah to”
“tapi om, ibu saya nggak punya hape”
“lho!, kok bisa. Pengusaha masak nggak punya hape”
“ibu saya orangnya nggak awetan. Setiap beli hape, nggak ada tiga hari pasti rusak atau hilang. Alesannya banyak, ada yang di copet, njegur bak mandi, keplindes truk, ke banting, pecah, dikasihin orang, ketinggalan, ketendang, kejual, kemaling...”
“tunggu... copet maling bukannya sama”
“beda om, kalau copet nglakuinnya terang-terangan. Kalau maling sembunyi-sembunyi”
“oh... teruskan”
“ada yang ke pelet, kemakan, keselak, ke gencet, kebakaran, dan masih banyak lagi. Lalu ibu saya jera beli hape”

“lha kalau ada pesan atau sesuatu yang penting gimana?, bukannya malah kerepotan”
“ibu saya biasanya pinjem sama stafnya”
“bapak kamu?”
“kebalikannya sama ibu. Hapenya buanyak banget”
“ibumu nggak minta. Apa nyuruh bapakmu mbawa hapenya”
“bapak saya pernah di tawari kerja kayak gitu. Tapi selalu menolak. Alesannya dia mau kerja sendiri”
“katanya, bapakmu kerjanya Cuma tidur”
“memang gitu kerjanya. Anehnya uangya selalu banyak. saya saja di jatah 10 juta per-hari. Tapi di pikir-pikir kerjanya bapak memang tiduran. Tapi saat semua tidur, dia alih profesi jadi melek’an. Aku pernah mergok bapak ngambil uangnya ibu di lemari”
“Pantesan. Trus kamu bilangi ibumu?”
“nggak lah, itukan kerjaannya bapak. Saya nggak mau menghancurkan profesinya. Jadi saya Cuma tutup mulut. Tapi ibu nggak ngerasa kalau uangnya diambil. Padahal yang di ambil bapak berkisar 100 juta. Itupun dilakukan hampir tiap hari”
“Jangan-jangan yang maling hape ibumu dia”
“mungkin, soalnya waktu ibuku kecopetan. Bapak saya yang nyopet”
2 preman itu melongo dan saling memandang. Lalu berbisik
“orang tuanya nggak beres nih”
“nggak papa, yang penting uangnya banyak”
“Minta nomer bapak nya?”
“ya iyalah, kayaknya bapak anak itu juga banyak uang. Lha kerjanya kayak gitu. Cepet mintain nomernya”  2 preman itu kembali menatap badoi
“ya udah dek, om minta nomer bapakmu. Kamu bosen to di sini. Makanya, biar om bilangin ke bapakmu agar kamu di jemput. Tapi nanti pas dateng tunggu dulu disini. Biar om sama om ini minta bayaran, eh bukan, tapi minta tunjangan dulu. Kami kan sudah berjasa mempertemukan kalian”
“bilang aja mau tebusan deh om. Saya udah gede, dan tau mau nya om-om ini. Tapi nggak apalah, saya juga mau pulang ke rumah. Di sini tempat nya angker, gelap, bau lagi”
“gitu dong, sekarang berapa nomernya?” sambil mengambil hape dari kantongan nya.
“yang mana dulu?, bapak saya nomernya banyak”
“yang ayemtri ada?”
“oh ada, 08222222222”
“gilak!, nomer apaan nih”
“itu di dapet bapak waktu nyogok di pusat operatornya ayemtri. Mbayar 200 juta, tapi di enyang bapak jadi 80 juta. 120 jutanya buat mbayar oto ke sana”
“bukannya  rumah mu di ibu kota, jadi nggak jauh-jauh amat. Mbayar nya kok banyak banget?”
“bapak saya itu keren om, dia meski suka tidur tapi garang. Di takuti banyak orang. Kalau mau pergi ke mana-mana, pasti bawaan nya selalu yang bagus. Waktu ngrampok bank di singapura, pakai mobil gallardo. Habis pakai langsung di rongsok. Gara-gara bapak saya nggak bisa nyetir, trus nabrak palang jalan. Lalu waktu nyolong lukisan monalisa, pakai jet tidak berawak milik amerika, bapak saya Cuma nggandul di ban nya”
“waktu ke kantor pusat ayemtri naik apa”
“naik mobil lamborginie nya stipen gerrard. Mau di beli bapak tapi nggak boleh, akhirnya di sewa 200 juta per hari. Pas di kembalikan, kaca depannya remuk. Tapi nggak di apa-apain, yang punya takut sama bapak saya”

”apa om nggak takut sama bapak saya?”
“kami, takut” mereka berdua tertawa, sambil menyodorkan golok ke muka badoi. “jika bapakmu nglawan. Ini golok bakal temancep di perutnya. Kita nggak takut siapapun. Tentara aja kami buat bertekuk lutut”
Badoi takut, setelah golok itu di taruh, ia segera menguasai dirinya lagi
“cepat telfon bapaknya. Aku sudah nggak sabar dapat duit”
Lalu temannya preman tadi menelpon. Setelah agak lama muncul suara.
“halo siapa?”
Preman yang menelfon tampak kaget. Sambil mengisyaratkan kepada temannya bahwa dia salah pencet nomer.
“B...Bos maaf saya salah mijet nomer lagi. Udah kebiasaan. Susah di ilangin”
“dasar! Gara-gara kamu nelfon, aku jadi nabrak”
“waduh. sorry, saya salah. Ampun Boss....”
“ya sudah, paling aku bakalan cengkram lenganmu biar jadi cikru. sekarang aku mau ke tempatmu! Kamu sudah dapet mangsanya kan!
“su...sudah dong bos”
“bagus. Tunggu disana”
“si...siap”
Telfon lalu di matikan, segera tangan teman preman itu menyaplak kepala preman yang nelfon.
“bego. Kalau sampai di bunuh bos gimana !?. masa’ salah pencet nomer melulu dari dulu”
“kamu juga nyuruh aku yang nelfon”
“kau kan tau sendiri kalau aku ini gaptek. Ya udah, cepetan telfon lagi. Yang ini jangan sampai salah”
lalu dengan sigap dan teliti, preman tadi memencet-menceti nomer ponselnya dan mulai menelfon. Dia yakin kali ini nggak bakalan salah lagi.
“assalamualaikum”
“waalaikum salam”
“ada apa pak?”
“anak anda sedang kami culik!. Jika mau anakmu selamat, maka kamu harus bayar tebusan sebesar 10 milyar”
“waduh pak, banyak banget. Saya Cuma orang pas-pasan, dan nggak punya uang sebesar itu. Kasih kompensasi lah, kita kan sesama manusia”
“halah kagak bisa!. Jangan coba-coba ngibulin saya ya. Kalau bapak nggak menyerahkan uang itu dalam waktu 6 jam dari sekarang. Anak bapak bakal saya mutilasi kayak di berita-berita itu”
“jangan.... itu anak saya satu-satunya”
“makanya, kalau nggak mau anakmu mati. Bawa  uang sepuluh milyar. Jangan bawa polisi atau sesuatu yang menyebab kan saya di penjara. Mengerti!”
“me...mengerti pak”
“oke, saya tunggu dari sekarang” tut...tuuut....tut..
Telfon mati dan preman itu nampaknya puas. Mereka lalu saling merangkul sambil menangis. Mereka serasa seperti ketiban duren. Mereka tak bisa membayangkan jika uang itu sudah ada di tangan, yang pasti keinginan yang dulunya terpendam bakal jadi nyata. Lalu jadi kaya raya dan punya mobil banyak.
“akhir nya dari semua jerih payah yang kita lakukan, akhirya membuahkan hasil. Kita akan jadi kaya dan  membaginya jadi dua”
“ho’oh, aku berjanji, setelah dapat uang nya. Pasti akan ku gunakan buat bikin mall di grand city. Dan berhenti jadi penculik. Kalau perlu jadi mualim dan bertobat. Nggak pernah bolong beribadah 5 waktu, berinfak, dan nggak lupa nikah” mereka tersedu-sedu seakan semua sudah jadi kenyataan.
“sama sob, aku pasti juga melakukan hal yang sama. Tapi aku masih kepengen jadi penculik. Tobat nya nanti pas pensiun” 2 preman itu lalu menepuk-nepuk pundak masing-masing. Berjabat tangan dan mulai saling mengumbar tentang apa yang akan dilakukan nya lagi jika uang itu sudah di tangan.
6 jam sudah berlalu. Tapi bapak badoi belum datang juga. Preman yang dari tadi sudah menunggu dengan sabar. Kini menjadi buas. Tensi mereka meninggi melebihi 343 derajat kelvin. Muka mereka memerah karna menggap bapak Badoi tak akan datang. Padahal mereka sudah merencanakan dengan matang untuk menggunakan uang itu. Saking lama nya salah satu nya ketiduran, yang satu lagi masih mondar-mandir. Badoi sebenarnya ingin lekas pulang ke rumah. PR sekolahnya belum digarap dan 3 hari lagi juga ada ujian sekolah. Dia hanya melamun menanti ayahnya. Seketika preman yang mondar mandir mengamuk da melempar botol kecap ke tembok ”praang!”. Preman  yang sedang tidur terbangun. Badoi kaget, takut jika mereka sudah tak sabar dan ingin menghabisinya. Ia merasa eman kalau mati sekarang karena belum merasakan menikah.
“gelondongan!, cicak!, jangkrek!, kebo!, monyet. Bapak monyet!, lama banget kesininya. Nggak takut apa kalau anaknya mati”
“udah sabar aja, paling jalanan macet. Inikan ibu kota”
“Lha ini sudah 6 jam lewat 20 menit! Jangan-jangan dia nggak mau datang. Cepat telfon lagi. Tapi jangan salah”
Preman yang bawa hape cepat-cepat menelfon
“halo assalamualaikum”
“hei, kamu lama banget sih kesininya!,ditunggu dari tadi nggak nongol-nongol. Mau anakmu mampus. Apa memang itu maumu”
“nggak... lagian...”
“apa!. Lagian apa, jawab!”
“tadi nggak di kasih tau tempatnya. Ya saya otomatis nggak bisa kesana. Lha wong tempatnya aja nggak tau. Apa mau suruh muter-muter”
“guoblok!”
“kamu yang goblok. Nggak ngasih tau tempatnya. Dasar penculik amatiran. Kalau nggak kodak ya jangan nyulik”
“brani kamu sama saya. Saya sudah berpengalaman 10 tahun. Kamu itu yang goblok. Kalau nggak tau tempatnya ya tanya!. Jangan malah diem dan sok mudeng. Mau saya tambahin tebusannya lagi jadi dua kali lipat”
“jangan.... 10 milyar ini aja  didapat dari jerih payah saya. Tolong jangan di tambah. Oke deh saya yang goblok”
“nah gitu dong”
“lalu tempatnya di mana?”
“di jalan ahmad yani gang no.5”
“baik saya segera kesana”
Lalu sang preman menutup telfon.”gimana?” tanya teman yang dari tadi menunggu.
“orangnya lagi mau berangkat”
“kok bisa!?”
“He...he...he... aku lupa kasih tau tempat nya”
“Semprul!. Jadi kapan tuh sampai sini”
“kira-kira setengah jam”
Di sela-sela menanti, 2 preman tadi menanti dengan merokok dan makan snack. Badoi dari tadi belum makan, mulutnya sudah di penuhi oleh iler yang mulai menetes ke kerah bajunya. Dia lapar dan perutnya berkali-kali meronta dan berbunyi.  Preman yang melihat kejadian itu,  Cuma menghiraukan. Setelah agak lama, preman itu mulai kasihan dan mendekati Badoi. Dan barulah memberikan makanannya. Badoi menatap makanan itu
“nih ada sisa sedikit. Makan segini dulu. Bapakmu sebentar lagi datang, kamu ntar bisa minta makanan yang banyak sama dia. Sekarang ini dulu. Buat ngganjel-ngganjel perut lah”
“wah... makasih om” lalu dengar rakusnya badoi menyantap makanan turahan preman tersebut.
          Lampu ruangan sudah berkedip beberapa kali. jika tidak diganti dalam waktu dekat, pasti akan mati. Suasana mulai sunyi karena jarum jam sudah menunjuk pukul 1 dini hari. Ngeoangan kucing terdengar di luar gedung para penculik. Suara mobil mendekat dan berhenti tepat di depan gedung. Seorang pria gagah keluar dari dalam mobil yang sudah ringsek. Derap langkahnya tegap dan membuat tikus-tikus disana lari ketakutan. Pria itu semakin mendekat menuju ke ruangan ke 2 preman dan Badoi. Pintupun tersibak dan terlihatlah kegarangan pria tersebut dalam sela remang-remang lampu bohlam. Sedangkan ke dua preman tadi merasa senang bosnya telah datang. Namun di sela- sela kesenangan tersebut. Muka Badoi tampak mengenali sesuatu yang tidak asing. Bibirnya yang membiru oleh dinginnya malam bergetar seakan ingin memberikan suatu kata
“ba...bapak?” lantunan suara tersebut terdengar dari mulut Badoi. Sedangkan ke 2 preman itu terhenyak.



9 maret 2014
 Muhammad habib Amrullah